Bercerailah, Bunda

Bercerailah, Bunda
Saka bertemu keluarga Gina


__ADS_3

Anwar menangis di atas kuburan Bu Fatma. Dia menyesali semua ucapan yang di keluarkan nya.


"Maafkan Anwar Bu. Anwar telah jadi anak yang durhaka." isak Anwar. "Anwar menyesal Bu." menangis tersedu.


Anwar memanjatkan doa kepada Bu Fatma, setelah nya dia kembali ke rumah Sarah. Sampainya di rumah Sarah. Anwar mengutarakan niatnya.Dia ingin agar Sarah menyuruh Syahril untuk mencari pembeli rumahnya. Karena sekarang dia memutuskan untuk pergi jauh dari kotanya.


Anwar berencana akan tinggal di desa. Dia sudah membeli satu petak rumah sederhana disana. Dia ingin menenangkan diri, dan juga agar orang-orang lupa akan vidio asusilanya.


Pak Burhan dan Anita sangat bahagia dengan penderitaan yang di alami Anwar. Apalagi setelah tahu jika Anwar dipecat serta Bu Fatma meninggal. Mereka memang datang, saat acara pengajian untuk Bu Fatma. Saat melihat Anwar yang tidak ada di sana. Mereka bisa menebak jika Anwar pasti malu menampakkan diri di keramaian.


Nadin akhirnya tahu. Jika yang merekam vidio Anwar adalah Papanya. Nadin di beritahu sama Anita. Dan Nadin, sangat berterimakasih pada orang tuanya. Karena gara-gara mereka Anwar bisa merasakan kemiskinan yang sama. Apalagi Nadin mendengar jika bengkel yang di rintis Anwar mengalami kebangkrutan dengan sepinya pelanggan. Dan sekarang bengkel tersebut pun di jual.


Nadin, langsung menghubungi temannya, Winda. Mereka bertemu di club hanya untuk ngebahas masalah Anwar. Nadin juga melarang temannya untuk jangan mendekati Anwar lagi. Sebab Anwar telah di nyatakan miskin. Terbukti dengan di jualnya bengkel miliknya.


Sekarang Nadin sudah bebas. Dia juga sudah biasa minum-minum di club. Bahkan dia dengan bebas gonta ganti pasangan. Yang penting uang bayaran yang mahal. Nadin memang bekerja sendiri. Dia mau melayani jika uang yang di janjikan tidak sedikit. Lagipula, dengan uang tersebut. Dia bisa membahagiakan Papa dan Mamanya. Tak peduli jika itu adalah perbuatan haram. Yang penting dia bisa makan dan menghabiskan uang sepuasnya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sekarang saatnya libur semester. Gina di minta dr. Ahmad untuk pulang kerumahnya. Apalagi Kakak pertamanya, Haris dia baru saja kembali, hanya untuk mengunjunginya.


"Papa." panggil Gina pada Ahmad yang sedang berada di ruang kerjanya.


"Sayang. Sini nak." langsung bangkit memeluk putrinya. Saat melihat wajah Gina. Dr. Ahmad selalu saja teringat akan istrinya. "Bagaimana kuliah mu? Lancar? Atau ada kendala?"


"Lancar, Pa. Papa tenang saja. Kak Haris mana?"


"Ada di kamar. Lagi istirahat."


"Oke." Gina langsung berlari menuju kamar Haris. Gina sudah tau. Kalau Haris pulang sendiri tanpa membawa istrinya.

__ADS_1


"Kakak." Masuk setelah mengetok pintu walaupun tanpa mendengarkan suara balasan dari dalam. "Kakak ..." melihat sekeliling kamar. Namun keberadaan Haris tidak juga terlihat.


Gina langsung saja memutar tubuhnya untuk masuk ke kamar sendiri. Dia sedikit merasa kesal. Karena Haris tidak berada di kamar. Padahal dia sangat merindukan sang Kakak tercintanya.


"Surprise ..." teriak Haris yang berada di kamarnya Gina. Gina langsung berlari memeluk Haris.


"Kirain tadi Kakak kemana. Kangen." rengek Gina. "Oleh-oleh?" menadahkan tangan.


"Ada, nanti Kakak beri." mengelus rambut Gina. "Yuk ... Kita turun. Tadi Kakak masak menu baru loh." ujar Haris mengandeng adiknya Gina.


Haris tinggal di hongkong. Di sana dia bekerja di perusahaan pembuat makanan ringan. Dia menjabat sebagai direktur. Karena komisaris masih atas nama dr. Ahmad. Serta membuka resto masakan indonesia sebagai sampingan. Bisnisnya sangat berkembang dan juga sudah membuka 3 cabang lainnya.


