
“Nganter siapa dulu nih yang rumahnya deket pintu keluar tol?”
“Bila.” Ucap Sha dan Akbar barengan.
Kepala Yusuf berbalik melihat Sha, Nai juga menegakkan tubuhnya. Akbar jadi gelisah sendiri di tempat duduknya.
Melihat kecanggungan di antara teman-temannya, Rio berdehem dengan keras. “Oke baik kita ke rumah Bila dulu. Sebentar lagi keluar tol ini.” ucap Rio yang sempat melirik Yusuf yang kembali melihat ke depan.
“Rumah lo keluar tol kemana bil?” tanya Rio.
“Ke kanan.”
Rio mengangguk, dia membelokkan mobilnya ke kanan sesuai perintah Bila.
“Setelah belok lo lurus aja, nanti ketemu perumahan elit nah masuk kesana. Lurus aja nanti ada kok rumah yang warna ungu, satu-satunya di komplek itu.” jelas Bila. Rio kembali mengangguk mengerti.
Untung saja Bila mau repot-repot menjelaskan, Rio malas bertanya lebih jauh soalnya. Dia sudah capek menyetir dari Bogor ke Bandung soalnya.
Rio menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang yang ber cat ungun, benar kata Bila, rumah Bila ini satu-satunya yang berwarna ungu. Rumah yang lain warna netral, seperti putih abu, hitam, atau cream. Hanya rumah Bila yang beda warna.
“Gak ada yang ketinggalan kan Bil?” tanya Akbar yang membantu Bila menurunkan barangnya.
Bila kembali meneliti barang-barangnya, “gak ada kok.”
“Beneran gak mau gue bantu ngangkat ini ke dalam?” tanya Akbar karena Bila bilang tidak usah di angkat nanti dia akan menyuruh pembantu dan satpamnya untuk mengangkat barangnya ke dalam.
“Gak usah kalian kan juga capek.” Ucap Bila kepada Akbar dan Yusuf yang memang ikut turun bersama Bila.
Rio membunyikan klaksonnya sebagai tanda pamitan kepada Bila. “Hati-hati ya.” Teriak Bila. Bila melambaikan tangannya pada mobil yang sudah mulai melaju itu. Dia juga segera menghubungi supirnya untuk membuka gerbang.
“Rumah lo dimana Sha?” tanya Rio, karena rumah Akbar searah dengan arah pulang ke rumah Yusuf jadi lebih baik mengantar Sha lebih dulu.
“Gak jauh darisini kok. Nanti ada perempatan beolk kanan. Lurus aja, ada pertigaan belok kiri lurus dikit udah nyampe kok.” Rio mengangguk mengerti.
Sesuai intruksi Sha saat melihat perempatan pertama dia langsung menyalakan lampu sen ke kanan. Rumah Sha ini mausk ke daerah perkampungan, pikir Rio. Keadaan dalam mobil yang hening membuat keisengan Rio muncul, apalagi melihat polisi tidur di depannya.
“Yo lo bisa nyetir gak?!” Yusuf berteriak marah seraya mengusap kepalanya yang berbenturan dengan atap mobil.
Rio mencoba menghentikan tawanya, “sori, sori gak sengaja gue.”
Yusuf kembali dalam mode heningnya. Dia menoleh ke belakang, melihat Sha yang tampak baik-baik saja padahal Yusuf tahu kepala Sha juga berbenturan dengan atap mobil, bahkan lebih keras daripada dia. Sha lo gak apa-apa kan? tanya Yusuf dalam hati.
“Rumah lo yang mana Sha?”
“Itu yang depan.” Sha menunjuk rumah minimalis yang ber cat biru muda.
“Berhenti disini aja.” Rio menghentikan mobilnya.
Yusuf keluar mobil terlebih dahulu, lalu menurunkan kursi yang di dudukinya, sembari menunggu Sha keluar Yusuf membuka bagasi belakang dan mengambil barang-barang Sha yang hanya satu koper itu.
“Kak sini aku aja yang bawa.” Pinta Sha pada Yusuf yang membawa kopernya.
“Udah gue aja, sekalian mau ketemu orangtua lo buat pamitan.” Sha bungkam dan mmeilih mengikuti Yusuf yang berjalan di depannya.
