
Sha menatap sekolahnya dengan senyum mengembang, dia rindu, bukan sangat rindu dengan sekolahnya. Beberapa hari tidak sekolah saja membuatnya rindu apalagi nanti liburan jumat depan. Masih dengan senyum mengembang Sha melangkah masuk ke gerbang sekolah. Banyak anak-anak yang tidak di kenalnya. Dia tidak seperti Nai yang banyak kenalannya.
Sampai di kelas Sha juga bverhenti sebentar menatap pintu kelas. Kelas dimana dia menimba ilmu selama beberapa bulan ini.
Keributan jelas terjadi di dalamnya, bukannya kesal Sha malah senang karena bisa berbaur dengan keributan itu lagi. Terkadang hal sederhana yang kita sepelekan akan kita rindukan ketika sudah kehilangan dan untungnya Sha belum menyesak karenanya.
“Bila gue pinjem catetan lo dong.”
“Gue dulu bil.” Teriakan Nai dan sahutan Rama yang pertama kali masuk ke dalam indera pendengaran Sha.
Sha menghampiri Bila yang sibuk memakan sarapannya. Sedangkan Nai sudah duduk di bangku Rama, menyalin catatan Bila bersama sang ketua kelas itu.
Awalnya Bila masih sibuk dengan sarapannya. Begitu melihat Sha dia menghentikan sarapannya dan menjadi heboh ketika teman sebangkunya itu sudah kembali.
“Hai bil.” Sapa Sha.
Ada jeda sebelum Bila menengok kan kepalanya untuk melihat suara yang memanggilnya.
“Sha!!"
Bila segera memeluk Sha dengan erat. Berputar-putar dan tidak melepaskan sedetik pelukannya.
“Bil.” Melihat Sha yang sesak nafas akibat pelukannya Bila segera melepaskannya.
“Sorry, akhirnya sekolah juga.”
Bila mengajak Sha duduk di bangkunya.
“Sha sudah beneran sembuh.” Sha mengangguk dengan membereskan buku-bukunya.
“Iya Bil mungkin lusa kontrolnya.”
“Bagus deh, gue bosen tahu duduk sendirian terus berasa kek jomblo.”
“Sha lo tau gak.”
“Kalau Rama itu belum tahu anak-anak. Jadi kayaknya rencana liburan itu hanya kita-kita aja.”
“Kita?”
“Iya, gue, lo, Nai, Yusuf, dan Akbar.”
Glek Sha jadi lupa dengan Yusuf. Setelah Sha pulang dari rumah sakit Yusuf sempat mengabarinya, tapi Sha lupa membalasnya. Bagaimana dia sekarang ya?
“Sha hoi kok malah bengong.”
“Eh iya bil.”
“Gue juga udah minta pj sama Yusuf tapi kata dia nanti aja pas ada lo. Nah karena sekarang lo sudah ada gimana kalau nanti pulang sekolah aja kita hang out sekalian bahas rencana liburan.”
“Bo leh kok bil.”
Nai kembali kembangkunya. Dengan senyum leganya karena telah menyalin catatan Bila. Dia bisa bebas hukuman dari guru killer. Saat Nai menyadari ada yang aneh di bangku di belangkang nya.
“Wah Sha akhirnya!!”
Nai seketika heboh dan meminta Bila untuk pindah tempat duduk sebentar. Nai ingin duduk dengan Sha untuk mengobrol banyak. Sha hanya tersenyum melihat gelagat Nai.
“Sha beneran sembuh kan?”
“Kalau sembuh gak mungkin sekolah kali Nai.” Bila menjawab pertanyaan Nai.
“Iya Nai.”
“Gue seneng akhirnya sahabat satu kita ini sembuh dan kita akan lengkap lagi.”
“Apakah ada tugas?”
“Ada-“
“Banyak.” Jawab Nai.
“Lo tau gak, bahasa Inodonesia ada tugas, Matematika ada, Bahasa Inggris juga ikutan ada, gak kalah nyebelinnya Seni Budaya dan Bahasa Sunda pun ada.”
“Di kumpul mingu depan, gimana gak stress gue coba.”
“Perasaan tugasnya juga bukan yang berat-berat kok.” Cibir Bila.
“Mau yang berat atau ringan tetap saja kan namanya juga tugas.”
