
Sesampainya Sha beserta keluarganya disebuah rumah mewah yang sudah dihiasi pernak-pernik, Sha sempat takjub melihatnya bahkan dia hanya diam saja ketika ibunya memanggilnya. Sampai-sampai dia harus berjalan agak cepat dan hampir jatuh jika tidak ada yang menariknya dari belakang.
Kedua mata mereka bertemu, bahkan mereka sempat terpesona satu sama lain. Hingga Sha yang sadar dan mulai melepaskan diri.
Akbar pun sama kagetnya karena saat sedang suntuk dan berjalan ke halaman utama bahkan dia berniat pulang bertemu dengan Sha.
Err Sha malam ini sangat berbeda tampak anggun dan semakin cantik. Keduanya di landa kecanggungan yang luar biasa.
“Ma ka sih kak Ak bar,” ucap Sha sedikit gugup.
Ternyata yang menolongnya tadi adalah akbar dia sempat tertegun karena Akbar malam ini terlihat, emm sangat tampan apalagi memakai jas terlihat berwibawa sangat berbeda dari biasanya yang selalu tampil gaya casual.
Begitupun Akbar dia juga sangat terpesona oleh kecantikan sha yang malam ini terliha sangat berbeda di matanya, wajahnya yang putih di beri sedikit polesan make up natural dan juga memakai gaun yang sangat cantik.
“Iya sama-sama.” jawabnya canggung .
Seketika suasana hening kembali hingga suara ibunya untuk segera masuk membuyarkan keheningan tersebut.
“Kak aku masuk duluan,” ujarnya pelan seraya menunduk malu karena kejadian pelukan tadi bahkan sekarang pipinya sudah semerah tomat dan wajahnya itu rasanya seperti terbakar.
Tanpa menunggu jawaban Akbar, Sha segera masuk ke dalam rumah yang sudah di dekorasi menjadi tempat pesta tersebut. Sha mencari Ibunya yang sedang berbincang dengan seseorang yang di kenalnya. Sha yang ragu pun bergegas menghampirinya karena dia tidak kenal siapapun selain Akbar yang tadi bertemunya.
Sedangkan Akbar masih menunggu ibunya yang sedang berbincang dengan temannya itu, duh ibu-ibu gak tau apa Akbar sudah pegal dari tadi.mana acaranya sudah mau dimulai lagi lebih baik dia masuk terlebih dahulu kali ya dan segera memberikan kadonya lalu pamitan pulang.
Sementara itu suasana di dalam semakin ramai karena banyaknya tamu undangan yang hadir. Sang tuan rumah menyambut tamu dengan ramah. Semua tamu terpesona oleh keindahan rumah mewah yang sudah disulap menjadi tempat pesta yang sangat mewah.
Acara akan di mulai beberapa menit lagi. Pembawa acara pun mulai naik keatas podium yang berada di dekat kolam renang. Memang pestanya didakan di rumah, tapi acaranya diadakan di taman belakang rumah yang memang luas dan bisa menampung banyak orang.
“Baik selamat malam semuanya , disini saya akan membuka acara sekaligus menyampaikan banyak terima kasih kepada para undangan yang sudah hadir di acara yang begitu meriah ini,” ucap sang Mc dia pun membuka acaranya.
“Sepertinya sudah banyak yang hadir mari kita beri tepuk tangan untuk Pak Irwan selaku tuan rumah dan yang mmepunyai acara.” Mc mempersilahkan papa Yusuf untuk naik ke panggung.
“Baik saya ucapkan terima kasih yang sebebsar-besarnya kepada para tamu undangan yang berkenan hadir di acara ulang tahun istri saya ini.” Pak Irwan melirik istrinya yang tampak senang apalagi melihat kedatangan Sha dan keluarganya.
“Acara ini sebenarnya bukan acara saya tetapi saya mengkhususkannya untuk istri saya, akan tetapi karena istri saya malu dan sedang berbincang dengan teman-temannya. Jadi saya mewakili istri saya untuk membuka acara ini. Sekali saya mengucapkan terima kasih kepada tamu undangan yang hadir, silahkan menikmati jamuannya dan jangan sungkan.” Pak Irwan tertawa di akhir kalimatnya.
“Saya undur diri dan di kembalikan lagi kepada sang Mc.”
Tepuk tangan meriah menyambut akhir sambutan papa Yusuf.
“Wah sambutan yang menarik bukan, kini akan masuk kepada acara intin yaitu peniupan lilin sebagai tanda bertambahnya usia, kepada yang bersangkutan di mohon untuk naik ke atas panggung.”
