
Sha memainkan jari-jarinya dengan gugup, “Boleh gak kalau minta di anterin ke rumahnya kak Yusuf.”
Seketika Akbar langsung mengerem mobilnya secara mendadak. “Sha kamu gak lagi ngigau kan? Atau otak kamu jadi berubah gara-gara kehujanan?” tanya Akbar dengan nada tidak santai. Gimana mau santai dia kesal dengan Sha yang mau nungguin Yusuf sampai kehujanan dan sekarang malah mau ke rumahnya. Akbar bingung sekaligus kesal.
Mata Sha mengerjap kaget, “tadi Mama kak Yusuf nelpon. Di suruh ke rumahnya gitu kak.”
Akbar menghela napas kasar, dia kembali melajukan mobilnya. “Ini beneran Mama Yusuf yang hubungi lo kan?” Sha mengangguk.
“Oke gue anterin kali ini.”
Di tengah hujan yang deras mereka saling diam. Sha tidak berani memulai percakapan terlebih dahulu dengan Akbar. Meski ingin berkata bahwa dia kedinginan dengan ac mobil Akbar, Sha tetap tidak bisa mnegucapkannya. Mulutnya seolah terkunci dan hanya bisa meremas jari-jarinya dengan pelan.
Melihat gelagat Sha yang aneh Akbar menoleh kebetulan sedang berhenti di lampu merah. “Sha kenapa?” Sha hanya menggeleng kaku.
Akbar tampak khawatir melihat wajah pucat Sha, “Sha beneran gak apa-apa?”
“Di ngin.” Akbar menatap Sha tak mengerti.
“Di ngin kak, mati in ac nya.” Ucap Sha terbata.
Sha seperti punya trauma terhadap dingin. Semenjak kecelakaan waktu itu, di tambah dengan peristiwa tenggelamnya di sungai. Sha jadi merasa takut kalau hujan ataupun kedinginan. Sha seolah berada dalam ruangan gelap tanpa udara.
Melihat Sha yang semakin menggigil Akbar mencari-cari jaketnya di jok belakang. “Sha pakai ini dulu biar dinginnya ilang.”
Sha menerimanya dengan tangan gemetar. Memakainya dengan pelan-pelan dan langsung memeluk dirinya sendiri. Akbar juga mematikan ac mobil dan kembali melajukan mobilnya.
“Sha sudah berapa lama lo nunggu di halte?”
Kepala Sha menoleh kea rah Akbar, “sat u jam.”
“Satu jam?!!” Akbar memukul setir mobil dengan keras.
“Lo itu bodoh atau gimana sih?!” Sha kembali menunduk, tidak berani menatap Akbar yang seperti orang kesurupan kalau marah.
“Mending sekarang kita pulang!” Akbar mencoba memutar balik kemudi.
“Jangan!” tangan Sha yang dingin mencegah tangan Akbar yang akan memutar balikkan mobilnya.
Akbar terdiam kaku di tempatnya, tangan Sha benar-benar dingin dan dia khawatir terjadi sesuatu dengan Sha. “Sha please kali ini aja gue moon sama lo, lebih baik sekarang kita pulang. Lo perlu istirahat.” Tegas Akbar yang tidak dihiraukan oleh Sha.
“Kak aku mohon. Aku udah janji dengan Mama Yusuf kak.” Mohon Sha, berusaha melunakan Akbar.
Untung saja mereka berenti terlebih dahulu di pinggir jalan. Akbar mencengkram setirnya kuat-kuat. “Kak aku gak apa-apa kok, anterin aku kesana ya.” Pinta Sha dengan mata sayunya yang mmebuat siapa saja akan luluh.
Akbar bingung dengan jalan pikiran Sha. Akbar tahu Sha sudah janji dengan Mama Yusuf, tapi dia juga harus memperhatikan kondisi dirinya sendiri yang tidak baik-baik saja. Sha bilang dia tidak apa-apa? Tidak apa-apa bagaimana tubuhnya menggigil begitu, wajah putinya semakin pucat.
Akbar menatap wajah Sha yang masih menampilkan tatapan memohonnya. “Oke fine, gue naterin ke rumah Yusuf, tapi janji satu hal kalau disana lo kenapa-kenapa gue gak akan segan-segan mukul Yusuf.”
Wajah pucat Sha menampilkan secercah sinarnya, Akbar memang selalu menjadi penolongnya. “Kak terima kasih.”
