Bintang Senja

Bintang Senja
Bab 43 Curhat Kepada


__ADS_3

Bila mendekati Sha yang masih menangis sesegukan di bawah bantal. “Sha udah dong nangisnya, nanti bogor banjir gara-gara lo nangis terus.”


Bukannya berehnti tangis Sha malah menjadi yang membuat Bila menjadi panik. “Aduh Sha kok makin deres sih hujannya, beneran loh ini bisa banjir bogor kalau begini.” Bila mondar mandir melihat Sha yang tidak menggerakan tubuhnya.


“Sha, berhenti dong. Gue bingung nih mau nenanginnya gimana?” Bila mengetuk-ngetuk keningnya berharap ada pencerahan gitu. Otak Bila seakan buntu tidak bisa diajak berpikir saat genting seperti ini.


“Sha kalau lo gak berhenti juga gue marah sama loh nih.” Ancam Bila yang ternyata berhasil.


Kini Sha menegakkan tubuhnya, wajahnya masih menunduk sesekali tangannya menyeka air mata yang yang masih keluar. Melihat Sha yang akan kembali menangis, Bila melepas paksa bantal yang di gunakan Sha untuk menutup wajahnya.


“Balikin bil, aku jelek nih.” Bila sedikit tertawa melihat penampilan Sha yang memang acak-acakan. Rambut panjangnya berantakan, hidungnya sedikit meler dan matanya sudah bengkak. Bila menghampiri Sha dan memeluknya erat.


Bila mendekatkan mulut ke telinga Sha. “Sha kita udah berapa lama sih temenan? Masa lo bisa-bisanya nyakitin diri lo sendiri?” Bila menghapus air mata yang mengenang di pipi Sha, “jujur ya sama gue.” Pinta Bila lembut.


Sha hanya terdiam. Bila mulai merapikan rambut yang bertebaran di wajah Sha. Dengan lembut Bila menggenggam tangan Sha. “Sha lo harus jujur sama gue tentang semuanya.”


Sha menyeka ingus dengan tisu yang di berikan oleh Bila. “Kamu mau aku jujur soal apa bil?”


Bila berpikir sejenak. “Semuanya Sha, se mu a nya.” Ucap Bila sambil merentangkan tangannya.


Sha mengangguk, tapi tak lama menggaruk kepalanya bingung.“Aku gak tahu harus mulai darimana bil?” ucap Sha polos. Disaat seperti ini Sha masih bisa bersikap polos yang membuat Bila gemas dan ingin tertawa.


Bila mendekat ke arah Sha, karena tidak memakai kacamatanya dia memperhatikan dengan seksama wajah habis nangis Sha. “Gue mau tahu kapan lo suka sama Kak Yusuf?” ucap Bila serius.


Sha tampak seperti berpikir, dia juga tidak tau kapan tepatnya mulai suka sama Yusuf, “mungkin, waktu dia nolongin kita bil.”


“Pas SMP?” Sha mengangguk. Sudah lama juga Sha diam-diam menyukai kakak kelasnya itu. “Kenapa gak bilang kalau lo suka sama dia waktu itu?”


Wajah Sha memerah, dia bukan tipe orang yang suka mengumbar-ngumbar rasa sukanya kepada orang lain seperti Nai mislanya. Bagi Sha melihat Yusuf dari kejauhan saja sudah membuat dirinya bahagia, apalagi bisa dekat dengannya.


Bila mencolek dagu Sha, “Kenapa mukanya merah, hayoo?” rupanya Bila sengaja ingin menggoda Sha. Sha menyembunyikan wajahnya di bantal yang di pelukanya.


Melihat hal itu Bila kembali mengubah mimik mukanya menjadi serius, “Yang di bilang Nai itu benar?” melihat dari ekpresi yang di tampilkan oleh Sha, Bila berkesimpulan bahwa ucapan Nai itu benar.


“Lalu, kenapa lo mau nerima Kak Yusuf padahal lo tau dia suka bahkan mungkin cinta sama orang lain?”


Mendengar pertanyaan itu Sha jadi mengingat dimana Yusuf mengutarakan hal gila itu pada Sha. Dia juga bingung bagaimana bisa begitu mudahnya menerima ajakan Yusuf. “Aku gak tau bil nerima gitu aja, aku gak tega lihat tatapan memohon kak Yusuf yang kayak kesiksa gitu gara-gara mau move on.”


“Selain itu..”Bila menunggu Sha melanjutkan kalimatnya dengan penasaran.


