
Karena merasa bosan dan tidak ada teman Sha pun merengek kepada ibunya untuk pergi ke taman. Ibunya jelas tidak mengijinkan itu karena kondisi Sha yang masih harus beristirahat. Kali ini Sha terus merengek seperti anak kecil yang mainannya tidak di turuti oleh ibunya. Dengan terpaksa Ibunya menuruti keinginan Sha.
Sampai di taman Sha menyuruh Ibunya untuk kembali saja keruangannya, karena Sha ingin menikmati angin sore sendiri katanya. Ibunya pun hnaya pasrah menuruti keinginannya, walau sedikit khawatir dan sempat menasihati agar Sha hati-hati.
Sha hanya tersenyum meyakinkan melihat ibunya sangat mengkhawatirkannya. Karena tiba-tiba dia teringat mimpinya kemarin, kenapa semuanya terasa nyata.
Sambil menikmati angin sore dan duduk di bangku taman. Dia melihat anak-anak yang sedang bermain dengan asiknya. Dia bersyukur tidak seperti anak-anak tersebut yang mempunyai penyakit berat. Bahkan menurut suster rumah sakit ada skitarnya 3 orang dari anak tersebut mengidap penyakit kanker. Sungguh malang nasibnya, saat anak lain asik bermain dengan bebasnya dia masih harus bergantung pada obat untuk kelangsungan hidupnya.
“Ternyata lo disini, tadi keruangan lo dan lonya gak ada.” Ucap seorang cowok sembari duduk disamping Sha.
“Eh kak tumben ke sini. Iya nih bosen di kama terus pengen nyari udara segar.” Ucap Sha sekaligus kaget akan kehadiran kakak kelasnya itu yang tiba-tiba.
“Ya gue kan mau jenguk lo sekaligus minta maaf,” ucap Yusuf seraya melihat anak-anak yang tadi di lihat Sha.
“Gak apa-apa kok ka, kan kemarin Sha udah bilang yang namanya musibah siapa yang tahu,” ucap Sha karena memang dia tidak mempermasalahkannya, malah dia sedikit bersyukur karena sakit nya ini masalah dengan Nai selesai.
“Tapi gue kan belum sempat minta maaf secara langsung. Kebetulan juga kemarin fikiran gue lagi kalut. Makanya gue bisa nabrak orang kayak gitu,” ucap Yusuf sendu.
“Emang kemarin kakak kalut kenapa?” tanya Sha sedikit penasaran. Tidak biasanya Yusuf yang terkenal datar dan tegas terlihat kalut dan sedih.
Yusuf tidak menjawab pertanyaan Sha. Dia kembali memikirkan kejadian kemarin yang membuatnya sakit hati dan berniat melupakan rasa cintanya itu.
“Kalau kakak gak mau cerita gak apa-apa kok.” Sha jadi ikutan sedih karena Yusuf tidak mau berbagi cerita dengannya.
“Bukan begitu Sha.” Yusuf jadi sedikit kikuk. Di satu sisi dia benar-benar ingin menceritakan semua kegundahannya tetapi disisi lain dia sedikit ragu untuk menceritakannya kepada Sha yang merupakan sahabat Nai.
“Sebenarnya…”
Sha menunduk malu tidak menyangka bahwa kakak kelasnya itu akan menceritakan kesedihannya pada Sha.
“Ah biasa cinta bertepuk sebelah tangan, mungkin gue aja yang terlalu berharap sama dia tapi dia mengharapkan orang lain,” ucap Yusuf sedih.
Ah nyatanya memang tidak semenyanangkan itu mendengarkan Yusuf curat kepada Sha. Yang ada hanya menambah luka Sha. Dalam hati Sha juga berkata mungkin memang dia juga terlalu berharap kepada orang lain, karena jelas-jelas orang yang di sukainya itu suka sama sahabatnya sendiri. Sha semakin menunduk menyembunyikan kesedihannya.
“Kemarin sebelum nabrak lo sebenarnya gue mau nembak cewek yang gue cintai,” lanjut Yusuf.
Deg, jantung Sha berpacu lebih cepat. Rasanya seperti ada yang menghantam dadanya keras. Sakit tapi tak terlihat. Sha berusaha bersikap biasa saja walau memang rasanya sakit sekali. Sha tidak kuat untuk mendnegarkannya lagi.
