
Akbar yang biasa olahraga pagi ketika hari libur menggerutu sepanjang jalan. karena gadis yang paling dihindarinya kini ikut bersamanya lari pagi keliling taman.
“Aduh bar, larinya jangan cepet-cepet dong gue kan susah buat ngikutinnya,” keluh Nai kelelahan mengikuti lari Akbar yang seperti tidak ada capeknya itu.
“Lah siapa suruh ngikutin gue. Emang gue suruh lo ikutin gue gitu enggak kan,” balas Akbar sambil terus berlari tanpa menghirauakan rengekan Nai di belakangnya yang terus memanggil namanya.
Hingga pulang pun Nai terus mebuntuti Akbar, sampai-sampai Akbar pun jengah oleh kelakuan tetangganya itu.
“Ngapain sih ngikutin gue terus rumah lo itu disana,” tunjuknya ke rumah yang berwarna ungu.
“Udah sana lo pulang,” katanya tajam.
“Suka-suka gue dong gak ada larangannya ini,” balas Nai tak kalah tajamnya.
“Lagipula gue mau numpang sarapan kali. Tante juga gak akan marah kalau gue numpang makan disini tante kan pengen banget punya anak cewek kayak gue,” lanjutnya seraya masuk ke dalam rumah mendahului Akbar sang pemilik rumah.
“Idih amit-amit gue punya temen kayak lo.” Akbar bermonolog sendiri sambil masuk ke rumah dan naik ke kamarnya untuk mandi.
Naila menghampiri Mama Akbar yang sedang berada di dapur itu. Biasamya setiap hari minggu Nai akan pergi ke rumah Akbar karena di rumahnya dia selalu sendirian , orantuanya sibuk kerja sehingga dia tidak cukup kasih sayang dari kedua orangtuanya. Dia sangat iri kepada Akbar dan Sha karena selalu mendapat perhatian dari orangtuanya walaupun hanya sekadar di buatkan bekal saja.
“Hai tante lagi masak apa nih.” Nai melihat Mama Akbar seperti sedang membuat adonan.
Melihat anak tetangganya itu Mama Akbar tersenyum. “Eh Nai, ini biasa tante mau bikin kue kesukaan Akbar. Kamu mau sarapan disini ya. Tante harus siapin dulu di meja makan nih,” candanya.
“Eh jadi ngerepotin tante nih. Hehe iya tan soalnya di rumah sepi sendirian mama lagi pergi keluar kota.” Nai pun mebantu Mama Akbar menata makanan di meja makan.
Mama Akbar mengehentikan pekerjaan membuat kuenya terlebih dahulu lalu mulai mempersiapkan makanan untuk Akbar dan Nai yang di bantu Nai. Selesai membereskan meja Mama Akbar menyuruh Nai untuk memanggil Akbar dan dia kembali membuat adonan kue.
Mama Akbar tipe wanita yang suka membuat sesuatu atau bereksperimen mengenai kuliner dan keluarganya selalu senang dengan makanan buatan Ibu Akbar, bahkan ketika suaminya masih ada tidak jarang membagikan kuenya kepada karyawannya.
Akbar datang ke ruang makan yang menyatu dengan dapur itu, Akbar duduk di meja makan di sebrang Mamanya yang sedang membuat adonan kue dan Nai duduk di samping Akbar yang sedang tersenyum.
Tanpa menghiraukan Nai Akbar mengambil mangkok dan mulai memasukan lontong beserta sayurnya ke mangkot tidak lupa dengan menambah bawang goreng juga telur rebus ke mangkoknya dan mulai memakan sarapannya.
Nai pun mengikuti Akbar yang mulai menyantap makanannya setelah mengisi mangkuknya dengan lontong kari buatan Ibu Akbar yang enak itu. Teringat akan tujuannya kesini Nai melihat Akbar yang fokus makan.
“Bar, kemarin lo nganterin siapa?”
“Uhukk.” Akbar yang sedang minum menjadi tersedak mendengar pernyataan Nai, lalu dia menatap Nai seolah bertanya siapa.
“Itu loh cewek yang di bonceng lo kemarin sepulang sekolah,” lanjut Nai.
Belum sempat Akbar menyela Mamanya datang dengan membawa sepiring emping.
“Oh kemarin kamu nganterin cewek kok gak cerita ke Mama sih?”
“Itu mah kasian gak ada yang jemput katanya jadi Akbar anterin aja sekalian Akbar ada perlu ke daerah dekat rumahnya.”
