
“Akhirnya sampai juga.” Nai berseru dengan semangat dan buru-buru turun dari mobil. Dia berlari dan mulai mendekati villa.
“Nai nih barang lo bawa.” Teriakan Rio yang mmebuat Nai cemberut dan kembali menghampiri teman-temannya yang sibuk membereskan barang bawaan.
“Iya iya.” Gerutu Nai sambil membawa koper besarnya. Bila geleng-geleng kepala awalnya ketika Nai dengan sengaja membawa koper bukan tas seperti yang lainnya. Mereka kan hanya menginap beberapa haru bukan seperti mau liburan ke luar negeri.
Sampai di depan villa mereka mendudukan diri di sofa ruang tamu. “Leganya, akhirnya pantat gue nyentuh benda yang empuk.”
“Ambigu lo yo.” Ucap Akbar.
“Salahnya?” tanya Rio.
“Udahlah capek debat mulu sama lo. Cewek-cewek tidurnya di kamar atas. Kebetulan ada tiga kamar di atas, jadi masing-masing bisa nempatin satu kamar.” Mereka mendengarkan ucapan Akbar dengan seksama.
“Untuk cowok-cowok tidurnya di lantai bawah, tenang ada kamar kok meski hanya dua.” Lanjut Akbar.
“Kok cuma dua sih, kan harusnya tiga?” protes Rio.
“Syukur deh karena lo gak disediain kamar disini, noh tidur di sofa aja.” Sontak saja Rio langsung melemparkan bantal sofa kepada Bila.
“Udah-udah kan bisa berdua yo.” Ucap Yusuf.
“Baik bos.”
Nai, Sha, dan Bila langsung naik ke lantai atas beserta barang-barang mereka. Setelah berunding menentukan kamar yang akan di tempati masing-masing. Mereka langsung masuk kekamar masing-masing.
“Ah enaknya.” Nai langsung merebahkan diri di kasur.
Sha bermain-main dengan kasur yang menurutnya empuk itu. “Enak ya jadi orang kaya bisa tidur nyenyak setiap hari kalau kasurnya seperti ini.” Sha mencoba mengeleus selimbut dan seprai yang sangat halus di kulitnya itu.
Bila menyimpan dengan asal barang-barangnya. Dia langsung membuka sepanya dan naik ke kasur. “Bisa istirahat juga setelah perjalanan jauh.” Tak lama setelah itu Bila langsung terlelap menuju alam mimpi.
“Jangan lupa ntar sore pada turun ya kita mendirikan tenda.” Teriakan Akbar itu membuat Nai mendesah, Sha segera membereskan barang-barangnya dan Bila yang hanya bergumam tidak jelas karena sudah berada di alam mimpi.
Sementara itu cowok-cowok terutama Rio dan Akbar membereskan peralatan dapur yang mungkin akan mereka butuhkan beserta bahan-bahan makanan yang telah mereka bawa tadi. Termasuk ikan hasil tangkapan mereka.
“Bar lo bisa bersihin ikannya?” tanya Rio yang sedari tadi hanya diam memandangi ikan dalam baskom.
“Gak hehe.” Cengir Akbar.
Sha yang tidak mengantuk mencoba untuk turun, niat dia sekalian mencari Yusuf. Mendengar keributan dari arah dapur Sha segera saja menghampiri asal suara keributan itu.
“Ada yang bisa aku bantu?” tanya Sha melihat Akbar yang kesusahan menangkap ikan juga Rio yang terus mencium hidungnya karena bau amis ikan.
“Lo bisha bershihin ikannya gak?”
Sha tersenyum manis membuat Akbar sedikit terpana, “bisa kak sini aku saja yang bersihin.” Sha membawa ikan dalam baskom ke dekat air pancoran di dapur. Dengan cekatang dia mulai membersihkan ikannya.
“Sha lo gak istirahat?” tanya Rio di sela-sela membantu Sha yang membersihkan ikan.
“Aku belum capek kak.” Sha sebenarnya sedikit canggung ketika berdekatan dengan Rio tapi mau gimana lagi.