“Gue gak butuh ucapan terima kasih untuk ini.”
“Aku… itu terima kasih karena nolong Sha di sungai.” Akbar jadi tersedak ludahnya sendiri. Ingatannya kembali pada dia yang memberikan napas buatan untuk Sha.
Kenapa Akbar merasa gerah sekarang, “Sha gue buka jendelanya boleh?”
Sha menatap Akbar tidak mengerti. Langsung saja Akbar membuka sedikit kaca mobilnya. Dinginnya hujan langsung menusuk kulitnya yang hanya memakai kaus. Tetap saja wajah Akbar masih terasa panas mengingat hal itu. Sha sih kenapa mengingatkan kejadian itu lagi.
“Kakak gak kenapa-kenapa kan?” gantian Sha yang menatap Akbar khawatir karena duduk dengan gelisah di kursi kemudi.
“Gak apa-apa kok, hanya sedikit kepanasan.” Jawab Akbar yang kini mengipasi wajahnya dengan sebelah tangan.
Sha menatap tubunya yang maish terbungkus jaket kebesaran Akbar. Sha masih merasa kedinginan, kenapa Akbar kepanasan ya? Tanya Sha dalam hati. Sha mengambil sesuatu dari dashboard.
“Sha apa yang kamu lakuin?!” teriak Akbar seraya menjauhkan tangan Sha dari wajahnya.
Sha menatap Akbar bingung, bukannya Akbar bilang kepanasan. Sha sedang menolong Akbar yang berkeringat itu dengan mengusap wajahnya menggunakan tisu, tapi Akbar malah memarahinya. “Kakak kenapa sih?” tanya Sha bingung.
“Gak apa-apa, udah gak usah ngelakuin yang aneh-aneh.”
__ADS_1
Memangnya Sha melakukan hal aneh apa, tanyanya dalam hati. Sejak tadi yang aneh itu Akbar, tiba-tiba memarahi Sha yang kehujanan, sekarang memerahi Sha yang menolongnya. Maunya apa sih kakak kelas menyebalkannya ini.
Akbar melirik Sha dari ekor matanya. Dia kini sibuk mengatur jantungnya yang berdetak tidak karuan. Pasti ada yang salah dengan dirinya, apalagi ketika Sha menyentuh wajahnya. Sesuatu dalam tubunya seolah bergejolak, entah apa Akbar sendiri tidak mengerti kenapa jadi begini.
Hati Akbar mendadak lega karena rumah Yusuf sudah terlihat. Akbar menyebutkan tujuannya kepada satpam di rumah Yusuf. Hujan hanya menyisakan rintiknya saja. Walau begitu tetap saja mereka berdua butuh payung untuk menghindari hujan.
Akbar menuntun Sha yang memeluk tubuhnya sendiri, dia juga mengetuk pintu rumah. Bukan Mama Yusuf yang membukanya, mereka di suruh menunggu di ruang tamu terlebih dahulu.
***
“Sha ya ampuh kamu kenapa?” tanya Mama Yusuf heboh ketika melihat kondisi Sha yang memakai seragam basah kuyup. Meski sempat di keringkan menggunakan handuk tetap Sha seragam Sha yang basah tidak terlihat kering. Jaket yang di kenakannya juga ikut basah.
“Tidak apa kok.” Sha mengusap kedua tangannya agar hangat.
“Bibi, Rio.” Teriak Mama Yusuf memanggil pembantu dan Rio yang sedang sibuk di kamar atas.
Dengan sigap mereka menghampiri nyonya rumah. “Iya nyonya.” Ucap pembantunya.
“Tolong ambilin handuk yang bersih di kamar saya.” Pembantunya segera melesat pergi.
“Rio kamu tolong keluar suruh supir untuk membeli baju baru yang seukuran Sha.”
“Tidak usah tante, jangan repot-repot.” Ucap Sha sungkan.
“Kamu mau pakai seragam it uterus-terusan?”
Sha mendadak melirik Akbar yang pura-pura cuek dan memperhatikan foto keluarga yang selalu dilihatnya ketika kemari. “Tante aku beneran baik-baik aja kok.”
“Enggak, Rio pokoknya kamu pesenin itu ke supir.”
Tangan Rio hormat, mirip petugas upacara. “Siap tante.” Rio bergegas keluar rumah untuk memanggil supirnya.
“Ini nyonya handuknya.” Mama Yusuf memberikan handuk itu kepada Sha, dengan canggung Sha menerimanya.
