Bintang Senja

Bintang Senja
Bab 7 Kalung


__ADS_3

“Ibu Sha dimana?” tanya bapak sambil duduk di meja makan.


“Masih dikamarnya kali pak.” ucap ibu sambil membawa piring ke meja makan sederhananya.


Bapak mengetuk pelan pintu kamar Sha.


“Nduk ayo sarapan dulu.”


“Iya pak” teriak Sha dari dalam kamar.


Sha keluar kamar setelah mendengar teriakan bapak. Mereka pun makan dengan hikmat sesekali bapak bertanya mengenai sekolah baru Sha. Sha teringat akan kalung berbandul bintang yang di temuinya di laci meja belajarnya itu.


“Bu Sha mau tanya” ucap Sha disela kunyahan sarapan paginya.


“Iya nduk”


Sha memberikan sebuah kalung berbandul bintang kepada Ibu. Ibu Sha melihat bandul itu dengan seksama.


“Em kenapa Sha dengan kalungnya?” tanya bapak dengan raut wajah yang tidak bisa di baca Sha.


“Itu pak Sha pikir Sha belum pernah membeli kalung itu” ucap Sha pelan.


“Kalung ini memang kalung milikmu Sha, waktu kecil kamu kecelakaan dan ibu menyimpannya siapa tahu suatu hari nanti kamu akan menanyakannya karena setelah kecelakaan kamu mengalami amnesia” jelas ibu terlihat seperti berat.


“Maaf Bu.”


Ibu mengelus pelan punggung tangan Sha sambil bergumam pelan mengucapkan tidak apa-apa. Ibu tahu Sha pasti akan bertanya mengenai kalung ini suatu saat nanti. Seharusnya ibunya menceritakan dari awal tapi dia tidak sanggup mengingat kenangan itu.


“Kalau kamu mau pake ibu ada kalung dan bandulnya bisa di masukan kesana” binar mata Sha terlihat ceria ketika ibunya berbicara seperti itu. Sha mengangguk antusias karena dia memang telah jatuhcinta kepada kalung ini.


Ibu masuk ke dalam kamar dan kembali ke ruang tamu dengan sebuah kalung di tangannya. Ibu Sha meminta kalung yang tadi perlihatkan Sha, lalu menukarkan bandulnya ke kalung yang di bawanya. Ibu Sha menyuruh Sha untuk mendekat dan memakaikan kalungnya ke leher Sha.


“Cantik” ucap ibunya pelan, Sha hanya tersipu mendengar pujian ibunya. Acara makan pun dilanjutkan kembali.


“Ya sudah bu, bapak mau ke kebun dahulu tadi kata mang Danu ada pisang yang siap di panen” pamit bapak sambil membawa peralatan yang dibutuhkannya.


Sudah kebiasaan bapak semenjak pindah ke Bandung yatu menyempatkan diri ke kebun yang di kelola oleh adik Istrinya itu.


“Sha juga berangkat dulu ya bu, Asslamualaikum” ucap Sha sambil menyalimi Ibu.


“Waalaikumsalam, ini bekalnya nduk” ucap ibu dan memberikan sebuah kotak makan kepada Sha.


***


Sekolah masih sepi saat Sha sudah sampai disana. Sha tadi berangkat agak pagian karena takut terlambat, tetapi ketika sampai di sekolah dia menjadi seperti siswi teladan.


Setelah di persilahkan memasuki kelas oleh panitia Sha segera menyimpan tas nya dan keluar kelas untuk mencari udara segar.


Dia mencari-cari sahabatnya yang tidak ketemu juga hingga akhirnya kakinya melangkah tanpa tujuan.


Walaupun belum sepenuhnya hafal setiap ruangan, Sha tetap terus berjalan hingga sampai di taman belakang yang suasananya sangat asri karena hampir tidak pernah di kunungi siswa.


Akhirnya dia memilih duduk di bangku kosong yang menghadap ke kolam ikan yang terlihat tidak terawat, dia jadi rindu saat sedang sendiri begini.


Sha melihat ke arah langit yang begitu cerah hari ini. Bandul di kalungnya memantulkan cahaya matahari.


Ah dia jadi ingat perkataan ibunya tentang dia saat kecil yang selalu melihat langit dan selalu bertanya kenapa bintang tidak ada di siang hari dan hanya ada di malam hari. Dia juga tidak ingat sebenarnya apakah dulu ia pernah berkata begitu.

