
Nai mengurung dirinya di kamar sejak pulang dari rumah Akbar. Segala pertanyaan dari satpam, tukang kebun dan pembantunya tidak dihiraukan oleh Nai. Nai membungkus dirinya dalam selimut tebal juga berusaha menahan isakan tangisnya. Nai merasa sangat bodoh karena bisa-bisa nya menyukai bahkan mencintai orang yang tidak pernah menganggap kehadirannya.
Tok tok tok
“Non makan dulu, dari tadi belum makan sekarang sudah hampir larut.”
Tidak ada jawaban dari Naila membuat pembantunya itu menghela nafas dan meninggalkan kamar nyonya mudanya itu.
“Hiks hiks hiks Akbar jahat, masa dia nolak gue dan milih sahabat gue. Pokoknya gue harus bisa buat Akbar jatuh cinta sama gue dan lupain Sha,”
“Hiks hiks.”
Nai terus saja menangis hingga tidak sadar dirinya kelelahan dan mulai terlelap.
***
Sha senyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi sore. Di lihatnya ibu yang sudah terlelap di sofa panjang ruangannya. Bapak bekerja di rumah Yusuf. Keheningan kini melanda ruangan Sha. Sha mencoba memejamkan matanya, tetapi hanya bayangan tadi sore yang ada di mata dan kepalanya.
Flashback
“Sha lo mau gak bantuin gue,” ucap Yusuf seraya menatap kearah Sha.
“Bantuin apa kak?” ucap Sha bingung.
“Bantuin gue buat ngelupain orang yang gue cintain,”ucap Yusuf serius.
“Lo mau ya” ucap Yusuf lagi.
Sha bingung harus menjawab apa, akhirnya Sha hanya menganggukkan kepalanya. Di satu sisi dia ingin melupakan kakak kelasnya itu tapi ucapan kakak kelasnya tadi membuatnya senang. Tapi dia juga gak ingin kalau hatinya terus disakiti.
“Kalau gitu lo mau ya jadi pacar gue,” ucap Yusuf, ucapannya kali ini membuat Sha melongo.
Apa tadi kata kakak kelasnya itu, dia ngajak pacaran kok kayak ngajak beli permen emang di kata gampang gitu. Walaupun dia suka tapi gimana ya dia juga bingung sendiri.
“Emm itu gimana ya kak,” Sha masih bingung belum memiliki jawaban yang pas dan tepat.
“Kalau masih bingung gue ga maksa kok, gue juga akan belajar mencintai lo dan lo juga harus bantu gue agar bisa mencintai lo,” ucap Yusuf.
“Emm gimana ya kak.”
“Gimana apanya Sha?”
“Anu boleh minta waktu gak kak.”
Mungkin memang Yusuf terlalu memaksakan. Lebih baik dia memberi Sha waktu untuk berpikir. Lagipula dia juga masih harus berpikir lagi sebanrnya.
“Baiklah Sha mungkin emang perlu waktu.”
“Iya kak.”
“Udah mau magrib, ayo masuk lagi ke ruangan.” Ucap Yusuf seraya memapah Sha masuk ke dalam rumah sakit.
Mereka berjalan beriringan karena sha belum pulih benar , senyuman tak luntur di bibir mereka. Sha merasa sangat bahagia karena tidak menyangka akan sedekat ini dengan kakak kelas yang sudah lama di sukainya itu.
“Sha gue pamit dulu ya.” Ucap Yusuf ketika mereka sudah sampai di depan ruangan Sha di rawat.
“Iya, makasih kak.” Sha menunduk.
“Kalau gitu cepat sembuh ya.” Yusuf meninggalkan Sha yang mematung karena Yusuf mengelus puncak kepala Sha.
Sha tetap bergeming di depan ruangannya sebelum ibunya memanggil untuk meminum obat.
Flashback off
Sha terus menyunggingkan senyuman hari ini. Sampai-sampai terlelap pun masih dengan senyuman yang sama. Sha jadi tidak sabar untuk bertemu dengan Yusuf esok. Sha sudah memiliki jawabannya sekarang.
***
Sha maaf ya hari ini gue gak bisa jenguk lo soalnya pulang sekolah gue mau ada kerja kelompok nih sama Nai
Pesan dari Bila membuat wajah Sha menjadi sedikit muram. Dia jadi rindu dengan sekolah, teman-temannya juga guru-gurunya. Rindu suasana kelas yang selalu ramai kayak di pasar. Rindu celotehan kedua sahabatnya.
