Bintang Senja

Bintang Senja
Bab 46 Kembali Luluh


__ADS_3

“Hai tan.” Sapa Rio kepada Mama Yusuf yang sedang mneyiapkan sarapan.


“Hai yo. Gimana tidur di sofanya nyenyak?”


Rio menggaruk tengkuknya, “sakit semua tan badan Rio. Untung aja pas subuh pindah ke kamar.”


“Siapa suruh tidur di sofa.” Ucap Yusuf yang mulai mendekati mereka.


“Kalian ini sekalinya ketemu kerjaannya ribut terus.” Mama Yusuf geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak dan keponakannya itu. Kalau ada Bintang pasti ruang makan ini akan lebih ramai.


“Tante itu airnya sudah penuh.” Peringat Rio melihat gelas yang di tuangkan air putih oleh tantenya itu sudah penuh dan melupa keluar.


“Eh maaf.” Segera saja Mama Yusuf menyuru pembantunya untuk membersihkannya. Dia sendiri butuh ruang untuk sendirian.


“Mama lo kenapa?” tanya Rio pada Yusuf.


Yusuf mengangkat bahunya dan kembali asyik memakan sandwich buatan Mamanya. Tidak lama dia bangkit meninggalkan Rio yang maish sarapan sendirian.


“Mau kemana?”


“Sekolah lah udah telat nih.” Ucap Yusuf.


“Anak sama ibu sama-sama aneh.” Decak Rio.


***


Sepanjang jalan Nai menggerutu karena pembantunya itu tidak membangunkan Nai. Sekarang dia berangkat sendirian jaidnya karena supirnya mengantar ornagtuanya yang baru pulang ke bandara. Mau kerumah Akbar pun dia masih marahan sama Akabr kan dia gengsi kalau harus lebih dulu minta maaf.


Nai melihat kanan kiri yang sama sekali tidak ada kendaraan lewat. Biasanya suka ada angkot atau taksi yang lewat ke depan rumahnya. Sekarang saat butuh malah tidak ada, masa Nai harus jalan kaki, mana kakinya maish sakit lagi.


Nai melihat seseorang naik motor yang memakai seragam dengannya dari kjauhan, tangan Nai melambai untuk menghentikan pengemudi tersebut. Siapapun itu Nai butuh bantuannya.


Yusuf yang memang hari ini memilih lewat ke perumahan Nai, melihat Nai melambaikan tangannya. Yusuf memelankan laju kendaraannya untuk memastikan kebenaran penglihatannya. Setelah dekat dia menghentikan motornya tepat di hadapan Nai. “Nai?” tanya Yusuf bingung.


“Emm kak, gue mau nebeng boleh ya.” pinta Nai dengan pipi yang sudah memerah karena malu. Bukannya menjawab Yusuf mengernyitkan dahinya bingung.


“Supirku mengantar Mama dan Papa ke bandara. Aku ketinggalan karena bibi telat banguninya.” Jelas Nai.


Yusuf mengangguk mengerti, walau dalam hati ada keraguan jika membiarkan Nai bersama dengannya ke sekolah. “Naik.” Titah Yusuf akhirnya.


Mereka pun berangkat sekolah bersama, sepanjang perjalanan hanya keheningan yang menemani mereka berdua. Nai sendiri tidak tahu harus mengobrol apa dengan Yusuf. Nai membatin lagi-lagi Yusuf yang menolongnya.


“Makasih kak.” Ucap Nai ketika mereka sudah sampai di parkiran sekolah.


“Sama-sama.” ucap Yusuf yang kini sedang merapikan rambutnya lewat spion. Yusuf mengernyit menatap anak-anak yang menatapnya seolah mangsa.


Yusuf yang risih ditatap begitu sama anak-anak segera meninggalkan Nai sendiri dan berjalan menuju kelasnya. Nai menunduk malu dan berjalan dengan pelan menuju kelasnya. Di lihatnya tas Bila dan Sha sudah ada, tapi orangnya tidak ada. Untuk mengusir kebosanan Nai memainkan ponselnya.


***


Sha menemani Bila yang belum sarapan untuk sarapan di kantin. Mereka mendengar anak-anak menyebutkan nama Yusuf dan Nai. Bila yang penasaran pun mengehentikan langkah segerombol anak yang sepertinya sama dengan mereka—kelas X.