Mama dan Papa Yusuf naik ke panggung dan mulai bersiap untuk meniup lilin, semua bersorak menyanyikan lagu happy birthday kepada yang di panggung. Setelah Mc memberikan intruksi Mama Yusuf pun mulai meniup lilin yang di barengi dengan riuh tepuk tangan.
Acara yang diadakan kali ini sangat meriah karena banyak sekali kolega papa Yusuf yang hadir. Saat sedang berbincang-bincang Yusuf mengahmpiri kedua orangtuanya dengan membawa serta Nai dan memperkenalkannya kepada kedua orangtuanya, tapi disana juga sedang ada Sha dengan kedua orangtuanya.
“Ehm mah, pah. Aku mau kenalin seseorang kepada kalian berdua.”
Akbar mengajak Nai mendekat dengan tidak melepaskan genggaman tangannya. Sha yang melihat itu hanya menunduk begitu juga dengan Nai yang melihat Sha. Entahlah Nai merasa sedikit bersalah dan juga terkejut.
“Ini Naila teman sekolah aku.”
Ucapan Yusuf sukses mengalihkan perhatian kedua orantuanya dan kedua orantua Sha yang sedang mengobrol. Mereka semua menatap kearah Yusuf yang sedang menggandeng seorang cewek.
“Wah siapa pacar kamu yah?”
Mama Yusuf bertanya antusias karena ini pertama kalinya Yusuf mengenalkan seorang perempuan kepada kedua orangtuanya. Nai dan Yusuf hanya tersenyum malu membuat Mama Yusuf menggoda mereka.
Karena tidak ingin melihat Nai yang bergandengan dengan Yusuf, Sha segera undur diri dari sana dengan alasan ingin mencari udara segar katanya yang disetujui oleh orangtuanya. Awalnya Nai juga kaget kenapa bisa berada disini.
Hingga Yusuf menjelaskan bahwa Sha merupakan anak dari supirnya itu yang memang sengaja orantuanya undang karena waktu itu mereka pernah diundang sama keluarga Sha.
Sha berjalan tanpa tujuan dan menyususri setiap sudut taman yang menjadi tempat acara berlangsung. Tanpa sadar kakinya melangkah ke arah bangku taman yang sedkit sepi.
Sha pun duduk di bangku taman sambil melihat langit yang dipenuhi bintang. Saat ini pikiran sedang kacau kalau tau akan pergi ke pesta lebih baik tidak ikut saja. Hingga tepukan di bahunya menyadarkannya.
“Sendiri aja, gak baik lo apalagi kalau malam.”
Tanpa menoleh pun Sha sudah tahu siapa yang menepuk bahunya itu karena dia masih mengingat wangi parfum Akbar ketika menolongnya tadi. Tanpa merespon Sha hanya diam sambil melihat langit yang menurutnya sangat indah malam ini.
Hingga ucapan akbar menyadarkannya kembali. “Langitnya indah ya, apalagi saat banyak bintang gini,” ucapnya seraya tersenyum menatap langit.
__ADS_1
“Eh di rambut lo ada ulat.”
Sha seketika memegang rambutnya bahkan mengusap-ngusapnya dnegan kasar takut ulat berbulu itu benar nempel di rambutnya. Sha menatap Akbar yang sedang tersenyum jail. Sha yang memang takut ulat refleks mendekat kearah Akbar dan memukul pelan tubuh Akbar yang bisa di pukulnya. Melihat Akbar yang tertawa Sha semakin gencar memukulnya, bahkan tidak sadar jika hampir saja tubuhnya ke tanah karena hak sepatunya sedikit goyang.
Sekali lagi Akbar menangkan tubuh Sha yang akan terjatuh membuat keduanya membeku, selama beberapa detik keduanya terdiam di dalam posisi seperti itu sehingga jika dilihat dari belakang mereka seperti sedang berpelukan.
Pada saat itu juga Nai yang sedang mengambil minuman melihat kearah mereka, matanya mendadak panas dia segera berlari ketoilet wanita, dia sangat tidak menyangka ternyata sahabat yang selama ini dia bangga-banggakan menusuknya dari belakang.
“Awhh.”
Teriak Sha ketika dia mencoba berdiri sendiri dan melepaskan diri dari bantuan Akbar. Segera saja Akbar memapah Sha untuk duduk dan melihat ke arah kaki Sha yang sedikit memerah.
“Ini kayaknya keseleo Sha.”
