Bintang Senja

Bintang Senja
Bab 30 Pulang


__ADS_3

“Lo tenang aja bil.” Ucapan Yusuf tersebut membuat Bila seketika senang bukan main apalagi dapat makan gratisan.


“Tapi jangan di kantin sekolah ya.” Sela Nai yang berusaha menghilangkan perasaan herannya.


“Iya nanti kalian milih deh tempatnya.”


Seketika Nai dan Bila saling tatap lalu ber tos ria berdua. Dasar cewek, batin Akbar.


“Jadi gimana rencana kempingnya.” Akbar mencoba mengalihkan fokus perhatian mereka.


Kalau di bilang sih dia sekarang ingin pulang karena tidak kuat melihat Sha yang terlihat bahagia ketika Yusuf di dekatnya. Juga Yusuf yang memberikan tatapan hangatnya kepada Sha. Bikin iri yang jones saja, Akbar menggerutu jadinya.


Lampu di kepala Bila seketika bersinar. “Jadi gini Nai, gimana kalau rencana kita ke puncak itu kita nginep aja di villanya kak Akbar.”


“Boleh juga tuh.” Sahut Nai yang langsung membuat Bila membuat planning untuk rencana selanjutnya.


“Kok gue gak kepikiran sampai kesana ya padahal kan Akbar emang punya villa disana.” Gumam Nai.


“Tunggu deh kalian ngerencanain apa sih?” tanya Yusuf penasaran karena sejak tadi dia sibuk dengan Sha.


“Makanya jangan pacaran mulu kak.” Sindir Nai.


“Jadi gini kak, kata teman kelas jumat depan itu kita libur sekolah. Liburnya dari jumat sampai senin,, lumayan lama kan. Jadi kita itu mau rencanain liburan bareng gitu kak mumpung belum sibuk dengan tugas.” Jelas Bila.


Yusuf manggung-manggut, iya juga ya sebelum dia juga sibuk dengan tugas osis dan lainnya. “Gue boleh ikutan kan?”


“Ja-“ Sha baru saja akan menolak usulan itu, tapi Bila dengan semangat menyela.


“Oh tentu boleh kok kak. Ini rencananya masih mau ngajak temen-temen yang lain kok. Gimana Nai boleh kan?”


“Bo le h kok, bebas aja.” Nai jadi kikuk, dia tahu Sha tidak ingin Yusuf ikut tapi Bila sudah menyela duluan. Ini kan rencana girls time tadinya.


“Jadi gimana rencananya?”


“Ini kita masih nyusun kak, data dulu orang-orang yang mau ikut.”


“Tadinya mau tenda gitu, tapi kak Akbar nawarin vilanya. Syukur sih jadi hemat biaya.”Jelas Bila sambil mengedipkan matanya kepada Akbar.


“Dih dasar matre.” Cibir Akbar.


“Ini tuh realistis bukan matre.” Bela Nai.


“Tuh kan kata gue juga apa.” Bila dan Nai mencoba menyerang Akbar. 2 lawan 1 kalah lah Akbar yang hanya bisa pasrah dengan kedua cewek rempong itu.


“Kapan lagi mau mulai rencananya?” Yusuf jadi terlihat tidak sabar untuk ikut.


“Kami akan bahas itu lagi pas Sha keluar dari rumah sakit sih kak.”


“Gimana kalau gitu?” Bila mencoba mengusulkan hal itu yang membuat mereka setuju.


Mereka pun mengobrol banyak hal akhirnya. Hanya Akbar yang tidak terlihat bersemangat kali ini. Padahal dia yang mengusulkan kepada Sha untuk menginap di Vilanya. Kok sekarang dia seperti menyesal ya mengusulkan itu. Apalagi melihat Sha yang bahagia di suapi buah oleh Yusuf. Hatinya berdenyut sakit.


***


“Sha gue pulang dulu ya, udah lumayan sore nih takut dicariin ortu. Tadi bilangnya sebentar mau kerja kelompok.”


“Bohong sama orangtu lo bil, kualat loh ntar.” Akbar seperti kakak yang menasihati adiknya saja ketika berbicara dengan Bila.


