Bercerailah, Bunda

Bercerailah, Bunda
Kesetiaan Intan


__ADS_3

Saka yang baru selesai kerja, baru saja memegang ponselnya. Saat melihat ada notif dari pacarnya Gina, dia tersenyum. Karena sudah larut, akhirnya dia memilih untuk menelpon Gina. Karena bagaimanapun rasa khawatir tetap ada. Sebab ini pertama kalinya semenjak pacaran Gina memberitahu akan hadir ke acara party. Karena dalam benak Saka, yang namanya party pasti ada yang namanya minum-minum.


Deringan pertama, Gina tidak menjawab. Namun, Saka mencoba lagi. Sampai dengan panggilan ke tiga kalinya Intan mengangkat ponsel Gina. Dan memberitahukan kalau Gina sudah tidur.


Intan memang tidak menceritakan kalau Gina mabuk. Karena dia tidak ingin sahabatnya malu. Ataupun, agar nanti Gina bisa memberitahu sendiri, langsung kepada Saka.


Keesokan harinya. Intan pergi ke kampus sendirian. Karena Gina, mengeluh pusing sejak pagi. Saat Intan baru sampai


kampus banyak mahasiswa-mahasiswi berbisik-bisik sambil melihat ke arah Intan. Intan memang sudah tahu, kalau semalam dini hari, banyak notif yang masuk ke grup kampus. Kalau banyak yang mengirim video Gina yang sedang joget-joget gak jelas. Makanya, sebelum ke kampus. Intan membawa ponsel Gina ikut serta. Karena dia tidak mau kalau Gina malu.


Setelah jam pelajaran semuanya selesai. Intan langsung menghampiri Ririn yang biasa nongkrong di bangku-bangku dekat parkiran.


Intan melihat dari kejauhan, kalau Ririn dan kawan-kawannya sedang tertawa sambil melihat handphone mereka masing-masing. Ririn dan kawan-kawannya memang tidak memperhatikan Intan yang sedang menuju tempat mereka.


"Jadi, kalian yang merekam dan menyebarkan vidio Gina?" tanya Intan dengan tatapan tajam.


Ririn dan teman-temannya gelagapan. "Eh- apa maksudmu?" tanya Ririn membalas tatapan Intan.


"Gila, kok tatapan nih cewek ngeri ya. Bisa-bisanya Gina sahabatan sama nih cewek." batin Ririn.


Intan menyungging kan senyum. "Kalau kalian tidak menghapusnya sekarang juga dari grup. Maka kalian akan tahu akibatnya." ancam Intan.


"Ta-tapi, kami tidak mungkin menyuruh anak-anak semua menghapus dari ponsel mereka." ujar salah satu teman Ririn.


"Itu terserah kalian. Atau kalian, aku laporkan?" tekan menyekap dada.


"Oya, kamu keponakan pemilik kampus ini kan? Jadi, kamu pasti tahu akibatnya, kalau kamu aku laporkan." ancam Intan membuat Ririn tersentak kaget.


Kemudian Intan meninggalkan geng Ririn, dan kembali ada notif yang masuk ke grup WA. Bahwa, Ririn menyuruh agar semua menghapus vidio Gina. Sebab, Gina akan melaporkan penyebar vidio tersebut. Seketika banyak balasan anak-anak yang menyetujui permintaan Ririn.

__ADS_1


Tanpa Ririn tahu. Bahwa ada beberapa orang yang memang, mengejar fyp di aplikasi tikt*k, mengunggah vidio tersebut. Intan memang tidak tahu, sebab dia sendiri memang tidak memakai aplikasi tersebut.


"Intan ..." panggil Gina dengan isakan.


"Kenapa? Sakit?" panik Intan memeriksa dahi Gina.


"Handphone ku hilang." rengek Gina. "Aku udah cari ke seluruh ruangan, tapi gak ada. Bahkan, aku udah minta anak-anak depan untuk mencoba hubungi nomor aku. Tapi gak kedengaran bunyinya disini. Kan biasanya suara ponsel ku nyaring." adu Gina.


"Kirain ada apa. Nih ponsel mu. Tadi, gak sengaja ke bawa. Habis, gara-gara kamu sih, beli ponsel aja harus sama kayak aku. Mana, case-nya juga sama." kata Intan memberi alasan.