Mama Yusuf mengajak Sha untuk ke kamar mandi untuk mandi air hangat, sembari menunggu pakaiannya datang. “Kamu tunggu disini sampai Rio dan sopir datang ya.” Ucap Mama Yusuf kepada Akbar sebelum pergi.
Mama Yusuf juga berpesan untuk membuatkan minuman hangat kepada pembantunya. Dia dan Sha berjalan menuju kamar mandi di lantai dua. Melihat Sha yang memeluk dirinya sendiri membuat jiwa keibuannya menjadi iba. “Sha masih dingin?”
“Masih dingin?”
“Sudah mendingan kok.”
Tangan Mama Yusuf terulur untuk menggenggam tangan Sha. Mama Ysuuf jadi berpikir kalau benar Sha memang anaknya yang hilang, tentu saja dia merasa sangat senang. Tidak terasa cairan bening turun ke pipinya. Sebelum Sha melihatnya dia segera menghapusnya.
Mereka masuk ke dalam kamar mandi yang besarnya dua kali lipat dengan kamar mandi di rumah Sha. Mama Yusuf mengatur bathub menjadi air hangat dan mulai megisi bathub dengan air hangat. “Kamu mandi dulu ya, handuknya ada di gantungan. Tante ke kamar sebelah dulu, nanti kalau sudah selesai kamu kesana aja.” Sha mengangguk mengerti.
Air hangat mulai membasahi kulit Sha yang dingin. Tubuh Sha menghangat, dia juga merasa relaks. Sha menenggelamkan dirinya dalam bathub. Dia memejamkan matanya.
“Mama..tolong”
“Tolong….”
“Huaaa.” Kepala Sha kembali naik ke permukaan. Kenapa dia jadi mengingat peristiwa tenggelamnya di sungai. Tubuh Sha jadi terdiam kaku. Segela memori menyakitkan itu kembali hadir dalam ingatannya. Tubuh yang sudah relaks kembali menggigil.
Tok tok tok
“Sha belum beres mandinya?” sahut suara dari luar kamari mandi.
Sha mendudukan tubunya, menarik diri untuk bangkit dan mencari handuk. Setelah ketemu buru-buru dia memakainya dan keluar dari kamar mandi. Sha menemukan Mama Yusuf yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi dengan wajah khawatir.
“Sha ini sudah hampir dua puluh menit dan kamu belum keluar juga, tante jadi khawatir.” Melihat Mama Yusuf yang berkaca-kaca membuat Sha merasa bersalah.
“Maaf tante sepertinya tadi aku ketiduran.”
Sesal Sha yang menundukkan kepalanya.
Mama Yusuf langsung mmebawa tubuh Sha dalam pelukannya. Tubuh Sha mematung, jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Sha jadi bertanya-tanya dalam hati, kenapa pelukan Mama Yusuf terasa nyaman sekali, padahal mereka bukan siapa-siap. Sha segera melepaskan pelukannya mengingat dirinya hanya anak dari supir dari keluarga Mama Yusuf.
.
__ADS_1
Giliran Mama Yusuf yang mematung karena perlakuan Sha yang secara tidak langsung menolak pelukannya. Jujur saja dia merasa senang bisa memeluk Sha seperti ini.
“Maaf tante.”
“Tante yang salah kok meluk kamu tiba-tiba. Ayo sekarang ganti baju, nanti kamu masuk angin.”
Mama Yusuf mengajak Sha memasuki kamar yang serba berwarna pink. Sepertinya ini kamar perempuan, pikir Sha. Apakah Mama Yusuf punya anak perempuan? Mungkin kakaknya Yusuf asumsi Sha.
“Kamu ganti baju dulu, tante mau siapin makanan ke bawah dulu.”
“Pakainnya di sudah tante siapkan di kasur.” Mama Yusuf meninggalkan Sha sendirian yang tampaknya sedang memperhatikan kamar itu. Dalam hati dia berpikir semoga saja kalau memang benar Sha bisa mengingatnya.
***
“Ini kamar siapa ya?”
Tanya Sha pada cermin yang memantulkan dirinya. Kalau kamar kakaknya Yusuf pasti bukan begini rupanya. Masa di kamar kakaknya banyak sekali boneka berbie. Kalau kamar adiknya, rasanya Sha tidak pernah bertemu dengan adiknya itu. Kalau benar berapa usia adiknya? Melihat pernak pernik yang untuk anak kecil Sha jadi berpikir adik Yusuf masih kecil, mungkin sekitaran umur 5 atau 6 tahun. Masa sih, jauh sekali perbedaan usianya dengan Yusuf yang SMA.
