Bintang Senja

Bintang Senja
Bab 41 Jangan Memilih Aku


__ADS_3

“Makasih ya bil.” Ucap Nai saat Nai dan Bila sudah sampai di kamar Nai.


“Gak apa-apa kok Nai santai aja kali kan kita teman.” Bila berusaha menahan mulutnya agar tidak keceplosan bertanya pada Nai.


Nai menatap Bila bingung, kenapa Bila jadi ikut duduk di ranjangnya kini. “Ada apa bil?” tanya Nai yang bingung melihat Bila hanya diam saja, tidak bangkit keluar dari kamarnya padahal dia ingin istirahat.


“Gue mau tanya sesuatu?” Bila memainkan jari-jarinya karena gugup, padahal saat ini dia sedang berbincang dengan temannya bukan pak hakim yang akan mensidangnya.


“Tanya apa bil.” Nai berusaha terlihat santai, walau dalam hatinya dia takut Bila menanyakan sesuatu hal yang dia tidak bisa jawab.


“Lo kenapa bisa sama Yusuf tadi?” sejurus kemudian Bila menatap Nai serius. Nai yang terlihat gugup membuat Bila mencoba mengangkat dagu Nai agar Nai menatapnya.


“Gak sengaja bil sumpah.” Mata Bila memicing ke arah Nai. Kini Nai merasakan tatapan intimidasi dari Bila.


“Bener bil, gue mau nyari udara segar terus ketemu Yusuf di tepi sungai.” Nai mencoba mencari kata yang pas untuk menggambarkan situasi saat itu.


“Gak bohong lo?” tanya Bila memastikan.


Nai menggeleng tangannya membentuk tanda peace. Bila mengangguk-nganguk kemudian menatap Nai dengan tatapan intimidasinya. “Lo tau kan Sha tenggelam kenapa lo pergi saat Sha butuh lo?”


Nai terdiam sebentar, “anu Bil gue..”


“Gue ngerasa gak enak aja dan harus cari udara segar, lagian kata pak mantra kan gak boleh banyak orang di posko.” Melihat Bila yang hanya diam Nai semakin gugup.


“Ada sesuatu yang lo sembunyiin?”


“Gak ko, gak.” Spontan Nai.


Bila kembali memicingkan matanya kepada Nai, “yakin?”


“Ya kin kok.” Jawab Nai gagap.


“Yaudah gue pergi dulu.” Ucap Bila seraya bangkit. Nai menghela nafasnya lega begitu melihat pintu di tutup oleh Bila.


Brak


Pintu yang di buka kembali oleh Bila membuat Nai kaget bukan main, “kalau lo sembunyiin sesuatu gue gak akan maafin lo.”


Nai mengelus dadanya kaget, “kalau itu Sha, apa berlaku begitu juga.” Ucap Nai pada Bila yang sudah menutup pintunya kembali yang mungkin tidak akan mendengar ucapannya.


***


Sampai kamar Akbar jadi memikirkan perkataan Rio. Apa benar Sha memang bukan ornag asing seperti perkiraannya? Apa benar sebenarnya mereka sudah kenal lama?


Mana mungkin?


Mereka kan baru kenal, Akbar juga baru pindah ke Bandung 1 tahun lalu. Kalau memang mereka kenal, dari awal Akbar pasti akan mengenalinya. Tapi tunggu, saat pertemuan di toko itu. Akbar buru-buru bangkit dan berjalan ke arah kamar Sha.


Sesampainya di kamar Sha, Akbar masuk dengan hati-hati ketika melihat Sha tertidur pulas di ranjangnya. Akbar pun membuka laci di samping ranjang , ternyata masih sama, disana terdapat album fotonya dengan Bintang.


Akbar mengambilnya dan duduk di bangku samping ranjang Sha. Akbar membuka lembaran album itu satu persatu. Akbar masih ingat, foto ini adalah foto pertemuan pertamanya dengan Bintang . Foto yang diambil oleh Mama Bintang ketika menghampiri mereka yang sedang bermain.


Akbar meminta mamahnya Bintang yang kebetulan membawa kamera, untuk memfotonya dengan Bintang yang sedang duduk di bawah pohon sambil melihat langit jingga yang akan segera pudar. Mamanya Bintang memberikan fotonya pada Akbar seminggu kemudian setelah fotonya di cetak.


Foto kedua adalah ketika mereka sedang bermain di rumah bintang, foto tersebut diambil ketika Bintang naik ayunan dan Akbar yang mendorongnya . Sebenarnya, foto tersebut tidak sengaja diambil. Spontan di potret oleh Mamanya Bintang. Menurut Mamanya Bintang itu karena momen tersebut sangat bagus untuk diabadikan.


