Bercerailah, Bunda

Bercerailah, Bunda
Mulainya karma untuk Nadin


__ADS_3

Yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Saat melihat Anwar memasuki bar. Rasti langsung pura-pura pingsan. Anwar, celingukan mencari keberadaan Rasti. Kemudian dia bertanya pada beberapa orang. Sampai ada yang menunjukkan Rasti, yang tertidur bersandar di sofa.


"Cihhh ..." Anwar berdecak kesal. " Kamu sangat menyusahkan Rasti." Anwar membopong Rasti keluar. Saat dia masih di pintu keluar. Anwar melihat Nadin menaiki mobil dengan seorang lelaki.


"Nadin." panggil Anwar. Namun Nadin tidak mendengarnya. Karena sudah telanjur memasuki mobil.


Ingin mengejar Nadin, namun terhalang dengan adanya Rasti di pangkuannya. Terakhir, Anwar memilih mengantarkan Rasti dari pada mengejar Nadin yang entah kemana.


Anwar berkali-kali menelpon Nadin, saat berada di mobil. Namun jangankan di angkat. Nomornya saja tidak aktif.


"Gara-gara kamu kan? Aku kehilangan jejak istriku." gumam Anwar. Rasti hanya tersenyum tipis. Dia juga tidak menyangka. Jika Nadin, berada di bar yang sama dengannya.


Karena sudah pernah mengantar Rasti waktu dulu. Makanya, Anwar tau dimana Rasti tinggal. Rasti tinggal di komplek rumah yang sederhana. Menurut cerita Rasti. Para tetangga di sana tidak pernah peduli apapun yang terjadi di lingkungannya. Karena semua sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.


Anwar memeriksa tas Rasti, guna mencari kunci rumah. Setelah mendapatkannya. Anwar langsung membuka pintu dan membawa Rasti menuju kamarnya. Setelah meletakkan Rasti dengan hati-hati. Anwar langsung ingin beranjak pergi. Namun Rasti menarik paksa lengan Anwar. Sampai Anwar jatuh menindih tubuhnya. Selanjutnya Rasti pura-pura meracau karena mabuk. Dan memancing Anwar untuk melakukan hal terlarang.


Anwar yang terpancing pun, melakukan hal yang seharusnya tak dilakukan bersama dengan Rasti.


Pagi harinya, Rasti terjaga lebih dulu. Dia tersenyum saat melihat Anwar yang berada disisinya.


"Maaf Mas Anwar. Akan aku manfaatkan kamu. Untuk isi perutku. Karena, jika menunggu Iqbal pun percuma. Karen dia sangat mencintai Vina." batin Rasti.


Melihat pergerakan dari Anwar. Rasti buru-buru menutup matanya. Anwar pun, perlahan-lahan membuka matanya dia terkejut. Dan langsung duduk. Disusul dengan Rasti. Dia juga pura-pura terkejut. Ingin teriak, namun Anwar buru-buru menutup mulut Rasti.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Rasti, setelah memindahkan tangan Anwar dari mulutnya.


"Semalam aku mengantarmu pulang. Terus kamu memaksaku untuk melayani mu."


"Bohong. Semalam aku pergi sendiri. Kenapa tiba-tiba kamu berada di sana hah" jerit Rasti.


Anwar menarik rambut frustasi.


"Aku di telpon oleh seseorang menggunakan ponselmu. Dia mengatakan jika kamu mabuk berat. Makanya aku datang."


Rasti mengecek ponselnya. Namun, pura-pura menjambak rambutnya sendiri.


"Aku minta maaf. Mari kita lupakan apa yang terjadi hari ini." ujar Anwar.


"Baiklah." Rasti tak ingin memaksa Anwar. Dia ingin semua rencananya berjalan dengan perlahan, dan pasti.


Anwar memilih untuk pulang. Dia takut dan sedikit penasaran pada Rasti. Takut, jika nanti Ibunya memarahinya. Namun rasa penasaran lebih mendominasi.


Saat tiba di rumah. Anwar baru teringat jika semalam dia melihat Nadin bersama lelaki lain. Namun, ponsel Nadin belum juga aktif. Lalu, Anwar bersiap-siap untuk pergi kerja.


🍁🍁🍁🍁🍁


Kembali ke Saka dan Gina. Saka mulai mencari tau tentang Gina. Karena, setelah mendengarkan pengakuan dari Gina. Saka mulai resah. Setiap malam hanya senyumannya Gina yang berada di mimpinya. Bahkan Saka selalu tergiang-giang dengan ucapan Gina.


Setelah mendapatkan informasi tentang Gina. Akhirnya Saka memutuskan untuk ke kampus Gina. Dia akan menunggu Gina di sana. Setelah 2 jam menunggu akhirnya Saka melihat Gina keluar dari gerbang menggunakan sepeda motor bersama Intan.


"Gina." panggil Saka berteriak. Membuat Gina dan beberapa mahasiswi menoleh.

__ADS_1


"Mampus, Kak Saka." ujar Gina. Dia menambahkan kecepatan motornya.


Saka melihat Gina yang menambahkan kecepatan motornya hanya tersenyum. Dia tahu jika Gina pasti malu.


"Bagaimana ini, kenapa motorku lajunya kencang amat." teriak Gina.


"Rem, Gina. Remmm." perintah Intan berteriak.


"Syukurlah." Gina dan Intan menghela napas lega. "Maaf. Gua panik, lihat Kak Saka." cetus Gina.


"Oke, gua paham. Karena sebagian orang akan bodoh jika jatuh cinta. Sini biar gua yang bawa." pinta Intan. Kemudian Gina turun dari sepesa motor.


Kemudian, Saka berhasil menyusul di antara mereka.


