Bintang Senja

Bintang Senja
Bab 19 Kekesalan Naila


__ADS_3

Sepulang dari shopping dengan BIla yang di rasa Nai belum puas itu karena BIla harus les, Nai segera berjalan ke kamar mandi karena tubuhnya terasa sangat lengket.


Selesai mandi sore Nai mengecek notifikasi ponselnya. Sambil mengecek ponsel Nai menyisir rambutnya yang basah sehabis keramas. Akbar post sebuah foto di instagram. Foto sebuah saputangan yang ada sedikit noda darah di sudut kanan saputangannya. Kening Nai mengkerut membaca caption yang tertera di foto tersebut.


Terima kasih telah mengembalikan sesuatu yang hilang itu.


Apa maksudnya? Jerit Nai dalam hati. Tidak lama komentar bermuculan di post foto Akbar tersebut. Naila membaca semua komentarnya sampai ada sebuah komentar yang membuat hatinya panas.


Oh itu untuk cewek yang di taman tadi ya kak? Tanya akun pemilik nama @Galerina.


OMG! Cewek yang berdua sama kak Akbar di taman tadi untungnya gue sempet foto mereka berdua. Potek deh ni hati. Komentar pemilik akun yang bernama @FinstiaN.


Langsung saja Nai mencari instagram @FinstiaN itu, untung saja akun orang tersebut tidak di kunci membuat Nai bisa direct message kepadanya. Langsung saja Nai menanyakan perihal foto yang menurutnya Akbar itu.


Tidak lama ada sebuah pesan masuk di instagramnya, Sha terbelalak melihat foto itu. Sialan, makinya dalam hati. Nai sangat kesal dan benar-benar marah dengan sahabatnya itu. Sudah di tusuk dari belakang itu sakit. Baiklah Nai juga akan membalasnya dengan kejam.


Dengan keadaan Nai yang sangat kacau, dia sangat kesal sekali kepada sahabatnya itu karena berani-beraninya mereka berduaan di taman. Nai terus mencoba berpikir bagaimana agar bisa membalas perbuatan sahabatnya itu. Nai bertekad tidak akan mudah memaafkan Sha kali ini.


Deringan telfon membuat kesadarannya kembali. Bibir Nai menyeringai setelah melihat siapa yang menelponnya. Ini saatnya!! Buru-buru Nai mengangkat teleponnya.


“Nai , kamu sibuk?”


“Tidak juga, kenapa kak?”


“Gak sih mau ngajak jalan aja. Itu pun kalau kamu ga sibuk.”


“Tadi gue habis dari rumah temen, ternyata rumahnya dekat dengan rumah lo jadi sekalian aja ngajak lo main. Lo pasti tau kan tempat makan yang enak di sekitaran rumah lo, gue belum makan” Yusuf melanjutkan dan meluruskan niatnya mengajak Nai jalan.


Nai terdiam sesaat sebelum suara Yusuf kembali membuatnya tersadar. Ini kesempatan bagus Naila, batinnya berteriak girang.


“Nai are you okey.”


“Emm iya gak apa-apa ko kak. Mau ko lagian lagi gak ngapa-ngapain juga.”


“Yasudah kalau gitu gue jemput 10 menit lagi.”


Begitu teleponnya tertutup, Nai segera bersiap-siap untuk jalan dengan Yusuf. Nai memakai kaus santai dan celana jeans yang biasanya dia pakai untuk jalan. Rambut sebahunya yang masih basah dia keringkan terlebih dahulu menggunakan hairdrayer.


Menyapukan sedikit bedak di pipi putih mulusnya dan sedikit lip gloss pink di bibir pink alaminya. Perfect, ujar Naila dalam hati.


Setelah memakai sandal santainya dia beregas untuk menunggu Yusuf di teras. Tidak lama, Yusuf datang dengan motor besarnya dan langsung membunyikan klaksonnya. Naila pun segera menghampirinya.


Yusuf menjalankan motornya ke arah tempat yang di tunjukan oleh Naila. Sesampainya disana Naila langsung berlari meninggalkan Yusuf yang masih parker motor. Naila memilih duduk di outdor yang langsung menghadap ke arah danau buatan di taman dekat rumah Naila. Yusuf segera mengahmpirinya.


“Sudah pesan?”


“Belum, nunggin lo.”


Mereka memanggil pelayan dan memesan pesanan mereka. Nai memainkan ponselnya sebagai penunggu rasa bosan. Kepalanya teringat akan rencana balas dendam itu.


“Kak.”


Yusuf terlonjak kaget dengan panggilan tiba-tiba Naila, hampir saja dia menjatuhkan ponselnya ke tanah.


“Ya Nai.”


“Foto yuk.”


“Hah?”