__ADS_1


Ibunya sering berkata bahwa pada saat kecil dia sangat suka dengan bintang entah kenapa sekarang dia tidak begitu suka dan lebih menyukai hujan. Saat dia sedang melamun tiba-tiba suara seseorang mengagetkannya.


“Selain suka bingung ketika memilih sesuatu lo juga suka melamun sendirian.” ucap seorang cowok sambil tersenyum singkat dan duduk di sebelahnya.


Sha tidak menghiraukan ucapan cowok di sebelahnya yang menurut Sha menyebalkan itu. Selain karena gugup duduk berdekatan dengan cowok untuk pertama kalinya. Tak sadar menggeser tubuhnya yang membuat cowok itu mengernyit heran. Sha sampai tidak sadar kalau dia sudah duduk di tepi bangku taman.


Bruk


“Aww” bokong Sha jatuh menimpa tanah yang sedikit berumput. Walau tidak terlalu sakit tapi dia cukup terkejut ketika tubuhnya ambruk ke tanah.


Cowok yang memperhatikan gerak-gerak Sha pun sama terkejutnya dan bergegas menghampiri Sha yang terjatuh ke tanah.


“Lo gak apa-apa?” tanya Akbar khawatir.


Sha menggeleng sambil menerima uluran tangan Akbar, jangtungnya berdegup kencang karena tangannya bersentuhan dengan tangan besar Akbar. Begitupun dengan Akbar, ini pertama kalinya juga memegang tangan cewek karena ketakutannya di tinggalkan lagi oleh seseorang.


Keduanya membeku sejenak ketika Sha sudah berdiri dan tangan mereka pun masih bertautan. Perhatian Akbar teralihkan ke leher Sha yang memakai kalung sebuah bandul berbentuk bintang, tapi dia tidak melihat dengan jelas depannya karena bandulnya terbalik.


Akbar mendekat kearah Sha.


Semakin dekat sehingga membuat jantung Sha tak keruan antara takut dan berdebar. Akbar mendekatakan wajah mereka sambil tangan satunya bergerak ke atas seolah akan meraih kepala Sha. Tersadar tanda bahaya Sha segera menghindar dan melepaskan diri dari kukungan Akbar yang membuat keduanya tersentak.


“SorI"


“Maaf” ucap mereka berbarengan.


Akbar terkekeh tawanya renyah sekali membuat Sha tersentum sedikit simpul. Akbar mengenyahkan rasa penasarannya itu, mungkin hanya mirip batinnya.


Akbar mengajak Sha untuk duduk kembali. Sha menurut dan menjaga sedikit jarak dengannya.


“Oh iya kita belum kenalan secara formal, gue Akbar, lo?” tanya Akbar sambil mengulurkan tangannya.


“Shakila” jawab Sha pelan.


Akbar mengangguk lalu kembali teringat akan tujuannya kesini.


“Loh kok bisa ada disini?” tanya Akbar.


“I tu tadi cari udara segar sampai kesasar kesini” Akbar tertawa mendengar ucapan Sha yang membuat Sha heran.


“Sori sori habis lo aneh sih biasanya orang-orang itu gak akan mau kesini katanya sih serem. Ini itu tempat favorit gue. Gue ngerasa nyaman aja ketika berada disini, gue seperti mengulang masa kecil gue ketika berada di temapat ini. Jadi ya gue heran aja kalau ada yang mau kesini selain gue, menurut cerita yang gue denger sih pernah ada siswi yang bunuh diri disini” cerita Akbar yang membuat Sha bergidik ketika mendengar ada yang pernah bunuh diri.


Sha bergerak gelisah karena takut. “Kalau gitu aku pamit dulu kak mau ke kelas” Sha segera berlari yang membuat Akbar kembali tertawa melihat tingkah Sha.


“Hahahaha lo lucu percaya aja cerita bohong” Akbar tertawa terbahak-bahak sampai memegang perutnya.


“Eh gue lupa tanya kalungnya.” Akbar menepuk jidatnya melihat kebodohannya itu.


***


Setelah kembali dari taman Sha langsung kelapangan, dia melihat sahabatnya melambaikan tangan kepadanya. Sha segera menghampiri mereka.


“Lo darimana sih Sha?” tanya Nai.


“Iya nih kita cariin gak ketemu”


“Itu aku tadi-“ ucapan Sha terpotong ketika ketua osis mengumumkan sebentar lagi akan diadakan apel pagi.

