Bintang Senja

Bintang Senja
Bab 28 Kelas Absurd


__ADS_3

Sha yang bosan pun berjalan menuju taman rumah sakit sambil membawa selang infus. Agak ribet sih tapi daripada kebosanan lebih baik cari udara segar sambil menikmati pagi dan melihat-lihat sekitar rumah sakit.


Sha melihat adik kecil yang menangis di bangku taman sambil memegangi lututnya. Sha pun menghampirinya, Sha melihat lutut anak kecil laki-laki tersebut berdarah. Entah apa sebabnya, tapi dia berusaha menenangkannya.


“Adek kenapa nangis?” tanya Sha lembut.


“Huhu lu tut a ku ca kit kak huaaa,” ucapnya sambil menangis.


“Mana sini kakak lihat,” Sha menocoba melihat luka di lutut anak tersebut. Sedikit keberatan anak tersebut memperlihatkan luka yang ada di lututnya.


Dengan telaten Sha mulai membersihkan lukanya dengan tisu yang ada di sakunya dan menempelkan plester di lutut anak tersebut. Anak tersebut sempat meringis ketika Sha membersihkan lututnya.


“Sudah kakak obati lukanya sayang, jangan nagis lagi ya masa laki-laki cengeng,” ucap Sha sambil mengelus rambut anak tersebut.


“Makasih kakak cantik,” anak itu akhirnya menghampiri teman-temannya dan kembali ikut bermain dengan mereka. Sha jadi tersenyum melihatnya.


Tiba-tiba saat Sha sedang menikmati dan menghirup udara pagi, ada seorang anak kecil menghampirinya dan membawa setangkai bunga mawar merah.


“Kak ini bunganya untuk kakak,” anak tersebut memberikan bunga mawar merah itu kepada Sha.


“Wah cantik bunganya, kamu dapat darimana?” Sha menerima bunga itu dnegan senang hati. Dia langsung menghirup bunga mawar tersebut.


“Dari sana kakak,” anak kecil itu menunjuk seorang cowok yang sedang tersenyum ke arah mereka. Tidak lama cowok itu berjalan menjauh dan menghilang di belokan koridor rumah sakit.


Sha mengernyit heran karena tidak mengenali cowok tersebut. Siapa dia? Batin Sha bertanya-tanya. Saat sedang memikirkannya, kepala Sha mendadak pusing.


“Kakak kenapa?” anak kecil tersebut terlihat panik karena melihat Sha memegangi kepalanya.


“Gak apa-apa kok, kakak boleh minta tolong gak anterin kakak ke ruangan kakak.”


Sha akhirnya meminta bantuan kepada anak kecil itu untuk mengantar ke ruangannya.


“Ayo kak.”


Mereka berjalan ke ruangan Sha dengan pelan karena kepala Sha benar-benar pusing. Ibu yang melihat Sha dipapah seorang anak kecil segera menghampirinya. Setelah mengucapkan terima kasih kepada anak tersebut, Sha dan ibunya pun masuk keruangan. Dan anak kecil itu kembali lagi ke taman. Sha dipapah ibunya ke ranjang, setelah sampai di ranjang Sha mencoba memejamkan matanya agar pusingnya sedikit hilang.


“Nduk kamu gak apa-apa kan?” tanya Ibu Sha khawatir.


“Gak apa-apa kok bu cuma sedikit pusing saja.”


“Apa perlu ibu panggilkan dokter” Sha hanya menggelengkan kepala.


Ibunya yang khawatir berniat untuk memanggil dokter. Segera saja dia keluar ruangan Sha untuk mencari dokter. Belum sempat ibunya memanggil dokter ternyata dokter sudah mau masuk ke ruangan Sha.


“Bagaimana kabarnya hari ini Sha?”


“Itu dokter katanya kepala Sha sedikit pusing.” Ibu Sha mendahului menjawab pertanyaan dokter.


“Kalau gitu kita periksa dulu ya.”


Dokter mulai memeriksa keadaan Sha. Menurutnya sedikit pusing memang hal yang wajar apalagi Sha habis kecelakaan. Tidak perlu tindakan serius, hanya saja jika sudah keluar dari rumah sakit Sha masih harus berobat jalan karena kondisinya belum benar-benar pulih. Dokter memperbolehkan Shakila pulang sore ini.


Ibu Sha sangat bersyukur mengetahui hal itu, begitu juga dengan Sha yang merasa sangat senang bisa pulang ke rumah walau masih harus berobat jalan.


“Istirahat yang cukup ya Sha.”


“Bu boleh kita bicara sebentar di luar.”


“Baik dokter.” Ibu Sha segera keluar ruangan membiarkan Sha untuk beristirahat.