Tok tok
“Sha sudah pulang?” tanya ibunya yangmmebukakan pintu.
Yusuf menyalami ibu Sha, “maaf Bu pulangnya jadi malam. Berangkat dari sananya siang.”
“Tidak apa-apa nak Yusud, asal Sha pulang dengan selamat ibu sudah lega.”
“Kalau gitu saya pamit dulu bu, teman-teman yang lain nunggu di mobil.”
“Terima kaish ya nak Yusuf sudah mengantar Sha pulang, salam buat teman-temannya.”
Yusuf mengangguk mengerti dan memberikan koper itu pada Sha. “Terima kaish kak.” Ucap Sha seraya tersenyum walau mulutnya terasa kaku.
Hati-hati kak, ucap Sha dalam hati.
“Masuk yu nduk.” Ibu Sha mengambil alih koper di tangan Shad an membawanya masuk ke dalam. Setelah melihat Yusuf yang jauh dair pandangannya Sha masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Yusuf kembali masuk ke mobil setelah mengatar Sha. Tanpa banyak bertanya lagi Rio kembali melajukan mobilnya.
“Perumahan lo itu apa namanya bar?” tanya Rio, Rio hanya tahu rumah Akbar searah dengan Rumah Yusuf karena mereka berangkat bareng waktu itu. Rio tidak tahu nama perumahannya, makanya bertanya takut salah masuk gang.
“Permata hijau.”
Rio langsung tancap gas, kali ini dia sedikit ngebut menjalankan mobilnya. Badannya sudah terasa remuk, punggung dan pahanya sudah terasa panas. Mereka hanya istirahat satu kali tadi, itupun hanya makan sore menjelang malam dan sholat ashar. Tidak memakan waktu istirahat yang lama. Kaki Rio juga sedikit kebas karena menginjak rem dan gas.
“Mau gantian nyetir gak yo?” tanya Yusuf yang khawatir karena Rio menjalankan dengan cepat.
“Mau sih tapi tanggung.” Sahut Rio yang kembali memperhatikan jalanan.
Kurang dari dua puluh menit mereka sudah memasuki perumahan permata hijau, Rio memelankan laju kendaraannya. “Rumah lo yang mana bar?”
“Tuh yang depan.” Akbar menunjuk sebuah rumah yang di tanami banyak tanaman.
“Lo gak mau mampir dulu yo?” tanya Akbar.
“Gak usah gue mau cepet nyampe rumah, udha capek.” Ucap Rio yang kini meregangkan otot tangannya.
Akbar mengangguk, mereka berdua bersalaman ala cowok. “Terima kasih yo, hati-hati jangan ngebut.”
“Yoi sama-sama bro. Hobi gue itu mah.”
Akbar turun dan mengambil barangnya di bagasi. Dia melambaikan tangannya pada Rio sebelum masuk ke dalam rumah. Rio membunyikan klaksonnya kembali sebagai tanda pamit.
“Rumah lo dimana Nai?”
Bukannya menjawab pertanyaan Rio, Nai malah turun setelah melihat Akbar masuk ke dalam rumahnya. Baru selangkah turun ke mobil kaki Nai kembali sakit di gerakkan.
“Aww.”
“Lo gak apa-apa Nai?” tanya Yusuf khawatir yang kini bergeser mendekati Nai yang mencoba untk turun dari mobil.
“Ck drama.” Gumam Rio yang masih bisa di dengar mereka, Yusuf memberikan pelototan tajamnya pada Rio.
“Sini gue bantu.” Yusuf turun lebih dulu dan mencoba membantu Nai untuk berdiri. Dia juga memapah Nai ke depan gerbang rumahnya yang memang di sebrang rumah Akbar.
“Lo tunggu disini dulu, nanti gue ambilin.”
Yusuf kembali ke mobil, membuka bagasi dan mengambil barang-barang Nai. Tas kecilnya di sampirkan ke bahu dan kopernya dia tarik menggunakan tangan kanan.
“Ayo Nai.” tangan kiri Yusuf mencoba meraih bahu Nai.
