Bintang Senja

Bintang Senja
Bab 40 Retak


__ADS_3

Bila duduk di sisi ranjang Sha. Rio hanya berdiri mematung memperhatikan wajah Sha dengan seksama. Bila mengusap pelan punggung tangan Sha yang terasa sangat dingin.


“Sha bangun dong kita semua khawatir nih.” Ucap Bila pelan.


“Iya Sha kita semua khawatir nih.” Tambah Rio.


Tangan Sha bergerak pelan membuat Bila menghentikan elusannya dan menatap wajah Rio dengan penuh binar. Sha mengerjapkan matanya dan berusaha untuk duduk. Bila dengan sigap membantu Sha duduk.


“Bil?” Sha menatap Bila dengan tatapan sayu nya.


“Kenapa aku ada disini?” tanya Sha yang menatap sekeliling ruangan. Sha mencoba mengingat kejadian tadi, sayangnya kepalanya terlalu sakit untuk mengingat apapun.


“Aduh Sha lo gak apa-apa?” tanya Bila khawatir melihat Sha yang terus memegang kepalanya.


Sha terdiam sebentar. “Gak apa-apa kok bil, boleh minta air?”


Bila segera menyikut Rio yang berdiri di sampingnya. Rio buru-buru menyambar tas siapa saja yang ada di dekatnya. Segera Rio menyodorkan minuman yang di dapatnya dari tas itu.


“Ini Sha.” Bila memberikan botol minum yang ternyata miliknya itu kepada Sha.


“Sha lo beneran gak apa-apa?” tanya Bila kembali.


Sha menggeleng dan tersenyum manis kepada Bila. “Gak kok bil.”


“Sudah baikan?” tanya Rio yang sedari tadi hanya diam.


Sha mengangguk, dia tidak menyangka jika Rio mau menunggunya bangun dari pingsannya. “Makasih ya kak yo.” Ucap Sha tulus dan menitikan air matanya. Dengan segera dia menghapusnya karena tidak mau terlihat cengeng.


“Sha lo tau gak kalau tadi itu Rio kelihatan paling khawatir banget ketika lo ilang.” Bila bercerita dengan menggebu lebih tepatnya sih menggibah Rio. Rio menatap Bila tajam karena ucapan Bila itu memang terkesan lebay.


“Lo tuh yang udah kayak di tinggal kembaran aja.” Balas Rio.


“Ye biarin.”


Dan terjadilah aksi saling meledek yang mmebuat Sha tersenyum. Dia tidak ingin jika suatu saat harus berpisah dengan mereka. Sha menatap sekeliling yang memang terkesan sepi karena hanya mereka bertiga yang mengobrol.


“Bil.” Panggil Sha.


Bila mendekati Sha, takutnya Sha butuh sesuatu. “Iya Sha.”


“Kak Yusuf, Kak Akbar dan Nai mana?” pertanyaan Sha membuat Bila dan Rio gelagapan. Bila menyikut Rio yang hanya menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.


“Anu Sha.” Rio jadi bingung harus menjawab apa.


Sha menunggu jawaban Rio yang tak kunjung datang. Sha mencoba memperhatikan gerak bibir Rio yang berkomat-kamit tidak jelas. Rio bahkan meminta tolong kepada Bila lewat ekor matanya.


“Mereka-“


Brak


Yusuf masuk ke posko dengan Nai yang di papah olehnya. Bila menatap Yusuf dengan penasaran, Rio melirik Bila yang mengangkat bahunya tidak tahu.


Daripada penasaran Bila menghampiri mereka berdua. “Nai lo kenapa?”


“Keseleo Bil saat jalan mau kesini tadi.” Yusuf berusaha menjawab pertanyaan Bila dengan sedatar mungkin.


“Emang tadi habis darimana?” pertanyaan Bila ini membuat atmosfer di posko berubah. Wajah Yusuf juga mendadak kaku.


“Mereka habis berduaan di tepi sungai.” Jawaban dari Akbar yang baru datang membuat atmosfer di sekitar mereka menjadi panas.