“Siapa yang kualat siapa sih kak.” Sebal Bila, dia jadi kesal apa-apa selalu di komen oleh kakak kelasnya itu.


Nai juga heran kenapa Akbar sekarang jadi sering mengeluarkan suaranya daripada dulu. Akbar juga terlihat beda hari ini. Apa dia memang benar-benar menyukai Sha seperti yang di bilangnya tempo hari. Dia sempat melihat raut kecewa Akbar tadi, tapi itu hanya sebentar karena akbar menunjukkan raut bahagianya.


Akbar dan Bila terlihat masih saling mencibir satu sama lain, Nai geleng-geleng kepala melihat keduanya. Nai kemudian menghampiri ranjang Sha. “Sha gue juga pulang ya.”


Yusuf menoleh ke arah Nai dengan tatapan yang entah Nai juga tidak bisa mengartikannya. Sha hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih karena telah menjenguknya.


“Lo pulang sama siapa, tadi lo berangkat bareng gue kan?” pertanyaan Yusuf membuat Sha menjadi sedikit sakit hati. Dia terlihat khawatir dengan Nai, apa ini hanya perasaan Sha saja.


“Ah itu gue sama Akbar aja kak, bar gue nebeng lo.”


Baru saja Akbar menolak Nai sudah memelotinya dengan tatapan mengancamnya. Awas saja kalau lo gak mau gue bilangin tante, itulah kalimat yang sellau Nai lontarkan kalua Akbar tidak mau menuruti keinginannya. Dengan amat terpaksa Akbar mengangguk.


Bila pulang duluan karena supirnya sudah menunggu, sementara Nai harus menunggu Akbar yang pamitan kepada Sha juga Yusuf.


Akbar mencoba tersenyum ke arah Sha dan Yusuf. “Gue pamit pulang ya bro.”


Yusuf memeluk Akbar ala cowok. “Jaga Sha Baik-baik.” Bisik Akbar kepada Yusuf.


“So pasti.” Jawab Yusuf masih sambil berbisik.


“Pelukannya gak usah lama-lama kalian homo ya.” Tuding Nai yang membuat mereka segera melepaskan pelukannya.


“Yaudah Sha kalau gitu gue pulang duluan ya, maaf gak bisa antar lo pulang.”

__ADS_1


“Iya terima kasih kak, hati-hati di jalan. Nai nya juga dijaga.” Akbar hanya mengangguk dan menatap sekali lagi ke arah Yusuf yang terliat cuek dengan tatapn intimidasi Akbar.


“Yuk Nai.”


Nai melambaikan tangannya sebelum menutup pintu ruangan Sha. Di dalam perjalanannya dia bertanya kepada Akbar.


“Bar lo aneh gak?” tanya Nai dengan mata memandang pintu ruanganya Sha yang terlihat mengecil karena mereka sudah berjalan lumayan jauh.


“Aneh kenapa.” Jawab Akbar bingung.


“Itu Sha dengan Yusuf.”


“Aneh kenapa sih mereka baik-baik aja kok.” Akbar malah heran dengan Nai yang bilang Sha dan Yusuf aneh.


Nai mendadak bingung harus mulai menjelaskannya dari mana. “Ya gue sih aneh aja kok tiba-tiba mereka jadian gitu aja.”


“Ya mungkin karena mereka saling suka Nai.”


“Tapi kan mereka baru kenal.”


“Kata siapa mereka baru kenal Nai?” pertanyaan Akbar membuat Nai terdiam. Eh iya juga ya dulu Bila pernah bilang bahwa pernah bertemu dengan Yusuf sebelumnya. Mungkin saja mereka sudah kenal lama kan.


“Tapi tetep aja kok aku ngerasa aneh ya.”


“Jangan-jangan lo cemburu kali.”


“Ngaco.” Ucap Nai spontan.


Nai jadi memikirkan hal itu, apa benar persaan aneh itu muncul karena dia cemburu kepada Sha, ah mana mungkin dia kan menyukai Akbar bahkan mencintainya.


“Nai, kebiasaan malah berenti di tengah jalan. Kalau jalan itu cepetan bisa gak sih kalau gak gue tingal nih.”


“Eh iya iya tunggu.”


