Bintang Senja

Bintang Senja
Bab 37 Persiapan Arum Jeram


__ADS_3

Keesokan harinya mereka bangun pagi untuk melihat sunrisse di belakang villa Akbar. Nai menggogosok-gosok tangannya karena kedinginan. Nai memang paling semangat ketika akan melihat sunrise sampai lupa tidak memakai baju tebal, padahal cuaca cukup dingin karena kemarin hujan deras.


“Pakai.” Entah dapat darimana Yusuf memberikan Nai sebuah jaket. Yusuf yang berada di belakang Nai tadi segera memberikan bala bantuan melihat Nai yang kedinginan.


Rio dan Bila belum juga sampai di bukit belakang villa Akbar. Akbar dan Sha yang baru sampai melihat adegan tersebut. Membuat Sha pamit dengan alasan ingin meminum obat dan menyiapkan mereka sarapan.


“Lho Sha mau kemana?” tanya Bila yang baru sampai.


“Aku kayaknya gak enak badan mau minum obat dulu, obatnya ketinggalan di kamar sepertinya.”


“Kalau gitu hati-hati ya Sha, semoga bisa sembuh biar nanti siang bisa ikut arum jeram ya.”


“Yeh bil malah inget arum jeram orang lagi sakit juga.” Rio yang baru datang nimbrung di pembicaraan mereka berdua. Akbar hanya memperhatikan mereka dari jauh, walau sebenarnya dia sedikit khawatir mendengar Sha yang akan minum obat.


“Hati-hati ya Sha.” Ucap Rio akhirnya.


Sesampainya d vila Sha langsung menuju ke kamarnya untuk mengambil obat. Setelah mengambil obatnya Sha ke dapur untuk minum obat. Sha duduk di tempat kemarin setelah mengambil minum.


“Apa ini salah?” tanya Sha pada dirinya sendiri.


“Apa yang harus aku lakukan?”


“Aku kenapa kok jadi terlalu baper sih, lebih baik sekarang aku masak saja biar hilang..”


Dengan bahan seadanya, Sha pun memasak nasi goreng telur ceplok dengan campuran sayur dan kornet. Sha memasak kornet dan telur terlebih dahulu, setelah itu barulah memasak nasi goreng dengan campuran sayur seadanya itu.


Akbar yang menyusul Sha menghentikan langkahnya ketika sudah sampai di pintu dapur. Dia memperhatikan gerak-gerik Sha ketika memasak. Akbar akui, Sha memang sangat lihai dalam urusan memasak, dia seperti sudah ahli saja dalam hal dapur dan seisinya. Akbar jadi memikirkan laki-laki beruntung yang menjdi suami Sha yang sudah pasti akan dimasakin enak setiap harinya. Akbar terus saja melamun sampai tak sadar Sha sudah selesai masaknya dan sedang menata masakannya.


Sha terkejut melihat Akbar yang berdiri di depan pintu dapur dan sedang melamun. Bahkan Akbar tidak sadar jika Sha sudah di hadapnnya. Sha melambai-lambaikan tangannya di depan Akbar, Akbar masih belum menyadari keberadaan Sha di hadapannya. Saat tersadar Akbar terlonjat kaget, kenapa bisa Sha ada di depannya saat ini, padahal tadi dia melihat Sha masih memasak.


“Kakak ngapain bengong di depan pintu?” tanya Sha yang kembali menyibukan diri dengan menata piring di meja makan.


“Tadi niatnya mau bantuin tapi sudah selesai ya,” ucap Akbar sedikit gugup.


Sha tidak terlalu memperhatikan ke gugupan Akbar karena dia sedang memindahkan telur ceplok ke piring. Seketika Akbar menghampiri Sha. “Perlu bantuan?” Akbar menawarkan diri untuk membantu Sha.


“Tidak usah kak sebentar lagi selesai kok.” Akhirnya Akbar hanya duduk dan hanya menonton Sha yang sibuk kesana-kemari.


