
Bila pun berangkat sendiri ke rumah sakit. Dengan terpaksa dia naik taksi ke rumah sakit karena tidak mau supirnya tahu bahwa dia menjenguk temannya sepulang sekolah. Untung saja pulang sekolah lebih siang dari biasanya jadi dia bisa sedikit lega.
Sesampainya di rumah sakit, Bila langsung menuju bagian informasi untuk bertanya ruangan Sha. Setelah bertanya ruangan Sha, Bila pun mencarinya. Ruangan Sha vip? Bila mengernyit heran. Tidak begitu di pikirkannya, Bila mengetuk pintu ruangan.
“Masuk,” teriak dari dalam.
Bila pun masuk ke ruangannya yang ternyata ada Ibunya Sha. Bila menghampiri Sha dan Ibunya. Bila melihat Sha yang sedang makan dan disuapi oleh Ibunya. Melihat kedatangan Bila, Sha meminta Ibunya agar menyudahi makannya.
Ibu Sha bangkit dan membereskan bekas makan Sha. Bila buru-buru mencium tangan Ibu Sha. Ibu Sha memeriksa obat Sha yang ternyata sudah habis.
“Bila tante titip Sha sebentar ya, tante harus mengambil dulu resep obat,” ucap Ibu Sha.
“Iya tante,” ucap Bila.
Bila mendekat ke ranjang Sha dan duduk di dekat brangkar Sha. Bila kini bisa melihat dengan jelas pelipis Sha yang masih di perban juga luka di tangan Sha. Bila sedikit ngeri membayangkan berapa banyak luka yang ada di tubuh Sha melihat ada selain alat infus yang menempel di badan Sha.
“Sha kejadiannya gimana sih kok bisa kecelakaan?”
“Terus kenapa bisa mendapatkan luka banyak seperti ini ?”
“Masa sih lo yang jalan di pinggir trotoar bisa sampai luka parah kayak gini?”
“Gila kali ya yang nabrak lo, atau jangan-jangan dia lagi mabuk?”
Banyaknya pertanyaan Bila membuat kepala Sha sedikit pusing. Dia bingung harus menjawab pertanyaan yang mana terlebih dahulu.
“Bil nanyanya satu-satu aku bingung.” Ucap Sha dengan meringis pelan.
Bila yang panic segera menghampiri Sha. Setelah Sha bilang tidak apa-apa Bila kembali duduk di bangkunya. Bila pun kembali mengulang pertanyaannya dengan nada pelan.
“Pertama aku juga gak ngerti Bil kenapa bisa kecelakaan. Aku gak sadar, tiba-tiba aja udah ada di rumah sakit.”
“Aku bener-bener gak ingat gimana keadiannya. Menurut kak Yusuf aku jalan di tengah jalan dan dia gak sempat rem karena gak sadar juga. Jadi aku ketabrak deh,” jelas Sha.
Bila dengan seksama mendengarkan penjelasan Sha.
“Tunggu, tunggu. Tadi kata lo Yusuf yang nabrak terus lo bisa ada di tengah jalan.”
Sha menghembuskan nafasnya. Sebaiknya dia cerita yang sebenarnya kepada Bila.
Sha pun menjelaskan kronologi bagaimana dia bisa jalan ke tengah jalan dari awal sampai selesai. Bila menengarkannya dengan serius sampai tidak mendengar ketokan pintu. Dokter dan suster pun masuk keruangan Sha beserta Ibu Sha.
Sha segera mengkode bila untuk duduk di sofa dekat pintu agar dokter mudah memeriksanya nanti. Dasar Bila kadang lemot, tidak mengerti kode Sha. Hingga deheman sang dokter pun terdengar, Bila sedikit menjauh dan segera duduk di sofa bergabung dengan Ibu Sha.
“Dokter teman saya gak apa-apakan?” tanya Bila setelah Sha selesai di periksa.
“Gak apa-apa kok cuman luka di kepalanya belum kering dan kondisinya sudah sedikit membaik daripada kemarin,” ucap dokter seraya mengganti perban yang menempel di pelipis Sha.
Melihat darah dan pelipis Sha yang di jahit Bila memejamkan matanya dengan takut-takut. Bila memang sedikit ngeri dengan hal-hal yang berbau darah itu.