“Ayo kita foto berdua, buat instagram nih. Gue udah gak update lama nih di instagram.”


Tanpa sempat mendengar jawaban Yusuf, Naila segera mempersiapkan ponselnya untuk selfie mereka berdua. Yusuf yang terbengong seketika ikut tersenyum melihat pose Nai yang cemberuk di kamera.


“Majuan dong kak deketan sini.”


Cekrek


Cekrek


Entah sudah berapa foto yang mereka ambil sampai-sampai membuat bibir Yusuf terasa kering. Naila berpindah tempat di samping Yusuf dan mulai berpose kembali, berbeda dengan Yusuf yang terlihat kurang siap dan menampilkan ekspresi kaget. Naila seketika tertawa melihat hasil jepretannya.


“Hahahaha kak komuk lo ini.” Sambil menunjukan hasil fotonya Naila tidak berhenti tertawa.


“Lagian gak bilang sih.”


“Oke yuk foto sekali lagi.”


Mereka berdua berpose dengan tersenyum ke arah kamera. Bahu Nai dan Yusuf berdekatan, Nai terlihat menyender di dada bidang Yusuf, seketika jantung Yusuf berdegub kencang. Yusuf segera mendorong kepala Naila pelan setelah selesai berfoto. Naila pun kembali ke tempat duduknya, membuat Yusuf menghela nafas lega.


“Kak fotonya lucu-lucu loh, mau dikirimin.”


“Boleh Nai.”


Nai terlihat asyik bermain ponsel, membuat Yusuf pun ikut bermain ponsel. Bibirnya tersenyum melihat fotonya dengan Nai yang terlihat tersenyum ke arah kamera. Yusuf pun mengubah tampilan display ponselnya dnegan foto tersebut.


Pesanan mereka datang dan mereka menghentikan kegiatan bermain ponselnya. Sesekali mereka berbincang mengenai sekolah, buku kesukaan atau hal-hal yang mereka sukai. Nai merasa pikirannya sedikit teralihkan.


“Makasih ya kak.”


“Gue juga makasih Nai.”


“Oh iya besok gue jemput ya.”


Nai terdiam sejenak.

__ADS_1


“Oh boleh,” ucap Nai dengan senyuman manisnya yang membuat jantung Yusuf mendadak disko.


“Gue duluan ya Nai.”


Naila mengangguk dan masuk ke dalam rumahnya. Sesampainya di kamarnya Nai merebahkan dirinya di kasur empuk. Membuka ponsel untuk kembali melihat instagramnya. Kali ini mata Naila kembali terbelalak meihat satu komentar dari Akbar. Biasanya laki-laki itu tidak pernah membalas komentar.


Oh ya lo punya fotonya boleh gue lihat @FinstiaN.


Kesal Nai kesal sekarang. Dengan ganas dia membanting ponselnya ke kasur. Nai memasuki kamar mandinya dan segera mencuci mukanya untuk menenangkan pikiran. Nai harus lakuin sesuatu. Nai kembali ke kasur dan mengambil ponselnya.


Nai terlebih dahulu melihat-lihat fotonya tadi bersama Yusuf. Memilihnya dan akhirnya post di instagram.


@Naila @Yusuf Thanks today. Iam so happy.


Tulis Nai pada caption instagramnya. Nai tersenyum puas dan masa bodo mengenai komentar yang akan di dapatinya nanti, yang penting sekarang dendamnya bisa tersalurkan.


***


Pagi ini Akbar terlihat sangat ceria, berbeda dengan kemarin yang terus membuntuti Mamanya. Kali ini Akbar ingin memastikan sesuatu dan dia sudah membuat rencananya.


Akbar duduk di ruang makan sambil mengambil sepotong bakwan llau memakannya dengan gembira.


“Pagi Ma.”


“Ceria amat pagi ini kamu bar.”


Mendengar penuturan Mamanya membuat Akbar semakin melebarkan senyumnya. Akbar memakan sarapannya dengan semangat.


“Oh iya Akbar bisa gak kamu ajak Sha main kesini.”


“Uhuk uhuk.”


Akbar tersedak nasi goreng dan buru-buru mengambil minum yang langsung di tegaknya. Akbar menatap Mamanya dengan pandangan bertanya-Mama tidak salah tuh?- sambil menaik tuurnkan alisnya yang tebal.


“Iya Mama pengen banget deh ketemu Sha lagi, cuma Mama kan lagi sibuk ya jadi gimana kamu bisa kan bantuin-“


“Bisa kok tenang aja,” potong Akbar sambil tersenyum lebar.


Mama Akbar melempar kepala Akbar dengan celemek yang biasa di pakai masak. Akbar menatap horror Mamanya yang telah merusak tatanan jambul kesayangannya itu.