“Eh ada apaan sih kok kayaknya heboh banget?”tanya bila kepada salah satua anak yang lewat di depan mereka.


“Lo kalian gak tahu tadi Nai sama Yusuf berangkat bareng kesekolahnya. Beritanya heboh banget sampai kakak kelaspun ikutan liat tadi di parkiran.”


Bila menghentikan gerakan sendok yang akan menyedokan nasi goreng kesukaannya di kantin. “Sha ini apaan sih?”


Bila bangkit yang langsung di cegah Sha, “bil ini bukan apa-apa mereka hanya berangkat bareng gak ada apa-apa kok.” Ucap Sha mencoba meyakinkan Bila yang terlihat emosi.


“Mungkin mereka gak sengaja ketemu, jangan mikir yang aneh-aneh dulu kan kita juga gak tahu yang sebenarnya.” Lanjut Sha.


“Makanya itu kita harus minta penjelasan Kak Yusuf.”


“Udah bil gak usah di besar-besarin.” Bujuk Sha.


“Gak bisa pokoknya istirahat kita harus kekelas Yusuf.”


“Ayo bil, kita ke kelas aja sudah mau bel nih.” Ajak Sha pada Bila yang masih terlihat emosi tapi mneurut ketika Sha mengajaknya masuk ke kelas.


Selama pelajaran Sha tidak bisa berkonsentrasi. Bohong kalau dirinya tidak meikirkan ucapan anak-anak di sekolahnya, dia percaya dengan sahabatnya tidak akan berbuat yang menyakiti Sha, tapi Yusuf.


Setelah mengetahui Nai adalah orang yang di cintainya, Sha merasa rendah diri dan memilih mundur. Memikirkan semuanya kepala Sha menjaid pusing kembali.


“Sha lo kenapa? Mau ke uks?” tanya Bila seraya menawarkan Sha untuk istirahat di UKS. Sha terlihat kurang sehat hari ini.


“Gak bil, gue gak apa-apa kok.” Sanggah Sha, tapi jelas-jelas kepalany a pusing dia masih saja mengelak.


Tanpa mendengar ucapan Sha, Bila meminta ijin ke uks untuk mengantarkan Sha yang sakit. Untung saja wajah pucat Sha meyakinkan guru itu, ucap Bila dalam hati. Dia sangat malas belajar bahasa Indonesia yang selalu membuatnya ngantuk itu.


Sha dan Bila membaringkan tubuhnya di kasur uks. “Bila kok kamu ikutan tiduran?” tanya Sha heran.


“Hehe gue lagi malas belajar, jadi ya sengaja ngajak lo ke uks biar bisa tidur. Gue ngantuk banget kemarin nonton drama saat kalian ngaterin gue pulang.” Sha hanya menggeleng melihat kelakuan Bila, ada-ada saja.

__ADS_1


“Aku juga ngantuk bil, bangunin ya kalau nnati udah bel ganti pelajaran.” Sha berbalik memunggungi Bila.


Bila juga ikut memejamkan matanya, sampai mereka tidak sadar sudah tidur sampai waktu istirahat. Untung saja guru pelajaran kedua tidak masuk, jadi mereka tidak bisa di katakana bolos.


“Sudah bangun putri tidur?” ucap Akbar kepada Bila yang mengerjapkan matanya.


Bila seketika langsung membuka matanya dan langsung duduk di kasur. “Kok lo bisa ada disini?” tanya Bila gagap.


Akbar tertawa, “ya bisalah mata-mata gue kan banyak.”


Mata Bila memicing menatap Akbar horror.


“Ya gak lah, gak penting banget mata-matain orang macem lo.” Ralat Akbar.


“Terus ngapain disini?” tanya Bila was-was.


“Memang gak boleh kalau jenguk teman. Ke kantin yuk udah mau bel nih.”


Seketika saja Bila langsung mengecek ponselnya. Sial, mereka jadi gak masuk satu pelajaran. Bila segera mengguncangkan tubuh Sha untuk segera bangun dan buru-buru masuk ke kelas.


“Tenang aja kelas lo lagi free kok.” Tangan Bila berhenti mengguncangkan tubuh Sha dan menatap Akbar dengan tatapan membunuhnya.


“Kenapa gak bilang?!!” Bila berteriak garang kepada Akbar.


“Sellow Bil.”


“Ayo ke kantin.” Ajak Akbar.


“Bentar bangunin Sha dulu.”