“Kamu harus banyak istirahat jangan lupa minum juga obatnya, ya sudah dokter permisi dulu harus memeriksa pasien yang lain,” ucap dokter seraya meninggalkan ruangan Sha.
“Baik dokter terima kasih,” ucap Ibu Sha.
Bila menghampiri Sha kembali dan mereka pun menceritakan banyak hal yang sempat tertunda tadi. Ibu Sha hanya mmeperhatikan mereka saja sambil menonton televisi. Ibu Sha senang karena Sha sudah ceria kembali berkat kedatangan Bila.
“Jadi Sha yang donorin darah ke elo itu Mamanya Yusuf?” Bila bertanya sambil mengernyit heran sekaligus bingung.
Bukankah orangtua Sha ada tetapi kenapa tidak ada yang bisa mendonorkan darahnya untuk Sha. Apa jangan-jangan, ah gak mungkin Sha anak mereka kok.
“Iya kata ibu soalnya bapak sedang keluar waktu itu jadi Mamanya Yusuf yang donor darahnya.” Jelas Sha membuat Bila menghilangkan pikiran anehnya tadi.
Ibu Sha yang emndengarkan percakapan mereka hanya terdiam sedih. Maafkan Ibu nak ibu berbohong kepada kamu, ibu Sha berkata lirih dalam hati. Saat itu mereka sedang panic sehingga akhirnya menceritakan rahasia terbesar orangtua Sha kepada Papa dan Mama Yusuf. Untungnya mereka mengerti dan mau merahasiakan perihal ini.
Ibu Sha keluar ruangan untuk menenangkan pikirannya. Dia tidak ma uterus merasa bersalah kepada Sha karena telah menyembunyikan sesuatu. Dia akan membiarkan Bila menjadi penghibur Sha saat ini.
__ADS_1
Pada saat sedang asik mengobrol datang Nai dan Akbar memasuki ruangan Sha. Ruangan mendadak hening karena kedatangan mereka. Tidak ada yang mau memulai buka suara terlebih dahulu. Sha yang memainkan selang infus di tangannya karena menganggap Nai masih marah padanya.
Bila yang kesal sama Nai sehingga komat-kamit tidak jelas. Dan Akbar menatap sedih ke arah Sha, berulang kali dalam hatinya dia berkata tidak akan lagi menyakiti Sha.
Akbar berdehem pelan untuk mengatasi kecanggungan dan menyadarkan mereka bertiga hingga menatap ke arahnya. Akbar yang ditatap seperti itu merasa gugup, duh serasa masuk ke kandang macan pikirnya.
Masih tidak ada yang mau buka suara, Bila yang jengah akhirnya menatap Nai dengan tajam.
“Bukannya lo mau jemput nyokap lo ke bandara,” sindir Bila pedas kepada Nai.
Nai yang di sindir hanya mampu menunduk. Sindiran Bila seolah berkata kepada mereka bahwa Nai seorang pembohong. Melihat situasi itu Akbar mengajak Bila untuk keluar ruangan.
Bila yang tidak mau akhirnya di seret oleh Akbar yang tidak ingin ada keributan. Biarkan saja Nai dan Sha menyelsaikan terlebih dahulu permasalahan mereka.
Kepergian mereka berdua membuat keadaan menjadi hening dan canggung diantara Nai dan Sha. Mereka sama-sama diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Nai tidak tahu harus mulai darimana dan Sha juga tidak tahu harus mulai menjelaskan nya darimana.
“Maaf.”
“Maaf,” ucap mereka berbarengan.
“Lo dulu aja” ucap Nai kepada Sha.
“Maaf Nai bukannya mau bikin kamu sakit hati. Sha emang gak sengaja kok kala ketemu Akbar.” Sha menjelaskan dengan takut-takut. Takut Nai akan marah lagi.
“Terus kenapa lo bisa sering sama Akbar ?” tanya Naila dengan air mata yang mulai turun. Meski sudah berusaha menahannya ternyata dia belum mampu.
“Aku jelaskan Nai, tetapi jangan memotong ucapan aku dulu ya.” Sha meminta persetujuan Nai yang di jawab dengan anggukan oleh Nai.
