Bercerailah, Bunda

Bercerailah, Bunda
episode 41


__ADS_3

"Aku menerima tawaranmu beberapa bulan yang lalu. Aku ingin kembali bersama Vina. Karena aku masih mencintainya." kata Anwar pada Rasti. Sekarang mereka lagi duduk di sebuah coffe shop.


"Apa yang membuatmu berubah pikiran? Bukankah dulu kamu sudah menolaknya?" Rasti melipat tangannya di dada.


"Karena dulu aku berpikir, bisa bahagia tanpa Vina. Lagipula aku tak ingin tidak ingin mengorbankan putri kecilku. Sekarang dia telah tiada. Jadi aku akan meraih kebahagianku lagi."


"Baiklah.Nanti akan aku beritahu bagaimana caranya. Sekarang aku pulang dulu." pamit Rasti.


Di rumah Iqbal. Vina sedang bersiap-siap untuk pergi menghadiri acara pernikahan teman sejawatnya Iqbal.


"Cantiknya istriku." puji Iqbal.


Mereka mengunakan baju couple warna denim. Saka tidak ikut. Karena dia memilih untuk beristirahat. Sebab semalam kafe sangat ramai. 


"Bagaimana dengan rencana pembukaan cabang kafe kita Mas?" tanya Vina saat mereka berada di mobil.


"Tokonya sedang di renovasi. Sudah berjalan 70 persen. Begitu yang Adit katakan." karena mereka membuka ditempat yang tidak jauh dari kosan Adit.


"Oh ya, ngomong-ngomong soal Adit. Sepertinya dia lagi dekat dengan seorang perempuan. Sebab, selama dia pulang kesini. Mas tanpa sengaja pernah mendengar dia bicara dengan perempuan. Bukan sekali."ujar Iqbal.


"Benarkah? Tapi kenapa dia tidak memberitahu padaku. Apa menurut Mas, aku mulai jauh dengan anak-anak?" tanya Vina.


"Tentu saja tidak, bukankah kamu sering menghabiskan waktu dengan Saka saat aku kerja?" 


"Tapi Adit. " ragu Vina.


"Tenanglah, mungkin dia segan untuk membicarakan ini padamu. Dia anak lelaki." bujuk Iqbal.


"Bagaimana jika bulan depan, Mas kurangi jam kerja. Mas ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu." 


"Benarkah? Sudah lama aku ingin Mas kurangi waktu di rumah sakit. Tetapi, aku segan memintanya." seru Vina bahagia.


"Baiklah kalau begitu. Mas akan ajukan permohonan." jawab Anwar.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sekarang Sasa mulai dimusuhi oleh beberapa orang. Bahkan ada yang terang-terangan menghina fisiknya yang tidak cocok dengan Adit. Tetapi Sasa tidak memperdulikannya. Sekarang Adit dan Sasa mempunyai kesibukan masing-masing. Jadi, mereka tidak sering bertemu. Karena saat pulang kuliah pun, Adit sibuk dengan toko yang direnovasi untuk dijadikan kafe. Dia bahkan meminta teman-temannya yang mengenal ahli desain interior untuk membantunya.


Adit menerapkan konsep keluarga. Dimana melingkup orang dewasa, remaja, dan anak-anak. Disana dia membuat beberapa spot foto, tempat bermain anak-anak, gazebo untuk duduk lesehan dan musala. Serta dia berencana akan mencarikan beberapa menu tambahan untuk kafenya tersebut.


Di tempat lain. Syahril menerima pekerjaan keluar kota untuk menjaga artis yang sedang naik daun. Tinggallah Sarah dan Bu Fatma. Semula Sarah hendak melarang, karena dia ingin terus bersama suaminya. Tetapi, Bu Fatma memberi pengertian pada Sarah. Jika suaminya bekerja demi dirinya juga. Sarah hamil baru 2 bulan. Makanya dia gak mau jauh dengan Syahril.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Saka memperhatikan seorang gadis yang dari tadi duduk sendiri sibuk dengan handphone nya. Gadis tersebut seperti menangis. Saka memberikan waktu untuk gadis itu menyelesaikan masalahnya. Setelah ia meletak handphonenya. Saka baru mendekat.


"Ada yang mau dipesan?" tanya Saka.


"Ice coffe sama kebab."


"Baiklah, tunggu sebentar."


Setelah menunggu beberapa saat, Saka mengantarkan pesanan gadis tersebut. 


"Jika anda sedang sedih. Makanlah coklat ini. Biasanya coklat bisa mengubah mood anda lebih baik." ujar Saka menyodorkan coklat. "Ini gratis." lanjut Saka, karena gadis tersebut hanya melihat bingung.


"Makasih ya. Oo … ya, toiletnya sebelah mana?"


"Dibelakang, lewat pintu sisi kanan." sahut Saka.


Saka pun melanjutkan untuk bekerja. 


"Mas, Mas-mas yang itu siapa namanya?" tanya Gina menunjuk Saka.


