
Sekembalinya mereka Pak Yoyo menyuruh mereka untuk memakai pelampung dan juga helm yang akan di gunakan ketika arum jeram. “Persiapan kalian lumayan bagus memakai sepatu, juga pakaian yang anti air, itu persiapan yang cukup bagus untuk pemula.”
“Kalau begitu ayo kita keluar untuk pemanasan terlebih dahulu.” Pak Yoyo mengajak mereka untuk pemanasan terlebih dahulu.
“Dalam arum jeram ini kita harus bersiap apabila perahu karet tiba-tiba terbalik.
Pelampung ini akan membantu kalian agar tidak tenggelam, meski begitu kita harus tetap waspada karena sesuatu bisa saja terjadi di lapangan. Oleh karena itu persiapan yang di lakukan pun bukan hanya asal-asalan.” Jelas Pak Yoyo.
Bila jadi sedikit takut mendnegar penjelasan Pak Yoyo. “Ini bukan untuk menakut-nakuti kalian kok tenang, aslinya ini akan menjadi pengalaman menyenangkan bagi kalian.”
“Mari latihan mendayung terlebih dahulu.” Ajak Pak Yoyo. Pak Yoyo mengajarkan mereka cara mendayung yang baik dan benar.
“Sudah mengerti?”
“Mengerti.” Mereka menjawab dengan semangat.
“Ayo mari bersenang-senang.” Seru Rio. Mereka berenam tersenyum, Rio berjalan turun ke bawah duluan.
“Hati-hati.” Yusuf memegang tangan Sha untuk turun ke bawah sungai yang licin.
Rio jadi ikutan mengulurkan tangannya kepada Bila, “gue bantu.” Bila menurut saja meski kesal dengan seringaian Rio.
“Gue bisa sendiri.” Nai mencoba menghiraukan Akbar yang terlihat akan mengulurkan tangannya seperti yang lain.
“Pede bener.” Jawab Akbar mendahului Nai turun ke bawah.
Nai mulai cemberut, “dasar gak peka.”
Gerutuan Nai tidak sampai disitu saat akan turun pun bibirnya masih cemberut, terlihat seperti mulut bebek yang maju ke depan. Nai tidak sadar jalan di depannya licin.
“Nai awas.” Teriak Bila dan Sha.
“Awhhh.” Nai memejamkan matanya takut jatuh ke tanah licin. Kok tidak sakit, pikir Nai. Nai membuka matanya dan terkejut melihat dirinya berada di pelukan Yusuf. Segera saja dia melepas diri.
Yusuf mencekal tangan Nai yang akan berdiri, “lain kali hati-hati.” Ucap Yusuf yang membuat Nai jadi ketar-ketir karena dia membatu Nai berdiri dengan benar.
“Ayo gue bantu.” Ucap Yusuf lagi.
“Ck.” Yusuf berdecak melihat Nai yang lagi-lagi bengong. “Kalau masi mau disini kita tinggal.”
Nai menerima uluran tangan Yusuf dengan canggung, “iya i ya.”
“Kalian bebas memlih duduk dimana saja asal hanya berdua jangan bertiga.” Ucap Pak Yoyo ketika mereka sudah sampai menuju sungai dan akan duduk di perahu karet.
Rio langsung meloncat naik ke perahu dan duduk di depan. “Bar sini.” Ajak Rio.
“Gak gue mau di belakang aja.” Tolak Akbar.
Sha maju dan duduk di sebelah Rio. Mereka yang disana menjadi kaget dengan tindakan spontan Sha yang tidak biasanya. Rio tersenyum canggung kepada Shad an Yusuf.
“Kak aku boleh duduk disini kan?” tanya Sha yang sedang membenarkan posisi duduknya.
Rio melirik Yusuf sekilas. “Boleh kok gak ada..”
“Gue di belakang lo.” Yusuf kalah cepat dengan Akbar yang langsung duduk di belakang Sha. Yusuf menatap tajam Akbar yang seenaknya saja.
“Awas!” titah Yusuf yang tidak di hiraukan Akbar.
Bila maju daripada nanti akan ada perang dunia ketiga. “Gue di depan aja. Awas Yo.” Bila mencoba mengusir Rio. Dengan terpaksa Rio pindah ke belakang Bila. Yusuf mungkin tidak akan mau jika duduk sebangku dengan Akbar. Nai juga sepertinya tidak ada minat duduk di sebelah Akbar.