Sha ingin menanyakan perihal ucapan Akbar. Sha juga ingin Yusuf menjelaskan hal yang sebenarnya, kemana mereka berdua pergi tadi? Apa benar dengan yang di bilang Yusuf barusan ke tepi sungai, berduaan. Mau apa? Sha tahu itu privasi mereka, tapi dia juga pacar Yusuf kan?


Melihat gelagat yang aneh dari teman-temannya Bila melirik Rio dan lewat lirikan matanya Bila menyuruh Rio untuk melakukan sesuatu. Rio sendiri bingung harus melakukan apa di situasi seperti ini.


Rio pura-pura mengecek jam nya, “sudah siang nih, kalian gak pada mau balik ke villa?”


Sha yang pertama ngeh berusaha untuk bangkit, “aku mau ke mobil duluan gak apa-apa?” Ucap Sha yang kini memebereskan barang-barangnya bersama Bila.


“Sha lo gak apa-apa kan?” Nai baru ingat jika Sha habis dari pingsan.


Sha menggelengkan kepalanya dan berusaha bangkit sambil menggendong tas nya. Melihat Sha yang kesusahan membuat Rio iba. “Sha Sha, udah biar gue aja yang bawa tas nya.” Rio mengambil tas yang Sha sampirkan ke bahunya.


“Kalian masih pada mau disini?” tanya Rio yang kini sedang mengambil tasnya dan Bila.


Untung saja tas Rio kecil sehinga dia tidak terlalu ribet membawa tas tiga orang.


Rio menyusul Bila dan Sha yang sudah lebih dulu ke mobil mereka. Kunci mobilnya juga ada padanya. Rio dengan segera membantu Sha masuk ke mobil. Dia juga membereskan barang ke bagasi.


Kini tinggallah Akbar, Yusuf dan Nai di posko yang belum pulang. Akbar mengambil tas nya dan berpamitan terlebih dahulu kepada Pak Cipto dan Pak Yoyo. Mereka meminta maaf kepada Akbar, atas kelalaian mereka Sha bisa tenggelam di sungai.


“Tidak apa-apa kok pak Sha juga sudah sadar.” Ucap Akbar.

__ADS_1


Pak Cipto tersenyum ramah, “baik sekali nak Akbar ini, kalau ada waktu main lagi kesini ya.” Ucap Pak Cipto dengan senyuman lebarnya.


“Iya pak, kami akan kesini lagi.”


“Kalau begitu kami pamit ya.” Akbar bersalaman dengan Pak Cipto dan Pak Yoyo.


“Hati-hati di jalan ya, salam untuk teman-temanmu.” Akbar mengangguk.


Akbar menuju mobil dan dia sangat heran begitu melihat Sha dan Bila yang duduk di belakang. Di bangku kemudi sudah ada Rio yang asyik memakan cemilan.


“Bar lo duduk dimana?” tanya Rio.


“Kok mereka duduk di belakang sih?” bisik Akbar pada Rio. Rio mendekatkan mulutnya pada telinga Akbar, “biar mereka bisa istirahat.” Akbar ber o ria dan dia segera duduk di bangku depan bersama Rio.


***


“Nai lo bisa jalan sendiri?” tanya Yusuf khawatir perihal kaki Nai yang keseleo.


“Bisa kok kak.” Nai mencoba bangkit, begitu bangkit kakinya terasa sakit sekali.


“Gue bantu.” Yusuf akhirnya kembali memapah Sha ke mobil. Untung saja Rio sudah menunggunya di depan pintu masuk bukan di parkiran.


Yusuf membantu Nai duduk di kursi tengah, Sha berusaha untuk terlihat biasa saja. Walau sejak tadi dia ingin sekali mengeluarkan air matanya. Keadaan yang hening semakin sunyi ketika Yusuf dan Nai masuk ke mobil.


Bila pura-pura sibuk dengan ponselnya. Sha berusaha memejamkan matanya yang sialnya tidka bisa tidur.


“Sudah siap?” tanya Rio sebagai pengemudi kali ini.”


“Siap.” Jawab Bila yang terlihat lelah. Yang lainnya tidak mengeluarkan suara sama sekali.


“Baiklah llest go.”


Perjalanan kali ini hanya ada kehenigan di mobil, sesekali alunan musik di radio menemani mereka. Akbar mencoba meneliti lebih jauh ekpresi Sha yang terlihat murung dan Nai yang diam saja lewat cermin.


