
Seperti biasanya Sha selalu bangun subuh untuk melaksanakan shalat subuh , lalu dia bergegas mandi dan segera menuju dapur untuk membantu ibunya membuat sarapan. Selesai sarapan dia pun segera bergegas untuk pergi ke sekolah dengan naik angkutan umum.
Saat di tengah jalan supir angkot memberhentikannya karena ada razia polisi. Semua penumpang dimintainya turun, termasuk Sha. Ada yang marah-marah karena kesal, ada juga yang hanya diam dan pasrah seperti dirinya dan lebih memilih berjalan atau naik angkutan lain.
Saat sedang berjalan dia melihat gerak-gerik seorang pencopet yang sepertinya mentargetkan seorang ibu-ibu di depannya. Belum sempat Sha berteriak dua pencopet itu sudah mengahdang sang ibu-ibu. Dengan takut Sha menghampiri mereka.
“Kalian mau apain ibu ini?” tanya Sha gugup.
Dua pencopet itu tak gentar melihat Sha tetapi malah menyeringai melihat seorang remaja.
“Sinikan barang-barang kalian,” ucap pencopet yang memakai rompi sambil menodongkan pisau.
Ibu itu hanya menggengam erat tas nya tanpa berniat memberikan kepada pencopet. Sha menatap garang ke arah dua preman itu yang membuat keduanya semakin tertawa.
“Hey anak kecil kita gak pernah takut apalagi sama lo,” ucap sang pencopet yang memakai anting dan tindik. Sha semakin gemeteran ketika ibu-ibu itu menggenggam lengannya.
Tidak menyerah Sha juga melihat sekeliling yang memang sepi hanya lalu lalang kendaraan yang melaju dengan cepat.
“Mau apa lo hah anak kecil,” pencopet tersebut mendekati Sha.
“Itu ada polisi,” teriak Sha lantang sambil mengajak ibu-ibu itu untuk kabur. Mereka berdua terkecoh dan menoleh ke arah yang di tunjuk Sha, seketika menyesal karena mereka terkecoh.
Sha dan Ibu tersebut segera kabur melarikan diri, hingga di pertengahan jalan ibu-ibu terjatuh dan Sha segera membantunya. Kondisi ibu itu sepertinya tidak memungkinkan untuk lari lagi, Sha pun akhirnya memutuskan untuk mencari tempat persembunyian sekaligus mengobati kula ibu tersebut.
Mereka sembunyi di supermarket yang cukup ramai sekaligus bisa mengobati luka ibu-ibu yang di tolong Sha. Sha memapah Ibu tersebut dan mendudukannya di teras depan supermarket. Sha membeli obat dan air minum terlebih dahulu setelah itu mulai mengobati lukanya.
“Maaf ya tante,” ucap Sha sambil mengoleskan betadine dan alcohol pada tangan ibu-ibu yang terluka itu.
Saat sedang mengobati luka, datang seorang anak kecil sambil menangis sesenggukkan karena berpisah dengan ibunya. Sha pun mencoba menenangkan anak kecil tersebut setelah dia selesai mengobati kula ibu-ibu tadi dan menggendong anak kecil itu seraya meberi permen agar anak tersebut tidak nangis lagi.
Setelah lima menit menunggu orantua anak tersebut pun datang dan mengucapkan terima kasih kepada Sha dan Ibu-ibu yang di tolong Sha. Setelah anak itu pergi Sha mengantar Ibu tersebut ke butik yang di tujunya dengan naik taksi karena kalau jalan kaki bisa-bisa dia terlambat datang ke sekolah.
“Terimakasih ya nak kamu sudah mau menolong ibu,” ucap ibu itu tulus.
“Tidak apa-apa kok bu sudah sewajarnya kan kita membantu sesama,” ucap Sha seraya tersenyum manis.
“Oh iya nama kamu siapa? kamu mau sekolah kan nanti naik taksi ini aja tante yang bayar.”
“Nama saya Shakila tante, gak usah repot-repot tante sha bisa naik angkot kok,”ujarnya tulus.
“Gak apa-apa anggap saja sebagai rasa terima kasih tante sama kamu, pak nanti habis antar saya ke butik antar anak ini kesekolahnya ya.”