Jadilah Nai dan Yusuf duduk di paling belakang. Sha sempat menoleh ke belakang tapi dia langsung mengalihkan perhatiannya ke depan. Sha mengirup udara segar sebanyak-banyaknya. Nai sendiri hanya diam saja melihat teman-temannya yang heboh.
“Gusy ayo kita foto dulu.” Rio mengacungkan go pro dan memberikannya pada Bila.
__ADS_1
“Orang itu berdoa dulu yang dilakuin pertama ini malah foto.” Gerutu Bila tapi tak ayal dia berfoto semanis mungkin di kamera.
“Senyum dong guys.” Perintah Bila.
Selesai berfoto mereka berdoa agar di berikan kelancaran selama perjalanan, tidak ada hambatan dan selamat sampai kembali pada titik awal. Rio sibuk membetulkan kamera go pro dengan serius. Bila merengek pada Rio agar mau memfotonya sebelum berangkat. Sha yang gugup dan memegang tali erat-erat.
“Relaks Sha.” Bisik Akbar yang mmebuat Sha mengendurkan sediit pegangannya.
Yusuf melirik Nai yang terlihat iri melihat teman-teman di depannya yang begitu bisa menikmati kesenangan hari ini. “Hati-hati jangan ceroboh lagi.” Peringat Yusuf kepada Nai.
Nai menoleh sekilas pada Yusuf, “ya.” Jawab Nai datar.
“Siap.” Ucap Pak Yoyo sang pemandu.
Bila memegang dayung dengan semangat. Dia membetulkan letak helm nya yang dirasa miring. “Siap.” Ucap Bila seraya mengayunkan dayung sampannya.
Arus yang mereka lewati kali ini cukup deras. Bila mendayung dengan kewalahan, rio dengan gemas meledek Bila yang sok-sok an bisa mendayung.
“Gusy lihat ratu sok kuat sedang lemah.” Bisik Rio pada kamera yang masih bisa di dengar Bila. Bila membalikan badannya dan mengambil dengan paksa go pro yang di pegang Rio.
Bila juga memberikan dayung nya pada Rio.
“Lo gak cocok jadi pemandu acara biar gue aja, lo cocoknya dayung sampan. Dayung yang benar ya.” Rio yang kesal akhirnya mendayung karena arusnya mulai deras sehingga membuat perahu karet mereka sedikit oleng.
Yusuf yang melihat Nai terguncang merapatkan diri dan merangkul bahu Nai dengan sebelah tangannya yang tidak memegang tali. Perhatian itu tidak ada yang melihatnya kecuali kamera go pro yang mungkin bisa merekamnya.
“Owww ombaknya deras gusy, jadi kita harus hati-hati ya. Dayung yang baik ya Rio.” Bila berbalik dan tersenyum manis ke arah Rio.
“Rekam terus bil wajah gue yang merana gini.” Sarkas Rio.
“Hahaha, uuwuwuwu. Hati-hati guys banyak bebatuan.” Bila memusatkan lagi perhatiannya ke depan kamera.
“Lihat nih, ini Sha yang pendiam.” Bila mendekatkan kameranya ke arah Sha. “Say hai Sha.” Bisik Bila.
“Kaku banget.” Komentar Bila. Bila beralih kepada Akbar yang terlihat begitu tenang.
“Guys mari kita lihat ekspresi ketua basket apabila perahunya tergoncang badai.” Ucap Bila lebay.
Akbar menatap Bila dengan tajam yang membuat Bila tersenyum penuh kemenangan. “Lihat guys ekpresinya saat tegang aja masih cakep.”
“Dasar genit.” Cibir Rio. Yang tidak di respon oleh Bila.
“Lihat ke depan guys pemandangannya indah banget, ada banyak pohon rimbun pantes saja disini dingin banget. Air sungainya juga dingin tapi jernih, sepertinya bisa buat ngaca nih.” Bila mencoba memasukkan tangannya pada air yang dingin itu. Melihat wajahnya sendiri di air yang jernih membuat Bila berdecak kagum.
“Wah jernihnya.” Bila meraba-raba wajahnya yang bisa terlihat di air.
“Dasar norak.” Bila mendelik kepada Rio.
Tiba-tiba saja Bila mencipratkan airnya kepada Rio, dan terjadilan aksi perang-perangan air yang membuat perahu mereka sedikit oleng.
Tidak sadar dengan apa yang di lakukan oleh Bila dan rio di depan mereka sebuah bebatuan dan turunan tajam menanti mereka.
