
“Sha serius lo gak apa-apa?” tanya Bila yang terlihat khawatir akan kondisi Sha setelah di tolak kakak kelas tidak punya hati itu- julukan dari Bila untuk Yusuf.
“Aku gak apa-apa kok,” jawab Sha sambil melihat ke arahkerumunanyang masih ramai itu.
Setelah kakak kelasnya berkata demikian Sha tidak mengatakan apa-apa dan langsung pergi begitu saja tanpa menghiraukan sahabatnya yang menyusulnya.
“Sha gue khawatir nih,” gelisah Bila sambil menggoyangkan tangan Sha supaya berhenti berjalan.
“Iya Sha gue juga nih,” ucap Nai tak kalah cemasnya.
Sha menghela nafas pelan, semuanya di luar dugaan. Dia yang menang surat cinta, lalu di suruh maju ke depan lalu..ah dia tidak bisa melanjutkan lagi air matanya sudah akan menetes. Sha kembali melihat kedua sahabatnya yang terlihat khawatir itu.
Sha menggeleng pelan, dirinya belum bisa bicara apa-apa sekarang karena yang di inginkannya hanyalah pulang llau memeluk erat boneka kesayangannya, sambil menangis mungkin.
Mereka terus membujuk Sha yang masih terdiam sambil berjalan ke arah kelas untuk mengambil tas lalu pulang, hanya itu yang di inginkannya sekarang. Tidak dengan berbicara kepada kedua sahabatnya.
“Sha gue kenal banget loh ayo dong ngomong.” Bila terus mencoba membujuk Sha untuk bercerita.
“Udah Bil mungkin dia butuh waktu sendiri” lerai Nai.
Akhirnya mereka meninggalkan Sha untuk berjalan sendirian ke arah kelas, Nai benar mungkin mereka harus membiarkan Sha menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Mereka pun berbalik berjalan kembali ke arah lapangan untuk melakukan sesi foto dengan teman juga kakak kelas sebagai kenang-kenangan.
Sementara Sha setelah selesai mengambil tas nya dia tidak kembali ke lapangan melainkan ke taman belakang yang jarang bahkan tidak ada pengunjungnya itu. Seperti biasa Sha duduk di bangku dimana dia pertama kali kesini.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia menangisi seorang cowok yang bukan siapa-siapanya itu. Dia sadar itu salah tetapi rasa sakit hatinya meruntuhkan itu. Tanpa sadar air matanya sudah mengalir deras dan menjadi sebuah isakan ketika angina sepoi-sepoi menerpa wajahnya seolah memberitahunya untuk mengungkapkan segala kesedihannya.
Sementara itu Akbar yang sedang terlelap di atas pohon, sayup-sayup mendengar sebuah tangisan seorang cewek. Seingatnya dia tadi masih sendirian di taman ini. Akbar jadi teringat akan gossip mengenai taman ini.
Jangan-jangan.. ah masa sih dia percaya gossip murahan. Akbar menggeliat pelantanpa sengaja sepatu Akbar jatuh ke bawah.
“Awww,” mendengar ringisan seorang perempuan membuat Akbar turun ke bawah.
Hap
Dengan mudahnya Akbar turun dari pohon yang menjadi tempat tidurnya ketika sedang suntuk. Akbar sangat terkejut ketika melihat seorang gadis sedang menangis dan lebih terkejut melihat yang menangis itu Shakila.
“Kok lo bisa ada disini?” tanyanya bingung dan terkejut karena semuanya diwajibkan hadir di lapangan.
Melihat Sha yang terlihat murung dan tidak berminta menjawab pertanyaannya, Akbar segera mengambil sepatu dari tangan Sha lalu duduk di sampingnya sambil memasang sepatunya kembali.
“Lo kenapa?” tanya Akbar pelan seperti tahu perasaan sedang Sha. Sha tidak menjawabnya lagi, oke mungkin Akbar di sangka bertanya kepada pohon di sebelahnya.
Keduanya tiba-tiba di landa keheningan yang membuat Akbar merasa tidak nyaman. Entah kenapa dia sangat suka ketika menggoda Sha, apalagi melihat Sha terlihat marah ke arahnya. Akbar di kejutkan kembali dengan Sha yang tiba-tiba menangis lagi yang membuat posisi Akbar menjadi sulit. Dia tidak ingin sampai ada ynag mendengar tangisan Sha bisa-bisa dia di sangka yang tidak-tidak lagi.