Akbar duduk di ranjang yang tadi Bila tempati. Dia memperhatikan Bila yang mmebangunkan Sha dengan cara yang berbeda seperti saat panik tadi.


“Kenapa bil?” tanya Sha serak.


“Bangun yuk sudah mau bel istirahat.”


Sha bangkit pelan-pelan. Untung saja UKS dekat dengan toilet, jadi mereka tidak harus memutar arah apabila ingin ke UKS.


***


Sha terdiam kaku di pintu masuk ke kantin. Raut wajah cerianya berubah menjadi pucat pasi saat melihat Yusuf yang satu meja dengan Nai. Sha berbalik, membuat Akbar dan Bila terheran-heran.


“Sha kenapa?” tanya Akbar dan Bila berbarengan.


“Gak apa-apa, aku gak jadi ke kantin deh.” Sha langsung berjalan untuk ke kelas.


“Kenapa sih?”


Akbar menyenggol tangan Bila yang berkacak pinggang di depan kantin. Bila menggerakkan dagunya ke arah meja Nai dan Yusuf. Mata Akbar terbelalak.


“Kita samperin mereka.” Kaki Akbar yang baru maju selangkah langsung terhenti karena Bila menarik tangannya untuk berbalik.


“Sha tunggu.” Teriak Bila kencang, bahkan hampir seluruh penghuni kantin menatap kearahnya. Bila tidak peduli itu dia hanya ingin Yusuf cepat sadar.


Yusuf mendongak, menatap kepergian Bila yang menggeret Akbar. Apa Sha tadi melihat dia juga? Tanya Yusuf dalam hati. Kalau benar melihat pasti akan terjadi kesalah pahaman lagi. Bagaimana ini?


Sha istirahat kedua nanti temui gue di taman belakang.


Send


Beberapa menit Yusuf menunggu balasan dari Sha, tapi tidak kunjung juga. Apakah Sha benar-benar melihatnya dengan Nai?


“Kenapa kak?” tanya Nai yang melihat Yusuf hanya diam dan menatap gusar ponselnya.


“Enggak apa-apa.” Jawab Yusuf yang kembali makan.


“Kak maaf ya selalu ngerpotin jadinya.”


“Hmm gak apa-apa Nai.”


“Udah bilang sama Sha?”


“Gak.”


Nai jadi gelisah di tempat duduknya, ‘gimana kalau Sha salah paham lagi’ batin Nai.


“Udah tenang saja nanti Sha gak akan marah kok. Gue yang akan jelasin ke Sha.”


Yusuf cuek saja jika memang benar Sha marah, toh semua ini salahnya yang mau membantu Nai. sulit sekali untuk melepaskan Nai buat Yusuf, dia juga tidak mengerti.


***


Sha yang mmebaca buku menjadi tidak konsentrasi karena ocehan Bila yang tidak ada hentinya sejak tadi. Akhirnya Sha menutup bukunya dan menatap Bila dengan menopang dagu.

__ADS_1


“Sumpah ya Sha, ini bukan salah penyebar gossip. Ini salah mereka berdua kenapa berduaan terus jadi bertebaran gossip begitu.”


“Sudah tahu pacaranya itu sedang sakit, malah berduaan dengan sahabat kita lagi, oh bukan dia bukan sahabat kita lagi semenjak dia seenaknya saja bertindak dan khianati persaabaatan ini.”


“Parahnya mereka berduaan di kantin. Gak tau apa kalau anak-anak yang haus gossip itu jaid tambah senang gosipin mereka.” Lanjut Bila menggebu-gebu.


“Udah bil duduk sini, gak capek apa berdiri terus daritadi.”


Bila menurut dan duduk di sebelah Sha yang masih menopang dagu. “Sha lo gak apa-apa kan?”


Bila tanya kondisi yang mana, hatinya atau fisiknya? Tentu saja Sha tidak baik-baik saja, apalagi sepanjang masuk ke kelas tadi banyak sekali anak-anak di koridor yang menggosipkan Nai dan Yusuf. Sha berasa tidak ada artinya dimata Yusuf.


Drrr


Yusuf :


Sha istirahat kedua nanti temui gue di taman belakang.


“Siapa Sha?” tanpa aba-aba Bila langsung merebut ponsel Sha. Setelah melihat siapa pengirim pesan, Bila langsung mengembalikannya lagi kepada Sha.


