Bercerailah, Bunda

Bercerailah, Bunda
episode 50


__ADS_3

"Mas," ujar Nadin gugup. Dia langsung berdiri dari tempat duduknya. " Kamu ke sini?"


"Kenapa kaget? Kaget, karena aku mengetahui kelakuan busuk mu?" ucap Anwar.


"Mas, aku bisa jelasin semuanya. Kamu jangan marah" ucap Nadin, melangkah menuju Anwar.


"Cukup. Kamu disitu saja. Karena aku jijik melihat mu." bentak Anwar.


"Nak, sabarlah." ujar Burhan, Papa Nadin. "Dengarkan dulu penjelasan Nadin."


"Penjelasan, jika dia di jual. Kemudian di siksa sama orang yang menikmati tubuhnya?" Cemooh Anwar.


"Memang pantas, kamu diperlakukan begitu. Karena kamu sungguh menjijikan." hina Anwar.


"Hei, jaga mulutmu ya. Anak kami begini juga ulah kamu yang gak bisa mencukupi kebutuhannya. Coba aja kamu gak pelit. Mungkin dia gak tersiksa begini." bela Mama Nadin, bernama Anita.


"Ooo ... jadi kalian menyalahkan aku? Terus kalian mendukung, jika, anak kalian jadi pelacur begini. JUAL DIRI." tekan Anwar pada kata jual diri.


"Jaga mulut mu ya." berang Burhan.


cuih ... Anwar meludah ke samping. "Nadin, dengan penuh kesadaran. Aku talak kamu. Mulai sekarang aku haramkan kamu atas diriku." tegas Anwar, membuat Nadin jatuh terduduk. Dan orangtuanya terkejut.


"Mas," lirih Nadin.


"Kamu campakkan anak kami. Lihat saja, akan aku balas perbuatan mu." ucap Burhan.


Anwar berlalu keluar, tanpa memperdulikan teriakan Nadin dan orangtuanya.


"Lakn*t kamu Nadin." teriak Anwar saat sudah berada di mobilnya.


Sedangkan Nadin masih meratapi nasibnya, ternyata sakit ditubuh yang dirasanya belum sesakit diceraikan oleh suaminya Anwar. Memang dia berkhianat. Tetapi semata-mata semuanya demi uang.


"Andai aku tidak mau mendengar perintah kalian. Pasti hubungan kami baik-baik saja sekarang." kesal Nadin.


"Ooo ... jadi kamu menyesal membantu kami ya? Kami hanya menyuruh mu satu kali. Bukan berulang kali. Jadi, itu semua bukan salah kami ya." bela Anita.


"Terus aku bagaimana? Aku udah janda Ma Pa."


"Untuk sementara kamu tinggal disini. Kita akan menuntut harta gono gini. Kamu punya tabungan kan ?" usul Burhan.


"Kita tuntut Pak Surya aja, gimana?" tanya Nadin.

__ADS_1


"Jangan, yang ada nyawa kita terancam. Lagipula, dia punya banyak uang. Kamu tau kan bagaimana hukum di negara kita. Lagian kita tidak mempunyai saksi dan bukti." ujar Burhan.


"Papa keluar dulu. Kamu disini saja sama Mama mu."


Setelah dari rumah Nadin, Anwar langsung pulang ke rumahnya. Dikamar dia berteriak, serta melemparkan semua barang-barang yang berada dimeja rias. Seakan-akan dia lupa. Bahwa dia sendiri juga berkhianat.


Namun, setelah agak tenang. Dia memilih untuk pergi menemui Rasti. Dia ingin menyalurkan kemarahannya pada Rasti.


"Kenapa balik kesini lagi? Bukannya mau ke rumah mertuamu?" rajuk Rasti. Sebab tadi dia sudah melarang Anwar.


Anwar yang sedang dikuasai amarah langsung menyergap tubuh Rasti.


"Kenapa? Kamu kelihatan begitu marah." tanya Rasti, sekarang mereka telah melakukan perbuatan zina.


"Aku sudah menceraikan Nadin."


"Benarkah? Jadi, kita bisa menikah?"


"Kita jalani aja dulu seperti ini."


Diluar, Burhan, merekam perbuatan Anwar melalui ventilasi lubang jendela. Tadi, sebenarnya ia ingin menemui Anwar dirumahnya. Namun, saat Burhan baru sampai. Dia melihat mobil Anwar, pergi dengan buru-buru. Makanya dia memilih untuk mengikuti Anwar.


Saat melihat Anwar, memasuki rumah seseorang tanpa canggung, Burhan langsung curiga.


Burhan, memilih turun dari mobilnya, untuk mencari tau tentang rumah yang dimasuki Anwar. Saat dia mengintip dari jendela. Betapa terkejutnya Burhan, melihat Anwar mencumb* seorang wanita. Burhan tidak mengenal Rasti. Karena ini pertama kalinya dia melihat Rasti.