Setengah berlari Nai mengejar Akbar yang sudah terlebih dahulu berjalan ke parkiran rumah sakit.


***


“Ibu kemana Sha?” tanya Yusuf di sela-sela dia menyuapi Sha buah.


“Tadi sih sebelum aku tidur ibu oamit ke rumah ngambi baju, tapi kok lama ya kak.” Sekarang Sha sudha tidak canggung lagi berbicara dengan Yusuf, bahkan terkesan nyaman seolah mereka sudah akrab lama.


“Mungkin kejebak macet kali. “


“Kamu jadi pulang hari ini?” tanya Yusuf sambil menyimpang piring kosong ke nakas.


“Gitu ya.”


Sha terlihat sedikit gelisah di ranjangnya. Sebentar-sebentar duduk kemudian tiduran, lalu duduk lagi, tiduran lagi yang membuat Yusuf gemas untuk segera menghentikan keiatannya itu.


“Sha kenapa?”


Sha hanya terdiam, bibirnya hanya mengatup-ngatup tidak jelas. Yusuf jadi sedikit khawatir Sha akan memberitahunya sesuatu.


“Sha kenapa?” tanya Yusuf lagi.


“I tu kak.”


Yusuf menunggu Sha untuk melanjutkan kalimatnya, hanya saja dia melihat Sha yang gugup entah karena apa.


“Boleh minta ke taman gak, Sha bosen disini.” Pinta Sha dengan gugup.


Yusuf tertawa seketika meminta ke taman saja harus segugup itu. Dengan gemas Yusuf mencubit pipi Sha yang memerah.


“Ayo ayo Sha gue temenin kok.”


Yusuf membantu Sha untuk turun dari ranjang. Mendadak jantung Sha disko ketika dirnya berdekatan dengan Yusuf. Segera saja mencoba melepaskan diri. Tabung infusnya seketika saja terjatuh ke lantai saat Sha melepaskan diri.


“Aduh Sha jangan banyak gerak jadinya jatuh kan.”


“Ma af kak.” Cicit Sha.


“Gak apa-apa, sini deketan nanti infusnya jatuh lagi.”


Terpaksa Sha menggeser tubuhnya ke ara Yusuf. Mereka jalan bersisian ke taman. Yusuf mencoba menggandeng tangan Sha. Berasa anak kecil yang akan di culik saja Sha apabila di gandeng begitu. Sebelah tangan Yusuf memegang infusan Sha.


“Kak aku boleh tanya sesuatu?” Sha mencoba membuka percakapan saat mereka sudah sampai dan duduk di bangku taman.


“Boleh kok, untuk pacar apa sih yang gak.” Sha tersipu di goda oleh Yusuf.


“Kalau orang yang ingin kakak lupain itu siapa? Boleh gak aku tau orangnya?”


Mendadak suasana menjadi dingin, sedingin raut wajah Yusuf yang berubah. Yusuf sadar Sha pasti akan menanyakan hal itu padanya.

__ADS_1


Melihat gelagat Yusuf Sha jadi ingin mengcancel pertanyaannya barusan. Salah dia juga sih hanya ingin memastikan sesuatu agar dia bisa yakin akan hubungannya dengan Yusuf.


“Kak gak usah jawab juga gak apa-apa kok.” Sha mendadak tidak enak hati melihat raut wajah dingin Yusuf.


“Bukannya gak mau jawab tapi gue rasa itu gak penting.” Ucap Yusuf dingin lalu meninggalkan Sha sendirian di taman.


Sha hanya terdiam kaku mendnegar penuturan Yusuf tersebut. Tidak terasa air matanya menetes begitu saja. Sha meremas jari-jarinya dengan pelan.


“Sha disini toh nduk ibu cari-cari di ruangan kok gak ada ternyata disini.”


Sha buru-buru menghapus air matanya dan menoleh ke belakang melihat ke arah ibunya.


“Eh ibu sudha pulang.”


“Iya ini sekalian sama bapak, kata dokter kamu sudah boleh pulang.”


“Wah beneran bu.” Sha berusaha menyembunyikan kesedihannya.


