
Saka sedang berada di kamarnya. Tadi saat memasuki kamar dia melihat banyak panggilan dari nomor baru. Saat dia menjawab panggilan tersebut, terdengar suara yang tidak asing. Yaitu, Anwar atau Ayahnya.
Entah karena jijik. Atau apa. Saka dengan spontan mematikan panggilan tersebut. Tak lama kemudian masuk pesan dari Anwar. Saka membacanya, dan langsung menelpon balik Anwar. Karena bagaimanapun, dia sedikit khawatir tentang Ayahnya. Apalagi, kata Sarah Ayahnya gak bisa dihubungi. Bahkan, tidak tau kalau Neneknya sakit.
"Ada apa?" cetus Saka.
"Kirimin Ayah uang. Simpanan Ayah sudah menipis." pinta Anwar to the poin.
"Ayah dimana?"
"Kamu gak usah tau, Ayah dimana. Yang penting, kirim Ayah uang. 2 juta aja."
"Nenek sakit, gara-gara tau perbuatan Ayah."
"Biarin aja. Lagipula ada tante Sarah. Ayah tunggu sampai tengah malam nanti. Jangan lupa. No rek. Ayah kirimkan lewat WA." Anwar langsung mematikan panggilan.
Saka langsung mengirimkan uang, sebesar nominal yang di pinta Anwar. Sebab jauh dari lubuk hatinya. Dia masih peduli dengan Anwar. Lagipula uang segitu tidak ada apa-apanya. Karena sekarang Saka sudah mulai menerima beberapa endorse dari beberapa produk serta pakaian.
Setelah mengirim uang untuk Anwar. Saka menghubungi Gina. Gina yang terpuruk akibat perubahan sikap Saka, bahagia karena Saka sudah menelponnya. Hanya menunggu dua kali dering langsung di angkatnya.
"Kakak, jahat banget sih." rajuk Gina saat panggilan di angkat.
"Hehehe ... Maaf, kamu kan tau alasannya." tanpa menjelaskan lagi. Sebab Gina sudah tau pasti kejadiannya.
"Aku kan sudah bang, gak ngaruh Kak. Kakak sih keras kepala." masih mode merajuk.
"Ya udah, sekarang di mana?"
"Baru saja sampai kosan. Baru pulang kuliah."
"Ya udah, istirahat ya." Padahal niat awalnya mau jemput kuliah Gina, terus ngajak jalan-jalan.
"Iya." jutek. Langsung mematikan panggilan.
Saka yang telah banyak belajar dari teman-temannya, tau. Jika Gina, merajuk karena rindu. Jadi, Saka memutuskan untuk berkunjung ke kosan Gina.
Gina yang berada di kosan lagi mencak-mencak, akibat kesal pada Saka.
"Kalau rindu, ngomong aja. Gak usah kesal gitu." seru Intan yang merasa terganggu akibat Gina yang mondar-mandir dan menghentakkan kakinya.
"Masa aku yang ngomong. Harusnya dia yang peka. Kan udah 2 minggu lebih gak kasih kabar." cetus Gina.
"Ya elah ribet amat sih." seru Intan.
Intan yang mulai bosan melihat tingkah laku Gina, memilih masuk kamar. Gina, memilih menonton televisi. Berulang kali dia melihat handphone. Namun, tidak satu pun notice yang masuk. Gina mengirimkan emoticon menangis pada Saka. Dia berharap agar Saka segera menghubunginya. Namun, hanya contreng dua abu-abu. Pertanda belum dibacanya.
__ADS_1
Karena sudah bosan menunggu notice handphone-nya. Gina memilih untuk masuk kamar. Saat dia hendak membuka pintu kamar. Terdengar suara ketukan pintu. Dengan malas dia membuka pintu. Gina menduga, itu pasti kurir yang antar paket. Karena belakangan ini Intan sedang merintis usaha jualan online.
"Kak ..." Gina terkejut dan refleks menutup pintu dan berlari ke dalam kamar.
Saka tertawa melihat sikap Gina. Kemudian dia mengambil ponsel dan menghubungi Gina.
"Yuk jalan."
"Kakak jahat ... Kok gak bilang-bilang mau kesini. Taunya aku mandi dulu." rengek Gina.
"Sengaja, mau ngasih kejutan. Kakak tunggu di luar."
Gina di kamar langsung melompat kegirangan. Dia berlari menuju kamar Intan. Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, dia langsung memasukinya.
"Tan ..." teriak Gina membangunkan Intan yang tertidur.
"Makan aja. Gak usah nungguin aku. Aku ngantuk." racau Intan. Karena kebiasaan Gina, makan selalu harus bersama Intan.
