Bintang Senja

Bintang Senja
Bab 21 Kemarahan Naila


__ADS_3

“Sha ada sesuatu di rambut lo.”


Sha mengusap rambutnya dengan tangan yang penuh dengan tepung.


“Hahahahaha.”


Akbar tertawa karena kali ini Akbar kembali menjahilinya.


“Awas ya kak.” Sha mencoba berlaga galak kepada Akbar.


Sha mencolek tepung terigu dan kemudian mengoleskannya ke tangan Akbar. Akbar yang masih tertawa menoleh ke arah Sha. Meski kaget dengan kelakuan Sha Akbar kini menyeringai kea rah Sha. Tangannya mengambil segenggam tepung terigu. Perlahan Akbar mendekati Sha yang bergerak mundur.


Pukkk


Segenggam tepung itu menimpuk wajah Sha. Sha cemberut dan berlari mengejar Akbar sambil membawa baskon kecil berisi tepung. Mereka berlarian mengitari dapur yang sudah berantakan akibat ulah mereka berdua. Akbar tertawa bahagia begitu pun dengan Sha, mereka tidak sadar dengan kehadiran Nai yang memperhatikan mereka sedari tadi.


Sayang seribu sayang Nai melihat kejadian tersebut, niat Nai ingin pergi ke toilet tapi dia malah melihat Sha dengan akbar yang sedang bercanda di dapur. Dia semakin kecewa sama Sha, ternyata foto yang kemarin di kirim itu benar bahwa mereka sering bersama bahkan terlihat dekat. Nai yang memang sahabtan sama Akbar dari kecil pun tidak pernah meresa sedekat itu dengan Akbar.


Karena tidak tahan melihat mereka berdua bermesraan Nai segera menghampiri mereka berdua. Sambil mengusap pipinya yang sudah berlinang air mata Nai mengahmpiri mereka dengan penuh emosi.


“Ternyata lo bener-bener gak punya hati ya Sha, gue kecewa banget sama lo,” teriak Nai kemudian segera pergi dari sana.


Akbar dan Sha pun menoleh kaget ke arah Nai yang berlari keluar dapur. Belum sempat Akbar berpikir bagaimana dan kapan Nai masuk ke rumahnya Sha sudah lebih dulu mengejar Nai.


“Nai tunggu,” teriak Sha kepada Nai yang sudah mencapai pintu depan rumah Akbar.


Nai menghentikan langkahnya dan segera mendelik marah kea rah Sha.


“Mau apa lagi Ha!!” teriak Nai kepada Sha.


Mama Akbar yang baru datang langsung masuk ke dalam rumah dan melihat ke arah Nai yang sudah berurai air mata serta Sha yang acak-acakan dan wajahnya penuh dengan tepung. Muncul Akbar dengan keadaan yang tidak jauh berbeda dengan Sha. Mama Akbar menatap Akbar dengan pandangan bertanya “Ada apa”.


“Nai dengerin penjelasan aku dulu, ini gak seperti yang kamu lihat,” ucap Sha seraya berusaha memegang tangan Nai yang mencoba melepaskan diri.


Nai menepis tangan Sha dan menatapnya tajam.“Mau jelasin apalagi sih, udah jelas-jelas lo khianatin gue.”


“Udah berapa kali gue lihat lo sering berdua, yang pertama di taman terus di taman belakang rumah mamahnya kak Yusuf terus waktu itu di taman dan sekarang di rumah akbar. Mau jelasin apalagi sih udah jelas kan semuanya!” teriak Nai dan segera pergi dari sana.


Sha hanya mampu menyimpan ucapannya dalam hati karena dia tahu kalau dia melawan Sha, meskipun pembelaan nya itu benar menurut Nai tetap saja dia yang paling benar. Nai seperti orang kesetanan.


Sha terus mencoba mengejar Nai dan mencekal tangannya untuk menjelaskan sesuatu.“Nai ini gak seperti kamu pikirkan.”


“Emang pemikiran gue kayak gimana hah. Lo menang Sha.”


“Nai aku mohon dengerin dulu penjelasanku.”


“Mau apa sih Sha, sudah jelas-jelas kalau gue itu suka sama kak Akbar tapi lo malah main rebut aja.”


“Lo bisa jelasin.”


“Atau lo bis agak buat ngejauh dari hidup Akbar.”

__ADS_1


Melihat Sha yang hanya diam Nai kembali melanjutkan ucapan pedasnya kepada Sha.