“Sha.” Akbar berujar pelan memanggil gadis yang belum berhenti menangis itu.
“Lo kenapa?” tanya Akbar lembut. Keheningan kembali menjawab pertanyaan Akbar.
Fiks Akbar frustasi rasanya mendapati gadis yang suka menangis tiba-tiba tanpa tahu penyebabnya. Akbar juga tidak bisa meninggalkan Sha sendirian di taman, apalagi Sha termasuk baru menginjakkan kaki di daerah sini dan Akbar tidak ingin Sha kenapa-napa.
Selama beberapa menit Akbar membiarkan Sha menangis karena memang mungkin itu yang di butuhkan Sha. Akbar merogoh saku celananya dan memberikan sebuah saputangan polos berwarna biru muda kepada Sha. Sha awalnya menolak tapi tak urung menerimanya juga.
“Terima kasih,” ucap Sha setelah dirasa senang. Teringat dia menangis di depan seorang cowok Sha merasa sangat malu sekarang.
“Maaf,” lanjutnya. Akbar menatap Sha bingung.
“Aku udah nangis disini,” ucap Sha sambil menunduk.
Akbar terkekeh pelan. “Santai aja kali asal jangan sering aja serem juga soalnya tiba-tiba nangis nanti di kira gue ngapa-ngapain elo lagi,” ucap Akbar masih sambil terkekeh.
Sha tersenyum manis membuat Akbar meleleh seketika, senyuman Sha seperti penyejuk dikala dahaga. Akbar juga tidak mengerti kenapa dia bisa nyaman berada di dekat Sha, padahal dia selalu ribut dengan Nai yang merupakan tetangganya dari kecil. Akbar merasa Sha mempunyai daya tarik tersendiri di matanya, menarik.
Akbar berdehem pelan untuk mengurangi kecanggungan di antara mereka. Akbar melihat kea rah langit yang meanmpilkan warna jingga, sudah sore pikirnya. Akbar melihat kea rah Sha yang terlihat anteng menatap sepatunya itu.
__ADS_1
“Boleh gue tanya Sha.” Sha hanya mengangguk.
“Lo kenapa nangis, lalu kok kesini bukannya tadi di lapangan lagi rame?” Akbar memberondong pertanyaan.
Sha terdiam sebentar lalu menunduk teringat memori di lapangan tadi. Akbar yang melihat gelagat Sha hanya menghela nafas pasrah, mungkin Sha memang belum mau bercerita. Akbar memang benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi di lapangan, karena pas penutupan tadi dia tidur di taman ini.
Akbar menatap langit yang mengeluarkan rona jingga yang membuat Akbar terpana. Seakan membawanya kembali kepada memori masa lalu, menarik paksa dirinya untuk mengenang memori yang sudah disimpannya rapat-rapat.
“Lo pernah gak rindu sama seseorang yang bahkan lo sendiri gak tau dimana keberadaannya,” tiba-tiba saja Akbar berucap demikian.
Melihat Sha yang tidak akan membalas ucapannya Akbar kembali bercerita.
“Seseorang yang udah buat hidup gue berwarna ketika kecil, tapi sekrang gue gak tau dia dimana kata orangtuanya sih sudah meninggal waktu kecelakaan . Tapi sampai saat ini belum ada kabar apapun tentangnya lagi.” Sambil melihat langit dan menerawang kejadian yang sudah lama terjadi itu.
Sha yang mendengar cerita Akbar kini menoleh dan bahkan menatap Akbar. Seperti mencari sesuatu di bola matanya, yang tanpa sadar membuat keduanya membeku.
Degg
Sha segera mengalihkan pandangannya kepada apapun. Menatap mata Akbar yang terlihat sendu membuat ingatannya berkelebat tentang sosok laki-laki yang selalu ada dalam impiannya. Entah siapa sosok itu tapi dia selalu hadir dalam mimpinya ketika dirinya sedang sedih.
“Woy Sha kok malah ngelamun.” Akbar mengibaskan tangannya di depan wajah Sha.
Sha tersentak kaget. “Eh iya kenapa kak?”
“Lo yang kenapa tadi nangis sekarang bengong.” ucap Akbar membuat Sha salah tingkah karena malu mengingat dia tadi menangis di hadapan cowok yang tidak terlalu dikenalnya itu.