“Jika saja tas ini bukan berisi dokumen penting tante akan menyerahkannya, tapi di dalamnya banyak dokumen penting yang harus tante serahkan hari ini juga kepada teman tante.”
“Oh iya nama tante Ani, kalau kamu gak keberatan tante boleh minta nomor telepon mu. Siapa tahu nanti kita bertemu lagi.” Sha mengangguk dan memberikan ponselnya kepada tante Ani.
Tanpa sengaja tante Ani melihat kalung Sha.
“Bintang?” gumam tante ani pelan.
“Apa tante?” tanya Sha yang memang tidak mendengar gumaman tante Ani.
“Eh tidak apa-apa kok Sha, tante hanya teringat dengan anak teman tante.”
Sha melihat raut wajah tante Ani menjadi berbeda seperti sedang memikirkan sesuatu ah Sha tidak berpikiran buruk lagipula mereka baru mengenal tadi.
Setelah sampai di butik Sha memapah Tante Ani terlebih dahulu, sebelum masuk tante Ani kembali mengucapkan terima kasih kepada Sha. Dan Sha pun kembali lagi naik taksi untuk ke sekolah karena sebentar lagi akan masuk semoga saja tidak terlambat.
***
Sha berlari dari gerbang menuju kelasnya karena bel sebentar lagi akan segera berbunyi. Teman-temannya melihat heran ke arah Sha yang terlihat seperti sudah melakukan marathon. Tanpa banyak bicara di langsung duduk di bangkunya dengan Bila.
Bila heran tidak biasanya Sha datang siang ke sekolah walaupun belum bell tetap saja ini sudah siang menurutnya.
Bila tidak menghiraukan keterkejutannya karena kali ini dia ingin mmeberikan informasi penting dan mumpung Nai sedang ke toilet.
“Sha sha lo harus tau pokoknya, tadi nai berangkat sama siapa?” tanya Bila heboh seraya menggoyangkan bahu Sha yang terlihat sangat kelelahan.
“Emang siapa sih Nai kan aku gak tau soalnya baru datang kok kamu heboh banget sih kayaknya.”
Sha mendesah pelan karena lelah dan hanya menjawab ucapan Bila dengan nada malas karena saat ini dia sedang ingin duduk dengan tenang di bangkunya. Nah ini boro-boro duduk di bangku dengan tenang kalau Nai terus bertanya juga berbicara tanpa henti.
__ADS_1
“Apaan sih kalian heboh banget seru kayaknya.” Nai datang dan langsung menghadap ke arah bangku Sha juga Bila.
Melihat Nai Bila langsung bungkam dan duduk dengan tegap juga mulai mempersiapkan alat tulisnya.
“Pokoknya Sha nanti pulang sekolah ke rumah Nai oke!” Bila setengah berbisik kepada Sha yang membuat Nai menyipit curiga.
“Ada apa memangnya?” Sha mengerutkan dahi bingung.
“Udah pokoknya nanti ikut aja lah.”
Tidak lama guru fisika pun masuk ke kelas, Bila yang memang menyukai fisika dengan semangat 45 mendnegarkan penjelasan dari guru yang memang mengasyikan.
“Eh Sha lo punya permen gak?”
Nai menengok ke arah bangku Bila dan Sha untuk meminta permen karena dia tidak suka dengan pelajarannya yang membuatnya ngantuk itu.
Bila hanya menggeleng sambil mencatat materi. Sha merogoh saku rok nya tapi nihil dia tidak menemukan satu permen pun dan malah menemukan saputangan Akbar yang belum di kembalikannya.
Sha menggelengkan kepala yang membuat Nai kecewa. Sha membungkuk untuk mengambil sapu tangan itu dan kembali meraba bordelan kata di ujung sapu tangan tersebut.
Bintang
Ulang Sha dalam hati sambil mengingat sesuatu. Tiba-tiba kepalnya pusing seperti pernah melihat sapu tangan tersebut
Bayangan dua anak kecil yang sedang berlarian mulai muncul di kepalanya.
“*Kak, tunggu dong jangan lari. Bintang capek ah mau istirahat dulu sebentar,” ucap anak perempuan yang berambut panjang.
“Uluh-uluh kacian, sini kak Yusuf elapin keringatnya,” ucap anak yang dipanggil Yusuf tersebut seraya mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan mengelap keringat di dahi anak perempuan tersebut.
