Bercerailah, Bunda

Bercerailah, Bunda
Meninggalnya, Bu Fatma.


__ADS_3

Setelah merayu dan membujuk Sarah. Akhirnya Syahril membawa Sarah ke tempat persembunyian Anwar. Sebelumnya mereka sudah menitip Shadiqa pada Vina. Agar ART di rumahnya hanya fokus terhadap Bu Fatma. Anwar yang sedang membuka pintu rumah karena hendak membeli makanan terkejut dengan kedatangan Sarah.


Plak ... Sarah langsung menampar Anwar. Sebab dia sudah terlalu muak pada Mas-nya itu.


"Brengsek kamu Mas. Kamu udah bikin Ibu sakit dan malu. Kamu enak-enakan disini. Ibu sakit Mas. Dan Ibu mengkhawatirkan mu." teriak Sarah. Syahril buru-buru menarik Sarah agar berada di dekatnya.


Anwar yang memang lagi ada masalah langsung tersulut emosi. Dia bahkan tidak segan langsung menarik rambut Sarah.


Syahril spontan langsung menendang Anwar, karena kesakitan otomatis tangannya terlepas dari rambut Sarah.


"Kamu jangan ikut campur ya." ancam Anwar menunjuk Syahril.


"Beraninya kamu menyiksa istriku." tekan Syahril.


"Heh ... Lalu apa kabar dengan istri mu. Yang baru saja datang langsung menamparku?" cibir Anwar.


"Sudah Mas." ujar Sarah melarang Syahril. "Mas kenapa menghilang sih? Ibu khawatir. Kenapa Mas buat Ibu seperti ini hah?" tanya Sarah berlinang air mata.


"Memangnya aku penting bagi Ibu? Bukannya, Ibu hanya sayang padamu? Pada anak perempuan yang sangat dia banggakan. Dan Ibu selalu mengatakan jika anak laki-laki adalah beban. Maka sekarang aku buktikan pada Ibu. Semua ucapannya adalah kebenaran." ucap Anwar mengeluarkan uneg-unegnya selama ini. "Dan apa yang terjadi selama ini padaku, juga gara-gara Ibu. Gara-gara Ibu aku kehilangan Vina. Gara-gara Ibu aku kehilangan anak-anak. Semuanya gara-gara Ibu. Sampaikan pada Ibu. Aku membencinya setelah apa yang terjadi terhadapku." teriak Anwar.


"Mas ... Kamu salah Mas. Kamu yang membuat Mbak Vina meninggalkan mu. Kamu ingat? Saat kamu menyiksanya. Pernahkah dia minta cerai? Tidak kan? Tapi kamu dengan bodohnya memasukkan Mbak Nadin dalam hubungan kalian. Mbak Vina minta cerai bukan karena perlakuan aku sama Ibu. Tapi karena kamu Mas." bela Sarah sesenggukan. "Kami memang bersalah. Karena kami pun turut andil dalam hubungan Mas sama Mbak Vina. Tapi kami sudah menyesalinya. Sedangkan kamu? Kamu malah semakin menjadi. Mas selingkuh dari Mbak Nadin. Dan Mas malah menceraikan Mbak Nadin saat Mbak Nadin ketahuan berhubungan dengan orang lain. Tapi Mas sendiri juga melakukan hal yang sama." papar Sarah.


"Kalian pergilah. Jangan pernah temui aku lagi." kata Anwar kembali memasuki kosannya.

__ADS_1


Sarah langsung tersedu memeluk Syahril. Dia tau pasti Anwar sedang terluka. Namun, dia juga marah pada Anwar. Karena mengabaikan Ibunya yang lagi sakit.


"Mas ... Ibu rindu. Temui lah, beliau. Sebelum dia pergi untuk selamanya. Karena Ibu pasti sangat menyayangi mu juga." Sarah menyelipkan kertas yang bertuliskan kata tersebut di bawah pintu. Kemudian mereka kembali pulang.


🍁🍁🍁🍁🍁


Vina, Adit, Saka sedang menjenguk Bu Fatma di rumah sakit. Bu Fatma di temukan oleh ART nya, dia jatuh dari tempat tidur dan tidak sadarkan diri. Sekarang Bu Fatma masih di tangani oleh dokter spesialis. Sedangkan Sarah menangis di pelukan Syahril. Iqbal belum bisa ke tempat Bu Fatma. Karena kebetulan dia lagi piket di poli umum.