“Saat sudah sampai di komplek rumahnya, gue melihat dia berlari ke arah rumahnya sambil menangis. Darisana gue ikutin sampai ke rumahnya. Di rumahnya gue denger dia mengucapkan kata aku mencintai dia. Mendengar itu perasaan gue hancur bahkan bunga yang buat dia gue ancurin.”
Sha semakin menunduk, dia tidak ingin kakak kelasnya itu melihat dia menangis. Satu tetes air mata yang jatuh buru-buru di hapusnya.
“Itulah sebabnya gue bawa mobil ugal-ugalan sampai bisa nabrak lo. Gue minta maaf ya Sha.”
Sha hanya diam dan tidak menjawab perkataan Yusuf. Dirinya sudah memafkan Yusuf dari kemarin, tetapi mendnegar cerita Yusuf luka hatinya kemblai terbuka.
Yusuf melirik Sha yang terus menunduk dan tidak merespon ceritanya.
Yusuf menjadi khawatir Sha kenapa-kenapa. Yusuf sebenarnya sedikit heran kenapa dia bisa bercerita begitu banyak kepada Sha, apalagi ini soal percintaannya. Kepada Mamanya saja dia segan apalagi kepada orang lain, tapi kenapa kepada Sha dia merasa nyaman menceritakan itu semua.
“Sha lo gak apa-apa.” Yusuf berusaha mengangkat dagu Sha yang menunduk.
Sha mengangkat kepalanya.
__ADS_1
“Tidak apa-apa kok kak, aku juga sudah lupain itu kok.” Ucap Sha dengan nada yang dibuat setegar mungkin.
“Oh iya Sha kenapa kamu juga bisa di tengah jalan?” tanya Yusuf penasaran.
Sha tidak menjawabnya dan hanya menundukkan kepalanya.
“Kalau lo gak mau jawab gak apa-apa kok.” Yusuf kembali mengikuti kata-kata Sha.
Yusuf melihat Sha yang menghela nafasnya dengan berat. Mungkin memang Sha uga sedang ada dalam masalah, pikir Yusuf yang tidak mengetahui perselisihan Sha dengan Nai.
“Bukannya tidak mau menceritakannya kak, tapi aku rasa tidak perlu di ceritakan lagi karena masalhnya sudah selesai.”
“Tapi kalau kakak mau mendengarkan aku bisa menceritakannya, walau nanti akan membuatku sedikit sakit hati.” Sha sedikit miris mengenai hal ini.
“Kalau bercerita membuatmu sedikit lega, gue siap mendengarkan kok.”
“Entahlah kak, aku juga bingung mau mulai dari mana ceritanya.”
“Kemarin itu aku berselisih paham dengan Nai. Nai mengira aku dekat dengan Kak Akbar.”
Yusuf hanya diam mendengarkan walau sebenarnya ingin menyela cerita Sha.
“Aku dan kak Akbar memang kadang tidak sengaja bertemu. Aku juga tidak tahu kenapa Nai bisa mengetahui pertemuan tidak sengaja itu. Yang jelas aku tidak ingin merusak persahabatan kami dengan merebut kak Akbar dari Nai.” Sha sebenarnya tidak sanggup melanjutkan bahkan kini air matanya sudah sedikit keluar.
“Maaf ya kak jadi cengeng.” Sha menghapus air matanya sebelum menlajutkan ceritanya.
“Kemarin itu mungkin bisa di bilang puncak kemarahan Nai sama aku kak.” Sha kembali berhenti untuk menghapus air mata, dia jadi teringat kata-kata yang kemarin di lontarkan oleh Nai.
“Aku tidak apa-apa Nai marah, tetapi aku tidak ingin persahabatan kita jadi rusak gara-gara aku hiks hiks.” Yusuf tertegun dan membawa Sha dalam pelukannya.
Yang ingin Yusuf lakukan saat ini adalah memeluk dan menenangkan Sha. Melihat Sha menangis, entahlah salah satu sudut hatinya terasa sakit. Setelah tenang Sha melepaskan diri dari Yusuf.
“Maaf ya kak.” Sha jadi menunduk malu mengingat kelakuannya yang seenaknya memeluk Yusuf. Pipinya sedikit menyemburkan rona merah.
“Tidak apa-apa kok. Lo berhak nangis dan bersedih untuk melampiaskan semua sakitmu itu. Daripada lo melampiaskan rasa sakitnya seperti gue yang ugal-ugalan di jalanan.” Sha mengangguk membenarkan ucapan kakak kelasnya itu.