Akbar terlihat serius dengan ucapannya karena melihat kaki Sha yang merah Sha melepas sepatunya dan kembali mendelik melihat Akbar yang tertawa.
“Kok lo polos banget sih di kerjain itu hahahaha,” ujar Akbar seraya kembali tertawa. Sha hanya mencebikan bibirnya kesal dan pura-pura marah.
Sha mencoba bangkit tetapi kakinya memang sedikit sakit ketika di gerakan. Melihat itu Akbar terlihat panik dan berlari menuju parkiran mobilnya. Akbar menenteng sebuah minyak yang entah Sha tidak tahu apa lalu sebuah sandal jepit.
Akbar meminta kaki Sha untuk meluruskannya di bangku taman sedangkan dia berjongkok untuk melihatnya. Akbar melepas sepatu Sha dan dengan telaten mulai memijit pelan kaki Sha. Walaupun memang tidak mahir tetapi Akbar memang sering memijit kaki mamanya saat sedang pegal.
“Aww kak pelan-pelan.” Ringis Sha.
“Iya maaf ya tahan sebentar.”
“Coba turunin lagi dan gerakin kalau masih sakit nanti kita ke tukang urut atau rumah sakit deh kalau perlu.” Akbar serius kali ini dengan ucapannya.
“Ehh eh tidak usah kak sudah baikan kok.” Sha mencoba menggerakan kakinya di bangku taman dan mulai mencoba berdiri dengan di bantu Akbar. Masih bisa berjalan syukur Sha dalam hati.
Akbar memberikan sandal jepitnya kepada Shad an menyuruh Sha memakainya. Sha pun menurut saja karena tidak mau kecelakaan itu terulang kembali.
“Terima kasih kak.” Sha berate tulus sambil memainkan sepasang sepatu di tangannya.
“Sama-sama.”
“Justru gue minta maaf gara-gara bercandaan gue lo jadi terluka.” Sha merasa Akbar terlihat murung dan sedih dengan kalimatnya.
“Oh ternyata kamu disini l, mamah cariin kemana-mana kok gak ada eh malah asik ketawa disini. Hayoh sama siapa kenalin dong sama Mama.”
Seorang wanita cantik memakai pakaian formal yaitu sebuah atasan seperti kebaya modern dan bawahan rok batik yang terlihat anggun dan mewah. Suasana hening pun terjadi hingga wanita paruh baya yang masih terlihat muda tersebut melihat ke arah gadis yang tadi mengobrol dengan anaknya.
“Loh kamu kan yang nolong tante tadi pagi,” ucap wanita tersebut kaget, karena tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang menolongnya tadi pagi ketika dia akan pergi berangkat ke butik.
Sha juga sedikit terperangah ketika melihat wajah wanita itu dengan tersenyum yang di buat semanis mungkin juga gugup Sha menjawab.
“Emm iya tan te,” ucap Sha gugup dan segera menyalimi tangan Mamanya Akbar.
“Loh kok mama bisa kenal sama Sha,” ucap Akbar heran.
“Ah ceritanya panjang,” ucap mama Akbar sok misterius.
Mendengar jawaban mamahnya yang seperti itu Akbar hanya mendengus saja dasar mamahnya ini. Akbar melihat ke arah Sha yang terbengong.
“Oh iya Sha kenalin ini mama gue.” Akbar memperkenalkan Mamanya.
“Udah kenal,” ucap Mama Akbar seraya duduk di samping Shad an mereka kini terlibat perbincangan yang seru dan Akbar kesal hanya menjadi kambing conge saja.
Setelah mengobrol-ngobrol sedikit tentang kelakuan Akbar, Sha pamit meninggalkan mereka karena sudah mulai larut malam jugaa takut dicariin ibunya. Sha pun mengahampiri ibunya yang memang sudah akan pulang dan sedang berpamitan.
“Loh Sha kok pakai sandal jepit sih?” tanya Mama Yusuf ketika mengantar keluarga Sha keluar.
Ibu dan Bapak Sha juga jadi memperhatikan ke arah Sha yang menenteng sepatunya, kok mereka baru sadar.
“Iya itu tadi sempat keseleo.”
Melihat tampang khawatir dari ketiga orang di depannya Sha buru-buru menambahkan.
“Tapi sekarang sudah tidak apa-apa kok, sudah bisa jalan lagi.”
Sha mendesah lega saat ketiganya menghela nafas lega.
__ADS_1
“Ya sudah sampai rumah jangan lupa obtain ya.” Mama Yusuf mengingatkan dan terlihat jelas raut wajah khawatir itu Sha sempat tertegun sekaligus senang luar biasa.