“Itu mah resiko anak sekolah sekali Nai. Kalau gak mau ada tugas yaudah gak usah sekolah.”
“Buat apa gak sekolah?”
“Ya biar di hidup lo gak ada tugas.”
“Terus kalau gak sekolah gue mau ngapain?”
“Ya ngapain aja kek, mau nongkrong terus di café juga gak apa-apa gak ada yang larang kan. Mau jadi gelandangan atau seperti anak punk yang suka nongkrong di perempatan jalan juga gak apa-apa kok.”
“Ih Bil lo mikirnya jelek banget sih.”
“Habisnya lo sendiri yang ngeluh dengan tugas.”
“Ya tapi kan gak jadi anak punk juga.”
Sha tersenyum memperhatikan perdebatan kedua temannya itu. Untung saja bel sekolah segera datang, kalau tidak perdebatan mereka mungkin tidak akan selesai-selesai. Sha sangat senang karena sekarang dia tidak sendirian lagi seperti di rumah sakit.
“Udah ah Nai, pindah lagi sana, sudah bel ini.”
“Gak mau!.”
Sepertinya Nai kesal dengan Bila yang mengajaknya berdebat di pagi hari itu.
Setengah menyeret Nai, dengan susah payah Bila menarik lengan Nai yang malah mengeratkan pegangannya pada bangku Shad an Bila.
“Gue mau disini aja deh Bil.”
__ADS_1
“Gak lo harus pindah.”
“Buruan Nai keburu guru masuk.”
“Nai gak apa-apa kan masih deketan ini.” Akhirnya Nai luluh juga.
“Gliran Sha yang ngomong, lo nurut aja giliran gue. Berasa angin lalu saja.”
Yang di sindir hanya cuek bebek saja. Sha hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua sahabatnya itu.
***
“Nai Buruan.”
“Iya bentar bil, gue masih antri di toilet nih penuh.”
“Gue duluan ya.”
“Eh tungguin dong, gak ada solidaritasnya banget nih lo.”
“Lapar itu gak bisa pakai solidaritas-soidaritas segala deh, emang kalau mati mau ngajak teman.”
“Serem amat sih lo bahasan nya mati.”
“Ya pokoknya buruan ya.”
“Atau kita tinggal nih.”
“Iya iya tunggu, gue tutup dulu teleponnya giliran gue nih.”
Bip
Percakapan Bila dan Nai membuat Bila setengah dongkol karena harus menunggu Nai yang antri di toilet. Bila heran saat istirahat begini toilet kok bisa penuh ya. Bisa barengan gitu pengen ke air nya. Dengan sangat terpaksa Sha dan Bila menunggu Nai di koridor belokan mau ke kantin. Berasa simalakama, maju kena mundur kena.
“Sabar Bil, Nai pasti sebentar kok.”
“Lo tau kan Sha, baksonya pak kumis itu selalu penuh dan antri. Kalau kita gak kebagian gimana.”
Yusuf yang memang lewat di depan mereka tidak sengaja mencuri dengar kedua perempuan yang mejeng di depan koridor kelas.
“Kalian mau ke kantin?”
“Iya kak.” Sha menjawab karena Bila masih misuh-misuh kepada Nai yang tidak mengangkat teleponnya.
“Gue juga mau ke kantin nih kalian mau pesan apa?”
“Gak us-“
“Wah beneran kak, kita boleh nitip nih.” Bila jadi antusias mendengar tawaran kakak kelas yang notabenenya jadi pecarnya sahabatnya itu.
“Iya gak apa-apa kok.”
Sha mengkode Bila agar tidak merepotkan kakak kelasnya itu. Bila yang sadar dengan kode Sha hanya cuek bebek saja. Kapan lagi dia meminta bantuan kakak kelas most wanted di sekolahnya. Dengan semangat Bila menyebutkan pesanan nya dengan Sha yang sudah dia hafal di luar kepala.
“Sudah itu saja?”
“Iya kak.”
“Bil kok gitu sih.”
“Gitu gimana Sha, lumayan kan kita pasti akan kebagian baksonya pak kumis.”
“Ya tapi-.”
“Hallo teman-teman, maaf ya lama.”
“Sudah sudah ayo kita ke kantin.” Bila menggandeng tangan Shad an meninggalkan Nai yang memanggil mereka.