“Aku selalu bermimpi tentang seorang anak kecil yang bernama Yusuf. Saat bertemu kak Yusuf aku pikir itu hanya kebetulan, tetapi aku jadi sering mimpi cowok itu lagi. Aku juga tidak tahu siapa Yusuf itu dan apakah benar kak Yusuf orang yang sama dengan di mimpiku.”


Bila terkejut karena baru mnegetahui hal ini sekarang. “Aku pikir dengan menerima kak Yusuf bisa merubah dia cepat move on, nyatanya tidak juga.”Bahu Sha merosot setelah mengatakan hal itu.


“Selanjutnya lo mau bagaimana Sha?”


“Aku juga bingung Bil.”


“Lo gak mau putus aja gitu?”


“Itu sedang aku pikirkan sekarang.”


Mereka sama-sama terdiam. Pertanyaan yang mengganggu pikiran Bila kali ini mmebuatnya ragu-ragu melirik Sha. “Sha.” Panggil Bila.


“Ya.”


“Gue boleh tanya sesuatu hal lagi?” melihat Sha yang mengangguk, giliran Bila yang bingung takut pertanyaannya ini menyinggung sahabatnya.


“Lo tau siapa orang yang Yusuf cintai itu?”


Sha tersedak ludahnya sendiri ketika mendengar hal itu, dengan segera menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Bila. Melihat Sha yang kembali menggeleng membuat Bila berdecak malas.


“Masa sih lo gak tau, lo gak nanya gitu?”


Sha mengehela napas, dia tidak ingin membahas hal ini sebenanrya. Membuat dia ingat kejadian saat di rumah sakit dan itu membuat hati Sha berdenyut nyeri. “Aku pernah nanya waktu itu, tapi dia kayak marah saat aku tanya tentang itu.”


“Masa sih gak ngasih tahu?” tanya Bila yang masih tidak percaya jika hubungan sahabat dan pacarnya itu serumit ini.


“Makanya aku gak pernha tanya lagi.” Bila melihat kekecawaan di wajah Sha, mereka bisa apa tidak mungkin juga memaksa.


Tangan Bila terkepal kuat. “Ada ya orang kayak Yusuf, gue pikir dia itu good boy yang bener-bener tampang good boy, eh ternyata palsu.”


Sha mengelus pelan tangan Bila, berharap Bila dapat meredakan emosinya. “Udah bil, udah lalu juga.” Bila mengangguk memahami Sha yang selalu memaafkan orang lain sekejap mata, seberapa pun kesalahannya.


Mereka berdia terdiam sebentar. “Gue masih marah sama lo Sha!” Sha sempat terjengit kaget.


“Ma rah?”

__ADS_1


Bila menatap Sha galak, “iya marah kenapa lo rahasiain hal ini sama gue dan Nai.”


“Bukan gitu bil-“


“Terus bagaimana?” Bila menyilangkan tangannya di dada.


“Gue Cuma takut lo gak bisa nerima-“


“Ya jelaslah gue gak bakalan terima sahabat gue di gituin, seberapa besar pun cinta lo sama dia gua gak akan pernah setuju.”


Ucapan Bila memang tepat seperti dugaan Sha, makanya dia lebih memilih diam.


“Tapi Sha kok Nai bisa tau semuanya sih?” Bila heran kok bisa tau hal itu.


Sha mengangkat bahunya dan menggelengkan kepalanya, “aku gak tau bil.”


“Apa jangan-jangan..”


Sha menatapa Bila penasaran, “Dia di kasih tahu lo ya.” Kesimpulan darimana itu batin Sha, Sha tidka pernah memberitahu Nai akan masalah pribadinya. Dengan Bila saja kadang tertutup apalagi Nai.


“Gak bil, aku gak cerita ke siapa-siapa. Mungkin Nai tau dari Yusuf.” Asumsi Sha membuat Bila jadi curiga.


“Sha kok kayaknya Nai sama Yusuf dekat ya.” Bila jadi ingat saat pesta ulang tahun Mamanya Yusuf, Yusuf rela menjemput dan mengatankan Nai pulang.


Berbeda dari Bila, Sha berusaha untuk tetap positif, “kan kita semua teman bil, masa harus jauh-jauhan sih.”


“Bukan gitu-“


“Kamu gak marah lagi sama aku kan bil?” Sha mencoba mengalihkan pembicaraan.


Bila kembali menampilkan tatapan galaknya, “marah kalau lo berani rahasiain sesuatu lagi dari gue, janji.” Bila menyodorkan jari kelingkingnya kepada Sha.