“Oh iya Mama kenal kan sama Bagas, nah dia itu tinggal di daerah sana. Sekalian aja Akbar mampir dan dia juga mau ngajak anak-anak basket tanding untuk tanding persahabatan antar sekolah gitu.” Akbar sengaja mengalihkan percakapan.
“Oh temanmu yang dulu suka main ke rumah di Jakarta itu?” Mama Akbar terlihat antusias karena mereka dulu sangat dekat.
“Kok aku gak tau tante?” tanya Nai heran yang memperhatikan interaksi anak dan ibu itu.
“Itu tetangga kami di Jakarta dulu,” jawab Mamanya Akbar sambil kembali membuat kue.
Yess, Akbar bersorak dalam hati karena obrolan tentang cewek yang di boncenginya tidak berlanjut. Akbar buru-buru naik ke kamarnya untuk mandi. Nai yang melihat Akbar pergi mendesah kecewa karena belum sempat mendapatkan jawabannya. Akhirnya dia pun membantu Mama Akbar membuat kue.
“Tante ada yang bisa Nai bantu.” Nai mengajukan diri untuk membantu Mama Ani-Mamanya Akbar.
“Oh kalau kamu gak keberatan boleh deh cetak adonan ini menjadi memanjang habis itu di potong pakai pisau lalu taburi keju.”
Nai melongo sebentar sebelum dia pun mencobanya karena memang dia jarang terjun ke dapur. Walaupun kebanyakan salahnya sih karena dia belum terbiasa yang membuatnya tersenyum malu dan Mama Akbar tersenyum maklum.
“Tante Nai bantu taburin kejunya aja ya, soalnya salah terus dari tadi.”
“Iya Nai.” jawab Mama Ani sambil mengangkat kue untuk di oven.
Nai akhirnya menyerah karena salah terus daritadi. Dia hanya memperhatikan Mama Akbar yang tampak telaten, beda dengan dia yang lebih senang hangout atau shopping bersama teman-temannya kadang juga bersama sha dan bila. Lebih sering sih bersama bila karena jika dia shopping dengan sha pasti shoppingnya itu buku lagi.
“Oh iya nai gimana betah gak kamu satu sekolah sama akbar?” tanya tante Ani sambil mengambil kue dari oven.
“Emm ya gitu, biasa aja sih tan abis Akbar itu orangnya cuek banget kalau di sekolah. Di rumah aja cuek apalgi di sekolah.” Nai menggembungkan pipinya teringat sikap Akbar yang cuek.
“Ya kamu kan tau sendiri, Akbar emang gitu orangnya.”
“Iya sih tante, makanya Nai juga heran pas dia bonceng cewek.”
Pakai mesra dan perhatian banget kan gue cemburu lanjut Nai dalam hati.
__ADS_1
“Kamu gak cemburu kan Nai?” goda Mama Ani yang sedang memasukkan kue ke dalam toples.
Semburat merah muncul di pipinya. “Eng gak kok tante,” jawab Nai gugup.
“Dasar anak muda,” ucap Mama Akbar pelan.
“Nai ini buat kamu dan keluarga, makasih loh tadi udah mau bantuin tante.” Mama Akbar menyerahkan setoples kastangel kepada Nai.
“Aduh tante makasih loh kok repot-repot sih padahal Nai Cuma bantu sedikit itu pun banyak salahnya.” Nai malu sendiri dengan kelakuannya.
“Tante udah pukul 10 nih Nai pulang dulu ya makasih kuenya tante,” pamit Nai riang sambil menenteng setoples kue.
***
Sha mengobati patah hatinya dengan menonton movie marathom semalaman, akhirnya paginya dia mengalami kantuk yang luar biasa. Kondisi Sha saat ini cukup buruk dengan kantung mata hitam dan sedikit besar karena sehabis menangis, menangis akibat nonton film juga sakit hati. Sakit hatinya sedikit hilang saat dia mengobrol dengan Akbar kemarin.
“Sha makan dulu,” teriak ibunya.
“Iya bu.”
Sha pun menghampiri ibunya yang tengah menjahit pakaian lalu ke dapur mengambil makan dan duduk di depan tv bersebrangan dengan ibunya yang sedang menjahit.
“Ibu habis ini Sha mau ke mall ya ada buku yang mau Sha beli.”
“Mau naik apa toh nduk, bapak belum pulang dari kebun?” tanya Ibunya.