Untung saja gerbang Nai terbuka otomatis jadi mereka tidak perlu repot-repot untuk membuka gerbang. Sampai di halaman depan pembantu Nai membantu Yusuf untuk memapah Nai kedalam rumah. Yusuf bahkan mengantarkan Nai ke ruang tamu, di dudukannya Nai di sofa.
Sementara itu di mobil Rio menggerutu karena Yusuf yang lama perginya. “Memang yang gak bisa liat kondisi sodara lagi kecapean. Itu kasihan atau apa ya?” Rio heran dengan sifat berlebihan Yusuf pada Nai, pantas saja Sha marah pada Yusuf. Memang patut di marahi sahabatnya itu, tidak salah Rio menyuruh mereka putus.
“Nai gue pamit ya.” Ucap Yusuf.
“Terima kasih kak.” Nai menunduk malu karena lagi-lagi merepotkan Yusuf.
“Cepat sembuh.” Ucap Yusuf sebelum meninggalkan Nai sendiri karena pembantunya sudha Yusuf suruh untuk menelpon dokter dan menyiapkan air hangat untuk mengompres kaki Nai.
Yusuf kembali ke mobil dan duduk di tempat semula. “Lo kata gue supir lo apa?” ucap Rio kesal pada Yusuf yang kini sudah memejamkan matanya.
“Udah deh jalan aja.” Titah Yusuf.
Rio semakin kesal, seringai jail muncul di bibirnya. Tanpa aba-aba, Rio menginjak pedal gas dengan keras. Segala umpatan kebun binatang keluar dari mulut Yusuf, mata mengantuknya jadi hilang entah kemana. Mulutnya terus memaki Rio yang menjalankan mobilnya dengan ngebut.
“Heh lo cari mati ya!”
“Lo kalau mau mati sendirian aja jangan ajak gue!”
“Gue belum mau mati yo.” Geurtuan Yusuf tidak Rio hiraukan sama sekali, dia malah semakin menambah kecepatan mobilnya.
“Yo berenti gue mau muntah asli.”
Setelah Yusuf berkata demikian Rio memperlambat laju mobilnya, dia menatap Yusuf yang berlagak mau muntah. Padahal Rio tahu itu hanya akal-akalan Yusuf saja, Rio tahu Yusuf juga sering menjalankan mobil dengan kecepatan diatas rata-rata, mana mungkin dia mau muntah sekarang.
“Makanya jangan menyepelekan bakat pembalap gue.” Rio tertawa puas meliha Yusuf yang sengsara.
__ADS_1
“Lo!” geram Yusuf.
Dua puluh menit kemudian mereka sampai di rumah Yusuf. Setelah memakirkan mobilnya asal, Rio masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan barangnya di mobil. Dia segera merebahkan tubuhnya di sofa keluarga.
“Rio sudah pulang?” tanya Mama Yusuf yang kini berjalan ke depan pintu.
“Sudah tante.” Rio yang masih memejamkan matanya itu setengah sadar menjawab.
Yusuf menyeret koper Rio dan kopernya dengan kesal. Mama Yusuf yang melihat anaknya di depan pintu mengernyit heran ketika Yusuf melewatinya dan langsung masuk ke dalam rumah.
“Nih koper lo.” Ucap Yusuf yang mmeberikan koper Rio di samping sofa.
“Hmm.” Rio hanya bergumam.
Yusuf tidak menghiraukan Rio lagi, dia segera naik ke lantai dua, ke kamarnya. Setelah sampai di kamar dia merebahkan dirinya di kasur. Matanya memejam, tanpa sadar sudah hanyut ke dalam mimpi.
Mama Yusuf menggeleng-geleng tidak percaya. “Yusf, yusuf.” Ucapnya seraya melepaskan sepatu dan kaus kaki yang masih di pakai Yusuf. Dia juga membenarkan letak tidur Yusuf dan menyelimutinya.
Mama Yusuf melihat koper yang di letakkan dengan asal di lantai. Mama Yusuf membereskan barang Yusuf, memasukkan pakaian ke lemari dan selebihnya di simpan di nakas.
“Selamat malam.” Mama Yusuf mengecup kening anaknya dengan sayang.
Dia membawa selimut untuk Rio yang tidur di sofa.
“Tante Bintang kemana? Rio kangen.” Gumam Rio. Tangan Mama Yusuf yang sedang menyelimuti Rio menggantung di udara.