“Eh aku gak apa-apa kok kak, tadi kelilipan.” Sha menjawab dengan gugup.
“Mana ada kelilipan nangis kejer kayak tadi,” ucap Akbar dramatis.
Saat Sha ingin membantah Akbar sudah berbicara lagi.
“Em Sha lo pernah merindukan seseorang yang sudah gak ada?” Akbar menatap Sha dengan rasa penasarannya.
“Aku gak tau kak,” jawab Sha akhirnya ketika melihat tatapan bingung Akbar.
“Kok gak tau?”
“Akuu-“
“Shaa,” teriakan seorang, tidak dua orang wanita yang membuat Shad an Akbar menoleh ke arah belakang mereka.
Naila dan Bila berdiri di depan tempat masuk ke taman ini. Mereka mengerutkan keningnya melihat Sha yang seperti sedang mengobrol dengan seorang cowok. Tapi wajahnya tidak terlihat jelas karena Akbar langsung memalingkan wajah setelah melihat siapa yang memanggil Sha tadi.
“Kak aku harus ke mereka kayaknya,” ucap Sha sambil bangkit dari duduk.
“Tunggu.” Akbar menahan pergelangan tangan Sha yang membuat Sha berjenjit kaget.
“Kalau mereka tanya siapa cowok yang ngobrol sama lo jangan bilang itu gue bilang aja kakak kelas gak tau namanya tadi lupa kenalan.” Ucapan Akbar yang membuat Sha kaget dan bingung. Dia tidak pandai berbohong.
Akhirnya Sha hanya mengangguk dan Akbar melepaskan cekalannya. Sha berjalan setengah berlari mengahmpiri sahabatnya. Sesampainya disana tatapan kedua sahabatnya itu membuat Sha risih.
“Lo sama siapa tadi Sha?” tanya Nai curiga membuat Sha gelagapan.
“Lo daritadi disana?” pertanyaan Bila menyelamatkan pertanyaan Nai untuk Sha.
Sha mengangguk dan berjalan mendahului mereka. Kedua sahabat itu berdecak melihat kelakuan Sha.
“Sha lo tau gak kita berdua nyariin elo ke penjuru sekolah taunya lagi asik ngobrol sama cowok,” kilatan amarah terlihat di wajah Nail, Sha menunduk.
“Maaf.”
“Udah-udah kok jadi pada berantem, lo juga Nai kan lo tau Sha perlu nenangin diri tadi.” Bila melerai yang membuat Nai menghela nafasnya.
__ADS_1
Mereka berjalan keluar sekola karena memang sudah sore bahkan hampir memasuki waktu magrib. Sekolah terlihat sedikit lenggang dan hanya ada beberapa panitia yang masih berkeliaran.
“Sekolah udah bubar dari jam 5 dan sekarang sudah mau masuk set 6. Senin kita resmi menjadi warga sekolah ini memakai seragam putih abu.” Nai berkata sedikit ketus.
“Iya Sha semoga saja kita sekelas lagi.” Bila mengamit lengan Sha dengan semangat. Sha tersenyum melihat tingka Bila.
Sesampainya di gerbang sekolah mereka menemukan sopir Nai dan Bila sudah datang. Sha menengok ke kanan dan kiri untuk melihat apakah jam segini maish ada angkot yang lewat atau tidak. Sha bergerak gelisah kalau sampai angkot sudah tidak ada.
“Sham au bareng gak?” tawar Bila saat mobilnya sudah berhenti di hadapan mereka.
“Eh gak usah Bil, mau nunggu angkot aja,” jawab Sha tak mau merepotkan Bila karena rumah mereka beda arah begitu pun dengan Nai.
“Gue duluan ya Bil, Sha,” teriak Nai yang sudah masuk ke mobil.
Mereka mengangguk, Bila masih menunggu Sha untuk naik angkot tapi setelah 15 menit berlalu belum ada 1 pun angkot yang melewati mereka, hanya ada dari arah berlawanan.
“Sha ikut gue aja yuk,” ajak Bila lagi.
“Gak usah Bil nanti juga ada kok angkotnya,” tolak Sha halus.
“Tapi ini udah mau jam 6 Sha.” Bila melihat jam di pergelangan tangannya.
Saat hendak berbicara lagi. “Non tadi ibu bilang sudah nunggu non,” teriak supir BIla.