“Iya tante.”
“Terima kasih bu kalau begitu kami pamit dulu.”
Sha sekeluarga pun pamit undur diri dan segera masuk ke mobil. Sesampainya di rumah Sha langsung membersihkan dirinya dan segera rebahan ke kasur karena matanya sudah ngantuk dan tubuhnya sangat lelah.
Tok tok
“Sha belum tidur?”
“Belum bu.”
Tidak lama ibunya masuk dengan membawa sebuah handuk kecil dan baskom yang berisi es batu.
“Yang mana yang keseleo?”
Sha menunjukan kakiknya yang tadi keseleo di taman kepada ibunya. Ibunya pun dengan sigap memangku kaki Sha di pahanya. Mengambil beberapa es batu yang di balut oleh handuk lalu di kompreskan pada kaki Sha.
“Kok bisa keseleo?”
“Ceritanya panjang bu.”
Sha pun menceritakan rincinya sampai ibunya selesai mengompres kaki Sha.
“Sudah selesai nduk, sekarang kamu tidur.”
Sha mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Ibunya mengecup pelan dahi Sha dengan sayang lalu meninggalkan kamar putri satu-satunya itu.
***
“Ma, pa Yusuf nganterin dulu Nai ya,” pamit Yusuf kepada kedua orangtuanya setelah acara selesai.
“Di jaga loh ya.” Mamanya mengerling nakal kearahnya yang membuat Yusuf memutar bola matanya dengan malas.
“Tante Nai pamit dulu ya.” Nai menyalami dan mencium punggung tangan orangtua Yusuf.
Mereka berdua pun mulai berjalan ke parkiran dengan bersisian tetapi tidak ada satu percakapan pun yang keluar.
Yusuf yang tidak tahan pun mulai menggenggam tangan Nai. Nai tersentak kaget dan segera melepaskan genggamannya yang sialnya sangat erat dan akhirnya hanya bisa pasrah.
Selama perjalanan pulang pun mereka tetap dalam keheningan, Yusuf heran karena biasanya Nai selalu berbicara apapun meski mereka tidak akrab.
“Nai lo sakit?” tanya Yusuf tidak tahan dengan Nai yang hanya diam saja.
Nai menggeleng pelan yang membuat Yusuf berdecak.
“Nai lo beneran gak apa-apa?” tanya Yusuf khawatir.
Nai melihat ke arah Yusuf yang menampilkan wajah khawatir. Mata Nai memerah seperti menahan tangis.
“GUE GAK APA KAK!”
Teriakan Nai yang tiba-tiba membuat Yusuf kaget dan segera menghentikan mobilnya.
“Nai lo beneran gak apa-apa?” Yusuf bertanya lagi memastikan.
“Gak apa-apa kak,” dengan suara serak Nai menjawab.
Tidak lama kemudian Nai mulai terisak dan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Yusuf yang melihat Nai menangis tiba-tiba menjadi bingung sekaligus frustasi. Dalam benaknya bertanya-tanya apa yang membuat Nai bisa sampai mennagis dengan tersedu-sedu.
“Kak hiks ada tisu hiks?” Nai bertanya di sela-sela tangisnya.
“Ah iya itu di dashboard,” tangan Yusuf segera terulur untuk mengambilkannya dan memberikan kepada Nai.
Nai kembali menangis dan mulai mengelapnya dengan tisu. Nai tidak peduli kalau dandanannya rusak dan sekarang sedang nagis di mobil Yusuf, yang Nai inginkan hanya menangis untuk sekarang. Melihat Nai yang sedikit tenang Yusuf kembali melajukan mobilnya.
Sampai di rumah Nai, Nai tertidur di mobil Yusuf. Yusuf segera memencet bel dan keluarlah Bila. Yusuf menyuruh Bila untuk membawa barang Nai di mobil Yusuf sedangkan dia akan menggendong Nai ke kamarnya. Dengan heran dan ngantuk Bila pun menurutinya.
“Makasih ya kak,” ucap Bila ketika mereka sudah sampai di teras.
__ADS_1
Yusuf hanya mengangguk dan berpamitan pulang, dia juga berpesan kepada Bila jangan sampai dia bertanya kenapa Nai pulang sampai tertidur di mobil Yusuf. Biarkan saja dulu Nai jangan di tanya terlebih dahulu, pesan Yusuf yang Bila patuhi walau penasaran dengan apa yang telah terjadi.