Bintang Senja

Bintang Senja
Bab 29 Grup Kue Bantal


__ADS_3

Bangun tidur siang Sha membuka chat grup dengan sahabatnya yang gak kalah banyak dari teman grup kelasnya . Walaupun grup tersebut hanya berisikan tiga orang, tapi jangan salah kalau chat nya bejibun. Apalagi kalau soal curhat-curhatan. Bisa penuh memori ponsel.


Kue bantal


Entah kenapa grupnya dimanakan begitu, menurut Bila biar anti mainstrem saja beda dari yang lain gitu. Sha hanya pasrah dan ngikut saja, daripada nanti ada perang mulut diantara mereka bertiga.


Nailacantiksnauzubillah


Hey gengs, gue punya berita bagus


Bilasiimutsayangdoi


Berita apa lah Nai, paling kalau gak tentang doi yang gak peka


Sepertinya Sha kehilangan banyak info selama dirinya di rawat dua hari ini.


Nailacantiksnauzubillah


Elah itu mah dah lewat kali bil, enggak ini sirius gue elah


Serius maksud gue pake salah ketik segala lagi, terlalu semangat gue


Bilasiimutsayangdoi


Aduh apaan sih Nai bikin pinisirin aja


Eh salah ketik gue penasaran maksudnya, terlalu semangat gue


Nailacantiksnauzubillah


Apaan sih bil malah ikut-ikutan sih


Bilasiimutsayangdoi


Iya-iya udah jadi apa info nya


Nailacantiksnauzubillah


Jadi gini , gimana kalau kita liburan minggu depan. Soalnya kata Rama ketua kelas kita itu, kita dapat libur dari jumat sampai senin depan. Kalau mau kita ngadain acara gitu, terus kalau bisa kita ajak yang lain biar tambah seru tuh


Bilasiimutsayangdoi


Wah kayaknya seru juga tuh. Boleh juga ide lo itu


Tapi kita mau ngajak siapa lagi?


Nailacantiksnauzubillah


Ya kita bisa ajak Akbar, Yusuf atau anak-anak kelas juga boleh.


Eh tapi kata Rama jangan di sebarin dulu ya perihal libur ini ntar aja kalau sudah mendekati katanya gitu


Bilasiimutsayangdoi


Oh jadi main rahasia-rahasiaan nih


Nailacantiksnauzubillah


Iya Bil, lo ada usul gak rencananya mau kemana?


Bilasiimutsayangdoi


Belum ada kalau lo?


Nailacantiksnauzubillah


Gimana kalau kita kemping aja, ke puncak gitu. kayak seru tuh kemping di puncak


Bilasiimutsayangdoi


Gue sih ayok aja , tapi sha kan belum pulang dari rumah sakit


Gimana dong


Nailacantiksnauzubillah


Tenang kan masih ada waktu seminggu lagi dari sekarang


Bilasiimutsayangdoi


Oh oke oke


Shakilazahra


Kalian ngerencanain apa sih kok aku gak tau sih


Bilasiimutsayangdoi


Gini Shayang Nai punya rencana buat liburan nanti nih. Rencananya kemping gitu ke puncak soalnya jumat depan sampai senin kita libur. Kamu ikut ya, ya ya


Shakilazahra


Aku sih ikut aja. Oh iya nanti sore juga udah pulang kok dari rumah sakit tapi masih harus terus berobat jalan


Bilasiimutsayangdoi


Alhamdulillah wasyukurillah doa gue terkabul juga ya Allah sahabat gue udah bisa keluar rumah sakit.


Yey bisa kemping deh, dedek kangen nih sama Shayang


Duh Bila ini ada-ada saja masa namanya diubah jadi Shayang, tapi memang Bila ini paling receh juga perubah suasana


Shakilazahra

__ADS_1


Iya bibil Sha juga kangen sama bibil sini-sini peluk dulu


Bilasiimutsayangdoi


Cie Shayang jadi ikutan alay nih


Tanggung jawab loh Nai Sha jadi alay gara-gara lo nih


Nailacantiksnauzubillah


Wah Alhamdulillah ya, jadi kita bisa kumpul bertiga lagi.


Kok gue sih kan lo yang duluan alay


Dan begitulah selanjutnya mereka meributkan hal-hal yang tidak penting. Sha ketawa-ketawa sendiri membaca chatnya dan sahabatnya itu, memang bila dan Nai paling bisa membuatnya ketawa.


Nailacantiksnauzubillah


Jadi gimana nih acara kamping nya?