“Sha boleh tanya sesuatu?”


Sha menatap Akbar dengan tatapan bertanya, tanya apa. “Soal di taman itu lo gak mau tanya sesuatu?”


“Wih pasti enak nih, asik ada telor ceploknya juga.” belum sempat Sha menjawab pertanyaan Akbar Bila sudah duduk di salah satu kursi meja makan menatap makanan yang tersedia dengan tatapan laparnya.


Tidak lama kemudian Nai, Yusuf dan Rio juga menuju dapur. “Asyik ada makanan.” Seru Nai. Nai dan rio pun berebut tempat duduk.


“Kayak anak kecil.” Komentar Yusuf dan langsung duduk di kursi yang Nai dan Rio perebutkan. Membuat mereka berdua berdecak kesal, tidak jadi dekat dngan sumber energi.


“Duduk sini Nai.” Bila menepuk kursi di sebelahnya.


“Ayo makan seadanya gak apa-apa hanya itu yang tersisa di kulkas.” Sha mendudukan dirinya di samping Nai.


“Wah segini saja sudah Alhamdulillah tidak kelaparan.” Ucap Rio. Mereka semua mengangguk dengan ucapan Rio. Akbar menepuk jidatnya karena lupa memberitahu pembantunya yang merupakan tetangganya itu untuk ke pasar.


“Maaf ya guys gue lupa nyuruh pembantu buat ke pasar.” Sesal Akbar.


“Huuu.” Mereka semua menyoraki Akbar.


“Sudah lebih baik makan saja yang ada.”


Akhirnya mereka memakan apa saja yang ada di meja makan yang telah di sediakan oleh Sha. Mereka harusnya bersyukur karena Sha sudah mau memasakan mereka makanan.


“Sha tau gak ini nasi goreng terenak yang pernah gue makan.” puji Rio yang membuat pipi Sha merona malu.


Bila mengangguk kali ini dia sepemikiran dengan Rio, “iya kan gue udah bilang Sha itu jago masak kalian masih gak percaya sih.”

__ADS_1


“Gimana kalau nanti pulang dari arum jeram kita belanja bahan makanan.” Usul Akbar yang membuat BIla dan Rio berserus semangat.


“Makan di resto aja deh kan nanti capek.” Nai yang tidak setuju dengan usulan itu.


“Iya gue kasian juga sama Sha.” Ucap Yusuf.


“Gak apa-apa kok kalau kalian mau makan disini atau di luar juga. Mau makan disini juga aku gak keberatan kok.” Sha menunduk setelah mengatakan itu.


Rio yang sudah selesai dengan makannya bangkit, “aduh kok kalian malah pada ribut sih. Yang penting sekarang itu bagaimana dengan arum jeramnya.” Rio kebali duduk setelah menyimpan piring kotor.


“Emang gimana?” tanya Akbar.


“Gimana sih kalian ini, arum jeram itu kan banyak peraturannya.”


“Kalau badan kalian gak fit lebih baik jangan ikut, belum persiapan apa aja yang mau kalian bawa.” Lanjut Rio. Rio yang memang pernah mengikuti arum jeram.


“Bawa barang juga gak sembarangan dan gak asal semuanya di bawa. Kita bawa seperlunya saja karena ransel yang di bawa di perahu kecil. Kecuali kalian bawa ransel anti air sendiri.”


“Terus kalau hp gimana?” tanya Nai.


‘Lebih baik sih jangan. Kalau mau bawa pun paling nanti disimpan di posko.”


“Yah gak bisa foto-foto dong.” Keluh Nai.


“Bisa, bawa kamera yang anti air aja. Atau go pro anti air.”


“Tapi gue gak punya.” Keluh Nai lagi.


“Gue ada.” Sahut Yusuf yang membuat Nai girang bukan main.


“Jangan lupa juga pakai pakaian yang nyaman dan anti air kalau bisa.”


“Siap bos.” Sahut mereka serempak


.


Sha meremas baju yang dikenakannya.