__ADS_1


Mereka pun berbaris dengan rapi sesuai kelas dan melaksanakan apel pagi dengan khidmat. Selesai apel pagi siswa-siswi baru di persilakan untuk menuju pinggir lapangan karena pagi ini akan ada demonstrasi eskul karate.


“Selamat pagi adik-adik” ucap seorang kakak yang mereka pikir dari karate untuk menjadi pembawa acara demo kali ini.


“Gimana masih pada semangat kan?” tanya mc yang membuat para siswa baru bersorak sorai ramai.


“Daripada basa-basi saja mending kita kenalan yuk sama cowok-cowok ganteng yang di depan kalian ini”


“Bla..bla..blaa”


“Em Nai, Bil aku ke toilet dulu ya” pamit Sha.


“Eh tapi gak dianter gak apa-apa kan?” tanya Bila khawatir karena dia sedang fokus menonton. Begitu juga dengan Nai yang enggan meninggalkan lapangan.


“Nail anter gih” lanjut Bila.


Nai menggeleng lalu nyengir kea rah Sha.


“Maaf ya Sha gue lagi seru nih nontoh tokoh


idola gue latihan karate” ucap Nai menyesal karena tidak bisa mengantar Sha.


“Tidak apa-apa kok” Sha terburu-buru untuk pergi ke toilet karena sudah tidak tahan.


Akbar yang melihat Sha terburu-buru teringat dengan niatnya untuk menanyakan suatu hal. Akhirnya memutuskan untuk menunggu Sha di koridor.


“Eh Sha Sha tunggu” cegat Akbar.


Shakila yang sedang berjalan untuk ke lapangan menghentikan langkahnya ketika akan kembali ke lapangan.


“Iya kak” Sha menunggu kakak kelasnya itu berbicara.


“Itu gue mau tanya kalung yang lo pakai. Lo dapat darimana?” tanya Akbar yang membuat kening Sha mengernyit bingung.


Akbar menunjuk leher Sha yang membuat Sha melihat kea rah kalung yang di pakainya.


“Oh kurang tahu kak saya sendiri lupa” jawab Sha.


Akbar mendadak lesu, mungkin benar itu bukan dia pikirnya. “Makasih ya Sha” ucap Akbar sambil berbalik dan pergi meninggalkan Sha yang keheranan.


Sha kembali ke lapangan dengan banyak tanya yang bercokol di kepalanya. Terutama melihat kelesuan Akbar setelah mendengar jawabannya. Sampai-sampai dia tidak sadar dari arah sebrangnya ada seseorang yang berjalan tergesa dan juga tidak melihat jalan.


Bruk


Sha sedikit oleng tetapi dia masih bisa menahan tubuhnya, sedangkan orang yang di tabraknya terlihat kerepotan mengumpulkan kertas yang terjatuh. Sha yang merasa bersalah pun membantunya.


Yusuf yang di tabrak Sha mendongkak ke arah gadis yang membantunya. Ketika dia berdiri dan gadis itu masih jongkok, mereka pun bertatapan dan tatapan Yusuf beralih ke arah leher Sha yang memantulkan cahaya. Seingatnya gadis itu kemarin malam tidak memakai kalung tapi sekarang, ah apakah itu penting.


“Maaf”


“Terima kasih”


Ucap mereka berbarengan. Sha terlihat malu sedangkan Yusuf masih dalam sifat tenangnya. Yusuf kembali melihat ke arah kalung Sha yang terlihat bergoyang karena Sha berdiri. Bandulnya, sepertinya dia pernah melihat bandul itu tapi dimana.


“Maaf Kak aku tidak sengaja” ucap Sha gugup.


“Gue juga minta maaf karena gak lihat-lihat” ucap Yusuf membuat Sha lega.

__ADS_1


Setelah itu Yusuf meninggalkan Sha dan melanjutkan langkahnya. Begitupun dengan Sha kembali ke lapangan dengan hati berbunga-bunga karena teringat ini pertama kalinya mereka berbicara secara langsung berdua.


Yusuf berhenti sebentar di ujung koridor dan berbalik melihat Sha yang sudah hilang dari pandangannya. Yusuf kembali mengingat bandul yang terlihat jelas olehnya itu, dia sangat yakin bahwa pernah melihat kalung yang berbandul sama tapi punya siapa ya, itu yang menjadi tanda tanya besar dalam benaknya.


__ADS_2