"Oo namanya Saka. Lihat aja ig nya kalau mau tau tentangnya." sahut seorang pekerja di kafe. Karena sudah biasa, jika para gadis-gadis menanyakan tentang Saka.


"Ooo … Makasih ya Mas." sahut Gina.


"Manis." batin Saka.


Gina, gadis mungil. Dilihat dari wajahnya seperti anak SMA.Gina gadis 19 tahun. Mempunyai hidung mancung, wajah yang manis, juga mempunyai gigi ginsul. Serta, rambut ikal, panjang sepinggang. Kulitnya seperti kebanyakan wanita asia. Tidak terlalu putih, juga tidak terlalu hitam.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sekarang jam 12 malam, Anwar menghubungi Nadin yang belum juga pulang. Namun, jangankan diangkat nomornya saja tidak aktif.


"Jika kamu bisa berubah, mungkin aku tidak akan kembali mengejar Vina." gumam Anwar.


Jam 3 pagi Nadin kembali, Anwar masih setia menunggu kepulangan Nadin. Dia ingin membicarakan arah hubungan mereka sekarang. Saat Nadin memasuki kamar. Dia terkejut, karena Anwar sedang bersandar di sandaran tempat tidur.


"Mas, belum tidur?" 


"Dari mana saja? Kenapa baru pulang jam segini?" tanya Anwar.


"Dari tempat teman, tadi ada pesta." bohong Nadin.


"Na, bisakah kamu jadi seperti dulu? Kamu seorang istri. Sudah seharusnya kamu berada di rumah. Menunggu kepulanganku. Jangan seperti ini lagi. Aku berangkat kerja kamu tidur. Aku pulang kamu tiada. Aku tidur, baru kamu tiba. Menurutmu, hubungan seperti apa yang kita jalani." papar Anwar, berjalan mendekati Nadin.

__ADS_1


"Aku bisa, seperti yang kamu mau. Asalkan uang yang kamu berikan lebih dari cukup. Lagian, aku juga ingin senang-senang. Belanja, jalan-jalan. Memangnya kamu sanggup memenuhinya?" tanya Nadin.


"Aku sudah berusaha, bahkan uang dari bengkel semua aku kasih ke kamu. Tapi kamu aja yang terlalu foya-foya. Traktir teman, ikut arisan, belanja. Segala macam lah, pokoknya." jelas Anwar. "Coba saja kamu lebih hemat. Gunakan uang secukupnya. Kita pasti bisa, Na." kata Anwar.


"Jika kamu tidak bisa memenuhi permintaanku. Jangan berharap aku mau melakukan apa yang kamu mau Mas." ucap Nadin. " Aku mau mandi, terus tidur di kamar tamu." ujar Rasti memasuki kamar mandi.


Anwar hanya bisa mengelus dada. 


"Kamu lah, yang membuatku begini Nadin." batin Anwar. Akhirnya dia memilih untuk tidur.


Keesokan harinya, sebelum pergi kerja. Anwar kembali memantau keadaan sekitar rumah Vina. Ia ingin melihat wajah Vina sebelum memulai kerja. Setelah menunggu beberapa saat. Iqbal keluar, tentu di antar Vina. Setelah Vina memasuki rumah, barulah Anwar pergi berangkat kerja.


"Apa yang harus kita lakukan? Kenapa rencana mu sangat lama?" Anwar mengirim chat untuk Rasti.


"Tenang lah, untuk sementara coba kamu dekati Vina lagi. Buat seolah-olah kalian sering ketemu tanpa sengaja. Dan jangan lupa untuk membantunya." balasan chat dari Rasti.


Hari ini Anwar memutuskan untuk bekerja setengah hari. Ia ingin kembali memantau Vina. Setelah sampai ke rumah Vina. Anwar menunggu Vina keluar dari rumah. Akhirnya pucuk dicinta ulam pun tiba. Vina keluar, menggunakan taksi online yang datang ke rumahnya. Anwar pun memutuskan untuk mengikuti Vina.


Vina mampir ke Indoapril yang berada dijalan dekat rumah Bu Fatma. Anwar pun memasuki Indoapril juga berbelanja seperti Vina.


"Vina." panggil Anwar.


"Mas, sama siapa? Mana Nadin?"


"Sendiri, kamu sama siapa?"


"Sendiri juga. Mas mau ke tempat Ibu juga kah?"


"Hehe ... Iya, makanya ini lagi belanja untuk kebutuhan Ibu."


"Kamu mau ke sana juga?" tanya Anwar lagi.


"Iya Mas, duluan ya." pamit Vina.


Anwar kembali mengikuti Vina.


"Vin, datang pakai apa?" tanya Anwar.


"Taksi Mas. Aku bayarin ini dulu ya."


"Vinq ... Vin ... Vina." teriak Anwar tak dipedulikan Vina.


Setelah membayar belanjanya, Vina buru-buru keluar dari Indoapril. Sebenarnya dia risih dengan Anwar. Dan malas jika berlama-lama bicara dengannya. Apalagi Anwar mengatakan ingin ke tempat Bu Fatma. Sudah pasti disana mereka akan bertemu lagi.

__ADS_1


__ADS_2