“Gak usah bintang bisa sendiri,” ucapnya ketus seraya mengambil alih sapu tangan tersebut.
“Udah sana kak Yusuf main lagi,” ucapnya lagi dan segera memasukkan sapu tangan tersebut ke dalam sakunya dan berlari meninggalkan ank lelaki tersebut seraya menjulurkan lidahnya.
“Tangkap bintang kak Yusuf, wlee.” Seraya berlari menghindari Yusuf.
Tiba-tiba ada yang memanggil anak perempuan tersebut untuk segera pulang ke rumah. Setelah berpamitan kepada anak lelaki tersebut dia pun mengikuti kakaknya yang umurnya seumuran dengan anak lelaaki yang tadi dipanggilnya Yusuf.
“Kak ini Bintang mau bailikin saputangan kakak, udah bintang cuci kok. Oh iya Bintang pun menuliskan nama bintang di saputangannya itu di jahitin mamah Bintang sih hehe,” ucap anak perempuan tersebut seraya menyodorkan saputangannya.
Anak lelaki tersebut menerima saputangannya seraya mengacak-ngacak rambut anak perempuan tersebut. Mereka pun bermain kembali*
Arggghh
Mimpi itu lagi batin Sha. Kepalanya pusing dan berdenyut-denyut. Juga siapa Yusuf dan Bintang. Saat dia ingin move on dari Yusuf kakak kelasnya itu kini malah kembali lagi.
“Siapa sih Bintang itu?” tanyanya bermonolog sendiri.
Pertanyaannya sendiri semakin membuatnya pusing sehingga dia menenggelamkan wajahnya ke meja hingga membuat Bila yang sedang mencatat merasa kaget sekaligus khawatir.
“Sha, melamun aja kenapa sih cerita dong.” Bila berbisik tepat di telinga Sha yang sedang menenggelamkan wajahnya diantara tangannya. Tidak mendapatkan respon Bila pun menggoyangkan tangan Sha sedikit keras.
“Gak kenapa-napa, kurang enak badan mungkin,” Sha seraya mengangkat kepalanya untuk melihat sahabatnya itu.
“Udah lo ke uks aja , muka lo juga pucet gitu,” usul Bila karena khawatir melihat kondisi muka sha yang memang pucat.
“Iya Sha ayo ke UKS gue anter,” Nai yang mendengar percakapan mereka segera menoleh ke belakang dan mendukung usul Bila karena malas belajar fisika.
Bila menyenggol lengan Nai dan berkata ketus.”Itu mau lo.”
“Hehehe."
“Udah gak apa-apa kok gak perlu ke uks,” ucap Sha meyakinkan sahabatnya yang terlihat khawatir melihat keadaan Sha. Sha pun tidak jadi ke uks dan mengikuti pelajaraan seperti biasanya.
***
Kali ini mereka menghabiskan waktu istirahatnya di kantin dan Sha hanya pasrah ketika di seret kedua sahabatnya itu.
“Sha tadi gue belum selesai cerita kan.” Bila segera membuka percakapan setelah mereka duduk dan menunggu pesanan.
Sha hanya mengangguk karena kepalanya masih pusing dan masih penasaran dengan bayangan itu.
__ADS_1
“Udah deh Bil, Sha aja gak heboh. Kasian dia lagi sakit.”
“Elah Nai gue kan mau memberikan informasi terkini.”
Bila berlagak seperti reportem pembawa berita dan acara gossip, untuk memperkuat perannya Bila mengambil sendok dan mendekatkan ke mulutnya seolah-olah itu mic.
“Sha lo tau gak tadi Nai dianterin kak Yusuf ke sekolah.”
Deggg
Perasaan Sha menjadi tak karuan. Move on Sha dia sudah menyakitimu dengan menolak sebelum nembak dan sekarang sedang hangat-hangat dekat dengan sahabatmu. Lupakan mimpi itu, mimpi hanya bunga tidur. Selanjutnya Sha tidak mendengar ocehan Bila.
“Terus lo tau lagi gak katanya nanti malam mau ngajak nai ke pesta ulang tahun mamahnya,” lanjut Bila heboh seraya tersenyum lebar.
