Bintang Senja

Bintang Senja
Bab 33 Perjalanan Seru


__ADS_3

Sekarang adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh mereka, kemping di puncak. Sesuai dengan yang telah direncanakan mereka akan menginap di villa Akbar. Untuk malam pertama mereka akan membuat tenda disana dan mengadakan acara seperti bakar-bakar. Mereka semua sepertinya sudah tidak sabar untuk sampai disana. Selain karena liburan mereka juga ingin menghilangkan stress dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan.


Mereka berenam berangkat menuju ke puncak memakai mobil Yusuf. Sha duduk disamping Yusuf, meskipun awalnya Sha menolak, Bila dan Nai memaksa Sha, masa pacarnya tidak ada yang menemani nanti, begitu kata Bila ketika Sha akan menolak lagi.


Nai dan Bila duduk ditengah, sedang Akbar duduk di belakang bersama sepupu Yusuf yang bernama Rio. Sejauh ini mereka bisa menerima Rio karena Rio orangnya asik dan bisa bergaul dengan siapa saja. Kecuali Bila yang selalu marah-marah jika berbicara dengannya.


Ingat kejadian Bila yang tertabrak oleh seorang cowok dan cowok itu adalah Rio. Bila dongkol setengah mati mengetahui cowok itu akan ikut kemping bersama mereka. Mau menolak pun tidak bisa karena sudah di putuskan sejak awal akan mengajak sepupu Yusuf yang kata Bila super duper menyebalkan itu.


“Sebelum berangkat ada baiknya kita berdoa dulu.” Usul Akbar yang langsung di angguki semuanya.


Rio menepuk bahu Akbar dengan sedikit kencang membuat sang empunya meringis.


“Lo yang pimpin Bar.” Akbar ingin protes tapi tak urung dia akhirya yang memimpin doa karena dia yang mengusulkan pertama kali.


“Semoga perjalanan kali ini lancar tanpa hambatan, selamat sampai tujuan, mari kita berdoa untuk kelancaran perjalan kali ini. Berdoa mulai.” Pimpin Akbar.


“Alhamdulillah, semoga keselamatan selalu mneyertai diri kita.”


“Aamiin.” Jawab teman-temannya serempak.


Di dalam mobil keadaan tidak pernah sepi, Bila yang selalu heboh dengan ceritanya dan juga Rio dan Nai yang selalu mengerjai Bila dengan mengerjai Bila, menganggap cerita Bila itu hanya dongeng tidur belaka. Bila yang tidak terima begitu saja di remehkan karena ceritanya, memberikan sebuah bukti konkret yaitu sebuah foto. Bila memang menceritakan tentang liburannya di puncak tahun lalu yang pasti akan seru ketika mereka tiba disana, begitu katanya.


“Nih kalian harus liat foto gue liburan tahun lalu biar kalian percaya sama gue kalau liburan kali ini bakalan seru.” Bila heboh mengeluarkan kameranya dan memperlihatkan hal itu kepada Nai juga Rio yang sedari tadi mengejeknya.


"Iya deh percaya nona ceriwis.” Rio akirnya mengalah dari perdebatan kusir yang sepertinya tidak akan pernah usai itu. Nai terkekeh melihat perdebatan mereka. Meski tidak tahu apa permasalahan diantara mereka berdua, tapi Nai bisa melihat aura permusuhan diantara Bila juga Rio.


Akbar sedari tadi hanya diam, terkadang dirinya menguap karena mengantuk selama perjalanan yang tidak memakai aca dan memanfaatkan aca alami. Begitupun dengan Sha dan Yusuf, keheningan menyelimuti jok depan. Yusuf sesekali ikut bercanda dengan Bila dan Nai, sebelum akhirnya konsentrasi menyetir.


Sedang Sha hanya diam, Sha jadi memikirkan mengenai sepupu Yusuf yang wajahnya itu serasa taka sing dimata Sha. Sepertinya dia pernah bertemu dengan sepupumya Yusuf itu tapi dia tidak ingat dimana dia pernah bertemu dengannya.