“Kejadian di taman belakang sekolah kita gak sengaja ketemu. Awalnya aku mau baca novel disana dan Akbar juga ada disana. Pada saat disana aku gak tau orang itu kak Akbar karena memang tidak terlihat. Setelah mendekat aku jadi tau itu kak Akbar, mau balik lagi udah terlanjur ke sana.”
“Waktu yang ditaman belakang rumah Mama kak Yusuf, disana juga kita gak sengaja ketemu. Dia tiba-tiba datang ke taman dan duduk di sebelah aku. Daripada aku sendiri akhirnya aku biarin dia duduk ditaman. Kak Akbar jailin aku Nai, aku memukulnya karena dia jahil. Aku hampir jatuh karena high hils aku patah. Kak Akbar menangkap tubuhku agar tidak jatuh, mungkin kejadian itu yang membuat kamu berpikir kami pelukan. Padahal sebenarnya tidak.” Jelas Sha.
Sha memegang tangan Nai yang berada di samping ranjangnya. “Nai aku gak pernah suka sama kak Akbar. Dari awal kan aku sudah bilang kalau dia itu memang menyebalkan. Hanya saja sekarang dia sedikit baik padaku.”
Nai terdiam. Melihat wajah kesakitan juga air matanya, hati Nai sedikit tergerak. Lagi pula memang bukan sepenuhnya salah Sha. Dia juga bersalah karena tidak mendnegarkan penjelasan Sha. Nai balas menggenggam tangan Sha.
“Sha, gue juga minta maaf. Seharusnya gue dengerin penjelasan lo dulu bukannya malah marah-marah gak jelas kayak kemarin. Lo juga kecelakaan pasti karena mikirin gue kemarin ya. Justru gue yang harusnya minta maaf lo gak salah kok gue aja yang terlalu baper,” ucap Nai.
Nai merentangkan tangannya dan langsung memeluk Sha. Sha dan Nai pun berpelukan. Mereka tersenyum bahagia, akhirnya perselisihan itu usai. Sha merasa lega karena Nai mau memaafkannya. Dan Nai seolah beban berat yang menimpa pundaknya terangkat seketika.
“Uluh-uluh yang sudah baikan, lupa deh sama temen yang ini mah serasa dunia milik berdua,” ucap Bila sambil di sofa dengan Akbar yang cuek.
Walau begitu Akbar bersyukur karena mereka bisa baikan. Dia tidak perlu pusing lagi memikirkan kekacauan yang merembet kemana-mana ini. Akbar bisa bernafas lega dan tidak akan mendapat tatapan membunuh dari Yusuf lagi.
“Sini-sini ikutan,” ucap Sha seraya merentangkan tangannya.
“Wah lagi ada apa ni, rame kayaknya ya,” ucap Ibunya sha sembari menyimpan buah yang di belinya di samping nakas ranjang rumah sakit.
“Eh tante,” ucap Nai dan Bila kompak sambil menyengir lebar.
“Ini ada sedikit makanan di meja kalau mau ambil aja ya.” Ucap Ibu Sha sambil membuka beberapa kantong belanjaannya.
“Gak usah repot-repot tan, bentar lagi bila pamit pulang kok tan,” ucap Bila sambil bersiap-siap untuk pulang.
“Loh kok buru-buru sih, tante baru aja sampai.”
“Aduh maaf ya tante Bila takut supir sudah datang ke sekolah.”
“Loh jadi kamu kesini gak di antar supir?” tanya Ibu Sha heran, Bila hanya menggeleng.
“Bila gak bilang tan, soalnya takut gak di bolehin. Jadi tadi kesini naik taksi.” Bila menjelaskan.
“Loh nanti kamu pulang gimana bil?” tanya Nai.
“Emm naik taksi lagi mungkin.” Bila tampak sedikit berfikir.
__ADS_1
“Naik taksi lagi mungkin.”
“Aduh bil maaf y ague juga nebeng kak Akbar nih.”
“Gpp kok.”
“Kalau gitu Bila duluan ya tan.”
“Sha gue pamit pulang ya besok kesini lagi, semoga cepat sembuh ya.”
“Iya hati-hati dijalan, makasih ya udah mau jenguk,”ucap Sha .
Bila menganggukkan kepalanya dan beranjak pergi darisana. Bila pamit dan meninggalkan ruangan rawat Sha.
“Tante kalau gitu kami juga pamit pulang ya,” ucap Akbar sambil mengajak Nai untuk pamitan.