Selesai di ambil, Mamanya Bintang memperlihatkan fotonya kepada Akbar. Wajahnya yang terlihat konyol tapi bahagia karena saat itu Akbar senang melihat Bintang tertawa di ayunan. Akbar sempat tertawa melihat foto tersebut, sampai Sha yang di sampingnya menggeliat kecil. Akbar langsung saja menghentikan tawanya.


Akbar yang ingat tujuannya kemari langsung mendekati Sha. Akbar mendekatkan foto tersebut ke wajah Sha. Sekilas mereka terlihat mirip, pikir Akbar. Akbar mencoba mengelus tangan Sha ketika melihat Sha mengerutkan keningnya dalam tidur.


“Tenang Sha, tidur lagi.” Ucap Akbar yang berharap Sha dapat tenang kembali dalam mimpinya. Akbar berusaha bangkit untuk mengembalikan album foto ke laci, sampai tangan Sha menahannya. “Jangan pergi,” igau Sha yang membuat Akbar membeku.


Melihat tangannya yang di genggam erat oleh Sha, terpakasa Akbar kembali duduk di samping Sha. Akbar jadi bertanya dalam hati, mimpi apa yang sedang di alami Sha saat ini. Akbar yang bosan pun mencoba melihat kamar Sha.


Jika diingat-ingat sudah berapa lama dia tak masuk kekamar ini, terakhir kali saat dirinya kecil yaitu ketika liburan bersama orangtua Bintang. Yusuf tidak ikut waktu itu, dia sedang liburang ke Yogya bersama teman-temannya.


Diilihat-lihat kamar ini masih sama seperti dia terakhir kesini, tidak banyak perubahan. Hanya cat nya saja yang berubah.

__ADS_1


Akbar masih berusaha untuk mengembalikan album fotonya pada laci dengan menggunakan tangan kirinya. Tangannya menangkap suatu benda, karena penasaran diambilnya benda tersebut. Sebuah kalung yang sama dengan kalung yang di kasihnya kepada Bintang.


Akbar memperhatikan kalung tersebut, sampai tidak sadar jika sha bangun. Buru-buru dia memasukan kalung tersebut kedalam saku celananya. Dan melepaskan genggaman tangan Sha.


“Kok kakak bisa disini!” kaget Sha. Gimana gak kaget coba, saat bangun ada seorang cowok di sebelahmu.


“Anu tadi mau bangunin lo buat makan. Lo malah nahan gue buat disini.” Akbar jadi memukul mulutnya karena keceplosan Sha menahannya disini tadi.


Kening Sha mengkerut, “masa sih kak?” tanya Sha yang tidak percaya ucapan Akbar yang bilang dia menahan Akbar.


“Ah gak penting, lo mau makan.”


Kruyuk


Bunyi suara perut Sha, Sha menutup mukanya dengan malu. Akbar terkekeh di sampingnya. “Tuh perut lo aja minta jatah. Tunggu y ague ambil dulu.” Ucap Akbar sambil berlalu keluar kamar Sha.


Baru tiga langkah keluar kamar Sha, sayup-sayup Akbar mendengar percakapan dua orang dari kamar sebelah Sha yang merupakan kamar Nai. Akbar mencoba melihat orang di dalam kamar Nai. untung saja pintu Nai kebuka sedikit. Akbar mencoba mengintip, hal yang seharusnya tidak boleh dia lakukan.


Yusuf? Ngapain di kamar Nai. Akbar buru-buru melanjutkan langkahnya ketika melihat Yusuf bangkit dan sepertinya akan keluar dari kamar Nai. Akbar langsung ke dapur tanpa menoleh lagi ke belakang untuk melihat Yusuf atau Nai.


“Kak Yusuf?” Sha begitu terkejut ketika dia keluar dari kamar untuk ke kamar mandi, Yusuf keluar dari kamar Nai.


Wajah Yusuf tegang ketika berpapasan dengan Sha. Segera saja berlalu darisana saat melihat Nai keluara dari kamarnya dengan orang yang khas bangun tidur. Sha buru-buru masuk ke kamar mandi sebelum Yusuf mencegahnya.


Benar dugaan Sha Yusuf mengejarnya, Yusuf juga mengetuk pintu kamar mandi. “Sha, Sha dengerin penjelasan gue dulu.”