Sha gue gak bisa jenguk lo hari ini ada kerja kelompok sama Bila nih.
Sha menyimpan kembali ponselnya di nakas rumah sakit. Kalau sahabatnya tidak menjenguk pasti dia akan kebosanan sendirian di rumah sakit. Pagi-pagi tadi ibunya pamit untuk pulang ke rumah terlebih dahulu.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Sha menjawab salam tetapi tidak melihat siapa orang yang masuk, dia pikir itu ayahnya yang mau menjenguknya.
“Pagi-pagi sudah melamun.” Sha langsung menoleh ke arah sumber suara.
“Eh kak.” Sha jadi terlihat salah tingkah.
“Kayak liat siapa saja.”
“Gimana sudah baikan.” Yusuf memegang dahi Sha yang membuat jantung Sha berdetak lebih kencang.
__ADS_1
Tok tiok
“Permisi.”
Untung saja, batin Sha. Dokter memang datang tepat waktu saat jantung Sha sebelum loncat dari tubuhnya.
“Maaf ya menganggu, tetapi saya harus periksa terlebih dahulu perkembangannya.”
“Bagaimana ada yang sakit bagian kepala kamu?” tanya dokter sambil memeriksa Sha.
Sha menggeleng.
Dokter kemudian melanjutkan pemeriksaannya yang di bantu perawat yang mengecek suhu tubuh Sha, denyut nadi dan detak jantungnya. Perawat sempat tersenyum ke arah dokter seusai memeriksa kondisi detak jantung Sha.
“Wah sepertinya saya benar-benar mengganggu kalian ya.”
Yusuf berusaha menampilkan wajah sedater mungkin mendengar godaan dokter tersebut. Sedangkan sudah ingin menutup wajahnya saja karena malu ketahuan.
“Sepertinya semuanya normal, hanya saja kamu masih lemah dan perlu banyak istirahat. Kalau sore hasil pemeriksaannya sudah baik kemungkinan besok bisa pulang.”
“Terima kasih dokter.” Ucap mereka berbarengan yang membuat dokter dan perawat menjadi tersenyum menggoda ke arah mereka.
“Sha boleh gak aku pinta jawabannya sekarang.”
Sha hanya mengangguk dan menutup wajahnya dengan tangan. Untuk memastikan sesuatu Yusuf kembali bertanya.
“Jadi?”
“Iya kak aku mau.”
Yusuf segera memegang tangan Sha dan menggenggamnya erat. Wajah Sha semakin memerah melihat perlakuan Yusuf itu, dia berusaha melepaskan genggaman Yusuf yang sayangnya tidak bisa.
“Terima kasih ya Sha.”
“Aku janji bakalan bahagiain kamu dan juga jaga kamu dengan sebaik-baiknya.”
Sha tidak sadar menitikan air matanya mendnegar ucapan Yusuf barusan. Sha hanya mengangguk dan tersenyum manis. Bukan senyuman palsu tetapi senyuman bahagia.
“Kamu juga harus janji untuk bantu aku move on.”
“Iya kak.” Akhirnya Sha mengeluarkan suaranya.
Yusuf melepaskan genggamannya yang membuat Sha merasa sedikit kehilangan. Yusuf melihat jam yang leingkar di pergelangan tangannya. Dia harus segera berangkat ke sekolah. Kalau tidak dia pasti akan terlambat.
“Sha aku pamit dulu ya.”
“Iya kak hati-hati di jalan ya.”
Cup
Yusuf mencium kening Sha dengan penuh perhatian. Sha seketika membeku dan tubuhnya seolah seperti patung yang susah di gerakan.
“Semoga cepat sembuh ya.”
Yusuf keluar ruangan Sha dengan perasaan yang dia juga tidak mengerti. Sebenarnya Yusuf agak khawatir juga karena Sha sendiri di ruangan, tetapi dia juga harus berangkat ke sekolah. Sha bilang tidak apa-apa toh nanti pasti ada ibunya.
Walau sebenarnya belum mencintai Sha tapi rasa khawatir selalu hadir saat melihat Sha sakit, seolah dia juga merasakannya. Tapi dia nyaman dekat dengan Sha, merasa terhibur dekat dengannya. Sha mirip sekali dengan adiknya bintang, itu yang membuatnya selalu nyaman jika di dekat Sha. Meski perasaan nya kepada Nai belum sepenuhnya hilang, tapi dia berharap bisa hilang karena Sha.
