
Malamnya ketika Nai akan tidur sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dengan malas Nai mebukanya.
Nai Sha kecelakaan
Sms dari Bila membuat Nai segera bangun dari rebahannya. Nai membaca berulang kali sms Bila, takut kalau Bila membohonginya. Ini bukan April MOP kan, ujar Nai dalam hati.
Tidak, beneran dari Bila kok. Sha kecelakaan? Hati Nai yang paling dalam menjerit sakit. Yang lainnya bergejolak senang karena doanya terkabul. Mendengar Sha kecelakan rasanya aneh, batin Nai. Dia memang merasa senang sekaligus takut, bagaimana kalau doanya menjadi kenyataan.
Satu pesan dari Bila kembali masuk, Nai lantas buru-buru membacanya.
Besok kita jenguk ya Nai
Walau merasa sedikit khawatir dengan Sha, tetapi untuk bertemu dengannya Nai belum sanggup rasanya. Melihat wajah Sha sama saja dengan menorah luka itu kembali. Melihat Sha untuk terakhir kalinya juga membuat Nai gusar, Nai tidak mau nanti hantu Sha gentayangan kepada Nai.
Gak!!!
Batin Nai kini seolah berperang dalam diri Nai, antara menjenguk Sha atau tidak. Nai masih marah dnegan Sha, Sha juga merupakan sahabatnya. Nai menelungkupkan tubuhnya di kasur dan mulai menutup kepalanya dengan bantal. Hari ini dia sudah mengalami beberapa kejutan hebat.
Pokoknya Nai tidak boleh tergoda dengan rayuan Bila, bisa saja Bila melebihkan dnegan kecelakaan Sha yang mungkin hanya kecelakaan kecil. Pokoknya Nai masih tidak ingin bertemu dengan Sha dan dia masih marah kepada Sha, TITIK!
Nai segera memjamkan matanya untuk tidur. Tidak akan lagi ada Sha dalam mimpinya ataupun Akbar kali ini dia harus bermimpi indah.
***
Yusuf masuk sekolah seperti biasanya walpupun tangan dan kakinya masih di perban. Berbeda dengan Sha yang tidak masuk sekolah karena menurut dokter kondisinya belum pulih. Akibat kecelakaan kemarin pelipisnya dijahit lumayan banyak karena robek terbentur aspal. Oleh sebab itu dia kekurangan darah cukup banyak karena pelipisnya terus mengeluarkan darah.
Bila sedari tadi mondar-mandir di depan kelas karena Nai belum datang juga padahal sebentar lagi akan bel. Sedari tadi juga terus melihat handphone nya siapa tau Nai menelpon. Tapi belum juga Nai menelponnya.
Tepat setelah Bila mengecek ponselnya, Nai masuk dengan cuek. Melewati Bila yang terkadang khawatir dan gelisah.
Bila menggeram. Nai ini memang cewwk yang suka semaunya sendiri, pikir Bila.
Temen lagi sakit bukannya khawatir malah cuek bebek. Bila menghampiri dan langsung menggebrak meja Nai. Semua teman-temannya yang sudah datang melihat kea rah mereka. Nai mendelik dan menatap Bila marah.
“Lo apa-apaan sih Bil, kayak lagi pms aja.”
Bila tidak menghiruakan protesnya dan meminta maaf maaf karena mengganggu teman-temannya dengan gebrakan meja tadi.
“Lo tuh ya gue sms malah gak di bales."
“Gue telpon malah gak di angkat. Pagi tadi gue telpon malah panggilan sibuk. Emang lagi telponan sama siapa sih sepagi itu.” Cerocos Bila yang tidak di hiraukan Nai.
“Lo mau jenguk Sha di rumah sakit. Kemarin gue udah bilang kan kalau dia kecelakaan. Lihat sekarang aja gak masuk berarti parah sakitnya.”
Nai hanya memutar bola matanya. Bila ini kadang suka lebay kalau mengkhawatirkan Sha. Nai jadi heran sedekat apa mereka dulu, mereka seperti anak kembar saja yang sulit di pisahkan. Dengan gemas Nai menatap Bila serius.
“Nai lo beneran gak mau ikut ke rumah sakit?” Nai menggeleng.
“Ayolah nai, mau ya lo ikut jenguk Sha . Kasian lo Sha pasti butuh dukungan kita tau,” rayu Bila yang mmebuat Nai sedikit jengah.
“Gak Bil sekali enggak ya tetap aja gak. Lo itu kenapa sih maksa gue terus. Kalau gue gak mau yaudah gak usah dipaksa!” ucap Nai sedikit membentak Bila.
