Bintang Senja

Bintang Senja
Bab 32 Rencana


__ADS_3

“Nai kamu sudah mengabari kak Akbar kan?” Bila bertanya ketika mereka sudah keluar kelas.


“Sudah kok bil, kita tunggu saja di depan sekolah.”


Bila mengacungkan jempolnya, dia beralih menatap Sha yang tampak gelisah. Bila menyenggol lengannya pelan. “Lo sudah kasih tau kak Yusuf.”


Sha mendadak gagu. “Be lum bil.”


“Buruan gih kasih tau dulu.” Sha terpaksa mengirimkan pesan kepada Ysuuf.


Kami tunggu di gerbang sekolah kak.


Send


Sha sekarang menjadi gugup karena dia baru saja mengirimkan pesan untuk Yusuf. Walau hubungan mereka dekat tetap saja Sha masih merasa canggung apalagi dia yang menjaga jarak beberapa hari ini.


Bila menyenggol lengan Sha. “Sha ayo kita ke depan. Nunggu di pos satpam saja.”


“Ah i ya bil.” Dengan sangat terpaksa Sha mengikuti langkah Bila yang sudah jalan terlebih dahulu.


Sepanjang jalan Sha hanya menunduk dan tidak terlalu memperhatikan lalu-lalang orang yang di lewatinya. Sebuah sepatu mensejajarkan langkahnya dengan Sha. Sha pikir mungkin orang itu hanya kebetulah. Ketika sudah sampai di halaman depan gerbang Sha menghentikan langkahnya, tanpa Sha duga sepasan sepatu itu pun ikut menghentikan langkahnya.


Sha mendongak dan alngkah terkejutnya dia mendapati seseorang yang ternyata memang benar mengikutinya dari tadi. Orang itu tersenyum manis ke arah Sha. “Hai.” Sapanya yang mmebuat Sha jadi sedikit susuah bernapas.


“Sha, Akbar buruan keburu sore nih.” Teriakan Nai mampu membuat Sha kembali pada kenyataan.


Sha bergegas meninggalkan Akbar dan menghampiri Nai juga Bila yang sudah duduk di bangku pos satpam. Nai telrihat mengipasi wajahnya yang memang terpapar sinar matahari, sedangkan Bila sibuk dengan ponselnya.


“Duh panas banget sih, mana kak Yusuf belum kelihatan batang hidungnya lagi.”


“Sha tadi ngapain sih malah diem-dieman di sana?” Nai menunjuk tempat Shad an Akbar berdiri tadi.


“Bukan apa-apa kok.” Akbar yang menjawab pertanyaan Nai.


“Jadi gimana ini?”


“Gimana apanya?”


“Mau nunggu Yusuf disini?”


Nai merebut ponsel Bila. Dengan cueknya dia malah berkata, “gimana Bila, mau nunggu atau kita berangkat duluan.”


Bila berusaha merebut ponselnya dari tangan Nai. Bila kesal karena Nai benar-benar mempermainkannya. Dia malah asyik dengan ponsel Bila. “Tunggu dulu aja deh.” Ucap Bila yang masih berusaha merebut ponselnya dari tangan Nai.


“Atau Sha sendrian saja yang menunggu?” ceplos Bila asal yang kesal karena ponselnya belum Nai balikan.


“Jangan.”


“Boleh.” Akbar dan Nai yang menjawab pertanyaan Bila.


Bila menatap dua orang itu dengan heran. Harusnya kan Sha yang menjawabnya bukan mereka. Bila melirik Sha yang sedari tadi hanya diam. “Gimana Sha.”


Sha terlihat gugup, “aku ikutin kalian aja deh.”


“Ikutin gimana?” tanya Bila yang menjadi bingung.


“Udahlah lebih baik kalian para cewek duluan biar nanti gue yang tunggu Yusuf, kalian sms aja alamatnya dimana ike.” Putus Akbar.


“Oke sih.” Bila menyenggol bahu Nai dan bibirnya tanpa suara berakata pada Nai ‘gimana menurut lo’.


“Oh oke oke.”


