
Assalamualaikum apa kabar semuanya, semoga baik-baik saja di tengah pandemi ini. Untuk menemani di rumah aja kalian saya kembali lagi untuk melanjutkan novel ini. Selamat membaca, jangan lupa tinggalkan jejak like, komen dan rate ya. Have a nice day!
.....
Beberapa jam sebelumnya.
“Bil, aku mau ke toilet dulu. Kamu mau ke depan duluan?” ucap Sha yang kini merapatkan kakinya menahan sesuatu yang sejak tadi di tahannya.
Bila melirik jam di tangannya, “gue ikut aja deh. Supir gue juga belum jemput kayaknya. Mau touch up dulu biar keliatan seger.”
Setelah mendapat jawaban dari Bila, Sha tergesa masuk ke dalam bilik toilet meninggalkan Bila yang mematung di depan pintu.
“Sha, Sha, ada-ada aja kamu ini.” ucap Bila seraya masuk ke toilet.
Disisi lain Nai menggerutu karena mendapatkan kabar dari orang tuanya bahwa supirnya itu tidak bisa menjemput Nai.
“Nai kenapa sendirian di halte?” tanya Yusuf yang memang janjian dengan Sha untuk pulang bareng.
Nai meremas pelan ponselnya, “anu..kak aku lagi nunggu taksi.”
“Taksi?” tanya Yusuf heran, setaunya Nai itu selalu di jemput oleh supirnya atau barengan dengan Bila. Yusuf celangak-celinguk mencari keberadaan Shad an Bila yang biasanya bersama Nai.
“Supirku gak bisa jemput karena ternyata Mama ke Bandaranya yang di Jakarta kak.” Jelas Nai.
Yusuf membuka ponselnya dan menanyakan keberadaan Sha. Sha tidak kunjung membalasnya. “Owh begitu.” Nai hanya mengangguk sendari berdiri dengan resah.
‘Kok gak ada supir taksi yang lewat sih?’ batin Nai.
“Nai?”
“Iya kak?”
“Kamu mau pulang?”
Nai menatap Yusuf dengan pandangan tidak mengerti. “Ayo naik.” Ucap Yusuf. Nai masih bergeming di tempatnya.
“Ayo naik keburu hujan nih.” Ajak Yusuf. Nai menurut karena awan sudah menunjukkan tanda-tanda akan turun hujan.
Yusuf sudah sms Sha jika dia berangkat terlebih dahulu ke rumahnya, Yusuf juga mengirim sms jika Sha mau pulang saja tidak apa-apa, tidak usah menunggunya. Lagipula sepertinya akan hujan.
Mereka tidak sadar jika sejak tadi ada yang memperhatikan mereka, bahkan memotret mereka. Dua orang perempuan yang sibuk memotret itu langsung pergi begitu Yusuf dan Nai melewati dua perempuan itu.
“Kita ikutin.” Bisik perempuan berambut sebahu yang sedari tadi memegang ponselnya.
“Ayo deh.” Mereka berdua menuju parkiran untuk mengambil motor dan mengikuti motor Yusuf dari belakang.
Baru beberapa menit berjalan, hujan turun. “Ah sial kenapa hujan sih?” gerutu perempuan berambut pendek.
“Kita neduh dulu aja ya di depan ada café.” Ucap perempuan yang berambut panjang.
Mereka berdua pun memutuskan untuk masuk ke dalam kafe yang hari ini ramai. Perempuan berambut pendek yang berjalan terlebih dahulu itu menghentikkan langkahnya. “Kenapa berhenti sih?” protes perempuan berambut panjang.
Bukannya menjawab perempuan berambut pendek itu justru mendekatkan telunjuknya kepada mulut perempuan berambut panjang, lalu menunjuk satu pasangan yang duduknya tidak jauh dari mereka. Mata perempuan berambut panjang itu terbelalak, “itu kak Yusuf dan Nai?” tanya perempuan berambut panjang tidak percaya.
“Udah ayo kita cari tempat duduk, tapi jangan sampai ketahuan.” Perempuan berambut pendek mengajak perempuan berambut panjang itu untuk duduk beberapa meter dari meja Yusuf dan Nai.
“Ngapain mereka kesini ya?” bisik perempuan berambut panjang.
“Stt udah diem mending kita foto mereka aja, pasti satu sekolah bakalan heboh kalau tahu mereka pacaran diem-diem.”
“Memang mereka pacaran?”