“Gak bisa kan.”


“Kalau gak bisa ya udah jangan harap dapat maaf dari gue dan kita bisa sahabatan lagi, kaca yang retak tidak bisa utuh kembali.”


Nai melirik ke arah Sha yang kini sudah berlinang air mata, air mata buaya, batin Nai. Nai melihat Akbar yang mematung di depan pintu sambil menatap Sha khawatir. Nai menyeringai sinis menatap Akbar.


“Oh jadi dia tamu penting lo bar.”


“Terima kasih lo berdua udah bikin gue sakit hati.”


Nai pergi meninggalkan rumah Akbar. Sha mendadak lesu melihat kilatan kecewa di mata Nai. Sementara Akbar mematung mendengar ucapan Nai yang menusuk di hatinya. Akbar tahu kalau membawa Sha ke rumahnya akan membawa petaka apalagi kalau Nai tau. Jadi dengan sengaja Akbar berkata demikian kepada Nai agar Nai absen sehari untuk tidak ke rumahnya.


Akbar segera menghampiri Sha setelah mendengar teriakan Nai. Akbar merasa bersalah telah mmebuat slaah paham di antar keduanya dan membuat persahabatn mereka menjadi renggang. Akbar pun mendekati Sha dan menocba memeluknya, tapi Sha segera melepaskannya dan masuk ke rumah Akbar serta pamitan kepada Mamanya Akbar.


“Kak, aku mau sendiri dulu jangan ganggu,” ucap Sha ketika melihat Akbar mendekatinya.


Sha segera pergi dari rumah Akbar. Akbar yang masih khawatir pun beranjak pergi dan hendak menyusul Sha sebelum sebuah tangan mencegahnya.


“Sudah gak usah di kejar, biarkan dia seendiri dia lagi butuh menenanglkan diri,” ucap Mama Akbar sambil mengelus tangan Akbar.


Akbar hanya bisa pasrah dan kembali ke rumah sambil mengacak rambutnya frustasi.


***


“Akbar kenapa lo jahat banget sih.”


“Gue udah sayang banget sama lo tapi lo hiks hiks hiks.”


“Apalagi lo Sha lo mengkhiananti gue.”


“Gue benci kalian berdua.”


Nai terduduk di halaman rumahnya. Lututnya bersentuhan dengan tanah yang dingin. Nai mengepalkan tangannya ke tanah yang berumput itu.


“Gue sayang banget sama lo bar, hiks hiks.”


“Gue bahkan rela pindah kesini gara-gara lo meski papa gue udah larang.”


“Sekarang gue gak punya siapa siapa lagi sekarang bar.”


Yusuf yang mendengar itu ingin sekali menghampiri Naila yang sedang menangis tersedu sedu itu. Yusuf ingin Nai bersandar di dadanya atau bahunya ketika dia ada masalah. Sepertinya Yusuf sudah benar-benar jatuh hati kepada pesona Naila.


“Pokoknya gue harus dapatin lo Akbar.”


“Gue gak akan biarin Sha ngerebut lo dari gue.”


“Gue udah lebih dulu mencintai lo dari dulu.”


“Lo harus jadi pacar gue.”

__ADS_1


“Harusssss.”


Degggg


Yusuf membeku seketika dan menjatuhkan bunga lili putih yang pegangnya. Dia meraba dadanya yang berdenyut nyeri. Begini ya rasanya patah hati itu. Apalagi sebelum dia menyatakanya.


Tadinya hari ini dia berencana akan menembak Nai, tetapi saat akan menjemput Nai dia melihat Nai berlari sambil menangis kerumahnya. Yusuf terlihat sangat khawatir dan panik hingga dia pun mengikutinya dari belakang.


Sampai di depan rumah Nai, Yusuf mendengar Nai marah-marah dan meneriaki nama Akbar. Saat Nai mengatakan berulang kali dan terus berkata bahwa dia mencintai Akbar sampai kapanpun, darisana lidahnya mendadak kelu.


Dunia Yusuf yang di pikirnya akan seindah di dongeng-dongeng pun harus kandas oleh kenyataan pahit kalau gadis pujaannya mencintai orang lain.


Yusuf pun meninggalkan rumah Nai dengan emosi yang meledak-ledak. Mneghiraukan Nai yang masih menangis meraung-raung di halaman rumahnya.


