Bintang Senja

Bintang Senja
Bab 36 Balkon


__ADS_3

Nai pun keluar tenda karena tidak bisa tidur. Dia duduk di depan api unggun tadisambil melihatnya indahnya lampu kota dan bintang di langit. Kerongkongannya terasa kering, dia pun pergi ke villa untuk mengambil minum karena persediaan di tenda sudah habis. Saat sedang minum, dia mendengar suara gitar dari atas. Nai pun mencari sumber suara yang berasal dari balkon.


Ada Yusuf yang sedang memetik gtar. Nai duduk di sampingnya. Ysuuf melirik Nai sebentar, “Lo gak tidur?” tanya Yusuf. Nai menggeleng.


“Nyanyiin aku satu lagu kak.” Pinta Nai. Ysuuf menatap Nai bingung.


“Buat hibur aku.” Yusuf akhirnya mengangguk dan mulai memetik gitarnya.


Jrengg


When I see you again


You left with no goodbye


Not a single word a said


No final kiss to seal any seams


I head no idea of the state we were in


I know i hve a fickle heart and bitterness


And a wandering eye


And haviness in my head


But dont you remember?


The reason you love me before


Bab , please remember me once more


Don’t you remember-adele


Nai terus memperhatikan Yusuf yang menyanyi dengan penuh penghayatan. Seolah menyampaikan kerinduannya kepada seseorang yang entah siapa lewat lagu yang dia nyanyikan. Nai jadi penasaran dengan orang itu, mungkin sangat special, pikir Nai.


Yusuf juga terlihat sangat menikmatinya lagu yang di nyanyikannya, bait-bait lagu yang dia nyanyikan seolah menyampaikan psan kerinduannya yang mendalam. Dia benar-benar merindukan kehadiran orang yang mungkin tengah berada di surga itu.


Yusuf menyelesaikan lagunya dengan sempurna, membuat Nai bertepuk tangan dengan riang, “ternyata suara kakak sangat bagus.”


“Biasa aja.” Sahut Yusuf datar dan menyimpan gitarnya di samping. Dia mulai menatap langit malam.


“Kenapa lo belum tidur?” tanya Yusuf sambil menoleh sebentar ke arah Nai dan mengalihkannya kembali menatap langit.


“Belum ngantuk,” jawab Nai singkat.


“Sana masuk sudah malam, balik lagi ke tenda,” ucap Yusuf yang mendapat tatapan tak percaya dari Nai.


Mata Nai membola. “Jadi ngusir nih ceritanya.” sindir Nai.


Yusuf menatap tidak percaya, “gak, gak gitu. Besok kan kita mau ke sungai arum jeram lo pasti capek habis…” Yusuf tidak melanjutkannya melihat wajah sedih Nai.


“Ya pokoknya lo gak capek apa setelah perjalanan jauh juga acara tadi.” Jelas Yusuf tidak mau Nai salah paham.


Nai menghela napas sebentar, “capek sih tapi belum ngantuk juga. Gue bosen di tenda danbutuh hiburan,” keluh Nai, dia tidak mau melihat wajah Akbar dulu untuk sementara. Juga melihat Sha mengingat acara menyanyi romantis Sha dan Akbar.


“Yaudah sana cepet balik ke tenda.” Ucap Yusuf yang meninggalkan Nai sendiri di balkon.


Dengan segera Nai menyusul Ysuuf karena dia tidak mau di tinggal sendirian. Nai melihat Yusuf yang sedang minum di dapur. Nai menghampirinya dan duduk di hadapannya.


“Lagu tadi untuk gue?” tanya Nai sambil menatap Ysuuf dengan serius.


“Bukan.” Nai mendesah kecewa mendnegar ucapan Yusuf.


“Buat seseorang yang sedang bersedih di tengah malam.” Lirih Yusuf yang masih bisa di dengar Nai.


Nai memainkan gelas yang tadi dipakainya untuk minum. Dia menatap Yusuf, “Makasih.” Ucap Nai yang menundukkan kepalanya.