Sha masih membeku ketika Yusuf meninggalkan ruangannya. Kejadian hari ini seperti mimpi yang selalu hadir di mimpinya. Sha merasa sangat bahagia dan menjadi seperti seorang puteri yang begitu di cintai pangerannya.
Mengingat perihal cinta, sebenarnya dia agak khawatir jika Yusuf tidak bisa melupakan cinta sebelah tangannya itu. Semoga Sha bisa membuat Yusuf jatuh cinta kepadanya.
***
Sorenya Yusuf sudah nangkring di rumah sakit untuk menjenguk pacarnya yaitu Sha. Sebelum Sha bangun dia sudah duduk di kursi samping brangkas rumah sakit. Keisengan Yusuf muncul ketika melihat tidur pulas Sha, dia mencoba mengerjai Sha dengan meniup-niup tangan Sha atau dahi Sha.
Entah karena Sha yang memang tidurnya nyenyak atau Yusuf kurang keras meniupinya, Sha terlihat masih anteng dalam tidurnya. Jika dilihat-lihat Sha cantik bahkan sangat cantik ketika tidur seperti ini, dia terlihat lucu seperti bayi.
Yusuf akhirnya memeperhatikan Sha yang tidur polos seperti bayi, hal itu lantas membuatnya menyunggingkan senyuman. Melihat Sha yang menggeliat kecil membuat Yusuf pura-pura mengalihkan pandangan dan tidak mengganggu Sha lagi.
Memang diruangan ini hanya ada Yusuf dan Sha yang sedang tidur, ibunya pamit sebentar untuk membeli resep obat Sha yang sudah habis. Jadi hanya Yusuf yang menjaga sha.
Sha yang masih belum sadar sepenuhnya, tidak menyadari kehadiran Yusuf.
Ketika sudah membuka matanya dia menggeliat kecil dan mengucek-ngucek matanya. Sha mengerjapkan matanya kaget, karena tidak biasanya kakak kelasnya itu sudah nangkring di ruangannya.
“Sore pacar,” Yusuf tersenyum lebar dan mengusap kepala Sha pelan.
“So re kak,” Sha sedikit terbata karena shock akan kehadiran kakak kelasnya itu, Sha segera bangun untuk duduk menyender ke ranjang.
“Kok kakak bisa disini?” tanyanya heran.
“Loh masa mau jenguk pacar gak boleh sih, itu ada-ada aja." karena gemas Yusuf menjawil hidung Sha, Sha pun langsung meringis dan menepis tangan Yusuf yang ingin menjawil hidungnya kembali.
“Ini makan.” Yusuf memberikan semangkuk bubur kepada Sha.
“Ayo makan.” Ucap Yusuf gemas melihat Sha yang hanya diam saja.
__ADS_1
“Mau di suapin?” tanya Yusuf mencoba menggoda Sha.
“Eh gak usah kak, aku mau ke kamar mandi dulu.” Sha berusaha menyimpan buburnya di nakas dan turun dari ranjang.
Yusuf membantu Sha turun dan mengantarnya ke kamar mandi. Sha sedikit kikuk dnegan perlakuan manis Yusuf kali ini.
Sehabis dari kamar mandi, Sha tidak menyangka jika Yusuf akan menunggunya di depan kamar mandi.
“Sudah?” tanya Yusuf yang hanya di angguki Sha. Yusuf kembali memapah Sha untuk naik ke ranjang.
Yusuf memberikan segelas air putih kepada Sha, kemudian memberikan mangkuk berisi bubur kepada Sha untuk dimakannya.
“Kenapa belum di makan beneran mau di suapin?” Sha hanya menggeleng pelan lalu mulai memakan buburnya.
“Kakak kok bisa ada disini sih?” Sha masih penasaran dengan keberadaan kakak kelas nya itu.
Tuk
Yusuf menyentil pelan kening Sha.
“Lah kok bisa lupa sih kan gue pacar lo sekarang?”
Pacar
Seketika ingatan Sha kembali kepada kejadian tadi pagi. Pipinya kembali mengeluarkan rona merah alami yang membuat Sha mencoba untuk menutup wajahnya. Untung saja Yusuf tidak sadar akan hal itu dan malah mengambil mangkuk bubur Sha.