Bilasiimutsayangdoi


Gue sih ngikut aja


Shakilazahra


Aku juga


Nailacantiksnauzubillah


Oke deh nanti bicarain lagi pas jenguk Sha


Hingga tak sadar ada seorang cowok yang sudah sejak tadi memperhatikan Sha yang sedang chattan dengan teman-temannya itu.


“Duh saking asiknya main hp sampai gak sadar ada orang ganteng yang dianggurin,” Akbar sudah duduk di kursi samping ranjang Shad an pura-pura sedih sambil mengerucutkan bibirnya.


Sha segera menengok ke sumber suara, betapa terkejutnya dia melihat Akbar berada di sampingnya. Kok dia bisa disini, ucap Sha dalam hati.


Akbar melirik Sha yang masih asyik dengan ponselnya itu.“Chat sama siapa sih, sampai ketawa-ketawa gitu.”


Sha melihat ponselnya, dia sedikit tersenyum mengingat percakpan dengan sahabtnya di ponsel. Melihat itu membuat Akbar mencoba melihat ponsel Sha. Sha yang melihat Akbar akan melihat chat nya buru-buru menyembunyikan ponsel nya . Sayang ponsel nya jatuh ke ranjang dan Akbar langsung mengambil ponsel Sha.


“Wah temen-temen kamu ngajakin kemping tuh. Seru nih apalagi kalau ke puncak. Nanti kita bisa nginep di villa gue” Kok jadi Akbar yang bersemangat sih, kan kempingnya belum tentu jadi juga.


“Belum tahu kak, belum fiks,” ucap Sha berusaha merebut ponselnya dari tangan Akbar.


Akbar malan menggoda Sha dengan meninggi-ninggikan ponsel Sha. Sha pun berusaha merebutnya walau sedikit susah karena tangannya yang masih di infus. Sampai dia tidak hati-hati dan keseimbangannya pun goyah.


Duk


“Awh,” ringis mereka berdua karena jidat mereka beradu.


Akbar menahan pinggang Sha yang hampir jatuh dari ranjang. Sha berusaha melepaskan diri tetapi keseimbangannya kembali goyah hingga Akbar pun mengeratkan pegangan tangannya pada pinggang Sha agar tidak jatuh.


Keadaan itu membuat jarak mereka terlalu dekat. Bahkan Sha bisa merasakan hembusan nafas Akbar yang beraroma mint.


Akbar pun bisa mencium aroma rambut Sha yang beraroma strawberi. Beberapa menit mereka dalam posisi tersebut, hingga keduanya sadar dan saling melepaskan diri.


Sha yang merasa canggung pun kembali duduk di ranjangnya sambil menatap langit-langit rumah sakit.


Akbar pun menatap ke segala arah dan menghindari kontak mata dnegan Sha. Hingga Akbar sadar Ponsel Sha masih digenggamnya. Akbar pun mencoba mengembalikannya kepada Sha.


“Apa kak,”


Sha masih menunduk dan tidak mengerti maksud Akbar yang memberikan ponsel kepadanya. Duh dia kok jadi lemot gini udah tau Akbar ini ngasih ponsel nya, kok dia malah bilang gitu rutuknya dalam hati


Sha menerima kembali ponselnya.


Mendadak keadaan menjadi hening dan canggung. Hawa dingin angina sore rumah sakit menyusup ke tulang-tulang Sha, hal itu membuat Sha merapatkan sweater yang di kenakannya.


“Maaf,” “maaf” ucap mereka bersamaan.


“Ladies firs,” ucap Akbar sambil menatap Sha intens. Sha yang ditatap begitu hanya menundukkan kepalanya malu.


“Maaf kak.” Ucap Sha masih menunduk malu.


“Maaf juga karena sifat gue, hampir saja tadi kita berdu jatuh.” Akbar pun menunduk malu ketika membayangkan kejadian tadi.


Sungguh jantung Akbar kali ini berdetak kencang karena jarak mereka tadi yang memang sangat dekat. Begitu pula dengan Sha yang bisa merasakan hembusan nafas Akbar dan dia juga merasakan kalau Akbar jauh lebih tampan dari jarak dekat. Pantas saja Nai tergila-gila padanya.


Hush Sha kamu ini ngomong apaan sih, kan sudah ada Yusuf sebagai pacarnya. Sha menggeleng-gelengkan kepalanya.


Hal itu malah membuat Akbar berpikir bahwa Sha kesakitan dan telah terjadi sesuatu dengan Sha akibat kejadian tadi. Di tambah pipi Sha yang telrihat memerah, apakah Sha masih marah kepada Akbar.