Yusuf menatap Nai bingung, “Untuk?”


“Untuk nyanyian tadi, itu sedikit menghibur kesedihanku.” Nai tersenyum memandang Yusuf yang menatap Nai Bingung.


“Bukan masalah.”


Nai kembali tersenyum malu, “Kalau begitu gue duluan kak.” Nai segera pergi meninggalkan Yusuf yang terbengong akan tingkah Nai.


Yusuf jadi tersenyum melihat kelakuan Nai, “Ternyata move on itu sulit ya, apalagi orangnya sellau di dekat kita.” Lirih Yusuf.


Sha yang hendak ke kamar mandi mengurungkan niatnya ketika melihat percakapan dua orang yang terlihat akrab itu. Dia tidak sadar jika air matanya sudah menetes, Sha buru-buru masuk ke kamar mandi ketika melihat Yusuf yang hendak pergi dari dapur.


“Ada apa dengan hati gue ya?” ucapan Yusuf yang bisa di dengar Sha dari dalam kamar mandi.


Sha menatap pantulan dirinya di cermin. Tangannya memegang dadanya kuat-kuat. Sha sangat dengan jelas melihat raut bahagia di wajah Yusuf begitu juga dengan Nai. Meski dia tidak mendengar dengan jelas apa yang mereka bicaran Sha bisa merasakan bahwa telah terjadi sesuatu sebelum dirinya datang tadi.


“Sesulit itukah membuka hati untuk ku kak?” ucap Sha kepada cermin yang memantulkan bayangan dirinya yang tengah menangis.


Tok tok


“Siapa di dalam?” teriak seseorang dari luar.


“Siapa itu?” tanya Sha pada dirinya sendiri.


Tok tok tok


“Aduh udah kebelet nih, cepetan dong.” Ucap orang itu lagi.


“Sebentar.” Teriak Sha gugup, dia buru-buru menghapus air matanya. Rambutnya yang panjang dia rapikan dan di biarkan tergerai hingga menutup sedikit wajahnya ynag sembab.


Sha keluar dengan menunduk, seorang laki-laki yang tidak Sha lihat itu terdiam sembentar dan menelisik penampilan Sha yang membuat Sha ketakutan. Sha semakin menundukkan wajahnya dan pergi dari sana.

__ADS_1


Melewati dapur Sha tiba-tiba ada keinginan untuk membuat sesuatu. Sha memutuskan membuat cokelat panas yang untungnya ada di villa Akbar. Sambil menenteng cangkir yang berisi cokelat Sha duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Nai.


Mata Sha menatap berbagai peralatan di dapur yang belum di bersihkan. Kemudian beralih menatap cokelat panas yang baru di seduhnya. Dengan perlahan dia mendekatkan cokelat panas itu pada mulutnya.


“Aww,” ringis Sha.


Dirinya kini jadi menunduk, tenggelam dalam kesedihan yang dia sendiri pun tidak tahu kenapa. Akbar yang baru keluar dari kamar mandi menjadi bergidik ketika mendengar suara seorang perempuan menangis. Dengan mengendap-ngendap Akbar mencari asal suara itu.


Di dapur dia melihat seorang perempuan yang memakai baju warna biru dengan rambut panjang yang menjuntai menutupi wajahnya. Akbar berbalik ngeri jangan-jangan…


“Hiks hiks, kalau tahu jatuh cinta itu sakit lebih baik tidak perlu….”


Pelan-pelan Akbar mendekati orang itu, Akbar mencoba menutup matanya ketika tangannya itu menyentuh bahu perempuan yang Akbar sendiri tidak tahu siapa.


“Kamu…”


“Aaaaa”


“Klontang…”


Sha terbengong menatap Akbar yang menutup matanya ketika melihat Sha berbalik. Sha kini beralih menatap cangkir cokleat panas yang sudah tumpah ke lantai. Dia menatap sedih cokelat panas yang baru diminumnya sedikit itu. Dengan pelan dia bangkit dan mulai jongkok di hadapan cangkir yang sudha menumpahkan isinya itu.