“Bu, sebaiknya ibu kasih tahu saja kondisi Sha yang sebenarnya. Takutnya gejala pusingnya bisa semakin sering terjadi.”


“Saya masih takut pak dokter.”


“Saya yakin Sha akan menerimanya dengan baik kok bu.”


“Baik dokter saya akan pertimbangkan hal itu.”


“Iya bu, ini juga untuk kesehatan Sha.”


Ibu Sha mengangguk ragu. “Sekali lagi terima kasih dokter.”


“Ibu bicara apa sama dokter?” tanya Sha ketika ibunya sudah sampai di ruangan Sha kembali.


“Ah itu hanya perkembangan kondisi kesehatanmu saja.” Sha mengangguk mengerti.

__ADS_1


Maafkan ibu Sha masih merahasiakan hal itu dari kamu nduk, kamu pasti sangat menderita karenanya.


“Bu.” Panggil Sha kepada ibunya yang tengah melamun.


“Ah iya nduk.”


“Ibu tahu ponsel Sha dimana?”


Semenjak dia di rumah sakit, Sha tidak pernah menyentuh benda tersebut. Sekarang dia jadi rindu dengan kegaduhan grup kelas yang pasti ramai.


“Ah sebentar ya nduk ibu ambilkan dulu di tas ibu.”


“Ini nduk.”


Sha dengan senang hati menerimanya dan mulai membaca grup kelasnya yang selalu heboh itu. Baru membuka aplikasinya saja bunyi notifikasi sudah berdentingan, banyak juga yang mengechat nya.


Sha pun mulai membuka satu-persatu chat dari teman-temannya mulai dari kelasnya terlebih dahulu yang chatnya sudah bejibun karena dua hari dia tidak menggunakan handphone. Dia tidak mau kehilangan info kelas, takut ada yang penting.


Grup kelas anak nackal sayang mamah


Entah siapa yang menamainya begitu, mungkin km nya atau admin grupnya. Masa bodo lah fikirnya. Lebih baik segera membacanya keburu tertumpuk pesan yang baru lagi.


Rama : Ekhem hai teman-teman yang sangat aku cintai sejagat raya, tapi aku lebih mencintai doi yang gak peka-peka


Sinta : Curhat ram


Nia : Duh kasihan, makanya kalau ada yang suka sama lo tuh jangan dianggurin


Rixal : Kode tuh ram


Nia : Dih siapa yang suka sama bayi bagong, amit-amit ya allah jangan sampai deh. Bisa bubaran nih dunia kalau gue suka dia idih ogah


Rama : Kalau ngomong tuh jangan seenaknya aja lo tuh anakan badak, badan udah gede juga masih doyan makan pantes gak ada yang suka sama lo takut ....


Rian : Takut apa ram?


Rama : takut bangrut hahaha


Nia : ******* lo ram, gue bilangin ya lo itu kalau tidur suka ngorok dan suka pakai boxer spongebob


Indra : Stop ini itu bukan tempat untuk curhat apalagi baper-baperan


Rama : Siapa yang curhat dan baperan sih lo aja kali baper liat doi balikan ma mantan


Bayu : Woy gengs kata bu ani besok tugas prakarya besok dikumpulin


Asep : Tugas yang mana woy?


Indra : Emang Bu Aan ngasih tugas gitu, kok gue gak tau ya


Bayu : Ngasih, yang waktu itu di suruh bikin laporan kunjungan


Yanti : Oalah yang itu toh, itu mah udah dikumpulin kali. Lo kemana aja bolos aja ya lo


Bayu : Hah kapan? kok gue baru tau ya


Sindi : Eh lo yang ketinggalan zaman, itu tugas udah dikumpulin dari zaman mana deh persaaan


Bila : Itu udah di kumpulin kapan hari deh gens. Untuk yang belum tugasnya nyusul boleh katanya


Naila : Kata siapa Bil?


Bila : Kata gue hahahaha


Sha terkikik geli melihat obrolan di grup yang tidak pernah sepi itu. Dia jadi semakin kangen dengan teman-temannya itu.


“Sha makan obat dulu ya.” Ibunya menghampiri Sha yang masih asyik dengan obrolan grup kelas.


“Eh iya bu.”


Sha berusaha duduk dan menyimpan ponselnya di nakas. Dia mengambil air minum beserta obat yang di sodorkan oleh ibunya.


“Kata dokter kamu harus banyak istirahat, jangan memikirkan hal-hal yang berat terlebih dahulu.”


“Iya bu.” Sha kembali memberikan gelas dan obatnya kepada sang ibu.

__ADS_1


“Habis ini istirahat ya, biar sore bisa bener-bener pulang.”


Sha mengangguk dan mulai berbaring. Dia memejamkan matanya ketika Ibu mengelus pelan kepalanya. Ibu mencium kening Sha dengan sayang.