“Sha lo gak apa-apa kan. Gue minta maaf sampai bikin lo hampir jatuh karena meninggi-ninggi kan ponsel lo,”


Sha tidak menjawabnya dan Akbar menjadi bingung tidak tahu harus berkata apa lagi. Kini mereka kembali dengan aksi diamnya.


“Kok kakak bisa ada disini?”


“Itu karena-“


Ucapan Akbar terpotong karena keributan diluar yang terdengar gaduh. Sha dan Akbar menoleh ke arah pintu yang masih tertutup rapat itu. Sha menduga itu seperti suara Bila tapi entah ribut dengan siapa.


“Sha aku ke depan dulu.” Sha hanya mengangguk takut terjadi sesuatu di luar ruangannya.


Setelah berkata demikian Akbar buru-buru menghampiri pintu dan melihat ada Bila yang tengah beradu mulut dengan cowok asing. Baru saja hendak bertanya Bila sudah nyerocos terlebih dahulu.


“Lo pokoknya harus tanggung jawab kerana udah rusakin parsel buah gue. Lo tau gak ini tuh buat jenguk sahabat gue yang lagi sakit. Gak mau tau pokoknya lo harus ganti,” teriak Bila dengan emosi dan menunjuk-nunjuk wajah cowok tersebut.


“Kan gue udah bilang gak sengaja, lagian lo juga kalau jalan hati-hati dong,” bela cowok tersebut.


“Lo kok malah nyoot sih, pake salahin orang segala lagi.”

__ADS_1


“Tunggu…ini ada apaan sih kok ribut-ribut di luar, di rumah sakit lagi.”


“Dia.” “Dia” ucap mereka serempak yang membiuat Akbar menjadi tambah bingung.


Akbar menoleh ke arah Bila yang tengah memungut buah-buahan yang bercecer di lantai. “Bil, ini ada apaan sih?”


“Lo gak liat nih parsel gue jatuh gara-gara dia.” Bila menjadi emosi kembali melihat parcel buah yang sudah berantakan.


Seketika Akbar membantu Bila memungut buah-buahan itu terlebih dahulu sebelum bertanya mengenai akar masalahnya.


“Bener kamu yang bkin parsel buahnya berantakan?” tanya Akbar yang membuat cowok itu menjadi emosi karena tidak terima di tuduh begitu saja.


“Asal lo tau ya kalau aja dia jalannya gak nunduk sambil liat ponsel mungkin gak akan gini.” Tuduh cowok tersebut kepada Bila.


“Eh asal lo tau ya lo nya aja yang jalannya gak bisa santai, pake lari-larian segala kayak di kejar debkolektor. Udah tahu gue bawa parsel gede, ya susah lah.” Bela Bila.


Oke, Akbar mulai paham sekarang dengan masalahnya.


“Lo-“


“Apa.” Tantang Bila.


“Gue gak mau tau pokoknya kalau gue ketemu lo lagi, gue akan minta pertanggungjawaban,” ucap Bila dengan emosi.


“Tanggung jawab apalagi! Guekan udah minta maaf. Yaudah nih,” cowok tersebut mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan memberikannya pada Bila dan berlalu pergi begitu saja.


Bila seketika emosi kembali melihat kelakuan cowok tersebut yang seakan menghinanya dengan memberikan Bila uang. “Heh lo!”


“Udah Bil ini rumah sakit, jangan berisik.” Peringat Akbar.


“Lagian buahnya juga masih bisa dimakan kok, ayo masuk,” Akbar menenangkan Bila dan mengajaknya untuk masuk keruangan Sha.


“Gue itu sebel banget deh sama tuh cowok masa nih ya gue udah cepek-capek mungutin buah yang jatoh tadi dia malah nuduh gue. Pokoknya kalau ketemu lagi gue bejek-bejek tu cowok!” ucap Bila menggebu-gebu sambil meremas tangannya sendiri.


“Udahlah Bil, lagian tuh uangnya bisa buat beli parsel lagi kan. Untung lo gak diapa-apain sama tuh cowok. “


Duh Akabar ini kayak gak tau cewek aja kalau barangnya udah dirusakin pasti bakal marahlah, batin Bila sebal. Bukan masalah uang atau apa hanya saja tuh cowok udah nyolot duluan tadi pas Bila mau marah, mana dia gak bantuin mungut buahnya lagi.


“Ehm Bil jumat depan lo mau ngadain acara kemping ke puncak?” tanya Akbar mencoba mengalihkan perhatian Bila dari insiden parsel jatuh.


“Iya emang kenapa!” ucap Bila galak.


Buset nih cewek gak ada lembut-lembutnya, Akbar membatin seketika. Emang ya kalau sudah marah itu susah buat di redain nya.