Sha menautkan jari kelingnya dengan Bila, “janji.” Mereka berdua akhirnya tertawa bersama.


“Sha gue kayaknya tidur disini deh.” Ucap Bila yang kini merebahkan dirinya di kasur Sha.


“Iya bil, aku juga kangen kita ngobrol bareng.”


***


Sementara itu Yusuf masih duduk di taman belakang. Dia memandang langit yang kini menampilkan warna jingganya, matahari juga sudah mulai surut ke barat. Yusuf sangat menyesali perlakuannya pada Sha tadi, dia juga tidak mengira jika tidak bisa mengontrol emosinya.


“Kak?” Nai menepuk bahu Yusuf pelan.


Yusuf tidak menjawabnya. Nai tahu Ysuuf butuh waktu sendiri, tapi Nai juga merasa bersalah karena tadi sudah berbicara lancing di hadapan semua orang. Nai memutuskan untuk duduk di sebelah Yusuf.


“Kak maafin aku ya.” Mendengar ucapan Nai Yusuf menolehkan kepalanya kepada Nai.


“Ini bukan salah lo kok.” Yusuf kembali berbalik dan menatap lurus sebuah ayunan di sebrangnya.


“Tapi gara-gara aku ungkapin itu Sha jadi marah sama lo.” Yusuf menatap Nai.


Nai yang di tatap seperti itu menjadi kaku, jantungnya jadi berdegub kencang. Ada apa dengan dirinya kali ini ya Tuhan, ucap Nai dalam hati.


“Ini bukan salah lo, Sha marah wajar salah gue gak bilang dari awal kalau gue suka sama lo.”


Deg deg


Jantung Nai berpacu semakin cepat saat Yusuf berkata demikian, kaki Nai terasa lemas. Yusuf berbicara demikian seolah dia seperti sedang mengungkapkan perasaannya pada Nai.


Yusuf mengalihkan pandangannya dari Nai, “maaf.” Ucap Yusuf yang terlihat salah tingkah.


Entah kenapa Nai seolah merasa kehilangan. Saat Akbar berucap menyukai sahabatnya Nai tau itu sakit, tapi tidak di pedulikan oleh Yusuf rasanya tambah sakit. Ada apa dengan hati Nai?


“Tapi-“


“Sttt.” Yusuf membunkam mulut Nai dengan menempelkan telunjuknya di bibir Nai.


Nai seolah tersengat dan Yusuf tersentak oleh kelakuannya sendiri. Dia buru-buru melepaskan jarinya dari bibir Nai. “Maaf Nai.”


Yusuf sempat melihat rona merah di wajah Nai, apa Nai tersipu oleh kelakukan Yusuf itu. Ah mana mungkin, pikir Yusuf.


Nai menunduk malu, pipinya pasti sudah seperti kepiting rebus. Kenapa Nai tidak sadar selama ini jika di dekat Yusuf, Nai selalu nyaman. Nyatanya dunia Nai selama ini selalu dipenuhi oleh Akbar, Akbar dan Akbar hingga lupa yang lain.


Sekarang Nai juga seolah lupa bahwa Yusuf itu merupakan pacar dari sahabatnya. Nai ingin menikmati kebahagiaan nya kali ini walau sedetik saja, bolehkan? Pinta Nai pada langit yang berwarna jingga itu.


Nai mendongak dan siluet Yusuf adalah siluet yang paling indah yang Nai lihat. Warna jingga yang sebentar lagi pudar membuat wajah Yusuf terlihat cerah mengkilat, Yusuf bagaikan pangeran yang turun ke bumi.

__ADS_1


“Nai.” Yusuf menggoncangkan bahu Nai pelan.


Nai masih berada di dalam khayalannya, “Iya kak.”


“Lo gak apa-apa.”


Nai tersadar, “iya gak apa-apa kak.”


“Ngelamunin apa sih serius sekali?”


“Bukan apa-apa kok.” Nai jadi merasa malu karena dia melamunkan Yusuf.


Yusuf tidak mempermasalahkan hal itu. dia masih menatap ayunan di depannya dengan sendu. Nai yang menyadari raut wajah Yusuf, mengikuti arah pandang Yusuf.


“Mau naik ayunan?” tawar Nai.


“Gak.”


Ingatan Yusuf menerawang pada masa lalunya, “dulu gue sering banget main ayunan sama adik gue. Ayunan itu disediain karena adik gue suka banget sama ayunan. Jadilah orangtua Akbar meminta pengurus villa untuk membuat ayunan.”