“Mama apa-apaan sih rusakin rambut Akbar segala,” dengus Akbar.


Mama Akbar terlihat santai dan kembali memakan sarapannya, tidak menghiraukan Akbar yang sudah mencak-mencak.


“Ya sudah kalau kamu gak mau Mama akan menemuinya siang ini sepulang dia sekolah.”


“Eh jangan Ma jangan, nanti biar Akbar aja yang ajak kesini.”


Akbar akan jadikan ini sebagai plan B, pucuk di daun cinta pun tiba. Eh Akbar terkekeh geli dengan senyum mengembang sempurna.


“Ya udah Ma akbar berangkat dulu ya keburu macan datang, Assalamualikum.”


Akbar bersiul riang ketika menghampiri motornya. Mata Akbar menyipit ketika di melewati rumah Nai. Kok di rumah Nai ada motor cowok sih, tanya Akbar dalam hati. Ya peduli amat dirinya kepada Nai.


***


“Den tunggu sebentar ya, Nona Nai biar bibi panggilin dulu.”


Yusuf hanya mengangguk sekilas dan menyibukan diri dengan ponselnya. Yusuf sengaja bertandang ke rumah Nai untuk mengajaknya berangkat sekolah bareng.


“Nona Nai itu kok hebat banget ya bisa dapat pacar ganteng gitu siapa tadi namanya, Yus Iyus Yunus eh siapa ya Yusuf.”


“Oh iya den Yusuf.”


Pembantu Nai bermolog sendiri ketika dia berjalan menuju kamar Nai. Kamar yang berpintu putih di depannya ada tulisan NAI’S ROOM. Mengetuk pelan sebagai tanda kalau saja Nonanya itu sedang berpakaian. Tidak ada sahutan dari dalam membuat pembantu Nai membuka pintunya.


Klek


“Non.”


"Non.”


“Astagfirullah non jam segini belum bangun” teriak Bi tiwi yang membuat Nai bangun seketika.


“Ada apa bi?” tanya Nai masih linglung.


“Non kok belum siap-siap sih itu pangerannya sudah nunggin loh non.”


“Akbar maksud bibi?”


Naila terlonjak kegirangan sampai langsung bangun dari tempat tidurnya untuk melihat Akbar menjemputnya. Mimpi apa semalam dia bisa di jemput Akbar. Kesenangannya luntur mendengar ucapan pembatunya selanjutnya.


“Bukan non ini yang kemarin nganterin non.”


“Yah kirain Akbar,” nada Nai terdengar lesu.


“Sudah non kasian nungguin tuh.”


Bi Tiwi segera mendorong Naila untuk masuk ke kamar mandi. Sementara dia kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


15 menit kemudian Naila keluar dari kamar mandi dan segera bersiap untuk sekolah, dia tidak mau Yusuf menunggunya lebih lama lagi. Tidak sempat memakai lip gloss atau pun menata rambutnya yang sedikit berantakan, Nai segera menghampiri Yusuf di ruang tamu.


“Maaf lama ya,” sesal Naila melihat wajah suntuk Yusuf.


“Tidak apa-apa.”

__ADS_1


“Eh tunggu non ini sarapannya.”


“Aduh bi gak usah deh aku nanti sarapan di kantin aja deh keburu telat kan tau Jakarta macet,” cerocosan Naila membuat Bi Tiwi tersenyum.


“Ini bukan buat non tapi den yang ganteng.”


Naila seketika mengatupkan bibirnya dan pipinya bersemu merah karena malu membuat Yusuf tersenyum dan segera menyambar sekotak bekal dari pembantu Naila.


“Terima kaish ya bi,”


“Nih buat non juga” bibi memberikan satu kotak lagi kepad Naila. Naila menerimannya dengan cemberut.


“Makasih bi,” ujarnya sedikit ketus membuat Akbar dan bibi tertawa pelan.


Motor yang di tumpangi Yusuf dan Naila mulai memasuki pelataran sekolah. Ada yang menatap Nai iri juga penasaran. Siapa sih yang tidak penasaran dengan cewek yang tiba-tiba di bonceng seorang ketua osis.


“Wah siap ya ceweknya?”


“Iya gue ngiri deh.”


“Iya gue juga iri, beruntung banget tu cewek.”


Naila tersenyum di balik helm yang di pakainya. Rencananya kali ini harus berhasil pokoknya. Setelah rencana foto instagramnya gagal karena Sha tidak punya instagram. Sialan Nai merutuki kebodohannya kali ini, bagaimana dia bisa lupa kalau Sha tidak punya instagram.