“Gak usah datang Sha.”


“Gak apa-apa bil, gua gak bakalan di gigit sama dia kok.”


“Pokoknya jangan deh Sha.”


“Gak apa-apa bil.” Bila menatap Sha tajam.


“Hey girls makanannya sudah datang.” Akbar menyimpan dua bungkus makanan itu di meja.


Akbar menatap Sha dan Bila bergantian yang maish saling bertatapan. “Kalian kenapa?”


Bila segera saja mengalihkan pandangannya.


“Gak apa-apa, lo beli apa?” tanya Bila mengalihkan perhatian keduanya.


“Gue beli soto sama bubur di depan nih, awas aja kalau gak di makan sudah capek-capke nih beli ke depan.”


Bukannya berterima kasih Bila malah menoyor kepala Akbar, “lo ngapain beli soto. Makannya gimana?”


Akbar menggaruk tengkuknya, “gue pinjem dulu mangkuk deh ke kanting.” Akbar langsung ngacir keluar daripada kena amukan Bila.


“Makan nih.” Bila menyodorkan sebungkus bubur pada Sha. Untung saja buburnya tidak pakai plastic, kalau iya akan dihabisinya tuh kakak kelas sok kecakepan.


Tidak lama Akbar datang dengan beberapa botol minum di tangannya. “Bil bantuin dong repot nih.”


Bila mendekati Akbar, “alah bawa segini aja gak bisa.”


“Gak apa-apa sih gue masih bisa, tapi kalau mangkuknya pecah lo yang gantiin ya bil.”


“Gak masalah.”


“Beneran, gue pecahin satu nih kebetulan gue bawanya lebih kayaknya.” Sontak saja Bila langsung menghentikan aksi gila Akbar itu.


Sha tersenyum melihat ketidakakuran Akbar dan Bila. Dimana pun berada mereka selalu saja ribut sejak Sha pulang dari rumah sakit. Sha menepuk jidatnya, dia masih ada jadwal control ke rumah sakit, tapi dia melupakannya.


“Sudah kak, bil mari makan. Masa aku makannya sendirian sih.” Ajak Sha.


Mereka pun akhirnya makan di kelas yang kebetulan sepi. Anak-anak kelas Sha tumben seklai hari ini tidak ada satu pun yang berdiam diri di kelas ketika istirahat.


“Makasih ya kak atas makananya.”


“Sama-sama, tapi ini tidak gratis ya.”


Bila langsung melempar kerupuk ke wajah Akbar, untung saja Akbar sigap menghindar jadi lemparan Bila tidak mengenainya. “Dasar pelit.” Cibir Bila.


“Dasar penganut gratisan.” Cibir Akbar.


“Sudah-sudah, sebentar lagi bel ayo kita bereskan.”


Mereka menuruti perkataan Sha, memang benar sebentar lagi bel. Para penghuni kelas Sha juga sudah mulai berdatangan.


***


“Ada apa kak ngajak ketemuan disini?” tanya Sha begitu sampai di taman belakang, dia sudha melihat Yusuf yang duduk di bangku taman.


Yusuf Berbalik. “Gue mau jelasin soal tadi. Sekaligus ngajak lo pergi ke suatu tempat pulang sekolah nanti.”


Tidak ada jawaban dari Sha membuat Yusuf berpikir bahwa Sha sudah setuju dengan ajakannya. “Gue tadi gak sengaja ketemu Nai di depan kelasnya. Dia jalannya maish pincang, jadi gue bantu memapah dia sampai ke kantin. Kebetulan gue juga mau ke kantin. Sampai di kantin mejanya udah penuh, gue duduk sama Nai akhirnya.”


Sha masih tidak bersuara. Bukan itu yang membuat hatinya sakit, tapi perkataan anak-anak yang mengatakan bahwa Nai dan Yusuf serasi. Itu membuat Sha minder dan merasa tidak pantas jika berada di samping Yusuf.


“Kak apa sebaiknya kita..” tiba-tiba saja telunjuk Yusuf sudah berada di mulut Sha untuk menghentikan ucapannya.

__ADS_1


“Sha please bantu gue.” Mohon Yusuf sambil menggenggam tangan Sha.


Sha hanya bisa mengangguk sebagai jawaban, walau kenyataannya hatinya semakin sakit saat mengetahui siapa yang ada di hati kakak kelasnya itu.


__ADS_2