“Aww.” Perempuan berambut panjang mengaduh kesakitan karena kakinya di injak oleh sahabatnya itu.
“Sudah kita lihat saja deh.”
“Dan jangan lupa memotretnya untuk di sebar ke grup sekolah biar menjadi gossip paling hot.”
“Okeyy.”
***
“Kak maaf ya kita jadi terjebak disini.” Sesal Nai.
“Bisa tidak daritadi itu jangan minta maaf terus.” Ucap Yusuf terdengar ketus.
“Ma-“
“Sekali lagi bilang gitu gue tinggaling lo disini.” Ucap Yusuf tegas.
Nai mengangguk mengerti dan kembali makan, dia melihat ke luar jendela yang masi menampakkan hujan yang belum reda. Nai menghela napasnya kasar. Kalau saja dia tidak ikut dengan Yusuf mungkin sekarang sudah kehujanan di sekolah.
Tangan Yusuf melambai di depan wajah Nai. “Nai.”
“Eh iya kenapa kak?”
“Kenapa melamun?”
__ADS_1
“Gak apa-apa, hujannya belum reda. Bagaimana kita bisa pulang kak?”
“Mau bagaimana lagi, terpaksa kita harus menunggu disini sampai hujan reda.”
Mereka kembali dalam mode hening. Nai memilih memainkan ponselnya karena sudah tidak berminat untuk makan. Semua ini gara-gara orangtua Nai yang tidak pernah memperhatikan Nai dengan baik. Pembantunya juga tadi pagi tidak membangunkannya.
Dua jam kemudian mereka memutuskan pulang karena hujan sudah reda. Saat hendak bangkit ponsel Yusuf bergetar. “Sebentar Nai, ada telepon masuk.” Yusuf sedikit menjauh dari Nai.
“Hallo ma?”
“Kamu kemana saja sih, di hubungi dari tadi susahnya minta ampun.” Suara di sebrang sana mengomeli anaknya tanpa henti.
“Iya, ma Yusuf segera kesana sekarang.” Yusuf menutup teleponnya dan kembali menghampiri Nai.
“Nai gak apa-apa kalau kita ke rumah gue dulu, Mama bilang ada sesuatu mendesak yang harus dibicarakan sekarang.” Nai hanya mengangguk menurut.
“Mereka mau pergi kemana?” ucap gadis berambut pendek.
Gadis berambut panjang mengangka bahunya, “mana gu tahu.”
“Kita ikutin mereka lagi?” lanjutnya.
Gadis berambut pendek menggeleng, “kita pulang aja, gue mau nginap di rumah lo. Gue males sendirian di rumah, nyokap bokap gue sedang ke amerika.”
“Gak nanya.” Sahut gadis berambut panjang dan melengos pergi meninggalkan sahabatnya bengong sendiri.
“Woyy tungguin.”
“Mbak, mbak mau kemana bayar dulu.” Sahut pelayan yang mencoba mencegahnya pergi.
‘Ah sial, ini kan uang bekel buat besok’ gerutunya dan akhirnya mengkuti pelayan itu.
***
Kembali lagi di rumah Yusuf. Mereka makan dalam diam. Mama Yusuf melihat ke arah Sha yang terlihat murung. Begitu juga dengan Nai yang tampak canggung. Akbar yang tampak emosi dan anaknya sendiri yang duduk dengan gelisah. Hanya Rio yang tampak normal di ruang makan ini.
“Kalian kenapa?” tanya Mama Yusuf menatap anaknya, Sha, Nai dan Akbar bergantian.
“Gak apa-apa.” Jawab mereka serempak sambil menggelengkan kepalanya.
Mama Yusuf melirik Rio yang mengangkat bahunya. Rio cukup capek setelah membersihkan kamar Bintang tadi, jadi dia tidak ingin acara makannya di ganggu. Mereka kembali terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Ma katanya tadi ada yang mau di bicarakan?” tanya Yusuf.
Mama Yusuf melirik ke arah Sha yang masih menunduk dan makan dalam diam. Mama Yusuf mengkode Rio untuk berbicara, tapi Rio menggelengkan kepalanya, dia merasa ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan hal itu. “Tadinya sih iya..”
Yusuf menunggu Mamanya melanjutkan perkataannya, “tapi Mama pikir akan lebih baik jika nanti kita bicarakan saat ada Papa ya?” Mama Yusuf meminta persetujuannya.
Semuanya kini melirik ke arah Sha yang semakin menundukkan kepalanya. “Aku…aku.”