Nai menajamkan pandangannya kepada setiap orang yang dilewatinya, batinnya sudah berteriak kegirangan mengenai rencana kali ini. Sialnya dia tidak menemukan Sha dimanapun. Bahkan sampai Nai tidak sadar sudah berada di parkiran sekolah.


“Nai gak mau turun?”


“Iya enggak lah ini juga mau kok ” Nai menjaid keki lalu segera turun dari motor Yusuf.


Mendadak muka Nai menjadi muram karena targetnya tidak ada. Nai berjalan gontai ke kelasnya meninggalkan Yusuf yang menatapnya heran juga tatapan iri dari siswa-siswi sekolah.


“Ah pantes ceweknya kayak Naila yaiyalah pasti mau kak Yusuf.”


Naila tidak mengindahkan komentar itu, dia ingin segera berada di kelas untuk melihat reaksi salah satu sahabatnya.


Naila sadar sebentar lagi dirinya pasti akan menjadi popular, setelah bernyanyi saat pentas nama Nai menjadi popular dan sekarang mungkin akan tambah popular.


“Nai,” teriakan Bila membuat Nai menutup kedua telinganya.


Bukannya bisa mengistirahatkan otaknya untuk berpikir rencana selanjutnya yang ada otaknya semakin buntu. Bila merangkul Nai dengan semangat menuju bangkunya. Nai sudah pindah kembali kepada bangkunya di depan Bila. Selesai menyimpan tas di bangkunya Bila duduk di hadapan Nai dan menatap Nai dengan semangat.


“Nai lo tau gak?”


“Gak.”


“Ish belum bilang juga.”


“Apaan sih Bil.”


“Gue tadi ketemu cowok cakep yang rempong sih.”


Naila memutar bolanya malas, kalau hanya itu yang akan di katakana Bila lebih baik dia keluar saja untuk sarapan di kantin daripada meladeni ocehan bila yang tidak penting.


“Nai dengerin gue gak?”


“Apaan sih Nai, gue lagi pusing nih.”


“Hah pusing kenapa Nai.”


Mendadak Nai jadi semangat menceritakan kegalauannya.


“BIl kalau seandainya orang yang elo ceritain tadi selingkuh dengan sahabat lo gimana.”


“Maksud lo gimana Nai.”


“Kan lo bilang lo suka sama orang tadi, terus sahabat lo tau kalau elo itu suka sama doi tapi sahabat elo malah nusuk lo dari belakang.”


“Gue mati dong Nai kalau di tusuk dari belakang.”


“Ah udah deh salah gue emang curhat sama lo.”


“Habisnya lo bikin bingung sih yam au dia sleingkuh sama siapapun gue gak peduli Nai kan dia bukan siapa siapa gue.”


Ucapan Bila tepat ke ulu hati Nai. Nai segera bangkit dan meninggalkan Bila yang keheranan.


“Nai mau kemana?”


“Mau nikung lo.”


Teriak Nai sambil berlalu. Nai sangat kesal niatnya untuk mengompori Sha malah berakhir gagal total. Terakhir Bila malah menasihatinya, Nai sungguh dongkol.


“Itu anak kenapa sih di tanya apa jawabannya apa.”


“Tadi Nai bilang kalau gebetannya itu di selingkuhi sahabatnya sendiri siapa siah, ih gue makin bingung deh.”


“Mana Sha belum datang lagi, dasar Nai orang lagi seneng malah di bikin pusing lagi.”


Bila menggerutu sambil membuka ponselnya yang sejak semalam tidak di bukanya karena sibuk dengan acara keluarganya yang kedatangan tamu special. Mata Bila serasa ingin keluar dari kelopaknya saja melihat postingan Nai.


Foto pertama Nai sedang tersenyum ke arah kamera dengan memamerkan temaptnya. Slide kedua foto Nai dengan seseorang yang tidak terlihat jelas karena orang tersebut agak menunduk dan fotonya sedikit buram. Slide ketiga foto makanan yang terlihat lumayan banyak dan rasanya itu bukan untuk hanya satu orang, melihat banyaknya piring di meja juga dua minuman. Slide ke empat barulah terlihat foto seorang cewek dan cowok yang terlihat tersenyum ke arah kamera yang tampak serasi yang menuai banyak komentar.


Juga jangan lupakan caption yang di tulis Nai yang membuat netizen sekolah berkomentar memenuhi instagram Nai.


Bila kembali di kejutkan oleh postingan instagram Akbar yang sepertinya dia sedang jatuh cinta.

__ADS_1


Nai, mungkinkah orang yang di bilang Akbar itu Nai. Tidak, Bila menggeleng karena jelas-jelas Nai memposting dengan Yusuf, apa Nai sudah pindah ke lain hati? Bila membatin.


Kenapa dengan mereka berdua? Jerit bila frustasi.


__ADS_2