Sha hanya diam dan menyalakan kran air agar tidak bisa mendnegar apa yang Ysuuf ucapkan. Kalau begini caranya Sha ingin menyerah saja. Sha menekan dadanya kuat-kuat. Kepalanya yang tadi ringat kini jadi berat.


Yusuf tidak menyerah, dia terus mengetuk pintu kamar mandi yang ada Sha di dalamnya.


“Sha bisa bicara sebentar.” Meski ucapannya keras mungkin saja tidak akan terdengar karena Sha menyalakan kran air. Yusuf tahu Sha sengaja melakukan itu.


“Kak gue sudah siap.” Teriak Nai yang berdiri di pintu kamarnya. Nai semapt bingung tadi melihat Sha yang berdiri kaku di depan pintu kamarnya. Apa Sha tidak tahu? Pikir Nai.


Yusuf pun menghampiri Nai yang sudah siap berangkat. Yusuf memapah Nai, saat di tangga mereka berpapasan dengan Akbar. Akbar mengeratkan pegangannya pada nasi box untuk Sha ketika melihat Nai yang memegang tangan Yusuf erat.


Akbar berlari menaiki tangga dengan cepat. Sampai di kamar Sha, Sha tidak ada disana. Akbar mencari ke sekitar ruangan di lantai atas. Bahkan ke kamar Bila yang tertidur pulas. Akbar menemukan Sha yang duduk tertunduk di kursi balkon.


Akbar bernafas lega, “gue kira lo kemana Sha.” Akbar duduk di samping Sha yang masih menunduk.


Akbar melihat satu tetes air mata membasahi tangan Sha. Akbar menegakkan wajah Shad an menarik bahu Sha agar menghadapnya.


“Sha lihat gue.” Ucap Akbar kembali mengangkat dagu Sha yang menunduk lagi.


“Kalau lo mau nangis , nangis aja. Hanya kali ini, besok gak gue biarin nangis lagi.” Tegas Akbar.


Tangis Sha pecah juga saat itu. Akbar membawa Sha dalam pelukannya. Akbar menpuk-nepuk bahu Sha pelan. Akbar telat tadi, sepertinya Sha memang sudah mengetahui jika Nai dan Yusuf sedang berduaan sekarang, entah akan pergi kemana mereka berdua.


“Sha lo-“ Sha menggeleng-gelengkan kepalanya di dada Akbar, tanda dia tidak mau membicarakan apapun. Akbar terdiam kembali sampai Sha benar-benar merasa tenang.


Melihat yang sudah tenang, Akbar melepas pelukannya. Menatap Sha dalam. Manik Akbar tepat meenatap manik mata cokelat pekat milik Sha.


“Kalau emang lo sakit kenapa gak lo lepas aja.” Akbar kini setujua dengan ucapan Rio yang menginginkan mereka putus. Melihat Sha yang menggeleng mmebuat Akbar bingung.


“Sha lo bener-bener cinta ya sama Yusuf?” tanya Akbar lembut.


Sha gugup, “maksudnya?”


“Gue heran aja. Kan gak mungkin kalau kita pacaran, tapi kita gak cinta sama pasangan kita. Lo sama Yusuf bener saling mencintai?” pertanyaan yang selalu hadir di dalam benak Akbar, di tambah ucapan Ysuuf di sungai tadi siang membuat dia ingin seklai menanyakan hal itu pada Sha.


Sha seolah disadarkan dengan ucapan Akbar barusan. Sha memang sempat berniat untuk membuat Yusuf mencintainya, tapi sudah ada hampir satu bulan lebih belum ada tanda-tanda jika Yusuf terlihat mencintainya.


Sha jadi ingat kejadian barusan ketika berpapasan dengan Yusuf di depan kamar Nai. Sekelebat kejadian dimana dia hampir mati tenggelam di sungai, dan bukan Yusuf yang menolongnya membuatnya hatinya teriris. Sekuat tenanga Sha menahan diri agar tidak menangis lagi.


Yusuf melambaikan tangannya karena Sha hanya bengong. “Sha lo gak apa-apa kan.”


Sha merubah mimik sendunya menjadi tersenyum manis kepada Yusuf. “Gak apa-apa kok kak.”

__ADS_1


Sha menatap Akbar lekat, “memang kita tidak terlihat seperti dua orang yang slaing mencintai ya kak?”


Pertanyaan Sha membuat Akbar gelagapan, “Gue juga gak tahu.” Ucap Akbar yang menggaruk kepalanya bingung.


“Oh iya ini ue bawa makanan.” Akbar mencoba mengalihkan perhatian Sha agar tidak sedih lagi.