Rio juga merasa begitu, wajah Sha tidak asing di matanya, meski mereka sudah bertahun-tahun tidak bertemu dia amat mengenali liontin yang menggantung di leher Sha. Tapi Rio belum seratus persen yakin akan kesimpulannya itu, jadi dia memendam sendirian saja hal itu.


“Kita istirahat dulu ya, makan siang.” Yusuf meminta persetujuan mereka terlebih dahulu karena dia tidak mau di cap sebagai supir yang tidak tahu keinginan penumpang.


“Okelah lapar nih.” Sahut Nai.


Bila sedikit menoyor kepala Nai yang di pikirannya hanya ada makanan. “Makan mulu katanya mau diet.” Nai cengengesan mendengar ucapan Bila.


“Urusan perut gak bisa di kasih diet. Lagian ini sedang liburan, dietnya libur dulu dong.” Balas Nai.


“Laper juga kali habis perjalanan jauh meski belum sampai sih. Lo kayak gak tau aja bandung ke Bogor kan jauh.” Nai merentangkan tangannya saat berkata jauh.


“Padahal lo dari tadi gak berhenti ngemil perasaan. Tuh lihat sampah di kolong kursi lo.” Bila menunjuk kolong kursi Nai yang memang penuh plastik bekas snak makanan ringan.


“Hehe itu kan hanya makanan ringan bukan berat.” Bila hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Nai.

__ADS_1


Yusuf yang melihat itu hanya tersenyum. Dia melirik bangku sebelahnya, mengetahui Sha hanya diam Yusuf mengelus punggung tangan Sha pelan. Yusuf bertanya pelan kenapa diam saja, Sha hanya menggelengkan kepal saja, tersenyum manis seolah berkata dia tidak apa-apa.


Setengah jam kemudian Yusuf membelokkan mobilnya ke arah rest area. Mereka beristirahat terlebih dulu di sana. Perut mereka sudah demo minta untuk diisi dan Sha juga buru-buru keluar dari mobil, kebelet katanya.


Mereka pun masuk beriringan ke sebuah rumah makan khas sunda yang memang sudah terkenal cita rasanya. Sha sendiri terburu-buru masuk untuk pergi ke toilet. Selesai buang air kecil, Sha sedikit merapikan penampilannya sebelum keluar dari toilet untuk gabung bersama mereka.


Saat Sha akan kembali kesana, ada yang menarik tangannya menuju belakang toilet yang ternyata ada semacam taman kecil. Sha berusaha untuk melepaskan cekalan tangannya tapi itu terlalu sulit karena cekalan orang itu memang kuat. Sehabis di seret ke sana, orang tersebut memperhatikan Sha dari ujung rambut sampai ujung kaki sambil geleng-geleng kepala.


“Gue gak salah mengenali orang kok.” Gumam Rio.


“Meski banyak perubahan, tapi gue bener-bener yakin itu lo kok.” Orang yang menarik Sha adalah sepupu Yusuf yaitu Rio. Sebenarnya Sha juga tidak mengerti kenapa Rio menyeretnya kemari. Dan yang paling Sa tidak mengerti adalah ucapan Rio, dia bilang sha berubah. Berubah, maksud Rio berubah apanya sih Sha sama sekali tidak paham dengan perkatannya.


“Maksudnya? ” Tanya Sha karena memang Sha benar-benar bingung dengan apa yang diucapkan Rio tersebut.


“Lo beneran gak inget gue sama sekali, lo gak inget kakak lo sama sahabat yang lo tangisi ketika dia pindah,” jelas Rio sambil memegang bahu Sha, sedikit mengguncangkannya. Sha semakin tidak mengerti apa yang di bicarakan Rio itu, kakak siapa Sha kan anak tunggal. Apa mungkin Rio itu hanya melantur. Sha hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pernyataan Rio.


Rio sendiri heran dengan Sha yang hanya diam mematung mendnegarkan ucapannya. Satu kesimpulan membuat Rio sadar, apa Sha amnesia? Rio memang tidak tahu apa yang terjadi belasan tahun lalu karena dia sendiri juga tidak menetap di pulau jawa. Dia ikut orangtuanya yang selalu pindah tugas.