Setelah makan malam bersama. Dr. Ahmad, Haris dan Gina duduk di ruang tengah sambil mendengarkan keseruan Gina saat kuliah. Dia juga berterimakasih pada Papa-nya yang telah membiayai kuliah Intan. Tak lupa juga mengatakan kalo Intan adalah teman siaga. Yang selalu ada saat dia senang ataupun sedih.


"Kakak dengar, kamu sudah punya pacar." ujar Haris membuat Gina tercekat. "Besok, ajak lah, kemari. Kakak ingin ketemu."


"Tapi Kakak janji, jangan macam-macam. Dia anak yang baik." tekan Gina.


"Tapi Kak Saka tidak begitu Kak. Dia baik. Bahkan dia gak tahu. Kalo aku anak dari pemilik tempat, Bapak tirinya bekerja." bela Gina.


"Kakak gak bisa menilai sebelum melihat langsung. Besok, ajaklah dia kesini." ujar Haris.


Meskipun Gina sangat akrab dengan Haris. Tapi setiap keputusan yang Haris buat tidak bisa di ganggu gugat. Gina sadar, apa yang Kakaknya khawatirkan sebagai bentuk peduli seorang Kakak dalam melindungi adiknya. Namun, dia juga tidak rela jika Saka besoknya di tekannya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Keesokan harinya, Saka datang ke rumah Gina. Dia tidak menyangka. Kalau gadis yang di cintai-nya merupakan orang kaya. Rumah Gina termasuk salah satu rumah paling besar yang berada di komplek tersebut. Mendadak rasa percaya dirinya hilang. Dia bahkan sangat gugup. Tetapi, untuk memenuhi janjinya semalam pada Gina. Saka mencoba memberanikan diri.


Setelah mengatakan nama dan tujuannya pada satpam. Saka di antar kan menuju pintu utama. Dan Gina langsung menyambut bahagia saat kekasihnya datang dengan bahagia.

__ADS_1


"Ayo masuk ..." mengandeng lengan Saka tanpa canggung. Dan langsung membawa Saka ke ruang keluarga. Di sana dr. Ahmad dan Haris sudah menunggu.


Saka langsung menyalami keduanya. Keringat dingin langsung membanjiri tubuh Saka. Begitu juga dengan tangannya begitu dingin.


"Jangan takut. Mereka baik kok." bela Gina, menenangkan Saka.


Sejujurnya yang membuat Saka takut bukanlah orang tua Gina. Yang membuatnya takut adalah, ternyata Gina orang kaya. Dia takut, jika orang tua Gina tidak merestuinya jadi kekasih dari anak mereka. Apalagi Saka sadar diri. Dia bukanlah, orang kaya. Yang kaya adalah Bapak tirinya, ataupun dr. Iqbal.


"Ayolah Saka. Jangan gugup." batin Saka menyemati diri sendiri.


"Jadi, kamu pacar Gina." Haris buka suara.


"I-iya Kak." gugup Saka.


"Apa yang membuatmu berani jadi pacar Gina?" tanya Haris lagi. Sedangkan dr. Ahmad hanya diam membisu.


"Karena kami saling menyukai."


"Itu jawaban klasik." cibir Haris. "Bukan karena dia anak orang kaya?" tekan Haris lagi.


"Aku juga baru tau, kalo Gina sekaya ini. Lagipula, aku menyukai Gina bukan karena kaya. Sebab aku menyukainya tanpa alasan." mulai sedikit berani.


"Kalo kami menyuruhmu untuk memtuskan Gina. Apa kamu setuju."


"Kakak ..." Gina melebarkan mata, mendengar pertanyaan dari Haris. "Kak, jangan dengerin Kak Haris." menggenggam tangan Saka.


"Jika kalian meminta, ya. Karena aku baru pacarnya. Sedangkan kalian keluarganya, orang yang merawatnya sampai sekarang. Aku orang yang baru di kenalnya. Sedangkan kalian orang yang selalu ada untuk Gina. Mungkin, aku akan terluka, tetapi kalian lebih terluka jika Gina membantah apa yang kalian inginkan." papar Saka. Perih, tentu saja. Namun, dia juga sadar. Mana mungkin keluarga Gina merestuinya. Derajat mereka tentu saja berbeda.


"Kak ..." lirih Gina dengan mata berembun, mendengar perkataan Saka.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2