“Hiks hiks.” Tiba-tiba saja Sha kembali menangis.


Mata Akbar mengintip sedikit, memastikan orang tersebut memanglah manusia bukan hantu seperti dugaannya. Akbar sempat terkejut ketika melihat orang itu kembali menangis. Dia pun jongkok di hadapan orang itu.


“Cangkirnya jatuh…”


“Kamu.” Sha mendongakkan kepalanya mendengar suara orang lain selain dirinya.


Mereka memandang satu sama lain selama beberapa saat. Sha terpaku karena melihat wajah terkejut Akbar dan Akbar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat Sha yang menangis dengan rambut yang tidak bisa di bilang rapi, juga jangan lupakan rambutnya itu menutup sebagian wajahnya yang membuat Akbar parno.


Sha bangkit sambil membawa cangkir ke wastafel, dia kemudian mengambil lap dan kembali menghampiri Akbar yang masih jongkok terdiam. Sha akan mengelap lantai kotor ketika Akbar menggenggam sebelah tangannya.


“Sha.”


Disapa seperti itu Sha hanya menunduk dan mencoba melepaskan genggaman Akbar.


“Biar gue aja.” Akbar dengan cepat mengambil alih lap di tangan Sha. Tangan satunya menuntun Sha untuk duduk di kursi.


Sha hanya diam melihat Akbar yang cekatan mengelap lantai. Melihat Akbar entah kenapa air matanya kembali beruarai. Tidak ingin terlihat cengeng Sha berbalik memunggungi Akbar, dia berjalan kea rah westapel.


Akbar memperhatikan gerak-gerik Sha, tanpa di duga Akbar Sha malah membersihkan piring kotor yang menumpuk. Melihat hal itu Akbar bergegas mempercepat pekerjaannya. Dia melempar dengan asal lap yang di gunakannya untuk membersihkan lantai itu.


“Sha udah nanti lagi.” Akbar terlihat khawatir melihat kondisi Sha yang mencuci piring sambil menangis.


Sha mengelap sisi wajahnya yang terkena air mata, “tidak apa kak, aku bisa kok.”


Dengan sangat terpaksa Akbar membiarkannya, “kalau gitu gue bantu.”


Akbar dan Sha akhirnya bekerja sama untuk mencuci piring kotor bekas mereka makan tadi. Akbar tidak menyangka jika malam yang seharusnya indah ini menjadi kelabu. Entah kenapa saat sedih begini Sha jadi semangat bekerja. Bahkan dia tidak sadar ketika dia duduk kembali di kursi meja makan. akbar sendiri Sha tidak terlalu peduli sebenarnya, dia hanya ingin menumpahkan kesedihannya, sendirian.


“Nih.” Akbar menyodorkan satu cangkir cokelat panas yang masih mengepul.


Sha melihat cangkir itu dengan tatapan nanar, “terima kasih kak.” Ucap Sha tanpa melihat Akbar yang terlihat khawatir.


“Sha are you okay?”


Sha hanya menggelengkan kepalanya saja, membuat akbar mendesah pelan. Dia menyesap cangkir cokelatnya. Tiba-tiba Akbar teringat sesuatu. Akbar bangkit dari duduknya, satu tangannya membawa cangkir dan satu tangannya lagi mengajak Sha untuk bangkit.


“Sha ayo ikut gue.”


Belum sempat bertanya suara Akbar kembali menggema, “bawa juga cangkirnya.” Dengan terpaksa Sha menurut kali ini.


***


“Kita ngapain kesini kak?” tanya Sha begitu mereka sampai di balkon. Akbar melepaskan genggamannya pada tangan Sha.


Akbar berjalan menuju kursi, dia menyimpan cangkirnya disana. Kemudian Akbar berjalan lagi menuju tengah balkon yang tidak beratap itu. Mendudukan dirinya di sana. Tangan Akbar melambai kepada Sha yang hanya terdiam mematung.


“Sini Sha.”


Sha berjalan perlahan mengikuti kegiatan Akbar tadi, menyimpan cangkirnya di kursi kemudian duduk di hadapan Akbar. Tiba-tiba saja Akbar berbaring di hadapan Sha.