Dengan berbekal kursi yang berada di teras. Papa Nadin, mencoba merekam apa yang dilakukan oleh 2 orang dewasa tersebut.


Saat Anwar dan Rasti memasuki kamar. Burhan langsung mencari ventilasi jendela kamar. Tidak lupa dia membawa kursi serta.


Burhan, tidak menyangka jika Anwar melakukan perbuatan keji tersebut. Ia akan mengunakan kesempatan ini untuk memeras Anwar. Setelah merasa cukup dengan rekamannya. Burhan memilih untuk pulang kerumahnya.


Satu minggu berlalu, dari semenjak Nadin diceraikan. Anwar belum mengatakan tentang vidio yang direkamnya, pada Nadin dan juga Anita istrinya.


Karena dia tidak ingin, jika istri dan anaknya membuat kekacauan dalam bertindak. Dia akan memeras Anwar secara perlahan. Atau, paling tidak. Anwar rujuk dengan Nadin. Agar hidup anaknya terjamin.


"Bagaimana jika Vidio ini aku unggah di media sosial." Burhan mengirim WA dengan nomor baru pada Anwar. Setelah memastikan Anwar melihat, dengan adanya dua contreng biru. Burhan buru-buru mematikan nomornya.


"Mampus, makanya jangan main-main dengan keluargaku." gumam Burhan, tersenyum.


Anita yang baru saja datang, mendekati Burhan yang duduk di teras.

__ADS_1


"Ada apa sih Mas? Kok dari tadi, aku perhatiin Mas senyum-senyum sendiri."


Karena Burhan lagi bahagia, dia memutuskan untuk memberitahu tentang vidio tersebut pada Anita.


Anita kesal, karena suaminya tidak memberitahunya sejak dulu. "Mas, minta uang saja sama Anwar. Yang banyak." usul Anita girang.


"Jangan Ma, sebab uangnya pasti tidak banyak-banyak amat. Mungkin gak sampai 5 atau 10 miliyar lah." ujar Burhan.


"Atau kita minta surat rumah yang Anwar tempati."


"Jangan Ma. Untuk apa sih rumah itu? Papa ingin, dia kembali bersama Nadin. Papa ingin Nadin ada yang jagain." ucap Burhan.


"Tenang Pa, masalah Nadin. Mama akan tanya-tanya teman Mama yang punya anak laki-laki. Lagipula, jika Nadin kembali bersama Anwar. Berkemungkinan Anwar akan menyiksa atau menelantarkan Nadin." jelas Anita.


Burhan jadi berpikir apa yang dikatakan istrinya bear juga. Dia tidak ingin anak gadisnya akan tersiksa.


Ditempat lain, Anwar yang menerima vidio tersebut merasa kelimpungan dan resah. Berulang kali dia menelpon nomor tersebut namun tidak aktif. Saat dia cek dari aplikasi pemilik nomor. Bahkan nomor tersebut belum ada yang menyimpannya. Artinya itu adalah nomor baru.


"Sebenarnya kamu siapa dan mau apa?"


"Sebutkan harga untuk vidio tersebut. Aku akan membayar mu."


Melihat hanya contreng satu, Anwar sangat kesal.


"Bukannya Rasti pernah bilang, jika tetangga disana tidak peduli apapun masalah tetangganya." batin Anwar.


"Sial" teriak Anwar. Membuat teman kerjanya menoleh.


"Maaf-maaf." pinta Anwar.


Sepulang kerja, Anwar mampir untuk memberitahukan tentang vidio yang baru masuk ke ponselnya. Rasti juga kaget. Karena wajahnya terekspos jelas. Rasti juga tidak bisa bertanya pada siapapun. Karena umumnya, tetangga disana akan bekerja disiang hari. Otomatis tidak ada orang yang melihat siapa yang datang ke rumahnya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sasa, akhirnya menerima perjodohan yang direncanakan oleh orangtuanya. Mereka akan menikah 2 bulan kemudian. Sasa juga akan pindah kuliah. Dia ikut dengan suaminya.


Kabar tentang Sasa terdengar ditelinga Adit. Karena Adit merekrut beberapa mahasiswa yang kurang mampu untuk bekerja sebagai pelayan di kafenya. Karena banyak diantara para mahasiswa tau, jika dulu Adit dan Sasa dekat, seperti orang pacaran.


Deg ... Adit tanpa sengaja melihat ke arah pintu masuk. Terlihat Sasa bergandengan dengan seorang lelaki.


"Kenapa hatiku tidak sakit ya. Malah lebih sakit saat mendengarkan hinaan dari orangtuanya." batin Adit.

__ADS_1


"Mungkin, memang selama ini aku bukan mencintainya. Cuma sebatas mengangumi ataupun menyukainya." gumam Adit melihat Sasa dan tunangannya yang berjalan mendekati dirinya.


__ADS_2