Terakhir dia bertemu dengan seseorang yang mirip Sha itu mungkin sekitar usianya 5 tahunan atau 6 tahun dia sendiri sedikit lupa akan hal itu.


Sekali lagi Rio bertanya, “jadi lo bener-bener gak inget semua itu?” Sha hanya menggelengkan kepalanya lagi sebagai jawaban pertanyaan Rio. Melihat Rio yang lengah Sha buru-buru meninggalkan Rio sendiri, dia takut Yusuf salah paham.


“Dia gak ingat kakaknya dan juga sahabatnya, apalagi gue berarti. Kok bisa. Gue gak salah orang kok sepertinya.” Gumam Rio.


Rio menghampiri meja bundar yang sudah di penuhi teman-temannya, dia duduk disamping Bila. Dia melihat Sha yang duduk di samping Yusuf, di samping kanannya ada Nai selanjutnya ada Akbar dan Bila. Rio melirik dengan tatapan lapar meja yang sudha di penuhi makanan itu.


“Kok belum pada makan sih? “ tanya Rio.


“Kan nungguin lo yo.” Sahut Akbar.


“Sekarang gue sudah disini ayo makan, gue lapar nih.” Rio cengengesan melihat teman-temannya yang hanya malu-malu kucing saja menurutnya.


“Ini juga mau makan.” Ucap Bila, segera saja dia mengambil piring dan menyedokan secantong nasi juga mengambil beberapa lauk pauk yang sejak tadi menggodanya untuk segera dimakan.


Setelah Bila mengambil makan, teman-temannya pun jadi ikutan mengambil makanan. Bahkan Rio dan Akbar berebut centong nasi dan sendok lauk pauk. Mereka pun makan dengan khidmat tanpa ada yang bersuara. Mereka sengaja memilih meja bundar karena menurut mereka itu akan mempererat tali persahabatan mereka.


“Sha , kok lo tadi lama sih ditoiletnya? Kita tadi hampir mati kelaparan nungguin lo.” Nai dengan gaya lebaynya bertanya pada Sha yang sedang memakan buah semangka. Bila yang mendengar itu hanya memutar bola matanya dengan malas, memang tuh anak kadang suka berlebihan pikirnya.


Sha tidak langsung menjawab pertanyaan Nai, dia melirik ke arah Rio yang asyik memakan puding, “em maaf Nai, tadi toiletnya penuh jadi aku harus antri.” Dalam hati Sha menyesal karena telah berbohong pada Nai juga semua orang yang ada disana, Sha hanya bingung mengenai kejadian tadi yang dia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana kepada teman-temannya. Sha juga sebenarnya tidak mau membahas hal itu lagi karena takut ada selisih paham antara dia dengan Yusuf, meski Rio sepupu Yusuf.


“Lo tuh ya Nai kayak gak tau kondisi aja, udah tau sekarang ini weekend pasti penuh lah tuh toilet. Lebay banget pertanyannya nunggu teman dari toilet bisa bikin kelaparanl. Kirain gue lo udha kenyang karena ngemil terus selama perjalanan.” Bela Bila dan dia sengaja menyindir Nai yang selalu makan.


“Kok kalian malah ribut sih?” tanya Rio.


“Nai duluan tuh.” Adu Bila.

__ADS_1


“Heh kok gue!” sahut Nai tidak terima.


“Makannya sudah belum?” Suara tegas dan dingin itu mengalihkan perhatian mereka semua. Serempak mereka mengangguk.


Yusuf memperhatikan jam di pergelangan tangannya, “lebih baik kita segera ke mobil lagi untuk lanjutin perjalanannya keburu siang nih.” Sontak saja mereka kalang kabut mendengar ucapan Yusuf.


Nai mengajak Bila dan Sha untuk berdandan terlebih dahulu di toilet, begitu juga dengan Rio dan Akbar yang sibuk memilih makanan, apa yang bisa mereka bawa untuk cemilan di mobil. Mubadzir, begitu kata Rio. Yusuf geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan teman-temannya itu.


