
Anwar terbangun dari tidurnya. Melihat sekeliling kamar. Nadin sudah tidak ada. Anwar buru-buru bangkit, untuk membersihkan diri. Dia tahu seluk beluk rumah tersebut. Karena dulu dia pernah tinggal di sana.
Setelah membersihkan diri. Anwar keluar dari kamar. Dia mendengar suara berisik dari arah dapur. Tanpa pikir panjang, Anwar langsung menuju ke arah sana.
"Eh ... Nak, sudah bangun. Sini duduk. Kita makan bersama." seru Anita begitu melihat Anwar yang menatap ke arah mereka. Yaitu, Dia, Burhan dan Nadin.
Anwar bingung. Karena belum pernah Anita bicara selembut itu, kepadanya. "Gak usah. Aku pamit pulang." melirik ke arah Nadin. Namun, Nadin tak merespon apapun. Dia masih sibuk menghabiskan makanan yang berada di piringnya.
"Nadin. Antar lah, nak Anwar." suruh Anita.
"Ogah." sahut Nadin, yang terdengar oleh Anwar. Namun, saat Anwar berpaling ke belakang. Nadin muncul dengan wajah angkuhnya.
"Aku harap, ini terakhir kalinya kamu ke sini." ujar Nadin.
"Baiklah, tapi berikan dulu aku uang sepuluh juta." ucap Anwar.
"Aku gak punya uang sebanyak itu."
"Kamu jual saja perhiasan, yang ada di laci meja rias mu."
"Lancang kamu ya Mas." bentak Nadin.
Anwar terus saja melangkah. Tanpa memperdulikan teriakan Nadin. Apalagi taksi online yang di pesannya sudah muncul di gerbang rumah Nadin.
Anwar memang berniat untuk memberi pelajaran pada Burhan. Namun, dia akan memanfaatkan ketakutan Burhan terlebih dahulu. Sekarang, dia berniat menuju rumah Vina. Bagaimana pun. Mantan istrinya tersebut masih menduduki tempat tertinggi di hatinya. Makanya, dia menuju ke sana. Selain karena merindui Vina. Anwar, juga rindu akan Saka.
"Ayah ,,," ujar Saka. Dia yang membukakan pintu. Karena ART sedang membersihkan rumah.
Pupus sudah harapan Anwar. Karena dia menginginkan Vina yang membukakan pintu untuknya. "Hai, nak." sapa Anwar.
"Kenapa kesini." cetus Saka, melipat ke dua tangannya ke dada. "Uang mu habis, kah?" tanya Saka.
__ADS_1
"Ayah, hanya ingin menemui mu. Maafkan Ayah. Karena Ayah. Kalian menanggung malu. Maafkan lah, Ayah. Ayah menyesal, Nak." ujar Anwar dengan mata berkaca-kaca.
Saka melihat penyesalan dari tatapan mata Ayahnya. Namun, dia tidak akan mudah terperdaya. Selama ini, dia sudah cukup bodoh. Dengan terlalu mudah percaya.
"Ayah minta maaf. Mungkin, setelah ini Ayah akan pergi jauh. Makanya Ayah ingin kalian memaafkan Ayah." ujar Anwar. Sedangkan Saka hanya menatap sinis pada Ayahnya.
"Ayah tahu. Mungkin Ayah, sudah berulang kali menyakiti hati kalian. Terakhir kali membuat kalian malu. Tapi Ayah janji. Ayah tidak akan mengecewakan kalian lagi." akhirnya tangis Anwar pecah. Apalagi melihat Saka yang menatapnya seperti orang asing. Mungkin, jika Adit yang menatapnya seperti itu akan dia maklumi. Namun, Saka. Anwar tak bisa terima.
"Bisa sampaikan pada Bunda. Kalau Ayah ingin bertemu?"
"Bunda, lagi keluar negeri. Dia jalan-jalan sama Bapak." ujar Saka. "Lebih baik. Ayah jangan pernah temui Bunda lagi." ucap Saka.
Terluka. Tentu saja. Anwar tidak terima, saat Saka memberi ultimatum agar dia jangan menemui Vina lagi. Namun, untuk langsung menolak dia tidak berani. Karena dia tidak ingin anaknya bertambah membencinya.
Akhirnya Anwar pamit. Dia ingin berkunjung ke kafe yang di kelola oleh Adit. Karena, dia juga ingin meminta maaf pada anaknya yang satu lagi.