Kenapa Rio bertanya tentang Bintang? Tanya Mama Yusuf dalam hati. Hatinya menjadi sedih karena tidka bisa meliha anaknya lagi, bahkan kalaupun sudha mneinggal dia tidak bisa mnegunjungi makamnya.
Mama Yusuf kembali ke kamarnya setelah menyelimuti Rio. Dia membaringkan tubuhnya di kasur. Membelakangi suaminya yang sedang terlelap. Tangis yang sejak tadi di tahannya kini sudah tidak terbendung lagi. Beberapa kali isakannya lolos.
“Bintang kamu dimana? Mama kangen.” Ujarnya lirih.
***
“Bintang kak Yusuf janji bakalan sering main kesini lagi kok?” ucap seorang anak laki-laki yang memanggil dirinya Yusuf itu.
“Kak Yusuf janji gak akan ninggalin Bintang lagi kan?”
“Gak akan Bintang.” Ucap anak laki-laki itu sembari mengelus pelan puncak kepala anak perempuan yang di panggilnya Bintang.
Yang terjadi adalah sebaliknya, anak laki-laki yang bernama Yusuf itu pergi mneinggalkan anak perempuan yang bernama Bintang itu. Bintang nangis sesegukan di halaman rumahnya. Orangtuanya sendiri tidak berani mendekati anaknya.
“Udahlah dek. Kan masih ada kakak disini.” Ucap seorang anak laki-laki yang wajahnya mirip dengan anak perempuan itu.
“Kakak.” Bintang segera berlari dan memeluk erat-erat kakaknya.
“Kakak jangan tingalin Bintang lagi ya?”
“Iya Bintang, kakak akan main sama Bintang disini.”
Selamat tinggal kak Yusuf, ucap Bintang dalam hati.
Sha tersentak dan langsung terbangun dari tidurnya. Mimpi itu lagi, mimpi seorang anak kecil yang mirip dengan di foto itu, batin Sha.
Entah kenapa tiba-tiba Sha ingin memegang kalungnya. Kalung berbandul bintang yang sangat cantik. Kalung ini tidak terlihat karena Sha memang selalu menyembunyikannya di balik pakaian atau terhalang rambut panjangnya.
Di balik bandul itu ternyata ada tulisan. ‘B&S’ Sha meraba tulisan itu. Kenapa nama ini seolah tidak asing baginya. Sha mencoba membairngkan tubuhnya kembali, memejamkan matanya. Tidak bisa! Matanya tidak bisa terpejam.
Kaki Sha melangkah menuju jendela, dia membuka jendelanya. Angin dini hari langsung menusuk kulitnya. Tiba-tiba saja Sha mengambil kursi dari meja belajar dan duduk di depan jendela yang terbuka itu.
Menatap langit yang menampilkan taburan bintang di langit. Tangannya terulur, seolah-olah ada sebuah tangan yang mengajaknya pergi, untuk menyentuh bintang di langit.
***
Bintang malam ini menarik Akbar untuk duduk di balkon lebih lama. Semenjak pulang ke rumah dirinya tidak bisa memjamkan mata sedetik pun. Ibunya sudha beberapa kali menyuruhnya untuk tidur ke dalam kamar. Dia hanya mnegiyakan, tapi tidak melaksanakannya.
Bintang, suatu hal yang selalu mengingatkan Akbar pada masa kecilnya yang bahagia walau hanya sekejap. Tangan Akbar terulur untuk meraih satu bintang yang sinarnya mulai redup, berkedip-kedip seolah meminta Akbar untuk mengambilnya.
Terkadang semesta mempunyai cara yang unik untuk mempertemukan dua orang yang saling merindukan di waktu yang bersamaan. Walau berpisah jarak ribuan kilometer sekalipun, jika memang semesta mengijinkan. Hati mereka seolah telah terpaut untuk bersatu.
Akbar terus tersenyum, tangannya yang mengepal seolah menggenggam sesuatu semakin mengeratkan genggamannya. Dia seolah bisa merasakan kehadiran seseorang yang dia rindukan selama ini. Mereka seolah berbicara lewat langit dan bintang yang sudha mempersatukan mereka.
__ADS_1