Saka pun, sudah menghubungi Ayahnya pada nomor yang pernah meminta uang darinya. Namun, Anwar menolak untuk hadir. Karena dia masih mengingat ucapan Ibunya. Yang berkata anak perempuanlah yang merawat dan menjaga Ibunya.


Bu Fatma masih belum sadarkan diri. Dia mengalami tekanan darah tinggi. Akhirnya dia di masukkan ke ruang ICU. Sarah masih berharap agar Anwar datang. Karena dia ingin agar Masnya bisa melihat Ibunya untuk terakhir kalinya. Dia juga berharap. Dengan datangnya Anwar bisa membuat Ibunya sadar.


Sarah memberikan alamat Anwar kepada Adit juga Saka. Dia berharap agar Anwar bisa hadir. Adit dan Saka akhirnya berangkat untuk menemui Anwar.


"Maaf dik. Jangan ribut-ribut. Anak saya lagi tidur." ujar seorang Ibu-ibu tepat di samping kosan Anwar.


"Maaf Bu, kami lagi nyariin Ayah kami. Pak Anwar, yang tinggal di sini." ucap Saka menunjukkan pintu kosan Anwar. Sedangkan Adit hanya memperhatikan Ibu-ibu tersebut.


"Oo ... Pak Anwar udah pindah dik. Kalau gak salah, kayaknya kemarin sore."


"Ibu tau kemana?" lanjut Adit.


"Maaf, kurang tau saya Dik."

__ADS_1


Setelah mengucapkan terima kasih. Adit dan Saka kembali ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit. Adit dan Saka melihat jika Bundanya sedang menangis di pelukan Bapak. Atau Iqbal. Sarah menangis di peluk Syahril.


"Maafin Nenek ya Saka, terutama Adit. Nenek udah gak ada." ucap Sarah melihat kedatangan keponakannya.


Saka langsung menangis, dia merasa kehilangan. Karena selama ini dia begitu di sayangi oleh Bu Fatma. Terlepas Bu Fatma tidak menyukai Bundanya. Tetapi dia adalah cucu kesayangannya. Sedangkan Adit juga merasa sedih. Walau tidak separah Saka. Namun dia juga menyayangi Bu Fatma. Apalagi akhir-akhir ini. Bu Fatma sangat baik terhadapnya.


"Ayah kalian?" tanya Vina, masih dalam keadaan menangis.


"Dia sudah pindah." jawab Adit.


Akhirnya Bu Fatma di pulang kan. Dia langsung di kuburkan setelah menjalani fardu kifayah lainnya. Tanpa menunggu kedatangan Anwar. Kalau pun Syahril mencari. Maka akan membutuhkan setidaknya satu atau dua hari.


🍁🍁🍁🍁🍁


Di tempat lain, Anwar pulang ke rumahnya. Dia memilih untuk menginap di sana. Lagipula ART di sana sudah di pulangkan semenjak dia terlibat kasus vidio asusila.


Tidak ada yang tau. Kalau Anwar mampir ke sana. Apalagi dia datang pas tengah malam. Di saat orang-orang sudah terlelap. Saat perjalanan pulang, Anwar membeli mie instan, sarden dan juga makanan lainnya. Itu untuk persediannya selama beberapa hari.


Anwar terus saja memantau sosial media. Walaupun vidio nya sudah tidak terlalu viral. Namun, dia masih malu untuk menunjukkan wajahnya depan orang-orang. Apalagi orang yang kenal dengannya.


"Andai saja Vina masih disini. Pasti ini tidak terjadi." gumam Anwar.


Anwar sudah membaca isi pesan yang di tinggalkan oleh Sarah. Namun, itu belum bisa mengetuk pintu hatinya untuk bertemu Ibunya. Karena dia masih terngiang-ngiang ucapan Ibunya tetang perbedaan anak perempuan dan laki-laki.

__ADS_1


"Bu, aku kabulkan ucapan mu. Biarlah Sarah yang merawat mu. Lagi pula aku tidak percaya jika Ibu mengkhawatirkan aku. Buktinya Ibu lah yang banyak terlibat dalam hancurnya hubungan aku dengan Vina." batin Anwar sambil menatap foto Bu Fatma yang ada di ponselnya, saat pernikahan Sarah.


__ADS_2