“Tante maaf ya kalau ngerepotin,” ucap Nai sambil mencium tangan Ibu Sha.
“Ah gak apa-apa kok,”
“Tante yang terima kasih loh sudah mau jenguk.” Akbar dan Nai mengangguk dan tersenyum.
“Sha kami pamit ya smeoga cepat sembuh.” Ucap Akbar kepada Sha.
“Terima kasih banyak ya Nai, kak Akbar sudah mau jenguk.”
Nai dan Akbar ke luar ruangan Sha di antar oleh Ibu Sha sampai ke depan ruangan.
***
Yusuf menghentikan langkahnya ketika melihat dua orang yang do kenalnya.
Keningnya berkernyit heran, tetapi tangannya mengepal erat. Kenapa mereka bisa telrihat akrab kembali setelah kemarin seolah mengibarkan bendera perang. Yusuf tidak berniat menghampiri mereka malah Yusuf ingin menghindarinya.
Ketika mereka semakin dekat menuju tempat berdiri Yusuf. Yusuf segera bersembunyi di tembok koridor rumah sakit. Sayup-sayup terdengar percakapan mereka yang membuatnya semakin panas.
“Tumben banget lo ngajakin gue bareng?” tanya Nai dnegan raut bahagianya, dalam hati kecilnya harapan itu masih ada.
“Kenapa emangnya?” Akbar balas bertanya.
“Tumben banget biasnaya kalau di tebengin ke sekolah suka ngilang duluan tuh. Belum lagi kalua main ke rumah sukanya ngusir kayak kemarin. Upss.” Nai menyindir Akbar yang tidak terpengaruh oleh ucapannya.
“Lo itu adik kecil gue .” Ucapan Akbar yang mampu membuat Nai membeku dan membuatnya terdiam di tempatnya.
“Yang harus di jaga karena di amanatin oleh nyokap gue. Kalau gue kenapa-napa gue juga yang repot.”
“Gue gak mau Mama gue sedih karena khawatirin lo, jadi jangan gr ya.” Akbar sedikit tertawa kecil di kalimat terakhirnya.
Nai tidak mendnegarkan Akbar berbicara lagi. Adik ya? Nai tertawa miris. Tanpa mereka sadari di dekat mereka Yusuf mendnegarkan percakapan dua orang itu. Yusuf kembali mengepalkan tangannya melihat raut wajah sedih Nai. Akbar memang brengsek pikir Yusuf.
Akbar berhenti karena tidak mendengar ocehan Nai. Akbar berbalik dan melihat Nai sedang berdiri di tengah koridor yang sepi. Akbar bergidik takut Nai kesurupan.
“Lo mau gue tinggal disini?” tanya Akbar dengan volume suara yang besar seraya meninggalkan Nai yang malah melamun di koridor rumah sakit. Kesambet suster ngesot Akbar sumpahin ntar.
Nai buru-buru mengejar Akbar yang sudah jalan duluan. Lupakan, lupakan dan jangan benci rapal Nai dalam hati. Nai bertekad untuk mmebuat Akbar jatuh cinta dan melupakan tentang masa lalunya.
Yusuf keluar dari persembunyiannya setelah melihat Akbar dan Nai sudah menjauh. Yusuf menatap sebuah cokelat di tangannya. Dia sedikit tersenyum melihat cokelat itu. Yusuf yang bingung untuk memberi Sha hadiah dan meminta maaf.
Pilihannya jatuh pada sebatang cokelat yang terkenal sejagat Indonesia raya. Yusuf tidak mungkin memberi bunga karena bisa layu. Jadi dia memilih cokelat yang bisa dimakan.
Hari ini dia ingin menebus kesalahannya kepada Sha. Dia tidak ingin memikirkan Naila lagi yang jelas-jelas tidak menyukainya.
Sepanjang jalan Yusuf memikirkan kejadian akhir-akhir ini yang selalu membuatnya bahagia, sedih dan kesal sekaligus. Dia tidak mau hidupnya menjadi kacau hanya gara-gara seorang perempuan. Yusuf harus fokus kepada dirinya yang masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat kecelakaan itu.
Memikirkan itu membuat Yusuf menghela nafas berat. Dia tidak mau mengingat itu lagi sebenarnya.
__ADS_1