Bercerailah, Bunda

Bercerailah, Bunda
Permintaan Adit


__ADS_3

Flashback ...


"Kamu teman dekat Sasa? Mulai sekarang tolong jauhi Sasa. Dia anak kami satu-satunya." ujar Pak Irfan. Ayah dari Sasa. "Lagi pula, Sasa sudah kami jodohkan. Jadi, tolong kamu jauhi dia." tegas Pak Irfan.


Adit, yang tiba-tiba kedatangan Pak Irfan ke kosannya hanya terdiam.


"Dengar ya nak, kami sebagai orangtuanya. Menginginkan yang terbaik untuk Sasa. Dia putri kami. Lagi pula, kamu kuliah begini belum tentu juga dapat kerja. Sedangkan calon Sasa sudah PNS. Kami ingin, seorang pendamping yang mampu menjamin masa depan untuk dia." tutur Pak Irfan. Dia menatap remeh kepada Adit. "Lagipula, selama Sasa dekat denganmu. Hidupnya sudah mulai gak tenang. Banyak paket-paket yang gak jelas datang ke rumah. Kami takut jika ia stres. Terus berdampak untuk kelanjutan hidupnya." lanjut Pak Irfan.


"Apakah Bapak, sudah mengatakan pada Sasa agar menjauhi saya?"


"Heumm . . . Dia menolaknya, bahkan ia mengancam untuk meninggalkan kami sebagai orangtuanya. Lagipula dia berdalih jika kalian hanya temenan. Bukan pacaran." ungkap Pak Irfan sedih. Dia mengingat pertengkarannya dengan Sasa beberapa hari lalu. "Tapi, Bapak gak bisa di bohongi. Bapak tau jika kalian pasti pacaran. Karena Bapak pernah melihat betapa kalian saling mengagumi saat melihat satu sama lain."


"Bapak mohon, berhentilah, mendekati Sasa. Dia gadis polos. Mungkin untuk semester depan. Kami ingin memindahkannya, agar tidak satu kampus bersama mu." ujar Pak Irfan. Kemudian dia pamit pergi.


Karena larangan dari Pak Irfan. Adit selalu berdalih sibuk, saat Sasa mengajaknya untuk pulang bersama. Dia bahkan terang-terangan menjauhi Sasa.


Karena, keseringan memantau serta mencari referensi untuk kafe. Perlahan-lahan dia mulai menyukai bisnis tentang kafe. Ia ingin menjadikan kafe tersebut sekaligus rumah makan. Dan dia ingin merekrut teman-temannya yang dari rantau atau anak kurang mampu, untuk bekerja disana. Untuk memasak. Iqbal sudah mencari beberapa ahli.


Flashback off.


🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah mendengar pengakuan, dari Adit, yang ingin mengelola kafe. Iqbal ataupun Vina hanya pasrah. Karena Iqbal mengajarkan pada Vina agar jangan terlalu mengekang anak-anak. Biarkan, mereka menjalani hidupnya. Karena kita sebagai orang tua. Hanya bisa menuntun bukan menuntut.


Akhirnya, Vina, pun pasrah dengan keputusaan anak-anaknya. Walaupun dia sedikit kecewa. Namun, dia pun ingin anak-anaknya bahagia.


 


Akhirnya, setelah melewati hamil 9 bulan. Sarah, melahirkan seorang putri yang cantik. Dia melahirkan secara normal. Dan itu membuat Syahril panik serta ketakutan saat melihat perjuangan istrinya.

__ADS_1


"Makasih ya sayang. Kamu hebat," sambil mencium istrinya. Bahkan Syahril belum juga meninggalkan Sarah untuk melihat anaknya. Karena baginya Sarah lebih membutuhkannya. Dia melihat anaknya waktu di panggilkan suster untuk mengadzani nya.


Melihat perilaku Syahril yang sangat menyayangi anaknya. Bu Fatma terharu. Dia sangat senang, karena Syahril lebih mementingkan Sarah.


"Kamu makanlah dulu. Biar Ibu yang jagain Sarah." ucap Bu Fatma.


"Bukankah, udah dari semalam. Kamu gak makan gara-gara Sarah sakit?" ujar Bu Fatma lagi. Karena Syahril hanya merespon dengan menganggukkan kepalanya.


"Mas, makan aja dulu. Aku lelah. Ingin istirahat." ucap Sarah.


"Gak. Mas belum lapar. Kamu istirahat aja. Biar Mas yang jagain." ucap Syahril keras kepala.


Ya,,, Syahril sebenarnya takut. Karena tanpa sepengetahuan Sarah beberapa bulan lalu dia mencari jejak orangtuanya. Dia menemukan fakta. Jika Ibunya meninggal saat melahirkannya. Sedangkan Ayahnya memilih untuk bunuh diri. Karena tidak sanggup hidup tanpa istrinya. Namun, seolah-olah Ayahnya lupa. Jika masih ada nyawa yang membutuhkannya.


Karena tidak ada sanak saudara yang ingin merawatnya. Maka, mereka memutuskan untuk menitipkan Syahril ke panti Kasih Sayang.