“Lo tahu, hal yang sering gue lakukan ketika sedih adalah berbaring di balkon lalu melihat bintang.” Tatapan Akbar menerawang menatap langit yang di penuhi Bintang.


Kepala Akbar menoleh ke arah Sha yang terdiam mencerna ucapan Akbar. Akbar tersenyum ke arah Sha, lalu kembali memusatkan pandangannya pada langit malam yang dingin.


“Kalau lo mau lihat bintang paling indah seperti ini caranya.”


“Ayo Sha sini baring.” Ajak Akbar pada Sha. Sha mulai mengikuti saran Akbar. Kepala Shad an Akbar kini saling bersinggungan satu sama lain.


Sha menatap takjub bintang yang bertaburan indah di langit itu. “Cantik kan.” Ucap Akbar yang membuat Sha mengangguk.


Mereka sama-sama terdiam kini menatap langit yang seolah bisa menjadi tempat yang tepat untuk mencurhakan segala kegundahan mereka. Tangan Akbar terulur ke atas langit.


“Lo tahu hal yang paling menyakitkan di dunia ini?”


“Jatuh cinta.” Jawab Sha spontan yang membuat Akbar terhenyak.


“Kenapa itu?”


Sha gelagapan sendiri. “Bukan itu maksudnya gak tahu kak.”


Akbar seakan ingin menatap Sha sekarang tapi ada hal yang ingin dia sampaikan pada Sha. “Hal yang paling menyakitkan menurut gue adalah perpisahan tanpa pamit.”


“Setiap pertemuan memang pasti aka nada perpisahan, tapi jika perpipasahan itu tanpa mngucapkan selamat tinggal apakah di sebut juga perpisaha bukan meninggalkan?”


“Terlepas dari kedua hal itu, kenapa aku merasa perpisahan itu gak ada dan dirinya seolah selalu ada di dekatku.”

__ADS_1


Sha hanya diam saja tidak membalas ucapan Akbar. Di dalam otakna entah kenapa seolah berputar tentang kesedihannya di tinggalkan seseorang. Benarknya bertanya-tanya apa kah dia pernah mengalami hal itu?


“Sha kenapa?” Akbar berusaha untuk bangkit tapi di cegah Sha


“Gak apa-apa kak.”


Hening kembali menyelimuti mereka berdua. Sha menatap langit yang seolah berada di atas kepalanya itu. Akbar seolah mengingat kembali kenangan bersama masa lalunya yang selalu terasa dekat itu.


“Sha, boleh tanya tadi kenapa?”


“Hah? Kenapa apa kak?”


“Kalau mau cerita cerita aja.”


Sha tidak menjawab ucapan Akbar kali ini ingatannya berputar pada kejadian tadi.


“Sha gue mau minta maaf.”


“Gue gak bermaksud ngajak lo tadi, Cuma gue ..


Gak tahu harus pilih siapa.”


“Gue gak mau bohongin hati gue sendiri.”


Gue gak mau bohongin hati gue sendiri, kalimat itu entah kenapa menancap tepat di otak dan hati Sha. Tiba-tiba Sha jadi ingat kejadian Akbar yang berteriak ketika melihatnya tadi.


“Aku juga minta maaf kak.”


“Untuk.”


“Tadi di dapur nakutin kakak ya.”


“Hahahaha.” Tawa Akbar menggema mengalahkan dinginnya udara yang menusuk kulit.


Akbar terdiam malu karena Sha tidak bersuara. “Maaf, maaf tadi itu gue kaget banget kirain hantu apalagi nagis malam-malam terus rambut lo..” jeda sebentar.


“Kenapa lo nangis tadi?” Sha tergugu.


“Kak.” Panggil Sha.


“Ya.”


“Kalau jatuh cinta ini sesakit ini bagaimana dengan patah hati ya?” tanya Sha Sambil menatap bintang.


“Hah?” Akbar melongo.