“Sha, sengaja Mama suruh main ke rumah.” Ucap Mama Yusuf yang membuat Yusuf dan Nai menjadi keki.
Rupanya Yusuf masih penasaran akan hal itu, berbeda dengan Rio yang sudah geram untuk tidak bertanya lagi, melihat wajah Sha yang terlihat murung sejak kedatangan Nai dan Yusuf. “Sengaja? Maksud mama?” tanya Yusuf penasaran.
“Ah udahlah nanti nyokap lo pasti bakal jelasin kok.” Jawab Rio yang kini beranjak pergi karena sudah selesai makan.
“Sudah, sudah habiskan dulu makan kalian. Nai juga makan, kamu pasti belum makan ya, masih pakai seragam gitu.” Ucap Mama Yusuf yang juga beranjak untuk menyiapkan buah sebagai camilan.
“Iya tante.” Jawab Nai canggung sembari berusaha makan, walau tidak berselera sebenarnya.
Kini di ruang makan hanya ada mereka berempat. Makan dalam keadaan hening, lebih horror ketika melewati pemakaman. Akbar yang memang tidak suka situasi seperti ini segera beranjak dan menyusul Rio ke ruang tengah. Tinggallah kini mereka bertiga dalam kebisuan.
“Sha?” panggil Yusuf. Sha bergeming dan masih berusaha menghabiskan makanannya.
“Sha?” panggil Yusuf lagi.
Sha berusaha sekuat tenaga menahan air matanya, perlahan dia mulai menoleh ke arah Yusuf, “i..ya kak.” Jawab Sha pelan, sangat pelan.
“Bener apa yang di bilang mama itu?”
Dahi Sha mengernyit, tidak mengerti mengenai pertanyaan Yusuf itu. “Maksud kakak?”
Yusuf gelisah di kursinya, dalam hati dia menggerutu karena kesal masa sih Sha tidak mengerti maksudnya. “Kamu..kesini gara-gara mama?”
“Iya kak.” Jawab Sha dengan perasaan aneh kenapa Yusuf berkata demikian.
“Bukan karena mencariku kan?”
Ting
Tidak pernah Sha berbuat kasar kepada orang lain, dirinya segera bangkit dan tidak menjawab pertanyaan Yusuf.
Yusuf sendiri merasa **** karena telah bertanya demikian, padahal tadi Mamanya sudah bilang bahwa Sha ada di rumah ini karena Mamanya. Yusuf mengacak rambutnya frustasi.
“Kak bisa bicara sebentar?” pinta Nai melihat Yusuf yang gelisah dia merasa bersalah.
Tanpa banyak kata Yusuf berdiri dan menuju ke taman belakang yang langsung di ikuti Nai.
__ADS_1
***
“Mau ngomong apa?” tanya Yusuf ketika mereka sudah sampai di taman belakang.
Bukannya menjawab Nai malah memilin kemeja seragamnya. “Maaf ya kak, gara-gara aku kakak telat pulang ke rumah.” Nai sungguh merasa bersalah kalau bukan karena takut pulang sendiri ke rumahnya dia tidak akan mengikuti keinginan Yusuf untuk pulang bareng tadi.
“Gak apa-apa kok Nai. Lagipula Sha sudah disini kok.” Ucap Yusuf santai.
“Maksud kakak?” tanya Nai tidak mengerti.
“Hmm, tadinya gue sengaja nunggu Sha untuk janjian dan akan bawa Sha ke rumah serta memperkenalkan Sha ke orangtua gue, sebagai pacar gue.”
Nai terperangah, “jadi…” Nai gelisah dan menatap Yusuf yang masih terlihat santai.
“Aduh maaf ya kak aku gak tahu kalau kakak sudah ada janji dengan Sha.”
“Terus Sha gimana bisa sampai ada disini?” tanpa sadar Nai menggigiti kukunya sendiri karena gelisah.
Yusuf mengangkat bahunya tanda tidak tahu, “mungkin Sha di jemput Rio atau Akbar.”
“Tapi kak..” Nai masih merasa tidak enak karenanya janji Shad an Yusuf batal.
“Udahlah Nai toh Sha sudah ada disini dan gue juga mau jelasin ke Mama sekarang.”
Deg… perasaan Nai menjadi tidak enak. Entah kenapa Nai menjadi cemburu akan hal ini. Ada perasaan tidak rela saat Yusuf bicara begitu, apalagi Nai lihat sendiri betapa istimewanya Sha dimata Mama Yusuf. Nai sangat iri pada Sha sekarang, Sha di kelilingi banyak orang yang menyanyanginya.
