Bercerailah, Bunda

Bercerailah, Bunda
episode 42


__ADS_3

Sekitar 10 menit sebelum sampai ke rumah Bu Fatma. Tiba-tiba taksi yang di tumpangi Vina berhenti. Sang sopir minta maaf, mengatakan jika mobilnya mogok. Akhirnya Vina turun, dan membayar sejumlah uang. Sebenarnya dia sedikit kesal, tetapi dia mencoba sabar. Toh ini bukan keinginan sopir taksi.


Vina memilih berjalan kaki dan menenteng bawaannya untuk Sarah juga Bu Fatma. Dia tau percuma menunggu di sana, gak sangat jarang ada taksi lewat. Setelah berjalan beberapa saat, mobil Anwar berhenti gak jauh di depan Vina. Tetapi Vina malah melengos.


"Vin, kok jalan kaki? Taksinya mana?" basa-basi Anwar. Padahal dialah yang menyuruh sopir untuk pura-pura mengatakan mobilnya mogok.


Anwar memberikan sejumlah uang kepada sopir. Awalnya sopir menolak. Namun, Anwar mengatakan jika Vina adalah istrinya yang merajuk. Dan Anwar juga memperlihatkan fotonya dengan Nadin. Akhirnya, sopir pun menerima permintaan Anwar. Karena dia berpikir, membuat suami istri kembali baikan adalah suatu perbuatan baik.


"Ya udah, ayo bareng saja."


"Gak usah Mas, jalan kaki saja. Nanti di depan pun ada pangkalan ojek." tolak Vina.


"Iya, kalo ada. Kalo ojeknya gak ada? Lagian bawaan mu berat. Kita bareng saja ya." paksa Anwar. Akhirnya Nadin pun, menerima ajakan Anwar.


"Makasih ya Mas." canggung. Itulah yang di rasakan Vina.


"Santai." jawab Anwar, menjalankan mobilnya.


"Aku minta maaf ya Vin, jika selama kita bersama, aku terlalu sering menyakitimu." ujar Anwar setelah ter diam beberapa saat.


"Lupakan saja Mas, bukankah kita sudah bahagia dengan kehidupan kita masing-masing." jawab Vina tanpa menoleh pada Anwar.


"Iya, aku lihat kamu sangat mencintai Iqbal."


"Harus Mas, karena dia suamiku. Orang yang menjamin kenyamanan dan keselamatan aku." ucap Vina.


"Berbeda, saat aku yang jadi suamimu. Malas terus-terusan menyakitimu." ujar Anwar. Tetapi Vina malah terdiam.


Tak lama kemudian, mereka sampai ke rumah Bu Fatma. Bu fatma mengernyitkan dahi. Kenapa Vina bisa satu mobil dengan Anwar anaknya.


"Tumben ke sini." kata pertama di ucapkan Bu Fatma saat Anwar menyalaminya. Sebab, setelah Rania meninggal, inilah kali pertama Anwar mengunjungi Ibunya.


"Hari ini gak banyak kerjaan Bu, makanya bisa pulang cepat. jadi, aku mampir ke sini." sahut Anwar.


"Kenapa bisa bareng Anwar nak?" bisik Bu Fatma pada Vina. Sedangkan Anwar sudah berlalu masuk ke dalam.


"Tadi di jalan, taksi yang aku tumpangi mogok Bu. Kebetulan ketemu Mas Anwar. Jadi barengan deh." jelas Vina.

__ADS_1


Bu Fatma hanya ber Oo ria.


"Makasih ya mbak. Ayo kita langsung jalan saja." ajak Sarah.


Sarah memang mengajak Vina untuk sama-sama ke salon. Awalnya Sarah ingin menjemput Vina. Tetapi Vina beralasan ingin bertemu Bu Fatma. Jadi, mereka akan berangkat dari rumah Bu Fatma.


"Kalian mau ke mana? Vina baru saja sampai loh." tanya Anwar. Pupus sudah harapannya untuk bisa lama-lama bersama Vina.


Semula, rencananya mereka mau masak-masak dan makan bersama di rumah Bu Fatma. Tetapi, Sarah peka. Jika Vina, tidak nyaman berada di rumahnya jika ada Anwar. Makanya Sarah langsung siap-siap saat melihat Vina datang bersama Anwar.


"Kami mau ke salon Mas, biar suami makin lengket." cetus Sarah.


"Ya udah, Mas anterin ya." tawar Anwar.


"Gak usah, aku bisa nyetir sendiri Mas." tolak Sarah, membuat Vina lega.