Yusuf melambaikan tangannya melihat kedatangan Shad an Nai yang disusul oleh Nai yang tampak seperti orang yang berlari.
Bila dengan segera menghampiri Yusuf yang sudah duduk di pojok kantin yang memang masih kosong satu bangku itu. Untung saja tadi menerima bantuan kakak kelasnya itu, kalau tidak sudah di pastikan mereka tidak akan mendapatkan bangku kosong di kantin yang ramai ini.
“Kok kalian ninggalin gue sih.” Kesal Nai.
“Siapa suruh lama.”
“Kalau gak minta tolong sama kak Yusuf kita gak akan mungkin dapat bangku, yuk Sha.” Bila kembali menggandeng Sha yang hanya bengong.
“Ishh!”
“Maaf lama ya kak.”
“Gak apa-apa kok, lagian pesanannya belum sampai kok.”
“Makasi banget ya kak.”
“Sama-sama Bil, lagian kayak kesiapa saja.”
Tidak lama pesanan bakso pak Kumis pun datang. Bahkan pak Kumis sendiri yang mengantarkan ke meja mereka. Bila dengan semangat mengambil pesanannya. Bila mengernyit heran karena hanya terdapat tiga mangkuk sedangkan mereka kan di meja itu berempat.
“Lo gak makan kak?”
“Gue pesen batagor. Gak terlalu suka bakso.”
“Oh gitu."
“Kami makan duluan gak apa-apa?”
“Silahkan saja.”
Sha dan Nai hanya terdiam saja melihat Bila yang semangat melahap baksonya. Sedari tadi Sha mencuri pandang ke arah kakak kelasnya itu. Begitupula dengan Yusuf yang terlihat cangung di depan Sha. Dia pura-pura memainkan ponselnya. Nai sama hal nya dengan Sha yang hanya terdiam melihat makanan didepannya. Dia masih belum mengerti dengan semua ini. Apa saja yang telah dia lewatkan selama tadi di toilet, sepertinya banyak sekali.
Bila menoleh ke arah dua temannya. “Kalian gak makan?”
“Kita makan kok.”
Nai segera menyambar botol saus yang ada di dekatnya begitupula dengan Sha yang tanpa sadar mengambil botol sambal yang ada di dekatnya. Sha hampir saja menumpahkan isinya kepada mangkuk baksonya, sebelum sebuah tangan menghentikan aksinya.
__ADS_1
“Lo kan gak suka sambal, ntar lo sakit lagi dan masuk rumah sakit lagi.” Suara itu mengagetkan ketiga perempuan di meja itu.
“Iya Sha lagian gak biasanya lo makan pedes.”
Sha baru sadar kalau yang dia ambil itu botol sambal bukan saus. Sha mengembalikan botol itu ke tempat semula setelah si tangan pencegah melepaskannya. Nai hanya terbengong melihat kejadian itu.
“Ini Sha sausnya.” Sha mengambil botol saus dari Nai dan langsung menuangkannya dalam mangkuk.
Untung saja pesanan batagor Yusuf juga pesanan minuman mereka datang. Menghilangkan kecangnggungan antara Shad an Yusuf. Mereka akhirnya makan dalam diam.
“Bil, kok bisa sih kak Yusuf satu meja bareng sama kita?” tanya Nai berbisik pada Bila.
“Bisa lah emang kenapa.”
“Gak apa-apa kok.” Nai tidak jadi bertanya ketika matanya melihat mata elang Yusuf. Nai meneguk ludahnya seolah tertangkap basah sedang membicarakannya, walaupun benar sih.
“Bil, gimana soal rencana ke puncak itu, jadi?”
“Rencananya sih kan dibahas lagi saat Sha masuk sekolah.”
“Bahas sekarang aja mumpung sudah ada lo kak.”
“Boleh deh.” Sahut Yusuf.
“Apa perlu telpon Akbar dulu biar bisa kumpul?”
“Jangan.” “Iya.” Teriak Sha dan Nai bersahutan membuat Bila serta Yusuf menoleh ke arah mereka berdua dengan tatapan curiganya.
Sha menatap Nai dengan tatapan memohon agar kakak kelasnya itu tidak datang kesini. Entah kenapa Sha berfirasat buruk kalau sampai kakak kelasnya itu datang. Nai yang mengerti akhirnya mengangguk.