Bila menepuk jidat, Nai oke-oke saja tapi masih diam dan asyik memainkan ponsel. Dengan amat terpaksa Bila menyeret Sha dan Nai menuju mobilnya berada. Bila menyuruh Nai masuk ke mobil, begitu juga dengan Sha. Bila dan Sha duduk di bangku belakang dan Nai duduk di depan dengan sopir.


“Apaan sih Bil!” protes nai ketika mobil sudah melaju.


“Kan tadi lo udah oke buat naik mobil kenapa sekarang protes.”


“Padahal gue kan mau bareng Akbar.” Gumaman Nai yang masih bisa di dengar Bila dan Sha. Mereka jadi menertawakan tingkah Nai, begitu juga supir Bila yang ikut tertawa melihat tingkah anak remaja sekarang.


Bila berusaha menahan tawanya, “makanya kalau orang ngomong tuh di dengerin jangan main ponsel mulu. Sini balikin ponsel gue.”


Dengan malas Nai mengembalikan ponselnya pada Bila. “Hidup gue itu teriak-teriak salah jadi pendiam salah. Huh.”


“Hahahaha.” Mereka yang ada di mobil kembali menertawakan tingkah Nai.


“Jangan lupa ya Nai kabarin Akbar tempat janjiannya.” Peringat Bila di sela-sela tawanya.


“Baik tuan putri.”


Selama perjalanan kali ini diisi oleh percakapan mereka. Canda, tawa dan berbagai lontaran lucu dari Nai mampu menghidupkan suasana mobil yang biasanya sepi. Sha juga tidka canggung lagi mengobrol dengan mereka.


***


“Jadi rencananya bagaimana nih?” tanya Yusuf membuka pembicaraan.


Mereka sudah berkumpul di salah satu restiran ternama di Bandung. Tentu saja Bila dan Nai yang memilih tempat. Meski baru tahu beberapa restoran, feeling Nai mengenai restoran enak dan mewah tidak pernah meleset. Mereka dengan sengaja memesan banyak makanan guna membandingkan makanan yang paling enak di restoran tersebut. Siapa tahu suatu saat nanti mereka bisa kesini lagi, pikir Nai dan Bila.


“Ada yang bisa naik mobil?” pertanyaan Bila membuat mereka langsung menoleh ke arahnya.

__ADS_1


“Gue bisa tapi kan belum punya sim Bil.” Jawab Akbar.


“Gue aja.” Jawaban Yusuf membuat Bila tersenyum.


“Gini kalau bawa supir, rasanya itu kayak ada yang mengawasi gitu. Kan ini juga acaranya untuk anak muda. Jadi kemungkinan kita gak usah melibatkan orang dewasa.”


“Kalau ada masalah bagaimana?” tanya Akbar yang mmebuat mereka bingung.


“Ya, masalah sama mobilnya siapa tahu, atau ya lo tau sendiri kan jalan ke puncak bagaimana. Meski yang bawa mobil ahli tapi kita kan harus jaga-jaga.” Jelas Akbar.


“Iya juga sih.”


“Tapi lo doain kita kecelakaan gitu!”


“Gak gitu bil, apalagi ini weekend pasti banyak kendaraan juga yang mau ke puncak ya untuk anstisipasi gitu.” Akbar mencoba mematahkan kesimpulan yang Bila ambil agar tidak salah sangka.


“Benar juga Bil apa yang Akbar bilang.” Ucap Nai.


“Ya gimana mau pakai sopir aja.”


“Tenang aja gue nanti coba ajak sodara gue yang bisa teknisi dan bawa mobil di gunung. Dia sudah biasa sih bawa mobil di gunung.”


“Wah bagus tuh.” Ucap Bila sangat antusias.


“Tunggu kalau ada sodara kak Yusuf berarti kita bawa dua mobil.”


“Satu aja juga cukup kok.”


“Kita pakai mobil yang kapasitasnya bisa muat banyak dan bagasi juga cukup besar bagaimana?”


“Boleh deh.” Komentar Nai.


“Ada yang punya tenda?”


“Loh katanya mau nginep di villa ko pakai tenda.”


“Iya biar seru aja.”