“Kalau makan itu yang bener jangan sambil melamun, nih.” Yusuf menyodorkan satu sendok bubur kepada Sha.
Sha menatap Yusuf dengan bingung. Melihat itu Yusuf segera menyodorkan kembali sendok buburnya. Walau masih belum mengerti Sha membuka mulutnya perlahan. Hingga akhirnya Sha makan deng di suapi oleh Yusuf.
Yusuf senang melihat Sha kembali ceria. Kesedihan yang beberapa hari lalu di lihatnya seolah sudah hilang di ganti rona bahagia. Walaupun sebenarnya Yusuf belum sepenuhnya yakin dengan keputusannya memacari Sha. Tetapi Yusuf akan mencoba menerima Sha, karena saat ini Sha adalah pacarnya.
“Wah pinter sekali pacar.” Sha hanya menunduk, masih belum terbiasa dengan lontaran kata pacar dari mulut Yusuf.
“Sha kamu bosan gak disini terus?”
“Kenapa kak?”
“Kita ketaman yuk cari udara segar.”
Sha hanya mengangguk. Yusuf segera membereskan bekas makan Sha. Yusuf membantu Sha memegangi selang infusnya ketika menuju ke taman. Mereka duduk di bangku taman yang sedang ramai pengunjung.
Sore-sore begini taman rumah sakit pasti ramai pengunjung. Baik pasien maupun penjenguk.
Sha tersenyum melihat banyak anak-anak yang sedang berlarian kesana-kemari. Dia jadi teringat masa kecilnya yang hanya bermain sendirian saja.
“Aww.” Sha memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
“Sha baik-baik saja.”
“I ya kak.”
“Apa mau ke kamar lagi?” Sha buru-buru menggeleng.
“Tidak apa-apa kok kak.”
“Lagian masih ingin cari udara segar disini.”
“Baiklah.” Yusuf hanya pasrah mengikuti keinginan pacar barunya itu, walau sebenarnya khawatir melihat Sha seperti kesakitan.
“Sha boleh tanya sesuatu?”
“Apa kak?”
“Emm gak jadi deh takut bikin kamu sakit kepala lagi.”
Yusuf sebenarnya bukan orang yang suka mencairkan suasana, tetapi melihat keheningan juga bukan opsi terbaik.
“Em Sha nanti kalau sudah sembuh main kerumah ya,”
Sha segera menoleh kea rah Yusuf. “Ngapain kak?” tanya Sha.
“Ngenalin pacar baru sama Mama lah.”
Spontan Yusuf berkata demikian. Yusuf tertawa karena lucu melihat ekspresi Sha yang kaget seperti itu. Sha pun mencubit perut Yusuf dan berjalan tertatih-tatih meninggalkan Yusuf di taman rumah sakit.
“Aduh Sha ini sakit loh. ” Yusuf pura-pura mengaduh.
“Jangan tinggalin pacar dong.” Ucap Yusuf lagi sambil menyusul Sha yang sudah meninggalkan taman.
Sesampainya di ruangan Sha, Yusuf melihat Sha yang sudah tidur di ranjang rumah sakit. Yusuf yakin Sha tidak benar-benar tidur. Maka dia terus mencolek-colek dagu Sha agar Sha bangun dan tidak marah lagi padanya.
“Sha bangun dong, lo pasti belum tidur kan. Maaf deh soal tadi, tapi beneran deh Mama pasti senang kalau lo main ke rumah.” Yusuf berusaha membujuk Sha sambil terus mencolek dagu sha, Yusuf belum menyerah sampai Sha mau memaafkannya.
“Sha ayo dong bangun kalau gak gue pulang nih,” ucap Yusuf pura-pura sedih.
“Udah sana kak pulang saja, udah mau malem juga,” usir Sha yang masih memejamkan matanya.
__ADS_1
“Bener nih yaudah gue pulang deh,” ucap Yusuf seraya pergi meninggalkan ruangan Sha.
Sha pun mengintip apakah Yusuf benar-benar pulang atau tidak. Ah rupanya memang dia pulang beneran. Setelah itu dia memegangi pipinya yang sudah semerah tomat. Hari-hari Sha jadi lebih berwarna semenjak dekat dengan Yusuf. Sha rasnaya sudah tidak sabar untuk ke sekolah lagi.