“Naik angkot atau bus aja bu.”
Ibunya hanya mengangguk dan Sha kembali ke dapur untuk membersihkan bekas makannya. Setelah selesai Sha kembali ke kamar dan bersiap pergi ke mall.
Setelah turun dari bus Sha langsung masuk ke pelataran mall, menyusuri setiap pertokoan yang menjajakan jualannya. Tanpa berniat untuk masuk ke salah satu pertokoan tersebut Sha langsung menuju ke salah satu toko buku langganannya.
Dengan lincah tubuhnya menyusuri rak-rak yang penuh buku dan harum buku baru, Sha sangat menyukai suasana seperti ini. Kakinya melangkah ke rak mata pelajaran, kali ini dia ingin membeli buku untuk belajar di rumah sebagai pengenalan juga pendalaman mengenai pelajaran-pelajaran di SMA nanti.
Membaca terlebih dahulu sampulnya juga beberapa rekomendasi dari temannya yang telah lulus membuat Sha lebih asik menjelajahi toko buku kali ini. Dia akan membeli buku yang memang benar-benar di butuhkannya saat itu, Sha jarang membeli novel kalau dirinya sedang tidak bosan.
Selesai dengan pembayaran Sha menenteng plastik yang penuh buku itu dengan tersenyum lebar, dia tidak sabar untuk membacanya ketika sudah berada di rumah nanti. Sayang harapannya pupus ketika di bertemu dengan Akbar.
“Sha,” terlanjur bertemu akhirnya Sha diam saja menunggu Akbar menghampirinya. Akbar tersenyum lebar kepada Sha, raut wajahnya juga terlihat ceria.
“Akhirnya ada teman juga,” ucap Akbar lega.
“Hai juga Sha kebetulan banget ketemu disini.”
“Hehe iya kak.” Sha tersenyum canggung akibat insiden di antar pulang kemarin.
Sejujurnya Sha masih malu dan kikuk kalau bertemu dengan Akbar tapi ya mau bagaimana lagi, lagipula mereka juga satu sekolah pasti akan sering bertemu. Akbar mengajak Sha untuk berkeliling mencari sesuatu yang menarik.
“Kak aku mau ngucapin makasih buat yang kemarin.”
“Hem kalem aja kali,” jawab Akbar singkat tetapi mendadak otaknya ingat sesuatu.
“Sebagai ucapan terimakasihnya gimana kalau lo traktir gue makan.”
Sha seketika membola, haduh bagaimana ini uang bulanannya kan tadi habis beli buku dia punya tabungan sih tapi kan itu rencanya untuk. Sudahlah lebih baik dia terima saja sebagai rasa terimakasihnya kepada Akbar. Setelah sha mengangguk mereka berjalan ke arah foodcourt.
“Mau pesan apa kak?” tanya Sha ketika mereka sudah sampai di salah satu restoran cepat saji.
“Lo?” Akbar malah bertanya balik.
“Aku minum aja kayaknya.”
“Kok gak makan sih gaenak nih makan sendiri.”
“Gak apa-apa kok kak.”
“Ya sudah gue nasi sama ayam minumnya air mineral aja.” Sha memesan pesanan Akbar dan dirinya.
Sha terlihat heran karena Akbar senyam-senyum sendiri sambil memperhatikannya. Sha pun melambaikan tangannya di depan wajah Akbar tapi Akbar tidak meresponnya. Sha pun mencoba memegang tangan Akbar dan menggoyangkannya pelan.
“Kak.”
Akbar tersentak dan sadar dari lamunannya.
“Kenapa Sha?”
“Kakak yang kenapa malah melamun itu pesanannya sudah datang.”
Akbar melihat meja yang sudah ada pesanannya, sebuah nasi beserta ayam juga kentang goreng dan ir mineral dua.
__ADS_1
“Eh ayo makan Sha.”
Mereka pun mulai memakan makannanya.
“Sha kok lo bisa ada di mall?” tanya Akbar disela kunyahannya.
“Kan mall untuk umum kak.” Skakmat.
“Hehe, gue mau ngucapin makasih nih akhirnya gue terbebas dari jeratan nenek lampir.”
“Masa ada nenek lampir sih.” Sha tertawa pelan yang membuat air liur Akbar menetes.
“Iya buktinya emang ada kok.”
“Oh kayak gimana kak?” tanya Sha penasaran.
“Hmm.” Akbar terlihat berpikir sejenak.