Gina tertawa. Dia sama sekali tidak marah sama Intan. Karena alasan Intan masuk akal, sebab tadi sebelum berangkat kuliah Intan memang memasuki kamarnya untuk mengantarkan sarapan untuknya.


"Kak Saka ngechat gak?" tanya Gina begitu melihat ponselnya mati.


Intan, memang sengaja mematikan ponsel Gina. Karena sebelumnya Saka berulang kali menghubungi Gina. Namun, Intan tidak menjawabnya. Karena, dia tidak ingin mengganggu privasi dari Gina. Sampai akhirnya Saka menghubungi Intan, menanyai tentang Gina. Barulah, Intan mengatakan kalau Gina sedang istirahat di rumah karena mengeluh kurang sehat.


"Kok baterainya masih ada. Tapi kenapa hp ku mati?" tanya Gina pada Intan. Setelah mencharge handphone nya akibat diduga kehabisan daya.


"Karena gua bete dengar suara ponsel lo." seru Intan sambil mencomot gorengan yang ada di depan nya. Karena tadi saat pulang dia memang membawa cemilan.


"Iihhh ... Kan Kak Saka jadi khawatir. Nih lihat, sudah banyak kali dia menelpon ku." ungkap Gina dengan wajah kesal.


"Ya, maaf." ujar Intan kemudian.


"Tan? Maksudnya ini apa?" tanya Gina karena banyak teman-teman yang menyebutkannya di grup. Juga mereka meminta maaf pada Gina. Yang di tanya malah mengangkat bahu.


"Tan, makasih ya. Gua tahu lo pasti sengaja ngebawa hp gua." Gina menuju Intan dan memeluk sahabatnya itu.


"Sisil mengirimkan vidio aku semalam, dan vidio mu, tasi saat kamu ngelabrak geng Kak Ririn." ucap Gina. Sisil merupakan teman satu ruang mereka.

__ADS_1


Intan berdecak kesal. Rencanannya gagal, untuk membuat Gina agar tidak tahu tentang vidio tersebut.


"Makanya lain kali, jangan minum sembarangan." nasihat Intan berusaha melepas diri dari pelukan Gina. "Gua udah minta sama Kak Khalis agar menghapus semua vidio lo." ujar Intan lagi setelah melihat wajah murung Gina.


"Beneran? Makasih."


Akhirnya Gina bisa bernapas lega. Dia juga menceritakan kejadian sebenarnya kepada Kakak-kakaknya yang menelpon melalui sambungan vidio call.


Dan Khalis mengatakan, kalau vidio Gina sudah di hapus oleh semua orang. Karena dia telah membayar orang-orang tersebut. Dan mereka memilih untuk merahasiakan pada orang tuanya. Dr. Ahmad.


🍁🍁🍁🍁🍁


Di rumah Vina. Iqbal yang lagi santai karena memang libur menikmati udara dari taman samping rumahnya. Dia dan Vina sama-sama mengenang masa-masa saat di panti dulu.


Namun, terdengar suara ponsel Iqbal yang memang selalu ada di dekatnya. Ternyata yang menelpon adalah salah seorang dokter daru rumah sakit.


"Ya dok." sapa Iqbal.


"Apa? Innailaihi wainnailaihi rojiun." gumam Iqbal kaget.


"Baiklah, aku ke sana." ucap Iqbal mematikan sambungan telpon.


"Rasti udah gak ada. Berhubung kita mengenalinya, maukah sayang menemani Mas ke sana?" tanya Iqbal pada Vina.


"Ayuk." ajak Vina menarik lengan Iqbal agar segera bersiap-siap.


Di perjalan Iqbal menelpon Pak Husin atas persetujuan Vina. Tak lama kemudian Iqbal dan Vina pun menuju ke ruangan ICU. Dimana Rasti telah di lepas segala selang, yang berada di tubuhnya.


Dan tak berselang lama, Pak Husin dan istrinya pun, sampai di sana. Tanpa permisi, Pak Husin langsung melayangkan tamparan ke wajah Iqbal. Tentu saja semua orang di sana kaget atas perlakuan Pak Husin.

__ADS_1


__ADS_2