“Ikannya mau di gimanain?” tanya Sha yang sudah selesai membersihkan ikan.
“Di bakar.”
“Di goreng.” Sahut Rio dan Akbar barengan.
Sha menatap keduanya dengan bingung. “Di bakar aj deh biar bakarnya sekalian pas bakar-bakar nanti."
Sha mencoba mencari bumbu-bumbu yang memang sudah mereka persiapkan. Akbar dengan canggung menghampiri Sha, “ada yang bisa aku bantu?”
“Gak usah gak apa-apa kok kak.” Elak Sha, dia memang masih mampu hanya untuk sekedar mengulek bumbu.
“Gak apa-apa biar Akbar aja, dia sudah biasa kok urusan mengulek itu. iya kan bar.” Rio menaik-turunkan alisnya kepada Akbar. Sialan nih Rio, batin Akbar. Senjata makan tuan ini namanya, seringai Rio.
“Ya sudah gak apa-apa kamu istirahat aja dulu.”
“Beneran gak apa-apa ini kak?”
“Iya.”
“Kalau gitu aku naik dulu ya.”
Sha akhirnya memutuskan untuk naik ke kamarnya kembali karena dia sedikit mengantuk dan kelelahan. Setelah Sha pergi Akbar menatap Rio dengan tajam.
“Kok gue bisa lupa sama wajah menyebalkan lo sih waktu di rumah sakit?” pertanyaan Akbar mmebuat Rio terkekeh.
Dengan penuh percaya diri dia membusungkan dadanya di hadapan Akbar, “mungkin karena kadar ketampanan gue yang bertambah setiap harinya kali ya. Jadi lo pangling sama gue.”
Akbar hampir saja memukul Rio dengan ulekan kalau Rio tidak segera pergi dan menghindar, “makan tuh tampan.”
__ADS_1
***
Sore harinya mereka berkumpul kembali di ruang tamu. Bila yang tengah asyik memakan mie instannya, harus menahan kesal karena Nai selalu meminta mie Bila. “Bagi dong Bil pelit amat sih.” Pinta Nai.
“Gak mau bikin sendiri aja sih, tuh stok mie instan masih banyak.” Ujar Bila kepada Nai, dia lalu berbalik memunggungi Nai kemudian memakan mie nya dengan semangat.
“Males ah bikinnya.”
“Dasar pemalas, pantes aja jomblo dari orok.” Cibir Akbar.
Seketika Nai berbalik, “gue gak jomblo ya…” tapi nungguin lo lanjut Nai dalam hati.
“Tapi apa?”
“Gak jadi.”
“Kok kalian ribut mulu sih jangan-jangan..”
“Punya hutang sama gue ya.”
“Kirain mau ngomong apaan.” Cibir Bila yang sudah selesai dengan makan sembunyi-sembunyinya itu.
“Lo tuh yang masih punya hutang sama gue.”
“Siapa suruh waktu itu nolak.”
“Stop plis urusin rumah tangga kalian nanti aja. Sekarang sudah mau jam 5 nih.” Dengan segera Nai menghentikan perdebatan Bila dan Rio.
“Iya nih Sha mana?” tanya Akbar.
“Lagi beresin peralatan sama makanan buat nanti malam di dapur.” Mendengar itu Akbar bergegas ke dapur dan benar dia melihat Sha yang keingungan mencari-cari tempat bumbu.
“Kalau gak tahu itu nanya.” Sahut Akbar, dia memberikan bumbu dapur yang memang sudah ada di villa.
“Makasih kak.”
“Ada lagi.”
Dan akhirnya Sha di bantu Akbar mempersiapkan keperluan mereka untuk bakar-bakar. Setelah selesai mereka kembali menghampiri teman-temannya.
“Terus sekarang rencanya apa bil?” tanya Yusuf yang memang baru gabung dengan mereka. Dia seperti terlihat kecapekan setelah menyetir beberapa jam.
Bila terlihat berpikir. “Kita mendirikan tenda dulu.”