“Akbar nanti aja deh gue kasih tahu di rumah kan rumah kita tetanggaan.”
“Yaudah deh.”
“Apa pulang sekolah saja kita ngomonginnya sekalin gue minta pj kalian berdua.”
Giliran Bila yang tersenyum jahil menatap kakak kelas dan sahabat pendiamnya itu. Sha berusaha bersikap normal tapi tetap saja wajahnya tersipu, begituj juga dengan Yusuf yang langsung mnejawab.
“Ide bagus tuh.”
“Wah asyik dapat traktiran gratis nih.”
“Boleh juga tuh, udah lama gue gak main nih.”
“Oke pulang sekolah kita janjian di gerbang ya. Nai jangan lupa kasih tahu Akbar.”
“Oke Bil.”
Tidak lama bel istirahat sudah usai, itu tandanya waktu istirahat sudah habis. Bila mengajak Shad an Nai unutuk bangkit jga tak lupa berterima kasih kepada kakak kelas ynag sudah membantunya itu.
“Kak kami duluan ya.”
“Tunggu, boleh pinjem Sha sebentar.”
Sontak bila dan nai bersorak. “Cie kalian mau pacaran.”
Melihat Sha yang tersipu membuat mereka semakin menyorakinya jika Yusuf tidak menyela. “Sudah kalian duluan hanya sebentar kok.”
Nai dan Bila akhirnya menuruti Yusuf untuk pergi duluan ke kelas. Setelah mereka pergi Yusuf mengajak Sha untuk menuju kelas dengan jalan beriringan.
“Sha.”Panggil Yusuf.
“Iya kak."
“Maaf.”
Yusuf menghentikan langkah Sha. Untung saja koridor sekolah sepi karena sudah masuk kelas. Yusuf menatap Sha dalam, perasaan bersalah itu selalu menghantuinya. Entah kenapa Yusuf merasa tidak bisa untuk marahan dengan Sha. Melihat mata Sha yang teduh kilatan amarahnya jadi hilang entah kemana.
Yusuf mengangkat dagu Sha yang menunduk sehingga mata mereka menatap satu sama lain. Jantung Sha berpacu dengan cepat. Yusuf juga tidak mengerti, melihat Sha menangis kemarin dirinya seolah bisa merasakan kesakitan yang dirasakan Sha.
“Gue bener-bener minta maaf, kemarin gak bermaksud mengabaikan atau tidak menjawab pertanyyan lo. Gue juga bener-bener gak bisa jawab takutnya akan semakin membuat lo sakit.”
Sha hanya membeku melihat Yusuf yang berbicara panjang lebar kepadanya. Dalam kepalanya seolah berputar kilasan-kilasan memori yang Sha juga tak mengerti apa. Di satu sisi melihat kelembutan Yusuf Sha seolah merasa aman dan damai, seperti sedang dekat dnegan seseorang.
“Gue mau tanya satu hal sama lo.”
“Apa lo bener-bener menyukai gue seperti dalam surat itu.”
“Itu-“ sha tidak tahu harus mengatakan apa mulutnya seolah terkunci.
“Kenapa bisa Sha?” Yusuf kembali bertanya membuat Sha semakin gugup.
“Kalian kok masih diluar kelas!”
“Gak denger apa bel sudah bunyi dari tadi!”
Teriakan itu membuat Shad an Yusuf gelagapan.
“Kamu lagi Yusuf ketua osis kok mencontohkan yang tidak baik.”
“Iya pak ini lagi mau ke toilet.” Alibi Yusuf.
“Kak aku duluan ya.” Sha buru-buru kabur untuk menghindari pertanyaan Yusuf.
“Sha tunggu.”
“Tunggu apa kagi masuk kelas sana.”
Dengan lesu Yusuf berjalan ke kelasnya. “Baik pa.”
Guru yang memergok Shad an Yusuf itu hanya geleng-geelng kepala melihat kelakuan remaja zaman sekarang.
“Anak-anak jaman sekarang itu senangnya berduaanm di tempat sepi lagi untung saya datang kalau tidak bakalan ada setan nanti.”
“Kalau gitu saya setannya dong karena menghampiri mereka.
“Ihhh.”
__ADS_1