“Kak.” Panggil Nai.
“Iya Nai.”
Nai yang langsung menghambur ke pelukan Yusuf dan memeluknya erat. Yusuf hanya mematung, tidak menyangka, jika Nai akan memeluknya dengan erat begini. “Kak, bisa janji sama gue.”
“Janji apa Nai?” ucap Yusuf sedikit ragu.
“Meskipun Sha pacar lo, lo bisa ada kan kalau gue butuh, plis. Gue gak punya siapa-siapa lagi, hanya lo yang terlihat tulus sayang sama gue. Lo tau sendiri kan sekarang Akbar sudah seperti benci banget sama gue dan sahabat gue, gue gak tahu apakah akan bisa bersahabat lagi dengan mereka, hiks hiks hiks.” Nai mengeratkan pelukannya.
Yusuf yang merasa iba pun membalas pelukan Nai, dia menepuk punggung Nai yang kini mulai menangis, “iya Nai gue janji kapanpun lo butuh, gue akan selalu ada buat lo, tenang ya.” Ucap Yusuf mencoba menenangkan Nai.
“Hiks hiks iya kak, aku gak punya siapa-siapa lagi, orangtuaku gak peduli dengan ku, mereka hanya memfasilitasi saja.”
“Iya Nai, iya, sudah ya kita masuk, gue mau memperkenalkan Sha sebagai pacar kepada Mama.”
Nai melepaskan pelukannya dan mulai mengusap wajahnya. Yusuf dengan penuh perhatian menggusap air mata Nai dengan tangannya. “Sudah, lo jadi jelek kalau nangis begini.”
“Iyakah kak?” ucap Nai sambil sedikit tertawa di sela-sela tangisnya.
“Iya. Ayo masuk lagi.” Ajak Yusuf yang masih menggoda Nai karena terlihat jelek saat menangis.
Sha yang sejak tadi mendengar pembicaraan mereka menutup mulutnya agar tidak berteriak. Dia juga berusaha menahan tangis sekuat mungkin sebelum menghampiri mereka yang terlihat sangat menikmati momen itu.
“Gak usah bicara sama Mama kakak.” Ucap Sha tiba-tiba membuat mereka kaget dan Yusuf langsung melepaskan tangannya dari pipi Nai
.
“Maksud lo apa?”
“Aku mau kita udahin sandiwara ini kak?” ucap Sha yang berusaha menahan tangis.
Yusuf mendekat ke arah Sha, “maksudnya apa sih?”
Sha menarik napas dalam-dalam, “dari awal kakak tidak mencintaiku dan sekarang mungkin sudah waktunya aku melepas kakak. Aku….”
Bagaimana pun Sha mengelak air mata itu tetap turun, “aku memilih mundur kak.” Setelah berucap demikian Sha segera berlari menuju rumah dan mengambil barang-barangnya.
Yusuf lantas segera mengejar Sha, “Sha tunggu.” Yusuf berusaha mencari Sha di segala penjuru rumah.
“Yusuf kamu sedang apa?” tanya Mamanya yang sedang turun menuju ruang tamu.
“Mama lihat Sha?”
“Sha?”
“Tadi di kamar mandi.” Mama Yusuf menunjuk kamar mandi di lantai atas, kamar Yusuf dan adiknya berada. Segera saja Yusuf bergegas untuk ke kamar mandi yang di maksud oleh Mamanya.
Dor dor dor
“Sha, gue tahu lo di dalam sana.” Teriak Yusuf kencang membuat Mamanya kembali menghampiri Yusuf, khawatir terjadi sesuatu kepada Sha.
Dor dor dor
“Sha buka pintunya.”
Sha semakin mengeratkan pegangan tangannya pada seragam yang di pegangnya. ‘Ya tuhan apa yang harus aku lakukan sekarang’ batin Sha. Sha tidak mau membuat Mama Yusuf khawatir, tapi dia juga tidak siap bertemu dengan Yusuf sekarang. Bodohnya dia, malah memikirkan seragamnya tadi. Sudah terlanjur, Sha berusaha memakai seragamnya dengan tangan dan kaki yang bergetar.
“Sha kalau lo gak mau buka pintunya gue dobrak.”
“Yusuf apa yang terjadi nak?” tanya Mama Yusuf yang tidak di hiraukannya.
__ADS_1
“Satu….dua….ti…”
Ceklek