“Gue sakit bar, sakitt.” Ujar Nai sambil berlinang air mata mengingat kedekatan sahabatnya dengan gebetannya itu.


Nai tahu sangat sulit untuk bisa masuk ke kehidupan Akbar, apalagi untuk memiliki hatinya Akbar. Bahkan Mamanya Akbar pernah bercerita bahwa Akbar belum bisa melupakan masa lalunya dan sampai kapanpun Akbar tidak akan pernah melupakannya.


Walaupun Nai tidak tahu siapa masa lalunya, tapi dia bisa melihat dari tatapan Akbar yang selalu menghangat ketika sedang rindu dengan masa lalunya itu. Dan hanya kepada Nai juga orang-orang yang belum mengenalnya Akbar bersikap dingin. Meski begitu Akbar selalu baik kepada smeua orang, selalu peduli dan senang membantu orang yang sedang kesusahan.


Menurut Mama Akbar sebelum kepergian teman masa lalunya itu Akbar sudah tidakk dingin lagi terhadap orang baru. Semua itu tidak bertahan lama ketika papa Akbar pindah tugas ke Bandung, dan entah kenapa sampai sekarang Akbar menjadi dingin.


Ketika Nai pindah ke Jakarta saat itu juga Akbar yang juga pindah ke Jakarta. Nai awalnya sangat senang mempunyai teman seperti Akbar, tetapi begitu sering di abaikan Nai seringkali kesal kepada Akbar. Lalu, semenjak Nai sering di tinggal orangtuanya, Nai menjadi dekat dengan keluarga Akbar. Akbar sedikit melunak karena kasihan dengan Nai yang sendirian.


Nai pun sering menghabiskan waktunya di rumah akbar karena orantuanya jarang pulang jadi dia sendiri di rumah. Dia terkadang iri sama Akbar, walaupun Mamanya juga sibuk bekerja tapi tante Ani tidak pernah kurang kasih sayang kepda anaknya Akbar.


Nai mengusap sudut matanya yang kembali mengeluarkan air mata. Nai merasa sangat kecil sekarang bila di bandingkan dengan Akbar dan Sha. Dia memang sempurna, hidupnya tidak lepas dari kemewahan dan kepopuleran. Hanya saja dia tidak mendapat kasih sayang orangtua.


Makanya saat Akbar dekat dengan Sha dia sangat iri karena Sha bisa begitu dekat dengan Akbar. Padahal Sha baru kenal belum cukup lama dengan Akbar.


Sementara dia, hubungannya dengan Akbar saja tidak mengalami kemajuan. Dia sangat iri dengan Sha, makanya dia marah sama Sha. Dia juga belum tahu sampai kapan dia akan memusuhi Sha. Hanya untuk kali ini dia ingin egois, dia ingin apa yang menjadi impiannya sejak lama menjadi kenyataan walau kemungkinan terwujudnya itu kecil.


Meski dia sadar kecil kemungkinan untuk Akbar melihat kepada Nai tapi dia ingin berusaha agar terus bersama Akbar. Walau mungkin Akbar hanya kasihan kepada Nai.


“Ya mungkin dia cuma kasihan sama lo.” Nai tertawa meratapi nasibnya sambil terus bergumam.


“Sadar!! Nai!!” teriaknya yang mampu membuat tukang kebunnya berlari tergopoh-gopoh ke arah Nai.


“Non kenapa?”


Nai melirik sekilas kea rah tukang kebunnya itu lalu melambaikan tangannya menyuruh pergi. Melihat tukang kebunnya yang masih bergeming Nai berteriak galak.


“PERGGGII!!”


Langsung saja tukang kebun di rumah Nai itu berlari pontang panting melihat majikannya seperti singa lepas dari kandang.


“Pokoknya gue harus bisa dapatin Akbar, harus.”


“Gue gak mau lo bahagia Sha,” lirih Nai tidak sadar dengan ucapannya.


“Kalau perlu lo meninggal aja sekalian.”

__ADS_1


Nai semakin melantur dengan ucapannya. Nai berdoa dalam hati semoga saja hari ini Sha mendpatkan kesialan dan dia tidak usah bertemu lagi dengannya.


Sambil terus mendoakan keburukan kepada Sha Nai bergegas masuk ke kamarnya dan langsung merebahkan dirinya di kasur. Pembantu Nai yang melihat Nai melintas menatap horror Nai yang tertawa sambil menangis dengan tampilan yang errr mirip pemulung itu.


__ADS_2