“Iya nduk ayo sekarang ke ruanganmu untuk pemeriksaan terakhir. Lalu kita beres-beres.”


Sha mengangguk antusias. Dia akhirnya berdiri dari duduknya dan mencoba menepis rasa sakit hatinya itu.


Yusuf yang melihat itu dari kejauhan seketika menyesal. Entah kenapa dia jadi lepas control saat Sha betanya tadi. Dia hanya tidak ingin bayang-bayang masa lalu kembali hadir menghampirinya. Dia sangat ingin menghapus air mata Sha tadi, hanya saja dia mendadak tidak bisa menghampirinya.


“Arggghhh.” Yusuf jadi frustasi sekarang. Kenapa semuanya menjadi rumit.


***


“Wah kamu pulih dengan cepat ya. Kamu boleh pulang hari ini. Sebentar ya.”


“Sus tolong lepaskan infusnya.”


“Baik dokter."


“Tensinya juga sudah normal kembali sekarang, banyak-banyak istirahat ya. Jangan lupa memakan makanan yang bergizi.” Dokter menasihati Sha yang mencoba tersenyum.


“Baik dokter.”


“Ibu juga jangan lupa mengingatkan anaknya untuk meminum obat tepat waktu. Ini saya buatkan resep juga surat jalan untuk nanti control selanjutnya.” Dokter memberikan beberapa lembar kepada Ibu Sha.


“Sekali lagi terima kasih dokter.”


Dokter mengangguk dan tersenyum ke arah Sha serta kedua orangtuanya. Dia akhirnya meninggalkan ruangan Sha.


“Ayo Sha kemasi barang-barangmu.”


“Baik bu, tapi Sha mau ganti baju terlebih dahulu.”


“Silahkan nduk.” Sha bergegas untuk ke kamar mandi mengganti pakaian rumah sakit dengan pakaian yang sudah ibu bawakan tadi.


“Bu bapak mana?”


“Itu lagi urus administrasi dulu.”


“Semoga kamu gak sakit lagi ya nduk.” Ibu Sha mengusap pelan rambutnya.


“Iya bu, Sha juga bosan di rumah sakit apalagi nanti harus control.”


“Kan buar sembuh nduk.”


“Kita samperin bapak kalau kamu sudah selesai.”


“Sebentar lagi bu, takut ada yang ketinggalan.”


Mereka berdua akhirnya bisa keluar dari rumah sakit dengan perasaan lega. Apalagi Sha yang begitu senang melihat bapak yang sudah menunggunya di depan.


“Sini biar bapak aja yang bawa.” Bapak mengambil alih tas yang Sha bawa.


Sha tersenyum gembira seraya menggandeng Ibunya dengan senyuman. Sepertinya dia sudah mulai lupa dengan Yusuf yang menyakitinya di taman.


“Kakak sudah mau pulang ya.” Anak kecil yang kemarin menolong Sha mengahampirinya.


Sha jongkok di hadapan anak itu, kemudian mengacak rambutnya dengan gemas. “Iya gak betah lama-lama di rumah sakit.” Bisik Sha yang membuat anak tersebut cekikikan karena geli.


“Kamu cepat sembuh ya.”


“Pasti kak, kata mama aku bakalan sembuh kok.”


Sha jadi iba melihat binar bahagia yang anak kecil itu tunjukkan. Sha mengulurkan tangannya, berniat memeluk anak tersebut. Dengan senang hati anak itu menyambutnya.


“Kakak nanti kesini lagi ya jengukin Keyla.”


Melihat mata anak kecil itu yang jadi berkaca-kaca mmebuat Sha tidak tega meninggalkan anak itu sendiri. “Pasti kok, nanti kakak kesini lagi.”

__ADS_1


Ibunya melambaikan tangan, meminta Sha agar menyudahi acara perpisahan dadakan itu. Sekali lagi Sha memeluk Keyla dengan erat. Begitupun dengan keyla yang balas memluk Sha tak kalah eratnya.


Sha melambaikan tangannya ke arah Keyla yang sudah menangis di gendongan asisten pribadinya. Sha jadi bersyukur dia hanya kecelakaan yang sifatnya sementara bukan mengidap penyakit yang berat seperti Keyla.


__ADS_2