Saat Sarah tertidur, Syahril masih setia menjaganya. Dia duduk di sofa. Namun pandangannya tidak lepas dari Sarah.


"Syahril," panggil Iqbal. Saat jam istirahat, Iqbal langsung menuju ke ruangan Sarah. Karena dia sangat mencemaskan sahabatnya, Syahril.


Namun , yang dipanggil tak merespon apa pun. Karena, pandangan dan fokusnya hanya tertuju pada sang istri yang sedang istirahat, pasca lelahnya berjuang. Sedangkan anaknya sudah tertidur usai IMD. Bu Fatma pun sudah pulang karena ingin membersihkan kain bekas kotoran Sarah.


"Syahril," ulang Iqbal menyentuh pundak Syahril.


"Bal, gua takut." tersadar jika Iqbal sudah berada di sampingnya. Duduk di sofa yang sama.


"Udah, kamu harus kuat. Bukankah, seharusnya kamu bahagia sudah menjadi seorang Ayah?" sambil menepuk bahu Syahril. "Kita sama-sama berdoa, agar Sarah baik-baik saja. Kamu begitu pucat. Sudah makan?" tanya Iqbal. Syahril hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku, ada bawa bekal. Kamu makan saja dulu. Di ruangan ini saja. Gapapa. Biar kamu bisa memantau keadaan Sarah," menyerahkan kotak makanan untuk Syahril. "Makanlah."

__ADS_1


Akhirnya, Syahril menerima pemberian Iqbal. Dia makan, karena memang perutnya sudah sangat lapar.


"Mas." panggil Sarah.


"Ada apa? Kamu butuh sesuatu? Atau kamu ingin minum? Atau ada yang sakit?" tanya Syahril panik. Belum juga Sarah menjawab pertanyaannya yang pertama.


"Gak ada apa-apa Mas. Mas, lanjut makan saja." ujar Sarah. "Mas Iqbal, tolong bilang pada Mbak Vina. Kalau aku udah lahiran. Soalnya semalam aku lupa menghubunginya. Karena ngehadapin suamiku yang cengeng." pinta Sarah.


Ya,,, saat mengetahui istrinya hendak melahirkan. Syahril dilanda kepanikan. Tiba-tiba dia gemetaran. Serta menangis, juga meminta maaf karena melihat wajah Sarah yang menahan sakitnya kontraksi.


Sarah yang semula merasakan dahsyatnya rasa kontraksi. Tiba-tiba tertawa bahagia. Karena melihat kepanikan suaminya. Begitu juga dengan Bu Fatma. Karena dia harus menenangkan Syahril terlebih dahulu. Sampai-sampai, Bu Fatma harus meminta tolong pada tetangga untuk mengantarkan Sarah ke rumah sakit. Karena Syahril udah gemetaran dan menangis.


"Baiklah, tapi bisa aku pastikan. Jika nanti Vina pasti marah besar. Karena dia sudah minta izin jauh-jauh hari padaku untuk menemanimu saat proses melahirkan." ungkap Iqbal.


🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah menerima telpon dari Iqbal. Vina dan Saka langsung menuju ke rumah Sakit. Dia mengomel sepanjang jalan. Karena niatnya tidak tersampaikan. Dia juga kesal sama suaminya. Karena Iqbal baru memberitahunya.


"Kamu sehatkan Sarah?" tanya Vina sambil memeluk Sarah. "Maaf, Mbak tidak membawa apapun. Karena tadi, Mbak datang buru-buru." ucap Vina.


"Lagian kamu juga. Udah berapa kali Mbak ingatkan. Jika nanti mulai kontraksi segera hubungi Mbak. Ini malah lupa. Padahal tadinya Mbak marah loh. Tapi ketika mendengarkan cerita dari Mas Iqbal kok Mbak merasa lucu ya." ujar Vina tertawa.


Deg ... Anwar tertegun mendengarkan suara renyah dari tawanya Vina. Hatinya berdenyut. Sudah lama dia tidak mendengar Vina tertawa lepas seperti sekarang ini. Ah ... Ternyata tidak mudah melupakan Vina. Itulah yang dirasakan Anwar.


Anwar datang sendiri. Karena, sekarang dia sedang marahan dengan Nadin, istrinya. Sebab, Nadin menolak untuk melepaskan KB. Dia sudah tidak ingin hamil lagi. Karena dengan hamil. Dia akan terbatas melakukan kegiatannya. Padahal Anwar sangat ingin memiliki anak lagi. Apalagi keuangannya semakin membaik.


Perlu di ketahui. Usaha bengkel yang ditekuni oleh Anwar membuahkan hasil. Bengkel tersebut dengan cepat menarik pelanggan.


Saat membuka pintu ruangan. Pemandangan pertama yang dilihat Anwar, adalah Vina yang mengendong anak Sarah. Itu mengingatnya akan masa lampau. Saat dia masih bahagia dengan Vina. Saat Vina baru saja melahirkan Adit. Apalagi saat mata antara ia dan Vina bersitatap.

__ADS_1


__ADS_2