“Ahhhhh.”
Byuur perahu terbalik. Pak Yoyo berusaha membalik perahu kembali juga memanggil-manggil penumpangnya. Dia memegang tangan siapa saja yang di gapainya.
Yusuf berusaha menarik tangan Nai untuk mendekat ketika Pak Yoyo berusaha menggapai tangannya. Yusuf berhasil membawa Nai kembali naik ke parahu karet.
“Rio tolong.” Bila berusaha menggapai-gapai tangan Rio di tengah arus sungai yag deras. Dia bahkan tidak berpikir lagi kenapa go pronya tidak ada di tangannya.
Grep
Seseorang memeluk tubuhnya dan membantunya nak ke perahu. “Ayo Bil.” Ajak Rio. Rio yang menemukan Bila langsung memeluknya dan membawanya mendekat ke perahu. Rio tau jika arus deras begini akan menyulitkan mereka berenang di arah berlawanan, oleh karena itu di memeluk Bila dan membawa serta tubuhnya mendekat ke perahu.
__ADS_1
Untung saja Bila dan Nai masih bisa Nai ke perahu dan belum sempat menelan banyak air. Berbeda dengan Akbar yang masih mencari keberadaan Sha yang tenggelam. Entah kenapa Sha bisa tenggelam.
***
Sha memejamkan matanya tat kala kulitnya bersentuhan dengan dinginnya arus sungai. Tubuhnya seolah digiring mengikuti arus sungai. Kakinya kram karena air yang dingin begitu juga dengan kepalanya yang pusing karena sehabis tenggelam tadi berbenturan dengan batu. Sekarang hanya keajaiban yang membuat Sha berharap.
Saat sedang memejamkan matanya. Dia tiba-tiba melihat sekelebat bayangan seorang anak kecil yang terguling di jurang dan terus memanggil mamanya.
“Mama.” Ujar Sha pelan. Saat sedang membuka mulutnya itulah air banyak yang mausk ke dalam tubuhnya. Sha kemasukan banyak air sekarang, dia juga kehabisan nafas. Tangan Sha berusaha meraba apa yang di dekatnya, tangannya juga menggapai ke atas berharap ada yang menolongnya.
“Mama.” Gumam Sha pelan sebelum pusing mendera kepalanya. Ingatan yang berputar di kepalnaya membuat sekujur tubuhnya kaku dan terasa amat sakit. Sekarang dia merasa sangat ketakutan.
“Mama, tolong.” Gumam Sha yang tidak bisa di dengar orang. Tangan Sha melambai ke atas lagi, mencoba memberikan isyarat kepada siapapun yang melihatnya.
Akbar melihat tangan seseorang yang naik ke permukaan kemudian tenggelam lagi. Akbar berusha sekuat tenaga melawan arus yang deras itu untuk menggapai tangan Sha yang kini tidak terlihat. “Sha.” Teriak Akbar.
Sha yang mendengar seseorang memanggilnya hanya bisa memejamkan matanya kuat-kuat. Sekelabat bayangan yang membuatnya seolah terguling dari jurang itu memnuhi pikirannya. “Tolong aku.” Lirih Sha sebelum dia memjamkan matanya dan tak sadarkan diri.
Akbar berusaha terus mencoba menggapai tangan Sha yang suda tidak terlihat. Meski arusnya begitu deras sehingga membuatnya sulit untuk berenang. Sha sudah tidak sadakan diri membuat Akbar sedikit sulit mencari jejaknya. Akbar tetap optimis.
Tidak lama kemudian melihat tubuh Sha yang sedikit mengapung. Dengan segera Akbar menghampirinya dan menggiring Sha untuk ke tepi sungai karena rombongan perahu karetnya sudah tidak terlihat. Entah dia yang tertinggal atau mereka yang serseret arus. Akbar berusaha keras untuk Sha naik ke permukaan karena sepertinya Sha kemasukan banyak air.
Sesampainya di tepi Akbar tidak tahu harus berbuat apa. Yang pertama Akbar lakukan adalah mencoba membangunkan Sha. Akbar mencoba menekan dada Sha, Akbar berharap cara ini mampu membuat Sha sadar. Ternyata Sha belum sadar juga. Akbar terus berpikir bagaimana membuat Sha sadar.