"Bukan itu, Kak Saka di luar."
"Terus kamu ngapain di sini. Sana, temenin Saka." usir Intan.
"Lah ... Kenapa gua ke sini," menggaruk kepala yang tidak gatal. "Pokoknya aku mau jalan sama Kak Saka. Kalo lapar kamu makan duluan ya."
"Heum."
Saka memakai baju kemeja warna hijau mint, dengan lengan yang dilipat sampai siku dipadukan dengan celana jeans. Begitu juga dengan Gina. Dia memilih memakai baju kemeja crop warna yang sama dan dipadukan dengan jeans. Dan rambutnya diikat kuda.
"Cantik," lirih Saka tidak terdengar oleh Gina. "Hehehe ... Harus ya sama bajunya?" tanya Saka.
"Kakak gak suka? Ya udah aku ganti. Atau gak usah jalan." kata Gina. Memutar tubuhnya hendak kembali masuk.
"Kakak suka kok, kamu cantik." melarang Gina masuk, dengan memegang lengan Gina.
"Beneran?"
"Iya. Yuk berangkat."
erm
Setelah memastikan Gina duduk dengan nyaman. Saka langsung men star sepeda motornya sebuah tempat yang jaraknya sekitar 2 jam dari kotanya. Mereka menuju air terjun, yang berada di desa yang ada bukitnya. Disana juga tersedia resort-resort tepi sungai. Apalagi pemandangannya yang hijau membuat orang-orang betah untuk berlama-lama.
Gina yang pertama kali ke sana, kegirangan. Setelah memarkirkan motornya, Saka langsung mengejar Gina yang sudah berlari-larian di tepi sungai yang dialiri oleh air terjun. Apalagi sekarang bukan hari weekend. Otomatis pengunjung tidak terlalu ramai.
"Kak, tau dari mana tempat ini?" tanya Gina, saat Saka sudah berada disampingnya. Sebelumnya Saka telah membeli minuman dan aneka makanan.
__ADS_1
"Dari media sosial. Suka?"
"Suka banget. Tenang gitu. Apalagi pemandangan dan udaranya sangat adem."
"Yuk kita duduk di batu itu." menunjukkan salah batu yang ukurannya besar.
"Jadi Kakak anak dari dr. Iqbal?" tanya Gina mengambil bakso bakar. "Enak ya Kak. Aku baru pertama kali loh, makan ini." seru Gina, mengambil lagi.
"Tepatnya anak tiri."
"Kakak ada yang ingin diceritakan?" tanya Gina mode serius.
"Kamu risih gak sama Kakak?"
"Gak. Lagipula itu perbuatan orang tua Kakak. Dan aku yakin, Kakak pasti akan belajar dari kejadian tersebut."
"Terimakasih ya!"
"Tapi aku mau minta sesuatu sama Kakak. Jangan pernah diamkan aku seperti kemarin. Jujur aku merasa gak di hargai." ucap Gina sambil menunduk.
"Maaf ya. Ke depannya Kakak gak akan ulangi lagi." mengacak rambut Gina.
"Kakak." rajuk Gina.
"Aku juga baru tahu. Kalau Kakak yang punya kafe IdanV. Dulu, aku sempat berpikir kalau Kakak hanya seorang pelayan." ujar Gina.
"Memang Kakak pelayan. Karena yang punya kafe adalah Bapak, yaitu dr. Iqbal. Kakak hanya bekerja di sana. Dan sama-sama terima gaji. Sama seperti karyawan lainnya." jelas Saka.
"Sama juga Kak." cetus Gina.
"Mau ketemu Bunda?" tanya Saka setelah beberapa saat terdiam.
"Boleh. Kapan?" tanya Gina antusias.
"Kapan-kapan." jawab Saka ambigu. Dia berdiri dan mengulurkan tangan pada Gina.
Kemudian mereka menuju lebih dekat dengan air terjun. Sebelumnya, Saka telah membuang sampah sisa makanan ke tempat sampah.
Saka mengabdikan beberapa foto Gina yang sedang bermain air. Tak lupa juga mereka berfoto bersama.
"Kakak mau ke rumah ku gak? Ketemu sama Papa."
"Memangnya boleh? Bukannya dulu kamu pernah melarangnya?" Saka, memang pernah ingin bertandang ke rumah Gina. Bertemu orang tua Gina. Namun Gina melarang. Karena malu, sebab ini pertama kalinya dia pacaran.
"Tapi sekarang Papa mau ketemu sama Kakak. Mau gak?"
__ADS_1
Tiba-tiba Saka merasa cemas, dia takut jika orang tua Gina. Melarang hubungan mereka, akibat vidio Ayahnya.
...----------------...