
Setelah mendapatkan uang. Anwar langsung pamit pergi. Rencananya untuk menginap pun, di batalkan. Karena sekarang dia akan membuat laporan untuk keluarga Nadin. Dia ingin Papa Nadin di penjara.
Anwar telah membuat laporan di kantor polisi. Dia tidak sabar menunggu Burhan di tangkap. Sekarang Anwar sedang dalam proses menjual ruko milik Rania. Dia menjualnya langsung kepada orang yang menyewakan ruko tersebut. Nadin, sudah lama ingin menjual ruko tersebut. Namun, surat-surat dan kelengkapannya berada di rumah Anwar. Jadi, dia hanya menerima uang sewanya.
Setelah menerima uangnya. Anwar langsung menelpon Nadin. Karena dia akan memberikan sebagian uang tersebut kepada Nadin. Karena Rania pun merupakan anak mereka berdua. Sekarang mereka berjumpa di kafe yang berada di alun-alun kota.
"Ada apa." tanya Nadin, melepaskan kacamatanya.
"Ini untukmu." menyodorkan amplop coklat.
"Ini apa?" tanya Nadin. Tanpa menyentuh amplop tersebut.
"Tentu saja uang." kekeh Anwar.
"Aku tahu Mas. Maksudnya kenapa kamu memberiku uang."
"Ini hasil dari penjualan toko Rania. Aku hanya bisa memberimu segini. Mengingat uan sewa selalu kamu yang merasakannya. Lagipula ini dari Ibu ku. Bukan orang tuamu."
"Oke, terimakasih." memasukkan uang ke dalam tas tanpa menghitung terlebih dahulu.
"Aku ada permintaan." ujar Nadin.
"Katakan lah." menyeruput minumannya.
"Tolong laporkan Papaku."
Anwar langsung melihat ke arah Nadin dengan dahi berkerut. Sedetik kemudian dia tertawa. "Kenapa? Bukannya dia orang tuamu?" tanya Anwar.
__ADS_1
Menghela napas, dan duduk tegap. "Sekarang, kami sudah tidak mempunyai apa-apa. Hutang Papa ada di mana-mana. Dan dari yang aku dengar semalam. Papa ingin menjual ku ke germo, untuk melunasi hutangnya. Dan Ibu di siksa, karena melarangnya." papar Nadin.
"Aku sudah melaporkan nya. Kalian tunggu aja surat penangkapannya." kemudian bangkit. "Minumannya sudah aku bayar." meninggalkan Nadin sendirian.
🍁🍁🍁🍁🍁
Kejadian semalam.
Nadin baru saja kembali dari tempat kerjanya. Yaitu tempat karoke. Tadi pacarnya tidak datang. Lagipula dia tidak enak badan. Makanya dia memutuskan untuk pulang lebih cepat. Pas sampai rumah, di lihatnya lampu ruangan depan sudah padam. Nadin langsung masuk menggunakan kunci yang ada padanya. Saat melewati kamar orang tuanya. Nadin mendengarkan suara teriakan dari Mamanya. Namun, dia tidak peduli. Sampai akhirnya Anita menjerit.
"Kalau kamu berani menjual putri ku pada germo itu. Akan aku bunuh kamu Mas." Nadin tersingkap mendengar suara teriakan Mamanya.
"Jadi, kamu lebih tega kalau aku di bunuh oleh mereka? Nadin juga putri ku. Jadi, aku berhak atasnya." teriak Burhan kemudian. Nadin buru-buru berlari ke dalam kamarnya, supaya orang tuanya tidak tahu kalau dia telah kembali.
Semalaman Nadin tidak bisa tidur. Dia masih tidak percaya jika orang tuanya sendiri mau menjualnya. Agar hutangnya tertutupi. Padahal dulu dia sudah pernah melakukannya sekali. Namun, dia tidak mau di jual pada germo. Bisa di bayangkan, kalau setiap saat tubuhnya di nikmati oleh lelaki hidung belang. Apalagi jika mendapatkan pelanggan dengan kelainan.
Saat Nadin, masih berada di kafe. Tanpa sengaja dia melihat ke arah keluar, melalui dinding kaca. Di mana dekat halte ada seorang Ibu hamil yang diam-diam mengambil dompet orang di sampingnya. Saat Nadin memperjelas penglihatannya. Ternyata dia adalah perempuan yang sama. Yang berada di vidio dengan Anwar. Dia adalah Rasti.