“Semoga cepat sembuh sayang.”


***


Suasana kelas yang ramai dengan kegaduhan membuat Rama sang ketua kelas berdecak kesal. Kelasnya ini sepertinya sebagai kelas teramai 2017 se SMA Bandung.


“Teman-teman ada pengumuman nih.”


Teriakan Rama yang keras itu sama sekali tidak di hiraukan oleh teman-temannya. Akhirnya dia pasrah dan mulai duduk di bangku Sha yang kosong.


“Kenapa sih ram, mukanya suntuk amat?” tanya Nai yang asyik dengan ponselnya. Bila sendiri sudah ngacir ke kantin karena lapar.


Kebetulan kelas mereka sedang free class hari ini. Barang tentu hal ini di jadikan oleh anak-anak kelas sebagai surga dunia. Ada yang bergosib, jajan ke kantin dan lain sebagainya.


“Teman-teman lo tuh susah di atur.” Tuduh Rama kepada Nai.


“Itu juga temen-temen lo kali ram.”


“Ada apa sih?” tanya Nai yang kini memperhatikan Rama dengan seksama.


“Habisnya kesel gue, mau ngasih pengumuman malah di cuekin.” Curhat Rama.


“Pengumuman apa?” melihat Nai yang sedikit tertarik dengan pengumumannya mmebuat Rama menyunggingkan bibir dan berbisik di telinga Nai.


Mata Nai melotot kaget setelah mendengar pengumuman dari Rama.


Naila seketika naik ke bangkunya untuk menyampaikan pengumuman tersebut.


“Woy-“ Belum sempat Naila melanjutkan teriakannya Rama segera membungkam mulut Naila dengan tangannya.


Nai berusaha melepaskan tangan Rama di mulutnya. Dan Rama juga berusaha untuk mengajak Nai duduk kembali.


“Duh ram apa-apan sih.” Protes Naila setelah Rama melepaskan bekapannya.


“Lagian lo mau kasih tahu ke temen-temen sih. Gue kan sengaja mau ngasih mereka pelajaran.” Kesal Rama.


“Iya tapi gak harus bekap mulut gue juga kali. Tangan lo bau!”


Nai keluar kelas setelah mengatakan itu. Lebih baik dia segera mencari Bila. Sedangkan Rama langsung kesal melihat tingkah Naila, buru-buru dia memanggil cewek tercantik di kelasnya itu yang tidak di hiraukan sama sekali oleh Nai.


Rama pasrah dan mulai mencium tangannya sendiri. Emang bau gitu, pikirnya.


“Ah tidak. Itu mah akal-akalan Nai doang kali.” Rama kembali cuek dan mulai membuka ponselnya untuk bermain game. Biarkan saja tidak jadi di umumkan pengumumannya.


***


“Hai kak mau kemana?” sapa Nai ketika melihat Yusuf yang tengah berkeliaran di kantin.


“Mau ke koperasi, ada apa Nai?” sahut Yusuf datar.


“Eh gak ada apa-apa kok kak. Tadi mau nyari Bila di kantin tidak ada jadi mau balik ke kelas lagi.”


Sebenarnya Yusuf tidak menanyakan Nai sedang apa di kantin bukan? Yusuf jadi heran sendiri dengan tingkah Nai.


“Kalau begitu gue duluan ya Nai.” Yusuf berusaha untuk tetap bersikap sopan walau sebenarnya itu kembali membuka luka hatinya.


“Eh tunggu kak.” Nai mencegah Yusuf yang akan pergi dari kantin. Yusuf dengan terpaksa berhenti dan berbalik kea rah Nai.


“Em kak nanti mau ke rumah sakit jenguk Sha?” tanya Nai dengan keki. Nai sendiri jadi heran dnegan dirinya.


“Iya.”


“Aku boleh nebeng kak. Sopirku jemput ortu ke bandara nih.”


Yusuf hanya mengangguk saja karena tidak ingin lagi berlama-lama dengan Nai. Dia tidak ingin kembali jatuh cinta kepada Nai.


“Kalau gitu gue tunggu di depan kak.” Teriak Nai sebelum Yusuf benar-benar hilang dari pandangannya.


Yusuf tidak menjawabnya, walau dia masih mendengarnya. Sebenarnya dia tidak ingin berdekatan dengan Nai lagi karena bisa menghambat rencana move on nya.


Naila sendiri sedikit heran dengan tingkah kakak kelasnya itu. Sedikit cuek sepertinya, bukan dia yang biasanya. Eh apa hanya perasaannya saja. Sudahlah lebih baik dia kembali ke kelas saja karena Bila tidak ada di kantin.

__ADS_1


__ADS_2