Sampainya Anwar ke sana. Kebetulan Bu Mutia pun sedang berada di sana. Anwar bisa mendengar, jika Bu Mutia terus-menerus menawarkan putrinya bernama Tiara pada anaknya Adit. Namun, Adit tidak menanggapi. Anwar duduk tidak jauh dari tempat Adit. Kebetulan keadaan kafe lagi ramai. Jadi Adit tidak terlalu memperhatikan pengunjung. Apalagi Anwar datang saat jam istirahat kantor. Dia juga memakai masker di wajahnya.
"Maaf Bu. Tapi aku sibuk bekerja." tolak Adit halus. Bukan Adit tidak menyukai Tiara. Namun, Adit hanya tidak ingin Tiara juga menghina dirinya. Apalagi jika tahu kalau Ayahnya pernah melakukan hal tak senonoh.
"Biar Ibu yang paksa Tiara untuk ke sini. Jadi, dia bisa jadi penyemangat mu untuk bekerja. Ya ... ya." tawar Bu Mutia.
"Dio ..." panggil Adit. Dan Dio langsung menuju tempat Adit berada. "Tolong kamu gantiin sebentar. Aku ada urusan." ujar Adit.
"Yuk Bu. Kita ke ruangan ku. Ada yang ingin aku katakan pada Ibu." Bu Mutia pun mengikuti Adit tanpa ragu.
"Silahkan duduk." menunjukkan sofa yang berada di pinggir. Dan Adit juga mengambil posisi tak jauh dari Bu Mutia.
"Apa yang membuat Ibu, begitu menyukai ku?" tanya Adit.
"Karena Ibu yakin. Kamu adalah yang terbaik untuk anak ku. Bukan kah, perasaan seorang Ibu itu benar?"
__ADS_1
"Ibu belum tahu tentang ku. Makanya Ibu bisa bicara begitu."
"Ibu tahu semuanya. Bahkan nama Ibu juga Ayahmu. Karena Ibu sudah mencari tentangmu. Termasuk tentang Ayahmu. Dan Ibu tidak keberatan tentang itu."
"Ini nomor Tiara. Ibu harap kamu bisa menghubunginya."
Setelah basa-basi beberapa saat. Akhirnya Bu Mutia pamit pulang. Dia juga mengatakan pada Adit tentang niatnya untuk bekerja sama. Karena dia ingin membuka cabang butik di kota yang berbeda. Dan dia ingin Adit membuka kafe di area dekat Butik tersebut. Bu Mutia berencana setiap pelanggan butiknya akan mendapatkan diskon 50% untuk menikmati menu di kafe Adit. Dan Adit setuju. Namun, dia harus meminta izin dari orang tuanya dulu. Begitu yang Adit katakan pada Bu Mutia.
Melihat Bu Mutia keluar dari ruangan Adit. Anwar juga bersiap-siap ingin mengikuti Bu Mutia. Pas Bu Mutia sampai di parkiran. Anwar langsung memanggil Bu Mutia.
"Kenalin, saya Anwar. Ayah dari Adit." ujar Anwar tanpa membuka masker.
"Kenalin, saya Mutia." menerima uluran tangan Anwar. Mutia bisa menebak. Jika lelaki di depannya adalah orang yang sama dengan pelaku vidio tak senonoh yang sempat beredar beberapa waktu dulu.
"Maaf, tadi saya sempat mendengarkan. Kalau Ibu ingin menjodohkan anak Ibu dengan anak saya Adit."
"Oo ... Iya Pak. Karena saya menyukai nak Adit yang pekerja keras."
Anwar bisa menilai, kalau orang yang berada di depannya bukan lah, orang sembarang. Sebab dari tampilannya, bisa dikatakan orang berada.
"Apa Bapak keberatan."
"Ooo ... tentu saja tidak. Saya sangat setuju." ucap Anwar cepat.
"Baiklah, aku pamit dulu ya."
Setelah kepergian Mutia. Anwar kembali masuk ke dalam. Dia kembali ke niat awalnya untuk meminta maaf pada Adit. Namun, Adit tidak berada di meja kasir. Setelah menanyai Dio. Adit masih berada di ruang kerjanya.
"Dit ... Ada Ayah mu. Katanya mau ketemu." ujar Dio dari pintu setelah di suruh masuk oleh Adit.
Menghela napas. "Suruh masuk sini aja."
__ADS_1