Mereka pun menuju halaman belakang Villa, Akbar membagi tugas kepada mereka agar pekerjaan cepat selesai. Para cowok dan cewek di suruhnya bekerja sama dalam mendirikan tenda. Akbar sendiri hanya di bantu Yusuf mendirikan tenda, Rio menemani para cewek.
“Selesai.” Bila tersenyum senang dan mulai mengajak temannya untuk ber tos ria.
“Mau kemana bil?” tanya Nai yang hendak masuk tenda.
“Mau ambil selimut sama barang-barang buat tidur lah masa lo mau tidur di rumput.” Iya juga ya pikir Nai. Nai mengajak Sha untuk mengikuti Bila mengambil selimut.
“Sekarang tenda sudah jadi, bagaiman kalau kita bagi tugas lagi.” Usul Akbar.
“Tugas apaan?” serobot Nai.
“Kan kata Bila mau ngadain api unggung, berarti harus cari kayu bakar dong.”
“Oh iya ya, kok aku gak kepikiran.” Bila merasa sedikit bodoh dia yang mengusulkan dia sendiri yang lupa.
“Jadi gimana?” tanya Bila.
“Bagaimana kalau gue sama Rio dan juga lo cari kayu bakar.” Akbar menujuk Bila sebagai patnernya kali ini. Dia tau Bila itu bisa di andalkan dalam urusan cepat tanggap darurat.
“Kok gue?”
“Mau siapa lagi kan kita Cuma ber enam.”
“Nai sama Yusuf biarin membereskan buat acara bakar-bakar.” Jelas Akbar.
“Iya deh.”
“Gue gak setuju.” Yusuf akhirnya angkat bicara.
“Kalau lo gak bantuin Sha, siapa yang bakalan ngangkat pangganggannya nya.” Benar juga batin mereka. Akhirnya Yusuf pun mnegikuti saran Akbar.
Mereka pun mulai menjalankan tugasnya masing-masing. Sha dengan peralatan dapur juga Nai dan Yusuf yang mmebantu memindahkannya ke halaman belakang Villa.
“Bar masih jauh gak? Capek nih.” Keluh Bila yang membuat kuping Akbar panas.
“Bil ini tuh baru jalan 10 menit.”
__ADS_1
“Iya tapi gue capek.”
“Halah segitu aja payah.” Rio berkomentar.
“Jadi cewek kok lemah.”
"Sudah gak usah banyak omong sebentra lagi sampai kok.”
Akbar yang memimpin di depan bernapas lega karena tempat yang mereka tujua sudah sampai. “Ayo cepat kita ambil beberapa kayu dan ranting berjatuhan keburu magrib.” Intruksi Akbar pada teman-temannya.
Rio dengan jahil menutup mulut Bila yang cengo. “Tutup nanti lalat masuk.”
Bila menyingkirkan tangan Rio dari mulutnya. “Bar seriusan kok ada tempat indah ini sih di belakang villa lo.”
“Baru tahu ya, dasar katrok.” Lagi-lagi Rio bermulut pedas kepada Bila. Bila tidak menghiraukan Rio, dia malah berjongkok dan melihat keatas. Langit yang tertutup oleh pepohonan lebat membuatnya terpesona. Dia menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Walau sudah sore udara disana benar-benar segar. Bila jadi betah tinggal disini.
Melihat tidak adanya pergerakan dari kedua temannya, Akbar menghampiri mereka dengan tangan yang sudah penuh kayu bakar.
“Ayo cepetan ambil keburu malam nanti ada yang gangguin loh.”
Ucapan Akbar itu sukses membuat Bila dan Rio bergidik, segera saja Bila menyuruh Rio mengumpulkan kayu bakar. Walau begitu Bila juga akhirnya membawa kayu bakar di tangannya.
Sesampai di Villa kembali barang-barang sudah di pindahkan ke halaman belakang. Bila menyimpan kayunya begitu saja dan langsung menghampiri Sha dengan heboh seperti biasanya.
“Sha lo tau gak di belakang rumah ini ada surga?”