“Makasih ya kak.” Sha mengambil makanan yang di sodorkan Akbar, memakannya dalam diam.


Akbar tersenyum melihat Sha yang sudah tidak memikirkan Yusuf lagi, “Sha lo mau gue panggil dokter untuk periksa keadaan lo?”


“Gkha usha kak.” Ucap Sha dengan mulut penuh, Akbar yang gemas mencubit pelan pipi Sha yang mengembung karena sedang makan.


“Telen dulu Sha, baru jawab hehe.” Akbar terkekeh melihat kelakuan Sha.


Akbar mengacak rambut Sha gemas, Sha segera menepisnya. “Jail banget sih kak.” Ucap Sha yang merapikan rambutnya kembali.


“Biarin.”


Rio yang melihat itu geleng-geleng kepala, “gue yakin ada apa-apa di antara mereka berdua.” Gumam Rio.


“Yusuf dan Nai kemana ya?”


“Sial gue gak jadi ngerokok karena ngeliat kemesraan mereka berdua. Mending gue banguning Bila ah.” Rio bergegas pergi dari sana.


***


“Kak.” Panggil Nai kepada Yusuf yang tengah fokus menyetir.


Yusuf sempat melihat sekilas ke arah Nai yang terliat gugup, “kenapa Nai?”


Nai meremas pelan ujung kemeja yang di kenakannya, “ini beneran gak apa-apa?”


Yusuf menatap Nai, kebetulan mereka sedang berhenti di lampu merah. “Apanya yang gak apa-apa?” Yusuf balik bertanya.


“Kita jalan berdua?” Nai ragu melanjutkan pertanyaannya.


“Emang kita mau nge date, kan bukan. Sha pasti ngerti kok.” Yusuf yang berusaha meyakinkan Nai membuat Nai merasa perasaan bersalahnya pada Sha semakin besar.


“Lo gak ngasih tahu Sha?”


“Tentang apa?”


“Ini, kita pergi berdua.”


Yusuf menghela nafas, melihat tatapan kecewa Sha membuat Yusuf seolah menjadi laki-laki paling jahat sedunia. “Gue tau salah gak ngasih tahu Sha. Ini di luar dugaan gue, gua gak nyangka akan ketemu Sha di depan pintu kamar lo.” Yusuf kaget bukan main saat melihat Sha tadi.


“Niat gue akan menjelaskan semuanya saat lo sudah sembuh kakinya nanti, gue akan menjelaskan semuanya biar gak salah paham.”


“Sekarang sudah salah paham.” Nai jadi semakin khawatir nasib persahabatan mereka. Meiihat kesungguhan ancaman Bila saja membuat Nai ciut apalagi jika beneran terjadi, Nai tidak mau sendirian lagi.


“Nai, dengerin gue.” Nai menatap Yusuf yang kini menghadapnya.


“Apapun yang terjadi, gue khawatir sama lo dan Sha. Sha pacar gue dan lo temen gue.” Lo lebih pentingin temen daripada pacar, batin Nai. Ada gejolak dalam diri Nai yang dia sendiri juga tidka mengerti.


“Gue pilih lo karena gue gak mau kehilangan teman, gue tau Sha orang yang baik. Kalau bukan gue siapa yang akan jaga lo?” pertanyaan itu membuat Nai tertohok. Dia sedang tidak akur dengan Akbar, Nai jadi terharu dengan Yusuf yang rela berkorban demi dirinya.


“Gue tahu, Sha sudah disayang banyak orang jadi gue memutuskan untuk bantu lo. Bukan semata-mata gue belum bisa move on dari lo, tapi emang gue khawatir deng keadaan lo sebagai teman.”


“Makasih kak.” Nai jadi terenyuh.


“Gue akan menjelaskan semuanya, semoga saja Sha bisa mengerti.”


Yusuf yakin Sha akan mengerti, tapi Yusuf tidak yakin jika dia bisa menyelesaikan kesalahpahaman ini dengan mudah. Yusuf tau dia sudah menyakiti Shad an Yusuf akan meminta maaf karena hal itu.


Tin tin


Lampu sudah menyala hijau, Yusuf menatap Nai untuk terakhir kalinya. “Pokoknya lo harus sembuh dulu Nai. Habis di urut ini semoga lo bisa sembuh, gue akan bantu lo jelasin ke Sha biar persahabatan kalian gak bubar.” Nai hanya mengangguk mendengar hal itu dari Yusuf.

__ADS_1


__ADS_2