"Hai," sapa Saka. "Kenapa?"


Melihat kedatangan Saka. Intan sebagai yang baik, langsung tancap gas. Meninggalkan Gina bersama dengan Saka.


"Intannnnnn ... Tunggu." teriak Gina, tapi Intan, jangan berhenti menoleh saja tidak.


Saka tertawa lebar. Mungkin dia akan berterimakasih pada Intan. Suatu hari nanti.


"Ayo kita pulang bersama."


"Ta-tapi ... Aku pulang naik angkot saja lah, Kak." tolak Gina.


"Mau nunggu sampai kapan?" Ayolah, mumpung aku bawa helm. Lagian memang aku niat ingin ketemu sama aku. Karena ada hal yang ingin aku bicarakan."


"Baiklah."


"Oke."


Sampai disana. Mereka memilih duduk di bangku yang telah disediakan. Tadi, di perjalanan. Saka sudah mampir ke supermarket untuk membeli minuman dan beberapa macam cemilan.


"Soal pengakuan mu waktu itu..."


"Pliss Kak, jangan Kakak ingat lagi tentang itu. Aku udah minta maaf loh." rajuk Gina menahan malu.


"Hehehe ... Kalo Kakak bilang, jika Kakak juga menyukaimu bagaimana?"


Gina terdiam, tak tau harus menjawab apa. Tiba-tiba dia seperti orang bodoh.


"Gina, bagaimana? Bisa kita dekat?" tanya Saka. Karena melihat Gina yang terdiam.


"Ta-tapi ... Kenapa Kakak bisa suka sama aku?"


"Ya, karena setelah mendengar perkataan mu waktu itu. Aku selalu kepikiran terhadap kamu. Yang pasti aku selalu merinduimu."


"Baiklah, kita pacaran. Kakak udah pernah pacaran sebelumnya? Karena aku gak mau terlibat dengan mantan-mantan Kakak. Karena jika Kakak udah jadi milikku, berarti orang lain gak bisa memilikimu."


"Aku suka dengan pengakuan mu. Tenang kamu yang pertama."

__ADS_1


"Waaahhh ... Kakak juga yang pertama bagiku." ujar Gina.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Kamu sebenarnya dari mana Na?" tanya Anwar pada Nadin. Sekarang sudah malam. Nadin baru saja pulang ke rumah.


"Dari rumah sepupu ku lah, Mas. Kan aku udah izin sama kamu. Masak kamu lupa." ujar Nadin sambil memoleskan krem wajah.


"Katakan yang jujur Na." masih menahan emosi.


"Kenapa sih Mas? Kan, udah aku bilangin. Kalo aku di rumah sepupuku."


"Kemarin malam, aku lihat kamu di bar zzz.. Kamu ngapain di sana hah?" teriak Anwar.


Nadin tersentak mendengar ucapan Anwar.


"Sial." batin Nadin.


"Mu-mngkin Mas salah lihat kali." ujar Nadin gugup. "Aku gak pernah ke sana kok Mas." ucap Nadin.


Anwar bangkit dari sofa yang berada di kamar. Sekarang dia menuju ke tempat Nadin yang berada di depan cermin. Mata Madin, terus menatap Anwar yang mendekatinya.


"Mas ngapain ke bar zzz? Selama ini, sepengetahuan aku Mas belum pernah ke sana." pertanyaan yang muncul begitu saja dari Nadin. Akibat terlalu takut.


Anwar berhenti dari langkahnya. Dia nampak berpikir mau menjawab apa. Melihat Anwar yang mematung. Nadin menggunakan kesempatan untuk mencerca Anwar. Guna menutupi kesalahannya sendiri.


"Mas. Mas ngapain ke sana? Dan sejak kapan Mas ke sana?"


"A-aku ke sana, karena ada urusan penting. Sudahlah, lupakan. Mungkin bener aku salah lihat." Anwar langsung menuju keluar kamar.


"Selamat." batin Nadin.


🍁🍁🍁🍁🍁


Seminggu sebelumnya. Nadin mendapat telpon dari orangtuanya. Mereka membutuhkan sejumlah uang untuk menutupi hutang, akibat usaha yang dijalaninya mengalami kebangkrutan, karena di tipu sama temannya.


"Kamu minta sama Anwar. Dia pasti memiliki banyak uang. Karena setau kami, bengkelnya sudah banyak pelanggan.


"Tapi Ma, aku gak berani minta dengan jumlah yang banyak. Tabungan aku aja gak sampai segitu."


"Kamu itu udah jadi anak durhaka ya. Mama cuma minta 500 juta kamu bilang gak ada? Selama ini kami udah kasih kamu lebih dari itu loh."


"Pokoknya, apapun yang terjadi. Uang 500 juta harus ada dalam minggu ini." tekan Mamanya Nadin.


Saat malam hari, setelah melakukan kewajiban suami istri. Nadin memberanikan diri untuk memberitahu tentang Mamanya pada Anwar.


"Itulah, akibat terlalu sombong. Dulu saja, suka menghina. Sekarang udah bangkrut kan? Bilang saja, yang ada cuma 50 juta. Itupun kalo mereka mau minta maaf padaku." ucap Anwar. Karena selama ini dia cukup memendam rasa jengkel dan tidak suka pada orangtuanya Nadin. Alias, mertua nya.


Setelah Anwar terlelap. Nadin memberitahukan pada orangtuanya. Jika Anwar tidak memiliki cukup uang.


Namun, orang tua Nadin memberikan sebuah ide. Jika Nadin, mau berkencan selama semalam, bersama rentenir, tempat orangtuanya berutang. Maka, hutang tersebut di anggap lunas.

__ADS_1


__ADS_2