Sha sedikit tidak percaya kepada Bila. “Masa sih bil?”
“Iya pokoknya besok kita harus kesana.” Sha mengangguk, tidak ingin menghilangkan rasa senang Bila.
“udah balik bil.” Nai mendekati Sha dan Bila.”
“Belum masih di hutan.” Sahut Bila asal.
“Syukurdeh gak dimakan gorilla atau macan.”
“Ish Nai.” Bila mencoba memukul Nai yang terus menghindar. Sore itu terjadilah aksi kejar-kejaran Bila dan Nai yang membuat teman-temannya tertawa.
“Sudah hei.” Teriakan Yusuf akhirnya menghentikan aksi kejar-kejaran mereka berdua.
“Selanjutnya bagaimana bil?” tanya Yusuf.
“Bagaimana hosh apanya hosh.” Sepertinya Bila masih belum stabil napasnya.
“Iya acaranya mau bagaimana?”
“Sebentar.” Bila mencoba mengatur napasnya dengan tenang. “Kalau ngadain semacam candle dinner gitu bagaimana.”
“Setuju.” Suara Nai paling semangat.
Akhirnya mereka berdua yang mengatur semuanya. Yang lainnya hanya ikutin perintah mereka saja. Bila dan Nai seakan lupa jika baru saja mereka bertengkar dan kini sudah akur kembali. Bila mencoba mengatur meja-meja dan kursi beserta pernak-perniknya. Sedangkan Nai mengatur lampu hias, tumbler, spot foto seadanya yang di bantu Sha dengan Rio.
Selesai dengan itu mereka menyiapkan tikar di depan tenda untuk acara santai dan ngobrol bersama, dengan lilin besar di tengahnya. Juga gitar yang sengaja mereka bawa sebagai hiburan dadakan yang tidak di rencanakan. Ada gunanya juga Akbar bawa gitar, pikir Bila. Awalnya Bila memang tidak setuju dengan Akbar yang akan membawa gitar tapi kini dia seakan ingin berterima kasih kepada kakak kelasnya itu.
Di depan tikar itu mereka mulai mmebuat api unggung kecil-kecilan dari kayu bakar yang telah mereka kumpulkan. Sebelumnya Akbar juga sudah mencoba mencari ban bekas yang syukurnya juga ada tersedia. Sekarang semuanya sudah benar-benar beres, tinggal acara bakar-bakar saja.
“Sebentar lagi adzan magrib nih, bagaimana kalau kita mandi terus sholat berjamaah di bawah.” Usul Yusuf yang di setujui mereka. Badan mereka sudah bau, keringat pun sudah bercucuran dan masa mau berpesta tetapi bau asem.
“Cie pak ustad.” Goda Rio.
“Oke deh gue setuju, gue mandi duluan ya.” Teriak Akbar yang langsung masuk ke Villa. Karena memang kamar mandi hanya ada dua. Satu di lantai atas dan satu lagi di lantai bawah, membuat mereka mau tak mau mengantri untuk urusan membersihkan diri.
Sontak saja melihat Akbar yang sudah masuk ke Villa ikutan masuk dan berebut siapa yang duluan sampai ke kamar mandi dia yang akan mandi duluan. Tak kalah dengan cowok, cewek pun sama ributnya.
“Sha tunggu.” Cegat Yusuf.
Sha yang hendak melangkah terpaksa mengentikan langkahnya. “Kenapa kak?”
“Gak apa-apa.”
“Gak jadi.”
Sha sedikit mengerutkan keningnya. “Kalau gitu duluan ya kak.” Pamit Sha.”
“Emm iya, dandan yang cantik Sha.” Ujar Yusuf yang masih bisa di dengar Sha. Sha hanya tersenyum menunduk dan mencoba mengangguk dari kejauhan.
“Gue kenapa sih.” Yusuf akhirnya garuk-garuk kepala sendiri.
“Apa gue udah move on ya?”
“Secepat itu?”
__ADS_1
Yusuf yang semakin bingung akhirnya memilih masuk ke villa menghampiri teman-temannya.