Yusuf sendiri memilih meninggalkan meja mereka dan menghampiri kasir untuk mmebayar makanan yang mereka pesan tadi. Walau seharusnya patungan, tapi Yusuf dengan sengaja mentraktir mereka lagi kali ini, minus Rio yang baru kali ini di traktir olehnya.


Setelah selesai dengan urusan perut dan istirahatnya juga dirasa cukup. Mereka pun segera kembali ke mobil. Kali ini mobil di kendarai oleh Rio, Yusuf mengajak Sha untuk duduk di belakang. Dengan sangat terpaksa Akbar menemani Rio di samping sang supir.


“Siap berangkat.” Rio membuka percakapan saat semuanya sudah masuk mobil.


“Kuyyy.” Mereka berseru dengan semangat.


“Mari kita berdoa dulu, berdoa dalam hati masing-masing di mulai.” Pimpin Akbar.


“Semoga perjalanan kali ini bisa selamat sampai tujuan.”


“Aamiin” serempak mereka menjawab doa yang diucapkan oleh Akbar.


Perjalanan kali ini lumayan menguras tenaga, tapi mereka sangat menikmatinya. Sepanjang jalan yang berkelok itu, tidak henti-hentinya mereka berdecak kagum melihat pemandangan yang memang tidak ada di perkotaan kota Bandung.


Udara yang sejuk membuat mereka menghirup sebanyak-banyaknya oksigen yang tersedia gratis itu. Nai dan Bila tidak henti-hentinya mengajak Sha untuk berselfie ketika melihat pemandangan mengagumkan. Bahkan mereka tak segan apabila melihat pemandangan ynag sangat indah, menyuruh Rio untuk berhenti sejenak. Mereka ingin mengabadikan dan merekam jejak perjalanan yang bahagia itu.


“Sha ayo kesana lihat deh ada sungai yang bisa kita lihat dari sini, ayo-ayo.” Bila dengan ganas menyeret Sha untuk ke pinggir bukit yang mereka pijaki.


“Bil jangan jauh-jauh.” Teriak Yusuf yang hanya duduk di kap mobil menikmati semilir angina yang menerpa wajahnya. Dia juga sudah tidak melihat Akbar dan Rio yang entah pergi kemana.


Bila menjawab dengan tangannya membentuk huruf o dari kejauhan. Nai sendiri sedang asyik menikmati ilalang yang sangat jarang di temuinya. Berbagai macam gaya dan pose telah di lakukannya. Selama bermenit-menit, dia berfoto dengan ilalang yang menurut Bila biasa saja itu. Justru menurut Nai foto dengan ilalang itu bisa mneghasilkan angle yang bagus.


“Duh Akbar sama Rio kemana sih, lama amat. Kan sudah mulai panas nih.” Gerutu Nai yang sudah beres dnegan sesi foto-fotonya. Dia menghampiri Yusuf yang terlihat anteng yang menatap gunung-gungung di depan sana.


Bila dan Sha sendiri sedang heboh melihat gambar yang tadi mereka ambil. Tidak lama datang Akbar dan Rio dengan tangan mereka yang penuh dengan hasil tangkapan ikan.


“Nih liat apa yang kita bawa?”


Seketika Bila dan Sha menghampiri mereka yang terlihat heboh, Bila berteriak heboh dan mengagumkan Akbar yang bisa mendapat ikan sebanyak itu. Bila bertanya darimana mereka bisa mendapatkan ikan yan sepertinya akan terlihat lezat ketika di bakar.


“Ayo lanjut lagi perjalanannya.”


Akbar dan Rio memasukkan ikan dalam plastic dan mereka menaruh ikannya itu di depan, dekat kursi Akbar. Mereka pun melanjutkan perjalanan kembali dengan bahagia.


Kini mereka sadar selain bisa menikmati perjalanan mereka juga bisa mengenal lebih dekat dengan satu sama lain. Bisa saling mengerti dan mengetahui karakter masing-masing. Ya pokoknya mereka tidak akan pernah lupa perjalanan mereka kali ini.

__ADS_1


__ADS_2