Bila yang melihat Nai emosi sedikit terbawa emosi. Apa salahnya sih bicara dengan baik-baik. Dia Cuma mau mengajak Nai ke rumah sakit untuk menjenguk sahabat mereka, apa itu salah?
“Lo tuh yang kenapa, temannya sakit malah gak mau jenguk. Sha itu teman kita Nai, sahabat kita. Kalau emnag lo gak mau gak usah ngebentak gue juga kali. Gue juga tadi ngajak elo gak ngebentak kan!” Ucap Bila dengan intonasi tinggi.
Nai tertegun dengan ucapan Bila, tidak biasanya Bila semarah ini padanya. Tatapannya kini menjadi melunak. Nai sedikit gelisah, alasan apa supaya Bila bisa berhenti mnegajaknya untuk menengok Sha.
“Gak bisa bil, gue harus jemput nyokap gue di bandara. Hari ini katanya mau pulang,” alibi Nai padahal mamahnya akan pulang seminggu lagi.
Nai tidak berniat membohongi Bila. Keadaannya memang dia tidak bisa membuat lain selain itu. Nai tidak mau kembali mengingat kenangan pahit ketika melihat Sha.
“Jam berapa sih Nai ke bandaranya. Gak mungkin siang deh.”
“Sha sakit loh kecelakaan Nai masa lo gak mau jenguk sih. Kalau Cuma demam biasa jug ague gak akan se khawatir ini.” Bila masih membujuk Nai yang keras kepala.
“Bodo amat deh mau sakit kek mau enggak kek gue gak peduli, mau mati pun gue gak peduli,” ucap Nai sambil memasang tampang cuek kembali.
Nai sedikit kesal karena sahabatnya tersebut terus membahas Sha membuat telinganya panas saja. Nai pun memakai headseat di telinganya karena malas mendengar ocehan Bila yang panjang kali lebar itu. Setelah ini Bila pasti akan mengomel lagi.
“Nai, Sha lagi berjuang loh untuk hidup dan matinya di rumah sakit. Lo doain dia mati..” perkataan Bila tersendat dan menatap Nai dengan tatapan tidak percaya.
Bila kini bungkam tidak memaksa Nai lagi. Dia segera duduk di bangkunya dengan lemas.
__ADS_1
Sebenarnya mereka berdua kenapa.
Bila menelpon Sha juga tidak di angkat. Ibunya yang mengangkat telepon dari Bila dan bilang bahwa Sha sedang tidak mau di ganggu. Makanya itu Bila sangat khawatir jika kecelakaan Sha memang serius.
“Nai lo tau gak kalau Sha kecelakaan yang menyebabkan dia kehilangan banyak darah. Kata ibunya Sha sempat kritis. Gue juga enggak ngerti kenapa Sha bisa kecelakaan karena ibunya tidak menjelaskannya. Makanya gue ngajak lo ke rumah sakit,” lirih Bila yang membuat Nai membisu.
Sedari tadi Nai pura-pura memakai headseat agar Bila tidak berbicara lagi dengan Nai.
Mendengar bahwa sepertinya kecelakaan parah, Nai sedikit kaget. Apalagi sampai kritis dan kehilangan darah, itu pasti bukan hanya terserempet biasa. Batin Nai menjadi ragu, apakah dia harus memaafkan Sha dan menjenguknya atau tetap dengan keteguhannya.
Sebenarnya dia juga sedikit khawatir. Tapi jika dia ingat kejadian kemarin hatinya juga sakit melihat kedekatan Sha dengan Akbar jujur dia cemburu melihat itu. Mengingat juga karena itulah mereka akhirnya bertengkar di depan rumah Akbar. Nai sungguh sakit hati, rasanya Nai juga butuh dukungan dari orang terdekatnya agar dia bisa bangkit. Bila hanya mengkhatirkan Sha. Apa dia juga harus kecelakaan supaya semua orang perhatian padanya.
***
“Woy teman-teman gue punya kabar bahagia”
Teriakan itu menyentak lamunan Nai dan Bila, juga teman-temannya yang sibuk bergosip. Mereka kini memperhatikan seorang cowok dengan gaya yang semrawutan berdiri di depan kelas dengan senyum mengembang.
“Apaan sih berisik banget deh lo,” ucap seorang cewek berkacamata yang sedang membaca buku.
Teriakan temannya itu mengganggu konsentrasinya membaca buku. Saking kagetnya tadi, dia sempat menjatuhkan bukunya dan lupa tidak menanda bagian yang sedang di abaca. Sehingga dia harus mencarinya, huh dasar mengesalkan pekiknya dalam hati.