“Berarti aku gak boleh ikut ya?” tanya Sha polos.


“Ikut.” Mereka serempak menjawab membuat Sha kaget bukan main.


Mata Rio memicing menatap Sha dari atas sampai bawah. “Kenapa tanya gitu?”


Sha menjadi gugup seketika, teman-temannya kini menoleh ke arah Sha menanti jawban Sha. “Aku…kemarin habis kehujanan terus sekarang agak gak enak badan.”


Bila heboh seketika dan langsung bangkit mendekati Sha. “Gak terlalu panas kok.”


Rio jadi memikirkan sesuatu, “kamu beneran gak mau ikut?”


“Ikut.” Jawab Yusuf tegas.


“Suf, ini bukan perihal hanya ikut atau tidak. Kalau memang tidak fit atau prima akan bahaya.”


Mereka semua terdiam, “apa bahayanya?” cicit Bila.


Rio mengangkat bahunya, “gue juga gak terllau paham karena belum pernah ngalamin sih. Tapi ya tapi, kalau memang bener-bener gak fit lebih baik gak ikut. Bukan hanya bahaya untuk Sha sendiri tapi kita juga ikut terancam.”


“Gak, pokoknya Sha arus ikut.” Keukeuh Yusuf.


Akbar jadi merasa bersalah karena menahan Sha di balkon kemarin. Sha kehujanan gara-gara dia, pikir Akbar. Tiba-tiba saja Akbar bangkit ke kamarnya membuat teman-temannya sedikit heran. Dia kembali dengan sebuah plastic putih di tangannya.


“Nih coba lo minum obat ini siapa tahu bisa sedikit nyembuhin demamnya.” Akbar menyodorkan plastik itu kepada Sha. Sha dengan ragu menerimanya.


Sha meminum obatnya dnegan tatapan cemas dari teman-temannya. Rio juga jadi ikutan khawatir kalau Sha sakit, bisa berabe nantinya.

__ADS_1


Yusuf bangkit dan mengajak Sha untuk bangkit. “Ayo.” Ajak Sha kepada Yusuf. Respon Sha yang lama membuat Yusuf menarik tangan Sha untuk bangkit.


“Mau kemana kak?” tanya Sha heran. Teman-temannya juga heran dengan kelakuan Yusuf.


Yusuf menghentikan langkahnya sebentar. “Lo harus istirahat, kita berangkat siang aja.” Yusuf kembali menarik tangan Sha untuk naik ke lantai atas.


“Cie cie perhatian amat nih.” Rio dan ucapan nyinyirnya mengantarkan mereka ke lantai atas bersama siulan-siulan dari temna-temannya.


Meski seperti ada yang mengiris hatinya, Akbar juga ikut-ikutan menyoraki mereka walau tidak sesemangat Rio dan Bila. Begitu juga dengan nai seolah ada yang hilan setelah kemarin malam Yusuf begitu perhatian padanya.


***


“Bagaimana sudah siap?” tanya Rio. Merka kini tengah bersiap-siap untuk pergi ke tempat arum jeram.


Bila, Nai dan Yusuf mengangguk. Mereka menunggu Sha yang masih membereskan barangnya juga Akbar yang masih di dalam kamar mandi.


Sha datang dengan nafas yang tidak teratur karena menuruni tangga dengan cepat. “Maaf telat.”


“Gak apa-apa, lo sudah sembuh?” tanya Yusuf yang membuat Sha mengangguk.


Bila mendekati Sha dan memeriksa keningnya, “udah gak sepanas tadi kok.”


“Baiklah berarti kita gak perlu khawatir.” Komentar Rio.


“Akbar mana sih.” Nai memang tak sabar sekali ingin segera sampai.


Mereka menunggu di ruang tamu akhirnya sambil mengecek barang bawaan agar tidak ada yang tertinggal. Sha juga bolak-balik memeriksa keningnya yang memang sudah turun panasnya. Sha tersenyum karena kali ini dia bisa ikut untuk bermain arum jeram.