“Tuh Bil udah duluan aja gak apa-apa kok masih ada pak satpam ini masih ada panitia kan di dalam.” Sha menjawab sambil menengok ke arah dalam sekolah yang terdapat segerombol siswa yang akan pulang.
Bila pasrah dan masuk ke dalam mobilnya, untuk terakhir kalinya Bila meminta untuk bareng tapi tetap di tolak Sha. Akhirnya Bila masuk ke dalam mobil dan melambaikan tanganya begitu mesin mobil menderu.
Sepeninggal Bila Sha duduk di halte bus, kalau saja ke daerahnya ada bus pasti dia tidak perlu menunggu seperti ini karena bus lalu lalang sejak tadi. Sha menunduk menatap sepasang sepatunya, sampai tidak sadar bahwa segerombol panitia telah keluar dari sekolah. Mereka tidak melihat Sha yang tengah menunduk karena buru-buru ingin pulang ke rumah untuk istirahat setelah acara melelahkan ini.
Yusuf yang melihat Sha menghampirinya ketika semua anggota osis dan panitia sudah pulang. Dia merasa bersalah karena tadi telah membuat Sha malu.
“Sha.” Merasa ada yang memanggilnya Sha mengangkat wajahnya dan melihat kea rah seorang cowok naik motor ninja yang memakai helm full face tapi dengan kaca terbuka membuatnya bisa mengenali orang itu, Sha mendadak gelisah dan merutuk karena tidak ikut dengan Bila tadi.
“Maaf ya untuk di lapangan tapi gue bener-bener gak bisa nerima pernyataan lo,” ucap Yusuf.
Tanpa menunggu jawaban Sha di melajukan motornya dan mulai membelah jalanan. Sha yang melihat itu hanya melongo di tempatnya. Dalam hati bertanya ada apa dengan kakak kelasnya itu. Belum pulih dengan keheranan kakak kelasnya itu Sha dikejutkan oleh seorang cowok yang tiba-tiba memakaikan helm kepadanya.
“Apa-“
Belum sempat Sha protes orang itu sudah menarik Sha untuk duduk di motornya. Belum sempat membantah lagi Akbar melepaskan tangannya dari tangan Sha lalu bergerak membuka jaketnya dan menyodorkannya ke arah Sha.
“Pake, lo pulang bareng gue karena jam segini sudah gak ada angkot,” ucapan Akbar seperti titah yang mau tak mau sha menurutinya karena dia terlalu takut kalau sampai harus pulang malam.
Akbar menaiki motornya setelah di rasa Sha duduk di jok belakang motornya.
“Sha pegangan” Sha masih terdiam duduk di bangku penumpang dengan perasaan khawatir, takut dan grogi sekaligus.
Akbar gemas dengan tingkah Sha. Langsung saja Akbar menagmbil tangan Sha lalu di lingkarkan ke pingganya membuat Sha langsung melepaskan tangan mereka dan memegang ujung seragam yang di kenakan Akbar. Akbar terkekeh di depannya.
“Siap?” tanya Akbar yang membuat Sha mengangguk. Akbar pun mulai melajukan motornya dengan sedang.
“Rumah lo dimana?” Akbar bertanya sambil berteriak karena suasana jalanan cukup ramai.
Sha menyebutkan alamatnya dengan berteriak juga.
***
Naila kembali ke sekolah karena kotak pensil yang berisi hpnya tertinggal di sekolah. Mobilnya berhenti tepat di depan gerbang karena sekolah sudah sepi. Saat keluar mobil mata Naila menyipit melihat Akbar yang tengah mengajak seorang cewek untuk duduk di motornya. Naila tidak melihat dengan jelas cewek yang duduk di boncengan Akbar itu karena cewek itu memakai jaket juga helm yang biasa di kenakan Akbar.
Mata Naila membola melihat Akbar mengambil tangan cewek itu untuk di lingkarkan ke pinggangnya tetapi cewek itu langsung memegang ujung seragam Akbar.
“Ak-“ belum sempat Naila berteriak menyerukan nama cowok itu motor sudah mulai melaju. Naila mendesah dan mulai masuk ke dalam sekolah untuk mengambil benda tujuannya.
__ADS_1
Nanti dia akan tanyakan hal ini kepada Akbar saat sudah di rumah atau besok untuk mengajaknya lari pagi ah itu rencana yang bagus pekik Nai.