“Ih dengerin dulu tadi kata wakasek hari ini free karena guru sedang rapat, tapi gak boleh pulang sebelum jam 12,” ucap cowok tersebut sembari bergabung dengan temannya yang lain yang sedang asik main game.
Sorak-sorai siswa siswi mulai terdengar, kini keadaan kelas pun menjadi gaduh setelah mengetahui pengumuman tersebut. Tidak lama Rama, ketua kelas mereka masuk ke dalam kelas dengan beberapa elmbar kertas di tangannya.
“Teman-teman minta perhatianya sebentar ya.”
“Hari ini kita free karena guru rapat. Sebenarnya tidak tahu harus senang atau tidak sih.”
“Ada apa sih ram?” Sindi bertanya karena Rama terlalu bertele-tele dalam menyampaikan informasi.
“Baiklah. Kita di beri tiugas oleh guru yang mengajar mata pelajaran hari ini. Yang pertama ada Biologi, lalu bahasa inggris, Bahasa Jepang, PPPKN, Matematika, dan FIsika.”
Teman-temannya membelalak tidak percaya. Mereka mulai mengeluh karena bukannya bisa senang-senang malah membuat pusing.
“Gak sekalian aja ram semua pelajaran mauskin banyak amat tuh.” Celetuk cowok berambut kriting yang sedang asyik main game di pojok kelas bersama teman-temannya.
Yang lainnya menyahut dan kini kelas menjadi gaduh dengan umpatan, keluhan dan berbagai protes lainnya ala siswa yang malas.
Teman-temannya sedikit menurun. Rama mulai menulis tugas-tugas yang di berikan oleh mata pelajaran hari ini. Mau tidak mau mereka mulai menyelesaikan tugas yang di berikan oleh guru.
***
Nai memang keras kepala, dia juga begini karena ada sebabnya. Apa kali ini dia harus belajar untuk tidak egois, tapi apa salah jika dia tidak ingin hatinya terluka. Dia harus minta nasihat siapa. Nai pun keluar kelas untuk mendinginkan pikirannya.
Di perjalanan dia bertemu dengan Yusuf. Tapi ada yang aneh, kenapa Yusuf malah mengiraukannya bahkan seolah-olah tidak melihat Nai sama sekali. Kenapa hari ini seolah semua orang menghindarinya, argh daripada pusing lebih baik dia ketaman belakang.
Di taman dia duduk di bangku yang biasa di duduki Sha. Akbar yang sedang terlelap di pohon setelah perkelahiannya dengan Yusuf menjadi terganggu oleh suara gesekan sepatu. Akbar turun ke bawah dan terkejut melihat orang yang paling di hindarinya.
“Akbar,” Nai terkejut melihat Akbar yang turun dari pohon dan kini berdiri di hadapnnya.
Nai lebih terkejut ketika melihat wajah Akbar dan seragam akbar yang berantakan. Darah mongering di sudut pipinya dan lebam di sekitar pipinya. Nai berniat menyentuh wajah Akbar, tetapi Akbar malah menjauh.
“Apaan sih lo Nai.” Akbar menepis tangan Nai.
“Lo kenapa?” dengan raru Nai bertanya.
“Bukan urusan lo!” Akbar hendak berbalik tetapi Nai menahan pergelangan tangannya.
“Tunggu.”
“Gue mau ngomong.”
Akbar menatap Nai dengan tatapan menyelidik. Lalu beralih menatap tangannya yang masih di pegang Nai. Akbar menyentaknya dan tangannya terlepas dari cekalan Nai. Nai tersentak.
“Sori, sori,” Nai sedikit kehilangan kepercayaan dirinya.
“Buruan.” Pinta Akbar yang mmebuat Nai gelagapan.
“Gue suka sama lo.” Nai menatap Akbar dengan berani dan menunggu jawaban Akbar.
“Hah gue, aduh Nai gue kan udah bilang sama lo jangan sampai lo bisa suka sama gue,” ucap Akbar.
__ADS_1
“Emang kenapa sih kalau gue suka sama lo, kita kenalkan udah dari kecil. Gue rela-relain mohon ke orangtua gue untuk pindah ke Bandung demi bisa deket sama lo. Peka dong lo itu jadi cowok, kurang apa sih gue dimata lo,” ucap Nai sambil terisak.
“Nai ini itu soal hati, gue masih ragu dengan perasaan gue sendiri dan gue masih belum bisa buka hati untuk siapa pun.” jelas Akbar.