Nai sendiri bingung dengan situasi sekarang, berulangkali Nai ingin melihat ke belakang, tapi di tahan Yusuf. Akbar yang melihat itu hanya bisa menggeram marah dalam hatinya.


Rio yang sudah kesal dengan situasi ini mematikan saluran radio, “kalian mau makan dulu gak?”


“Gak.”


“Iya.” Komentar Sha dan Yusuf yang berbeda membuat Rio tambah kesal.


“Gak jadi makan kita makan di villa aja.” Sahut Yusuf yang menoleh ke arah Sha yang memejamkan matanya, padahal Yusuf tahu Sha tidak tidur, buktinya tadi menjawab pertanyaan Rio.


“Lagian kasian juga sih Sha, harus banyak istirahat.”


Yusuf merutuki kebodohannya yang kini malah khawatir kepada kondisi Nai padahal tadi Sha hampir sekarat. Yusuf bodoh, rutuknya. Yusuf berulang kali menoleh kepada Sha.


Sha gue minta maaf ya tadi gak ada di samping lo


Send


Yusuf akhirnya mengirimkan pesan singkat kepada Sha. Sha mencoba melihat ponselnya ketika mendengar getaran ponselnya. Sha tidak menyangka Ysuuf mengiriminya pesan.


Maksudnya apa ya?


Mereka dekat tapi seolah terbentang jarak yang cukup jauh di antara mereka.


Daripada memikirkan yang tidak-tidak lebih baik Sha mencoba untuk tidur. Sampai villa pun Sha masih tertidur, Bila mencoba membangunkan Sha yang terlihat pulas dalam tidurnya.


“Sha bangun sudah sampai.” Bila menepuk pelan bahu Sha.


Sha mengerjapkan matanya dan mulai melihat jika mereka memang sudah sampai, bakan teman-temannya usdah duluan turun. Tinggal mereka berdua di mobil.


“Aww.” Ringisan itu membuat Sha dan Bila menoleh ke arah Nai yang susah payah bangun ketika turun dari mobil dan dia jatuh ke tanah.


Yusuf yang ada di dedakatnya segera menolong Nai, niat Yusuf tadi belum masuk ke villa adalah menggendong Sha ke kamarnya.


Melihat Nai terjatuh membuat Yusuf segera membantu Nai dan memapahnya ke dalam Villa. Yusuf berencana akan balik ke mobil untuk menolong Sha.


“Sha lo gak apa-apa?” tanya Bila yang terlihat khawatir.


“Gak apa-apa kok bil, yuk turun.” Ajak Sha.


Akbar datang ketika Sha akan turun dari mobil, dengan gesit Akbar membantu Sha yang terlihat lemas dan sempoyongan. “Sha lo bisa jalan?” Akbar khawatir Sha akan pingsan di tengah jalan.


“Gak apa-apa kok makasih ya udah bantuin.”


“Udahlah gendong aja.” Saran Bila pada Akbar, dia tidak tega harus melihat Sha jalan sempoyongan.


Tanpa banyak kata lagi Akbar menggendong Sha. Sha berusaha berontak tapi Akbar malah mengancam jika dia akan melaporkan kejadian tenggelamnya Sha di sungai kepada orangtua Sha. Mau tak mau Sha mengalunkan tangannya pada leher Akbar.

__ADS_1


“Kok lo gendong sih?” tanya Yusuf begitu dia ingin kembali ke mobil dan berpapasan dengan Akbar yang menggendong Sha di halaman villa.


“Nunggu lo dia keburu pingsan.” Ketus Akbar yang tidak menghiraukan ucapan Yusuf dan terus berjalan menggendong Sha.


“Lepasin!”


“Gak!”


“Lepasin!” Yusuf berusaha melepaskan Sha dari gendongan Akbar. Sha mengeratkan pelukan tangannya ke leher Akbar.


Tanpa persetujuan Yusuf, Akbar terus berjalan masuk ke villa. Yusuf pun terlihat menyerah karena tidak berhasil membawa Sha pada gendongannya. Dia masuk ke dalam Villa dan membiarkan Akbar mengantarkan Sha ke kamarnya.