Setelah bercerita kepada Yusuf dirinya memang sedikit lega, seolah beban yang menimpanya itu telah di angkat dari bahunya. Sha juga sedikit heran kenapa bisa dia bercerita kepada Yusuf.
“Maaf ya kak aku jadi menceritakan kesedihanku.”
“TIdak apa-apa, bukankah gue juga tadi bercerita kepada lo. Terima kasih ya sudah mendengarkan cerita gue.”
“Ternyata gue gak sendirian patah hatinya hahaha.”
Tawa Yusuf menular kepada Sha. Mereka kini sama-sama tertawa mengenai kisah patah hatinya.
“Gue juga minta maaf karena gue lo bisa disini, mulai dari sekarang gue mau move on dan akan berusaha untuk lupain orang yang gue cintain. Tenryata mencintai orang yang tidak mencintai kita itu sakit.”
Yusuf menatap Sha yang menunduk. Apa Sha juga harus move on dari kak Yusuf, karena seperti yang dia bilang mencintai orang yang tidak mencintai kita itu sakit.
Tes, air mata Sha Kembali keluar meluncur begitu saja.
Tanpa dia duga, kakak kelasnya itu mengangkat dagunya dan menghapus air matanya. Disaat dia akan melupakannya kenapa Yusuf bersikap seolah Sha berharga di matanya.
__ADS_1
“Lo kenapa?” tanya Yusuf sekaligus bingung karena melihat Sha yang menangis.
“Gak apa-apa ko kak, mungkin aku juga harus move on.” Sha berucap dengan yakin.
“Hah move on, jadi ada orang yang lo sukai Sha. Siapa, siapa pasti orang itu beruntung banget di sukai oleh lo yang baik hati ini.”
Sha hanya tersipu di goda oleh kakak kelasnya itu.
Kamu kak, orangnya itu kamu. Ingin Sha mengungkapkan smeuanya, tapi keberanian itu tidak kunjung datang. Jika begini Sha salut dengan Nai yang mampu memberanikan diri mengutarakan isi hatinya kepada Akbar.
“Sha kok malah melamun.” Yusuf sedikit mengungcang bahu Sha.
“Eh i ya ti dak apa-apa kak.”
“Jadi siapa orangnya?” tanya Yusuf lagi sambil menaik turunkan alisnya.
Sha menggeleng sebagai jawabannya, masa dia harus memberitahu Yusuf kalau orangnya itu dia. Bisa-bisa jantungan mendadak.
“Ya sudah kalau lo tidak mau memberitahu, gue gak akan maksa kok.”
Keheningan kini menyelimuti mereka berdua.
“Sha lo cantik,” ucap kakak kelasnya itu pelan tapi masih bisa di dengar sehingga membuat pipinya sedikit mengeluarkan warna merah. Karena tidak ingin di ketahui oleh kakak kelasnya itu Sha menundukkan kepalanya.
“Sha lo mau gak bantuin gue,”ucap Yusuf seraya menatap kearah Sha.
“Bantuin apa kak?” ucap Sha bingung.
“Bantuin gue buat ngelupain orang yang gue cintain,”ucap Yusuf serius.
***
“Akbar tungguin dong.” Nai segera turun dari motor Akbar yang telah meninggalkannya sendiri di atas jok.
Nai mencekal lengan Akbar yang mau masuk ke dalam rumah. Akbar menatap Nai dengan kesal dan menepis tangan Nai.
“Apaan sih Nai, pulang ke rumah gih entar orangtua lo nyariin.”
“Jawab dulu pertanyaan tadi.”
“Pertanyaan yang mana.”
“Lo suka sama Sha?”
Nai menunggu Akbar yang termenung. Nai berharap Akbar menjaawab tidak agar hatinya bisa pulih dari luka. Sepertinya Akbar tidak akan menjawab pertanyaan Nai tadi. Nai melepaskan cekalan tangannya dan mundur beberapa langkah menjauhi Akbar.
“Oke lo gak perlu jawab gue belum siap mendengarnya.”
Nai segera berlalu pergi.
“Gue jawab Nai iya gue suka sama Sha.” Teriak Akbar membuat Nai segera berlari dari rumah Akbar menuju rumahnya dengan menutup kedua telinga.
Cukup Akbar gue gak mau denger, batin Nai berteriak. Semakin menjauh kata-kata itu seperti terdengar jelas di telinganya.
__ADS_1