“Kenapa apa karena Sha?” tanya Nai.
“Sebenarnya gue masih malas ngomong sama lo Nai sebenarnya karena masalah kemarin.”
“Ini bukan soal Sha atau siapapun.”
“Nai perasaan itu gak bisa di paksa, gue sayang sama lo tapi gak lebih dari sahabat dan lo udah gue anggap adik gue sendiri.”
“Nai, gue peduli sama lo. Dan untuk Sha gue juga belum punya perasaan apa-apa sama Sha, kemarin emang Mama yang minta gue untuk ajak Sha main kerumah. Sha waktu itu pernah nolong mamah gue makanya sekarang Mama mau mengucapkan rasa terimakasihnya,” jelas Akbar walau sebenarnya dia tidak yakin apa yang di ucapkannya itu benar atau tidak.
“Gue rasa Sha juga gak suka sama gue.” Lanjut Akbar yang membuat sudut hatinya sedikit ngilu saat berta demikian.
Nai hanya diam saja mendnegar penjelasan Akbar. Apakah dirinya memang salah karena menilai sesuatu tanpa mendengarkan penjelasan dari Sha juga Akbar.
“Terus muka lo kenapa?”
Akbar menghela nafas. Ternyata masalah mereka sedikit rumit. Yusuf yang melihat Nai sakit hati memukulnya tadi, sebelum Nai datang. Itu karena Yusuf mengira dia sudah menyakiti Nai.
“Bukannya lo benci sama gue. Sekarang malah nanya dan mau ngobrol.”
Nai gelagapan. Bukan itu maksudnya tadi, dia hanya ingin mengungkapkan apa yang dirasa nya saja. Dia tidak mau memendam itu lebih lama lagi.
“Lo khawatir Nai?” tanya Akbar lagi.
“Bukan gitu.”
“Lalu.”
“Emm iya sedikit.”
“Lo mau tau siapa yang mukul gue.”
“Siapa?”
“Yusuf.”
Nai melotot seketika.
“Yusuf,” ulangnya dnegan nada terkejut.
“Iya dia marah sama gue karena dia lihat lo lagi marah-marah dan sebut nama gue.” Hanya itu yang bisa Akbar jelaskan kepadanya.
Nai semakin tak percaya sekarang. Ketua osis cuek itu melihat dirinya marah-marah dan memanggil Akbar. Nai semakin bingung dengan dirinya sendiri sekarang.
“Lo tau Nai Yusuf kecelakaan dan nabrak orang saat pulang dari rumah lo.”
Nai membisu tidak mau lebih lanjut mendengarkan ucapan Akbar entah apa sebabnya.
“Dia nabrak Sha, sampai Sha masuk rumah sakit.”
Seolah ada batu menghujam dada Nai sekarang. Mendengar penjelasan Akbar membuat Nai merasa bersalah telah melukai dua orang. Nai menjadi gelisah sekarang.
“Sha hampir kritis, itu yang gue denger dari Yusuf tadi. Yusuf nyalahin gue, dia mengira gue yang nyakitin elo Nai padahal dia tidak tahu kejadian yang sebenarnya.”
“Gue tahu gue salah tapi lo juga salah mengambil kesimpulan sendiri dengan menyalahkan Shad an gue seenaknya saja. Menuduh kami yang macam-macam.”
Nai merasa tersudutkan sekarang. Bahunya mulai terguncang karena Nai sudah tidak bisa menahan isak tangisnya sekarang.
“Gue gak tahu itu..”
“Jangan bersikap egois lagi. Lo boleh benci gue Nai tapi jangan Sha, dia gak salah apa-apa.”
“Pertemuan gue dengan Sha memang seringkali tiba-tiba dan gue juga tidak pernah merencanakan itu selain Sha yang main ke rumah gue yang memang di suruh Mama.”
Mereka terdiam mencerna semua kejadian yang telah melibatkan kekacauan ini.
“Lo mau jenguk Sha, lo harus minta maaf sama dia.”
“Lo juga punya andil dalam kecelakaan ini.”
__ADS_1
Nai hanya mengangguk dan mengikuti langkah Akbar yang mengajaknya ke rumah sakit. Kali ini egonya kalah. Akbar benar tidak semua keinginannya itu bisa terwujud. Nai juga harus meminta maaf kepada Yusuf, meski belum tahu sebab apa Yusuf bisa menabrak Sha.
Nai juga melupakan kekesalannya kepada Akbar. Kali ini dia tidak ingin memikirkan nasib percintannya itu. Yang ada di pikirannya sekarang adalah menjenguk Sha.