“Orangnya sih lumayan cantik tapi galak, suka ngerusuh, manja suka banget bikin orang repot, tukang cari masalah pokoknya mirip nenek sihir.” Ucap Akbar sambil tertawa.
“Masa sih kak kalau cantik bukan penyihir dong,” Sha jadi membayangkan sosok penyihir yang di bilang Akbar.
“Memang penyihir itu kayak gimana Sha?” Akbar menopang dagu setelah selesai makan sambil menatap Sha yang asik tertawa.
“Yang kumal dan berantakan mungkin.”
Mereka berdua akhirnya tertawa yang membuat pengunjung menoleh kea rah mereka, Sha langsung tertunduk malu sedang Akbar meminta maaf sambil terkikik.
“Ah tetep aja dia juga kayak penyihir.”
“Terserah kakak saja.”
“Jawabanmu cewek banget.”
“Maksudnya?” tanya Sha bingung.
“Itu terserah.”
“Ohh.”
Keheningan kini melanda mereka, Akbar sibuk membasahi tenggorokannya dengan air mineral dan Sha sibuk memakan kentang gorengnya yang belum habis.
“Oh gue cari-cari ternyata malah asik disini bagus ya.” Nai tiba-tiba datang sambil berkacak pinggang.
Sha dan Akbar terkejut melihat kedatangan Nai. Belum sempat bertanya kepada Akbar Nai juga terkejut melihat Sha.
“Sha lo?”
“Apa!” Akbar yang menjawab dengan ketus.
“Kita gak sengaja ketemu kok Nai,” ucap Sha salah tingkah seperti tertangkap sedang selingkuh.
“Iya terus gue ajak dia makan,” jelas Akbar.
Nai yang emosinya mereda ikut bergabung dengan mereka dan mulai duduk diantara mereka. Akbar mendnegus dengan kelakuan Nai, benar-benar pengganggu dia ini tidak bisa melihat Akbar bahagia sebentar saja.
“Lo berdua udah pada makan?” kompak mereka mengangguk mendnegar pertanyaan Nai dan mengarahkan piring mereka yang sudah kosong.
Nai bangkit dan mulai memesan makanan lalu kembali ke tempat duduknya. Mulai bertanya mengenai Sha ke mall yang di Sha jawab untuk membeli buku. Akbar yang bosan memainkan ponselnya sampai Nai memakan pesanannya Akbar menatap ke arah Sha yang juga menatapnya.
Sha malu karena kepergok sedang menatap Akbar, sebenarnya Sha ingin meminta ijin mereka untuk pulang terlebih dahulu karena sudha sore tapi dia tidak enak Nai sedang makan. Akhirnya setelah Nai selesai makan Sha pamit pulang kepada mereka.
Awalnya Akbar menawarkan Sha untuk mengantarnya pulang tapi langsung Sha tolak karena tidak tega melihat Nai cemberut harus menunggu Akbar sendirian di mall.
“Yasudah kak, Nai aku duluan,” pamit Sha.
Seperti berangkat, kali ini pun Sha kembali menaiki bus. Selama di perjalanan pikiran Sha di penuhi oleh Akbar yang selalu menghiburnya di kala sedih. Niatnya ke mall memang membeli buku tetapi dia ingin melupakan kesedihannya juga.
“Kok lo bisa akrab dengan Sha sih?” tanya Nai menatap Akbar curiga.
Akbar hanya diam dan terlihat fokus kepada ponsel. Sudah Nai mengganggu sekarang dituduhnya pula dia, benar-benar hari yang menyebalkan untuk Akbar.
“Lah urusannya apa?” Akbar balik bertanya yang membuat Nai cemberut, dasar cewek pikir Akbar.
“Lo gak punya hak ya larang-larang gue deket dengan siapa aja.” Akbar bangkit meninggalkan restoran, Nai mengikutinya dari belakang dan berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Akbar.
“Ya bukan gitu.”
Akbar segera membalikan badannya dan menatap Nai dengan tajam. “Lo gak punya hak ngatur gue dan kita juga gak punya hubungan apa-apa selain rumah kita berdekatan. Cukup anggap lo teman dan lo juga harus begitu,” tegas Akbar meninggalkan Nai yang mematung.
__ADS_1
“Tapi gue gak gitu bar, gue rela pindah kemana pun asal gue masih bisa dekat dengan lo.” Nai berkata lirih sambil menatap punggung Akbar yang menjauh dan mulai menyusulnya.