Bermacam
Nadin, langsung keluar menuju ke halte. Sampai di sana Rasti masih sedang berusaha mengambil dompet ibu-ibu tersebut. Nadin langsung memberi isyarat pada orang lain, yang berada tidak jauh dari Rasti. Kemudian orang tersebut menjerit copet dan itu berhasil membuat Rasti terkejut. Sekaligus berlari karena ketakutan.
Orang-orang yang melihat Rasti kabur, tentu langsung saja mengejarnya. Rasti terus saja berlari sambil sesekali melihat ke arah belakang, dimana bapak-bapak dan juga ibu-ibu yang ikut mengejarnya. Sampai akhirnya dia tersandung, mengakibatkannya jatuh.
Dan Ibu-ibu langsung saja menendang dan memukul Rasti. Ada sebagian menampar juga menjambak Rasti. Bermacam umpatan dan caci-maki diterimanya.
"Dasar, Ibu hamil tidak tahu diri. Udah tau hamil malah jadi pencuri." ucapan yang terdengar oleh Rasti. Sedangkan Rasti berulang kali meminta ampun. Namun, Ibu-ibu tersebut seakan tidak mendengarkannya.
__ADS_1
Sampai akhirnya, seorang Ibu-ibu menyadari kalau Rasti pendarahan. Barulah mereka semua berhenti, dan saling menoleh. Sedangkan Bapak-bapak yang ikut mengejar Rasti tadi hanya melihat saat Ibu-ibu sedang beraksi.
"To-tolong ... Sa-sakit." rintis Rasti. Namu , tidak seorang pun yang menolong Rasti. Karena mereka masih di liputi kemarahan akibat perbuatan Rasti.
"Ayo kita tinggalkan dia. Biar nanti, orang lain saja yang menolong pencuri ini. Lagian kalau anaknya selamat aja. Yang kita takut kan, nanti jadi bibit pencuri juga." kata seorang ibu-ibu. Akhirnya mereka semua meninggalkan Rasti yang masih merintih menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
Kebetulan, tadi Rasti lari ke lorong-lorong kecil yang berada di sana. Dan dia di hakimi oleh massa di tempat yang sepi dan jarang orang-orang lewat.
Sedangkan Nadin, tersenyum bahagia saat melihat Rasti di kejar oleh massa. Nadin, merasa puas bisa membuat Rasti tersiksa tanpa menyentuhnya.
"Ini hukuman yang pantas untuk mu." batin Nadin saat melihat Rasti berlari.
🍁🍁🍁🍁🍁
Rasti di temukan pingsan oleh warga yang kebetulan lewat. Dia langsung di bawa ke rumah sakit. Iqbal kebetulan sedang piket di IGD. Saat mendengar ada pasien pendarahan tanpa indentitas pingsan. Jiwa dokternya langsung saja ke sana ingin memeriksa. Saat melihat jika pasien tersebut ialah Rasti. Iqbal, langsung saja mengambil tindakan. Karena dia memang mengenal wanita tersebut.
"Maaf, kenapa dengan pasien yang tadi?" tanya Iqbal pada warga yang mengantar Rasti, yang masih berada di rumah sakit.
"Kami gak tahu. Tadi saya kebetulan lewat mengantar penumpang. Melihat ada wanita terbaring dengan luka ditubuhnya. Juga banyak darah yang mengalir di jalanan, saya kaget. Terus turun untuk memeriksa. Dan akhirnya kami putuskan untuk membawanya kesini." jelas seorang bapak-bapak yang berprofesi sebagai sopir angkot.
"Tapi, saya tidak mempunyai uang banyak. Hari ini, saya baru mendapatkan segini." menyerahkan uang receh pada Iqbal, sebagai tanda bayaran.
"Tidak apa-apa. Kebetulan saya mengenali pasien. Dan rumah sakit ini juga memberi pelayanan gratis bagi keluarga kurang mampu." terang Iqbal lembut.
"Benarkah? Bukankah rumah sakit ini berbayar? Kami membawanya ke sini karena rumah sakit ini yang paling dekat." celetuk salah seorang Ibu-ibu, yang kebetulan menaiki angkot.
"Dulu iya, tapi sekarang sudah berlaku gratis untuk masyarakat menengah kebawah kok Bu." jelas Iqbal, mendapatkan senyuman bagi penghuni angkot lainnya.
__ADS_1
Akhirnya, semua orang yang mengantar Rasti pamit pergi. Rasti masih saja belum sadar. Kandungannya terpaksa harus di bersihkan. Sebab saat dokter melihat hasilnya. Bayi, tersebut telah tiada. Iqbal, tentu saja merasa kasihan. Apalagi, setahu dia, Rasti memang sangat menginginkan hamil.