“Duh jangan galak-galak dong bosqu. Slow men,” ngeri juga dia lihat Bila kalau sedang marah, macam macan ngamuk aja. Akabr jadi bergidik ngeri.


“Kamu kenapa deh Bilk ok jadi marah-marah?” Sha bertanya dengan tatapan heran sekaligus penasaran akan keributan yang terjadi di luar tadi.


“Lo tau gak-“


“Udah-udah gak usah bahas itu lagi Bil bosen gue dengernya.”Akbar spontan berkata demikian yang membuat tatapan marah Bila kembali menjadi dan menatapnya garang. Akbar mengacungkan tanda is seketika yang membuat Sha tersenyum melihat tingkah mereka berdua.


“Gue mau ngomong penting nih.”


“Penting apaan.” Sambar Bila tidak sabar.


“Elah gue belum selesai ngomong main potong-potong aja deh lo.”


Akbar mencoba tetap tenang menghadapi sikap Bila yang macam ngamuk itu. “Gini gue punya rencana, gimana kalau kalian nginep di villa gue aja yang di puncak,”


Seketika wajah murka marah itu hilang.“Wah boleh juga tuh, jadi gak perlu sewa tenda.”


Akbar mencibir melihat kelakuan Bila yang langsung semangat membahasnya dengan Sha. “Dasar matre.”


“Eh ini tuh bukan matre, tapi penghematan namanya. PE NG HE MA TAN!” Bila menekankan kata penghematan dengan tegas.


“Iya deh terserah cewek, cewek selalu benar.”


“Wah kudu kasih tahu Nai nih kalau ada info penting.”


Bila mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Nai. “Yaudah nanti gue kasih tau nai dulu.”


“Gausah nelpon gue Bil, gue udah ada disini,” ucap Nai yang kebetulan datang untuk menjenguk Sha bersama dengan Yusuf.


Nai mendekati Bila dan Sha yang cengo. Dia sebenarnya mencuri dengar sedikit percakapan mereka ketika di pintu tadi.


“Hai Sha gimana kabarnya udah baikan?” Nai bertanya sambil menatap Akbar dengan tatapan herannya.


“Alhamdulillah sore ini bisa pulang kok.” Sha menjawab dengan raut bahagianya.


Nai mengajak Bila duduk dan membicarakan mengenai rencana liburan mereka. Yusuf menghampiri Sha yang sedikit gugup karena ini pertama kalinya berdekatan dnegan Yusuf saat ada teman-temannya.


“Hai pacar,” ucap Yusuf seraya mengelus kepala Sha.


Akbar, Naila, dan Bila seketika menoleh ke arah Sha dan Yusuf. Bila dengan tatapan garangnya menatap Sha meminta penjelasan. Nai dengan raut yang entah antara bahagia juga dia tidak tau pasti apa sebabnya. Akbar hanya memperlihatkan senyum paksanya.


“Kalian jadian?” tanya mereka bertiga barengan dengan suara yang tidak bisa dibilang kecil.


Yusuf tersenyum menatap Sha yang tampak malu-malu. Sha ingin mengubur dirinya sekarang. Tatapan penuh tanya teman-temannya membuat dia menjadi seperti buronan sekarang.


“Iya, baru kemarin,”ucap Yusuf santai.


Sha membelalakan matanya. Tidak menyangka bahwa Yusuf akan memberitahu mereka secepat ini. Sha menyembunikan kepalanya dengan menelungkupkan bantal rumah sakit, sudah kepalang ke tangkap mau bagaimana lagi.


“Sha gue butuh penjelasan lo!” Bila dengan raut kekecewaan karena Sha menyembunyikan suatu rahasia darinya.


“Kalian beneran jadian?” tanya Nai. Entahlah Nai merasa sedikit heran saja dengan mereka berdua, seperti ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Walau begitu dia tetap merasa bahagia, kini temannya yang pendiam itu tidak sendiri lagi. Bukan jomblo seperti dirinya.


“Pj woy pj,” teriak Akbar dengan raut yang seperti di buat bahagia.


Walau sebenarnya hati Akbar tidak sebahagia itu. Mengetahi Sha jadian dengan Yusuf, hatinya sakit dan ada perasaan tidak rela. Akbar jadi sedikit kikuk ketika semua yang di ruangan menatapnya dnegan heran.


Heran karena Akbar terlihat bersemangat, tetapi juga seperti mengeluarkan sinar sendunya. Seketika ruangan Sha menjadi canggung dan hening.

__ADS_1


“Ah iya jangan lupa pj ya Sha.” Bila tersenyum nakal kepada Sha.


__ADS_2