“Tenda buat apa bil.” Sha yang sejak tadi hanya diam kini bersuara.


“Ya buat tidur kita Shayang.” Bila memeluk Sha dari samping. Sha sedikit risih dengan perlakuan Bila apalagi ketika melihat tatapan Yusuf.


“Gue ada sih teman yang punya tenda, nanti gue hubungi dia. Butu berapa tenda emangnya?” Akbar menawarkan bantuan kepada Bila. Kebetulan dia memang mempunyai teman yang suka naik gunung.


“Dua cukup deh kayaknya.”


“Makanan rumahan aja bagaiamana.” Ucap Akbar dan Yusuf berbarengan.


“Oke, baik kalian mau masak apa?” tanya Bila.


Nai sontak saja menggeser duduknya mendekati Bila. “Bil lo gila aja kali siapa yang mau masak coba?” bisik Bila.


Bila mendekat kearah Nai. “Tenang aja ada sha ini kok.” Bila menaik turunkan alisnya kepada Sha.


“Jadi untuk menunya kalian mau apa?” tanya Bila lagi.


“Gue mau makanan laut boleh.” Yusuf menawarkan menu.


“Apa? Yang lebih spesifik?” tanya Nai kemudian.


“Udang atau kerang.”


“Gue setuju udang.” Sahut Nai, dia adalah pecinta udang sejati.


“Tapi gue kan gak suka makanan laut.” Keluh Bila.


Nai tertawa dia yang menawarkan dia juga yang mengeluh. Rasain, Nai tertawa dalam hati. “Cumi juga boleh sih.” Tawar Nai yang mmebuat Yusuf berbinar, berbeda dengan Akbar dan Bila yang langsung melotot.


Bila protes, “gak ya gak ada yang namanya cumi. Kalau mau lo masak aja sendiri.” Bila paling jijik sama yang namanya cumi. Mencium baunya saja sudah enek apalagi mengolahnya.


“Jangan cumi dong gue juga alergi cumi.” Akbar ikut mengajukan ketidaksetujuan.


“Terus Sha lo mau apa?” Nai bertanya pada Sha yang diam saja dan hanya memperhatikan perdebatan mereka.


“Aku ayam aja deh.” Sha berkomentar netral, dia juga memang bukan pecinta laut tapi juga tidak alergi atau jijik sama makanan laut.


“Lah gak asik bosen tau.” Sambar Nai.


“Yaudah Sha mending ayam aja kan, gue setuju deh sama lo.” Bila akhirnya mendukung arguemen Sha.


“Lagian ya kalau kita bawa makanan laut yang ada nanti sampai sana bau busuk.” Bila menyunggingkan senyuman setelah berkomentar demikian.


“Yasudah deh ayam aja.” Nai dengan pasrah mengikuti saran terbanyak.


Yusuf juga demikian meski dia sudah membayagkan betapa menyenangkannya memakan udang bakar di malam hari dengan suasana dingin di puncak pasti sedap sekali. Sepertinya itu hanya akan menjadi khayalan Yusuf saja.


“Bagaiamana makanan disini enak?” tanya Yusuf meninggalkan jejak kecewanya pada makanan favoritnya itu.


Bila langsung heboh dan mengacungkan dua jempolnya. “Enak banget kapan-kapan kesini lagi deh.”

__ADS_1


“Apalagi nasi goreng kambingnya enak banget, ini yang terenak sepertinya.”


“Dasar norak.” Cibir Nai.


“Biarin lo gak pernah kan makan soto Bandung nih cobain. Gak kalah enak sama soto betawi kok.” Bila menyendok sotonya dan menyodorkannya pada mulut Nai. mau tak mau Nai menerima suapan Bila.


“Enak.” Komentar Nai.


“Kan gue bilang juga apa.”


“Terus nanti acaranya apakah aka nada bakar-bakar atau bagaimana?” tanya Akbar.


“Oh iya boleh juga tuh bakar, bakar. Bisa bakar sosis, sate ayam, daging sapi sama udang juga boleh tuh masukin daftar Sha.” Seketika saja Bila heboh menyuruh Sha untuk mencatat makanan dan berbagai macam bumbu yang mereka perlukan.