Sha memperhatikan dirinya di cermin. Pakaian yang di belikan Mama Ysuuf ini sangat pas di tubunya. Gaun selutut yang berwarna biru muda, dengan model tangan yang seperempat. Sha merasa tidak pantas memakai baju yang sepertinya mahal ini.
Sha melihat kasur da nada sebuah pakaian lagi, jenas dan sebuah kaus pendek. Sha akan memakai ini saja sepertinya. Dia lebih nyaman memakai pakaian kasual daripada semi formal. Selesai memakai pakaiannya Sha mencoba mencari sisir rambut.
Sha sudah mencari di sekitar tempat terbuka, tapi dia tidak menemukannya. Sha ingin mencari sisir itu di laci, tapi dia takut lancing jika membongkar kamar orang lain. Sha bingung sendiri, dia akhirnya memilih untuk duduk di kasur.
“Apa ini?” Sha seperti menduduki sebuah barang yang keras. Sha beranjak dari kasur dan membuka selimut yang didudukinya tadi. Ada sebuah frame kayu disana.
Sha mengambilnya, ada foto sebuah keluarga yang terlihat bahagia disana. Seorang anak laki-laki yang menampilkan ekspresi datarnya, berbeda dengan seorang anak perempuan yang tersenyum ceria. Kedua orangtua yang merangkul mereka. Sha mengenali wanita muda yang ada di foto itu yang merupakan Mama Yusuf. Laki-laki dewasa di foto ini kemungkinan Papa Yusuf.
Anak laki-laki itu…Yusuf? Tanya Sha dalam hati. Sha memperhatikan dengan seksama. Anak laki-laki itu bukannya, anak laki-laki yang ada di mimpinya kemarin. Dia yang menengkan seorang anak perempuan yang Sha tidak ingat dengan jelas wajahnya itu.
Apa anak perempuan itu adik Yusuf? Dimana dia sekarang?
Kepala Sha berdenyut, pusing yang teramat sakit membuat Sha tanpa sadar melepaskan frame foto itu.
Brak
Sha terduduk di lantai. Tangannya memegang kedua kepalanya yang berdenyut hebat. Bayangan seorang anak laki-laki yang selalu di panggil Yusuf oleh anak perempuan, juga anak laki-laki yang ada di foto itu.
“Sha.” Teriak Mama Yusuf dari luar kamar.
Akbar, Rio dan Mama Yusuf yang menunggu Sha di luar segera saja menghampiri Sha yang memegang kepalanya. Di bantu dengan Akbar dan Rio Mama Yusuf membaringkan Sha di tempat tidur. Sha tetap saja memegang kepalanya.
“Sha kamu gak apa-apa?”
“Rio kamu ambil air putih di bawah, Akbar kamu coba panggil dokter.”
“Iya tante.”
“Iya tante.” Ucap Akbar dan Rio bersamaan, mereka segera saja bergegas keluar kamar.
“Sha kamu gak apa-apa kan?” tanya Mama Yusuf lagi.
Sha mencoba memejamkan matanya, mencoba menghapus bayangan-bayangan yang sempat hadir dalam otaknya. Tangannya juga tidak memegang kepalanya lagi. Sha masih berusaha mengusir bayangan itu dan mengatur napasnya yang memburu.
Rio datang dan memberikan segelas air putih kepada Mama Yusuf. “Sha ini minum dulu.”
Mama Yusuf membantu Sha untuk duduk.
Sha menerima gelas itu, “terima kasih tante.”
“Sudah enakan?” Sha mengangguk.
“Tante ada yang ingin Sha tanyakan?”
Mama Yusuf mendadak gusar, dia memandang Rio. Rio mengangguk sebagai tanda bahwa ini kesempatan mereka untuk mengetahui kebenarannya. “Iya Sha?”
“Kedua anak kecil yang ada di foto itu siapa?” tanya Sha yang kini menunjuk frame foto yang telah pecah kacanya.
Mama Yusuf tertegun, dia jongkok dan mengambil frame itu. Mama Yusuf menyingkirkan pecahan kaca. “Mereka…”
__ADS_1
“Mereka anak tante Sha.”
Jantung Sha berpacu dengan kencang.