Naila menatap ayunan yang sepertinya sudah lama tidak di pakai itu, dia berjalan pincang ke tempat ayunan itu berada. Nai melambai kepada Yusuf, “ayo sini dorong ayunan Nai.”


Melihat Nai tertawa lebar karena main ayunan membuat Yusuf semakin kangen dengan adiknya. Kalau masih ada pasti adiknya sudha sebesar dan secantik Nai. yusuf menghampiri Nai.


“Mau di dorong?” tawar Yusuf, Nai mengangguk.


Dengan semangat Yusuf mendorong ayunan yang dinaiki Nai. Berada di dekat Nai Ysuuf seolah lupa dengan permasalahannya. Yusuf menatap Nai yang masih asyik dengan ayunannya. Nai tampak bahagia dan sangat menikmatinya.


Yusuf jadi memikirkan kata-kata Rio tentang mengikuti kata hatinya, tapi dia sudah berjanji akan melupakan Naila dan berusaha move on. Meskipun jauh di lubuk hatinya dia masih menginginkan Naila, Yusuf tidak bisa serta merta menyakiti Sha dengan memutuskan begitu saja. Walau bagaimanapun Yusuf belum memberitahu Sha perihal orang yang di cintainya.


***


“Jadi begini ya rasanya patah hati?” tanya Sha pada dirinya sendiri. Sha memegang dadanya yang terasa begitu sakit, seperti teriris-iris sesuatu yang tak kasat mata.


Sha masuk ke dalam villa dengan tergesa, dia sedikit mencuri dengan tentang apa yang dibicarakan oleh Nai dan Yusuf. Sakit? Tentu saja, pacar mana yang rela bicara jika dia mencintai sahabatnya sendiri.


“Sha gak jadi makan?” tanya Bila yang masih berada di anak tangga.


“Enggak bil laparnya ilang.” Bila menatap Sha heran.


Tadi Sha bilang akan ke bawah membawa camilan dan makan, sekarang Bila tidak melihat Sha membawa satu camilan pun. Di tanya pun Sha hanya menjawab sekenanya.


Ada apa dengan Sha sebenarnya.


Bila buru-buru turun, takutnya ada hal yang membuat Sha sedih. Di dapur tidak ada apa-apa kok. Sampai mata Bila melihat dua orang yang tengah bermain ayunan. Mereka kok tampak bahagia sekali sepertinya, siapa ya? Daripada penasaran, Bila memutuskan untuk melihat dari dekat.


Loh itu kan Nai, Bila melihat dengan jelas wajah Nai. Wajah cowoknya Bila tidak terllau jelas melihat, apakah itu Rio, Akbar atau Yusuf. Nama terakhir itulah yang mmebuat Bila berkesimpulan dan menemukan jawaban atas menjadi sedihnya Sha.


Masa sih itu Nai sama Yusuf? Tanya Bila pada dirinya sendiri.


“Ah gak mungkin.” Bila berusaha mengelak pikirannya sendiri.


“Beneran mereka apa bukan sih?”


Bila akhirnya tidak memikirkan lagi hal itu, dia lebih semangat untuk nonton marathon bersama Sha. Bila mengambil beberapa cemilan dan minuman. Untung saja tadi dia sempet ke super market dengan Rio pikirnya.


“Sha, tau gak.” Bila melihat Sha yang seperti


sedang menulis sesuatu di buku. Entah buku apa.


Sha menutup bukunya dan duduk tegak menghadap Bila yang menyimpan cemilan serta minuman di dekat laptop. “Gak bil.”


“Ih belum juga bilang.”


“Bil aku tidur duluan ya.” Sha bangkit dan naik ke tempat tidur.


Bila menatap Sha bingung, “loh katanya mau nonton.”


“Aku jadi ngantuk.” Bila menghampiri Sha dan mengelitik pinggang Sha.


Sha tertawa kegelian, “bil udah geli.”


“Gue gak akan berenti kalau lo belum mau nonton.”


Sha menahan tangan Bila yang hendak mengelitikinya lagi, “iya bil gue mau nonton, tapi lepasin dulu tangan lo.”


Bila menjauhkan tangannya dari pinggang Sha, tapi Bila menarik tangan Sha untuk duduk di karpet kembali untuk menonton film. Mereka berdua akhirnya menonton film sambil memakan cemilan yang dibawa Bila dari dapur tadi.

__ADS_1


“Sha apa orang yang di cintai Yusuf itu Nai?”


__ADS_2