“Kalian yakin mau masak sendiri?” tanya nai yang memang sedari awal gak setujua untuk memasak.


“Iyalah, emang lo maunya gimana.”


“Gak pesen atau beli aja gitu. Atau juga makan di restoran kayak gini di bogor nanti.”


“Gak lah Nai sayang, selain mahal juga belum tentu cocok di lidah kita kan.”


“Emang kalau masak juga bakalan tentu cocok gitu?” Nai masih belum bisa terima jika mereka harus memasak, lebih tepatnya Nai tidak bisa memasak.


“Percayakan saja semuanya pada Chef Bila dan Sha oke.” Ucap Bila yakin.


“Lo juga udah pernah nyobain masakan Sha yang enak kan?”


Nai hanya mengangguk saja. Tentu saja dia tidak meragukan kemampuan memasak Nai. Tapi Bila, Nai belum pernah mencobanya.


“Kalau untuk desert kalian suka apa?”


“Gue sih suka apa aja.” Yusuf mencoba untuk tidak merepotkan mereka.


“Yang simple-simple aja deh gak usah yang ribet kayak di master chef.” Akbar memberi saran karena mereka kan niatnya mau liburan bukan pesta makan dan lomba masak.


“Iya deh.”


Bila dan Sha kembali fokus pada catatan mereka. Mengabaikan Nai yang asyik mengobrol satu arah dengan Akbar juga Ysuuf yang asyik dengan makanannya.


“Oh iya untuk ukurannya banyaknya bahan gak apa-apa kalau kita tentuin sendiri?”


“Iya terserah kalian saja atur bagaimana baiknya.”


“Siip.”


“Kalau tambah sayuran gak apa-apa?” tanya Sha.


“Boleh banget.” Sahut Akbar.


“Untuk tendanya temen gue udah ada nih bil, mau sama apa lagi. Matras atau sleeping bag juga gak?”


“Boleh deh untuk sleeping bag nya seadanya aja."


“Kita kan jadinya ber enam, kalau enam ada gak?” Tanya Nai.


“Dia punya hammock gak?” tanya Nai lagi.”


“Nai kayak mau kemping beneran aja.” Cibir Akbar.


“Iya kan ini mau kemping beneran gimana sih.” Gerutu Nai.


“Sudah-sudah kak Akbar tanyain dulu aja kalau gak ada yaudah kita gak bisa maksa kan Nai, kecuali kalua lo mau beli dulu.”


Mereka akhirnya terus membicarakan mengenai acara apa saja yang akan mereka lakukan nanti, juga persiapan-persiapan yang harus mereka lakukan saat ini.


“Sudah jam 5 lebih nih, gue pulang duluan gak apa-apa?” Bila bertanya pada teman-temannya.


Sha melirik kea rah Bila, Bila lupa mereka kan tadi berangkat bersama. “Kak gue minta tolong anterin Sha ya nanti.” Pinta Bila kepada Yusuf yang langsung di angguki Yusuf tapi mendapat tatapan Protes dari Sha.


“Lo juga kak, anterin Nai ya.” Pinta Bila kepada Akbar.


“Iya deh nanti gue anterin ke kuburan.” Sontak saja semuanya tertawa mendengar ucapan Akbar.


“Gue duluan ya guys.”


Bila melambaikan tangannya ke meja mereka. Nai dan Sha membalas lambaian tangan Bila.


“Bar pulang juga yuk.”


“Oke deh, gue duluan ya.” Ucap Akbar Kepada Yusuf.


“Hati-hati ya Nai.” Ucap Sha setelah melihat Nai dan Akbar berdiri.


Tinggalah kini Sha dan Yusuf berdua meja itu. Yusuf bangkit membuat Sha gugup, tidak tahu harus bersikap bagaimana.


“Gue mau ke kasir dulu, siap-siap aja dulu buat pulang. Atau mau ikut?”


Sha menggeleng. “Yaudah tunggu dulu disini ya.” Yusuf melengos ke kasir. Setelah membayar mereka memutuskan untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2