Sha yang awalnya tidak ingin mendengarkan kembali mendengarkan ucapan Bila. Lalu matanya membulat sempurna tapi itu tidak bertahan lama karena sesudahnya dia kembali mengehela nafas panjang.
Kali ini dugaannya tidak salah lagi bahwa kakak kelasnya itu meemang menyukai sahabatnya itu.
Walaupun itu mebuatnya sakit tapi dia tetap berusaha tersenyum di hadapan kedua sahabatnya dia tidak mau terlihat lemah dan membuat pershabatan mereka ancur.
“Oh iya sha nanti sepulang sekolah kita ke rumah Nai. Kita harus bantuin dia pilihin baju dan make up dia supaya terlihat cantik.” Bila sangat antusias, dia juga jadi tak sabar ingin cepat pulang.
“Idih gaak usah kali, gue bisa sendiri lagian tanpa mke up aja gue udah cantik kok.”
Nai dengan pedenya mengibaskan rambutnya di hadapan mereka berdua. Sha membenarkan ucapan Nai karena Nai memang cantik. Rambut sebahu dengan alis rapi alami juga bibir pink alama serta mata sedikit sipit membuatnya terlihat sangat cantik walau tanpa make up.
“Ih gak gitu Nai ini itu pesta Nai pesta masa lo mau polos aja sih. Apalagi lo kan mau ketemu camer gimana sih lo,” protes Bila.
Sha yang mendengar Bila menyebut camer berpikir bahwa Nai dan ibunya Yusuf memang dekat batinnya sedikit ngilu. Sha semakin merasa tidak pantas jika di sandingkan dengan Yusuf apalagi jika dirinyaa dibandingkan dengan Nai.
Sha pun meneliti dirinya dari ujung kaki sampai ujung rambut sanagat jauh berbeda jika di bandingkan dengan Nai. Nai yang cantik yang mempunyai hidung mancung dan terlihat seperti barbie. Sedangkan dia gadis kumel dari kampung yang berambut panjang dengan kecantikan yang tidak seberapa menurutnya.
Sebenarnya Sha gadis cantik bahkan lebih cantik daripada Nai, tapi karena dia jarang menunjukkannya di hadapan orang banyak jadi orang menganggapnya Nai lah yang lebih cantik diantara mereka bertiga. Saking asiknya melamun, Sha tidak sadar bahwa Bila menyenggol tangannya sedari tadi.
“Sha lo setuju kan sama apa yang gue bilang tadi.”
“Hah apa Bil?” tanya Sha masih lingkung.
“Itu Mamanya Akbar bakalan suka kan sama Nai?” Bila malah balik bertanya.
“Mama Akbar.” Cicit Sha pelan.
“Iya calon mertua Nai.”
Uhuk uhuk
Sha salah pendengaran apa bagaimana sampai bisa tersedak batagor kacangnya.
“Sha lo gak apa-apa?” tanya Bila sambil menyodorkan air minum.
Sha meneguknya dan berkata tidak apa-apa.
“Kita dandanin Nai pokonya dan mama Akbar pasti suka, iya kan Sha?” Bila meminta persetujuan Sha, karena tidak mau ribet dia pun hanya mengangguk saja daripada panjang urusannya.
“Pokoknya pulang sekolah nanti sha dan gue kerumah lo,” putus Bila seraya memakan baksonya dengan semangat.
Sha dan Nai hanya pasrah melihat semangat Bila yang menggebu-gebu itu. Mereka hanya mampu berdoa semoga saja tidak akan terjadi keributan nanti di rumah Nai juga benar apa yang di katakana Bila bahwa dandanan pasti akan memuaskan.
Drrrtt
Sha merogoh hpnya yang bergetar.
Sha nanti habis pulang sekolah langsung pulang ya.
Sha bimbang bagaimana ini.
“Nai, Bil nanti aku pulang duluan ya ibu sms jangan pulang telat.”
Bila sedikit kecewa tapi karena itu dari ibunya Sha Bila hanya mengangguk pasrah, sedangkan Nai juga mendesah kecewa kalau tidak ada Sha entah apa yang akan Bila perbuat kepada dirinya nanti.
Sha ada janji dengan Nai dan Bila bu, nanti Sha usahain pulang gak lebih dari jam 5.
__ADS_1