Akbar datang dengan rambutnya yang masih basah juga ransel yang hanya tersampir di bahu. “Maaf ya gue ketiduran tadi setelah ngepak barang.” Akbar memohon maaf karena telah membuat teman-temannya menunggu.


“Gak apa-apa, yuk berangkat sekarang biar gak kena panas.” Ajak Rio.


Mereka pun mulai memasuki mobil dan kembali bersenda gurau selama perjalanan. Nai tidak henti-hentinya menyuruh Rio agar menjalan mobilnya dengan cepat agar bisa segera sampai.


“Sabar dong Nai, ini kan jalanan bukan arena balap yang bisa ngebut seenaknya.”


“Iya deh pak supir.” Nai kini menjadi diam dan menjadi penikmat perjalanan seperti Sha.


***


Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama 30 menit mereka sampai di tempat tujuan. Setelah parkir dan masuk ke dalam posko terlebih dahulu.


“Pak kami mau daftar arum jeram untuk 6 orang.” Rio mendaftarkan mereka trlebih dahulu di posko.


“Baiklah mas, sini masuk dulu ke posko untuk mengambil alat-alatnya juga menyimpan barang-barangnya.”


Mereka berenam masuk ke posko yang bisa di bilang cukup besar untuk ukuran di tmpat wisata yang biasanya sebagai tempat karcis itu. mereka menimpan tas di tempat yang sudah di sediakan.


“Sebelumnya perkenalkan nama bapak pak Sucipto kalian boleh memanggil bapak, Pak Cipto saja. Bapak disini yang menjadi ketua pengelola posko juga tempat wisata arum jeram ini. Kalian nanti akan di pandu oleh anak buah bapak, ada Pak Budi, Pak Yoyo, Pak Anang, Pak Dirjo.” Pak Cipto menunjuk orang-orang yang biasanya menjadi pemandu disana.


“Kalian nanti akan di pandu oleh Pak Yoyo.” Pak Yoyo yang di panggil itu menganggukan kepalanya dan tersenyum ramah kepada mereka ber enam.


“Nah pak Yoyo ini yang akan mandu kalian selama dalam perjalanan yang kira-kira memakan waktu satu sampai dua jam.” Sha dan teman-temannya menyimak pmbicaraan Pak Cipto dengan seksama.


“Ayo Pak Yoyo berikan pembekalan terlebih dahulu untuk mereka.” Pak Cipto akhirnya undur diri karena harus mengurus sesuatu dan tugasnya di ambil aih oleh Pak Yoyo.


“Nah anak-anak alat atau peralatan yang perlu dan wajib kalian pakai itu ada helm dan pelampung. Barang bawaan kalian seperti air minum atau obat pribadi boleh diberikan kepada saya untuk di simpan dalam ransel.” Shad an teman-temannya menghampiri tas mereka dan mulai membawa air minum maisng-masing.


Sekembalinya mereka Pak Yoyo menyuruh mereka untuk memakai pelampung dan juga helm yang akan di gunakan ketika arum jeram. “Persiapan kalian lumayan bagus memakai sepatu, juga pakaian yang anti air, itu persiapan yang cukup bagus untuk pemula.”


“Kalau begitu ayo kita keluar untuk pemanasan terlebih dahulu.” Pak Yoyo mengajak mereka untuk pemanasan terlebih dahulu.


Pak Yoyo memimpin jalannya pemanasan. Mulai dari pelemasan otot sampai lari-lari kecil di tempat.


"Baiklah karena sudah selesai perasaannya, kita akan melakukan permainan arum jeramnya. Sebelum itu marilah kita berdoa terlebih dahulu. Berdoa menurut agama dan kepercayaan nya masing-masing di mulai."

__ADS_1


Pak Yoyo kembali memimpin jalan menuju sungai. "Awas hati-hati licin kemarin habis hujan."


"Baik pa," serentak mereka mengangguk.


__ADS_2