“Sha maaf.” Ucap Akbar pelan, lantas dia mendekatkan tubuhnya kepada Sha. Akbar mendekatkankan bibirnya pada bibir Sha dengan ragu. Dengan pelan Akbar memberikan nafas buatan kepada Sha. Belum ada reaksi Akbar mencoba nya sekali lagi, walau dia merasa bersalah karenanya tapi dia melakukan ini agar membuat Sha sadar.
“Uhuk uhuk.” Sha mengerjapkan matanya perlahan. Begitu melihat Akbar Sha langsung memeluknya dengan erat. Akbar sempat terdiam karena terlalu terkejut dengan Sha yang langsung memeluknya erat. Sha terlihat benar-benar rapuh.
“Jangan tinggalin aku sendiri.” Gumam Sha yang masih berada di dalam pelukan Akbar.
Akbar mengelus pelan punggung Sha yang terisak. “Gue gak akan kemana-mana kok, bakalan jagain lo.”
Akbar menengok kanan kirinya yang terlihat hanyalah pepohonan yang rimbun. Bingung, bagaimana mereka bisa pulang sekarang. Akbar juga berusaha menenangkan Sha yang terlihat sangat ketakutan.
***
“Sha.” Teriak Bila, matanya tak henti menoleh kesana-kemari berharap mendapatkan petunjuk keberadaan Sha dan Akbar.
“Akbar.” Teriak Rio yang kini sambil mencoba mencari kamera go pro, siapa tahu terselip di perahu karet pikir Rio.
Bila melirik ke belakang, Nai masih memeluk Yusuf dengan erat. Bila jadi kesal sebenarnya mereka ini menghawatirkan teman yang hilang atau tidak sih. Bila menyenggol pelan bahu Rio. “Apa sih?” protes Rio.
Bila mengkode lewat tatapan matanya, syukur saja Rio mengerti. “Kalian kok malah asyik mojok sih, padahal pacar lo kan sedang tidak tahu dimana.” Ucapan Rio itu mmebuat Yusuf tersadar, dia segera melepaskan pelukannya.
Sejak naik perahu tadi Nai memang terlihat ketakutan sehingga terus memeluk tangan Yusuf erat. Melihat Nai yang telrihat sangat ketakutan membuat Yusuf membiarkan saja Nai berbuat demikian. Dia sangat khawatir melihat wajah pucat Nai.
“Sebenarnya yang pacar lo itu siapa sih kak, sekalian aja putusin nanti pulang dari sini.” Ketus Bila yang terlihat risi melihat kedekatan Nai dan Yusuf. Bila hanya tidak ingin mereka saling menyakiti satu sama lain.
“Hush bil omongan adalah doa, jangan ngomong sembarangan.” Peringat Rio yang membuat Bila segera saja memohon maaf entah pada siapa.
“Sebentar lagi perahu kita akan sampai ke titik awal.” Ucap Pak Yoyo yang mmebuat Bila gelisah sendiri.
“Santai bil pasti ada jalan keluarnya kok.” Rio berusaha menenangkan Bila yang terlihat takut, dia juga was-was sebenarnya.
“Kita tunggu saja di depan titik keberangkatan, tadi teman bapak mengabarkan kalau mereka sedang dalam perjalanan.” Bila mencoba mengangguk walau dia sendiri merasa sangat takut, takut mereka kenapa-kenapa.
Ternyata benar di depan mereka titik awal keberangkatan sudah terlihat. Pak Yoyo terlihat sibuk untuk menepikan perahunya. Rio membantu pak Yoyo yang terlihat susah. Dalam benak Pak Yoyo dia juga amat khawatir dengan keadaan kedua rombongan yang di dampinginya ini.
Bila berjalan dengan lemas ke tepi sungai. Dia langsung terduduk di salah satu batu dengan lemas. Dia benar-benar lemas sekarang, fisik juga pikirannya. “Pak maafkan saya yang bercandanya kelewatan.” Bila tertunduk dan merasa sangat bersalah karena dia yang memulai untuk bermain-main dengan Rio.
“Sudah ini bukan salah lo kok gue juga salah.” Rio berusaha menghibur Bila.
Sedangkan Akbar dan Nai hanya terdiam saja menunggu kehadiran Akbar dan Sha yang semoga saja selamat. Yusuf naik ke atas dan kembali lagi dengan jaket yang dia berikan kepada Nai.
__ADS_1
Bila kesal masih sempat-sempatnya Yusuf memikirkan kondisi Nai sedangkan kondisi pacarnya sendiri sedang tidak ada kabar. Masih mending kalau di perkotaan, ini kan di sungai dan tengah hutan.