“Ternyata segala hal yang berhubungan dengan jatuh itu sakit ya.”


“Sha..”


“Aku…”


“Sha…”


“Hiksss…”


Kali ini Akbar membiarkan Sha menangis. Melihat Sha menangis hati Akbar terasa tercabik-cabik. Dia tidak ingin melihat Sha menangis lagi.


“Sha.” Panggil Akbar yang membuat Sha berhenti menangis.


“Jangan nangis lagi.” Akbar mengeluarkan sapu tangan yang selalu di bawanya dan memberikannya kepada Sha.


“Makasih ya kak.”


“Sama-sama Sha.”


“Sha gue ngajak ke sini bukan mau bikin lo nangis taoi mau bikin lo lupa masalah lo.”


“Sekarang coba perhatikan baik-baik, kata sahabat gue. Kalua lo sedang sedih lo tinggal natap langit lalu perhatikan. Fokuskan perhatian lo kepada bintang yang paling terang sinarnya. Minta lah keinginan yang paling ingin lo wujudkan.”


“Siap, ayo mulai sekarang.”


Sha dan Akbar sama-sama menatapa langit. Memfokuskan penglihatan mereka pada bintang yang paling terang sinarnya. Sha menangkupkan kedua tangannya di dada dan mulai memejamkan matanya ketika dia sudah melihat bintang yang paling terang itu.


Semoga suatu saat nanti aku dan kak Yusuf bahagia meski akhirnya tidak bersama. Doa Sha dalam hati.


Akbar pun demikian setelah dia melihat bintang yang paling terang dia mulai mengajukan permohonannya. Gue berharap bisa bertemu dengan lo lagi bintang walau dalam mimpi, gue juga berharap semoga bisa mmebuat Sha selalu tersenyum di saat sedih.


“Gimana Sha?” tanya Akbar.


Sha bangkit dan akhirnya tersenyum menatap Akbar yang masih terbaring. Melihat itu mata Akbar seolah terpaku, mereka menikmati tatapan itu untuk sesaat. Sha langsung memutus kontak mata itu, dia segera bangkit dan duduk di kursi, menyesap cangkir isi cokelat yang sudah dingin.


Akbar pun mengikuti Sha, dia duduk di samping Sha. “apapun kesedihan yang sedang lo alami, lo bole cerita sama gue. Bahu gue selalu tersedia untuk tempat lo bersandar.” Sha mengeratkan pegangannya pada cangkir setelah mendnegar ucapan Akbar itu.


“Sha sudah habis cokelatnya?”


Sha melirik cangkirnya yang sudah kosong.sha mengangguk sebagai jawaban.


“Balik ke tenda yuk.” Ajak Akbar yang mulai bangkit.


“Iya kak.”


“Sudah malam pakai.” Akbar memasangkan jaketnya ke bahu Sha yang membuat Sha membeku. Mereka beriringan dalam diam.


Saat sudah memasuki halaman, tiba-tiba saja gerimis datang. Sha mengeratkan jaket Akbar.


“Sha ayo lari.” Akbar mengajak Sha untuk berllari karena hujan ternyata semakin deras. Jarak dari depan villa sampai ke tenda memang tidak jauh tetapi apabila hujan deras begii membuat mereka basah kuyup.


“Sha langsung masuk ya.” Teriak Akbar yang memang teredam hujan suaranya. Akbar sengaja mengantar Sha terelebih dahulu. Dia tidak mau sampai Sha terlalu lama kehujanan.

__ADS_1


"Terima kasih kak.”


Abar mengangguk dan selepas itu dia masuk ke tenda. Sepanjang malam ini Akbar terus tersenyum meski tubuhnya agak menggigil karena kehujanan. Akbar memeriksa tas kecil yang di bawanya ke tenda, semoga ada obat, batin Akbar. Dengan segera dia meminumnya walau di tengah pencahayaan yang minim. Berbeda dengan Sha yang langsung merebahkan diri setelah Akbar pergi. Dia tidak sadar jika suu tubuhnya menjadi sedikit naik akibat kehujanan.


__ADS_2