Vina dan Sarah pun pergi ke salon. Saat tau Sarah hamil. Vina sengaja mengajak Sarah untuk ke salon. Mereka ingin melakukan segala perawatan. Vina ingin agar Sarah bisa rileks dan nyaman. Apalagi, menurut yang di dengar Vina dari Iqbal. Jika selama hamil, Sarah sangat malas melakukan perawatan.


"Makasih ya, karena mau nemenin Mbak."


"Mbak, jangan pulang dulu ya. Takutnya Mas Anwar masih di rumah. Kita belanja aja dulu. Bagaimana?" tawar Sarah.


"Boleh, ayo."


Di rumah Bu Fatma. Anwar masih setia menunggu kepulangan Sarah dan Vina. Dia beralasan pada Ibunya, kalau dia malas pulang karena sikap Rasti. Yang belakangan ini sering keluar sampai pulang dini hari.


Bu Fatma hanya memberi nasihat pada Anwar. Untuk lebih sabar dalam mendidik istrinya. Sekarang dia tidak akan ikut campur lagi dalam urusan rumah tangga sang anak.


"Kenapa belum pulang ya? Padahal ini sudah 4 jam mereka pergi." batin Anwar.


Di tempat lain, Sarah dan Vina sudah selesai belanja. Sarah langsung mengantarkan Vina ke rumahnya. Karena Vina tidak mau mampir lagi. Dia harus menyiapkan makan malam untuk Iqbal suaminya.


"Mas, kok masih di sini?" tanya Sarah setelah sampai rumah. Dia melihat Anwar sedang tiduran di sofa ruang tamu.


"Eh, udah pulang. Vina mana?"


"Sudah aku anterin pulang Mas. Lagian udah sore, Mbak Vina mau nyiapin makan malam untuk suaminya."

__ADS_1


"Kalian kemana aja sih? Lagian lama amat." sewot Anwar.


"Dari salon Mas, habis itu kami belanja. Emang kenapa sih?" tanya Sarah curiga.


"M-mas hanya khawatir padamu. Apalagi kata Ibu kamu hamil." ujar Anwar.


"Kirain Mas nungguin Mbak Vina." ucap Sarah. Dia izin masuk ke kamarnya.


Sarah sedang telponan dengan Syahril. Karena sekarang Syahril istirahat. Dia bertanya tentang apa yang dilakukan Sarah sepanjang hari. Syahril juga tidak lupa mengingatkan Sarah untuk jaga kesehatan. Jaga kandungan dengan baik. Karena kemungkinan dia akan pulang minggu depan.


Tok ... tok ... tok ... Sarah. Suara ketukan disertai panggilan terdengar. Sarah bangkit dari kasurnya.


"Ada apa Mas?" ucap Sarah setelah membukakan pintu.


"Kamu sibuk? Ada yang ingin Mas bicarakan."


"Sebentar, aku matiin telpon dulu. Tadi lagi telponan sama Mas Syahril." ujar Sarah. Anwar hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah mematikan handphone nya. Sarah meminta agar mereka bicara di dapur. Karena diapun sedang ingin makan cemilan. Sarah berbeda dengan Ibu-ibu hamil lainnya. Dia bahkan tidak pernah merasakan apa itu morning sickness yang dia rasakan adalah malas bersih-bersih serta bawaannya lapar terus.


"Ada apa sih Mas? Tumben serius." tanya Sarah. Di tangannya sudah ada puding.


"Sejak kapan kamu akrab dengan Vina? Sudah lama Mas ingin menanyakan tentang ini."


"Oo ... Sudah lama sih Mas. Kami sadar, jika apa yang aku dan Ibu lakukan selama ini salah. Makanya kami datang untuk meminta maaf. Dan baiknya Mbak Vina, langsung memaafkan kami." jelas Sarah. "Sejak saat itulah kami akrab. Aku juga baru tau. Jika Mbak Vina bisa sangat menyenangkan. Aku menyesal, karena baru akrab sekarang. Saat dia bukan lagi siapa-siapa kita. Harusnya kan udah dari dulu." keluh Sarah.


"Mas juga menyesal. Andai dulu Mas bisa membahagiakan Vina. Pasti kami sekarang masih bersama." ucap Anwar.


" Menurutmu, andai Vina belum nikah sama dr. Iqbal. Maukah dia kembali sama Mas?" tanya Anwar.


"Ya gak lah, Mas, andai pun Mbak Vina mau. Dia juga harus nikah dulu sama orang lain. Bukannya Mas sudah menalak tiga Mbak Vina?" tanya Sarah.


"Itu lah, hal yang paling Mas sesalkan." keluh Anwar.


"Mas masih mencintai Vina. Bahkan Mas belum bisa melupakannya sampai saat ini." jujur Anwar.


"Apa?" teriak Nadin.

__ADS_1


__ADS_2