“Sudah kak turunin.” Pinta Sha saat mereka sudah sampai di kamar Sha.


Akbar tidka menuruti permintaan Sha dan malah menurunkan Sha di kasur dengan sangat hati-hati. Bahkan Akbar menyelimuti Sha. “Istirahat ya Sha.” Ucap Akbar sambil mengelus puncak kepala Sha.


Sha terdiam di perlakukan seperti itu, dia berusaha menyembunyikan rona merah pipinya. “Kak aku baru bangun dan gak mau tidur.” Sha berusaha bangkit yang langsung di cegah Akbar untuk berbaring kembali.


“Dah Sha, gue ke anak-anak dulu.” Akbar beranjak dari tempat tidur Sha.


Sebelum Akbar mencapai pintu, “terima kasih banyak kak.” Ucap Sha kepada Akbar. Akbar hanya tersenyum menanggapinya.


***


Akbar turun dan menghampiri teman-temannya yang asyik makan. tidak semua temannya hanya Yusuf dan Bila yang makan. Rio sibuk mengusili Bila dan Nai hanya terdiam memandnag makanannya.


“Makanan gue mana?” tanya Akbar begitu dia sampai di meja makan. Bila menunjuk satu makanan yang masih dalam box dan tidak ada yang menyentuhnya.


Akbar pun mengambilnya, mulai makan dengan hening karena dia memang lapar. Begitu juga dengan Rio yang menghentikan jailannya pada Bila dan kini ikutan makan.


“Sha sudah tidur?” tanya Yusuf membuka pembicaraan.


“Hem.” Akbar tidka ingin makannya kali ini di ganggu oleh pertanyaan apapun, terlebih lagi menyangkut Sha.


“Gue udah selesai, gue cabut dulu ke kamar ya.” Ucap Yusuf yang mulai bangkit.


Gak ada yang nanya, batin Akbar. Dia tidka peduli mau Yusuf main jugkit-jungkit ataupun mau ke mana. “Nai nya gak sekalian di bawa?” sindir Akbar yang membuat Yusuf menghentikan langkahnya.


Yusuf melirik ke arah Nai yang tampak tidak nyaman dengan ucapan yang lebih ke sindirian dari Akbar itu. “Lo mau ke kamar juga?”


Nai kini jadi serba salah, kalau disini dia nanti yang canggung. Kalau ikut Yusuf nanti dia semakin disalahkan oleh mereka. Eh apa ada yang menyalahkan Nai?


“Duluan aja kak.” Cicit Nai akhirnya.


Yusuf meleggang pergi tanpa menoleh lagi kebelakang. Hilang di koridor dapur, mereka kembali sibuk dengan kegiatan makannya. Bibir Bila sejak tadi sebenarnya gatal ingin bertanya pada Nai.


“Gue ke atas duluan ya.” Nai berusaha bangkit dengan kaki yang masih sakit.


Rio melirik Bila, tatapan seolah mengatakan sana bantuin temen lo. Bila pun ikutan bangkit karena makannya sudah selesai.


Nai terkesiap saat ada tangan yang membantunya berdiri, di sampingnya Bila tersenyum seramah mungkin pada Nai. “Gue bantu Nai, gue juga mau ke kamar.”


Sepeninggal Nai dan Bila, Rio melirik Akbar yang masih asyik makan. “Bar.” Panggil Rio.


“Sepertinya Sha bakalan putus sama Yusuf, harus putus sih.” Akbar mengernyit bingung mendengar ucapan Rio, temennya ini kenapa sih kok malah pingin temannya putus.


“Kok lo mikir gitu?” tanya Akbar heran.


“Eh lo gak tau ya.” Kini Rio menatap Akbar serius.


“Lo gak kangen sama sahabat lo?” Akbar semakin tak paham dengan ucapan Rio.


“Apa sih kok bahas itu.” Ucap Akbar tak suka.


Rio ini memang mengesalkan ya, pikir Akbar. Rio mendekat kepada Akbar. Dia juga menyingkirkan makanan Akbar agar Akbar mencerna ucapan Rio dengan baik.


“Bar dengerin gue baik-baik ya. Lo ngerasa gak kalau Sha itu gak asing?” tanya Rio yang membuat Akbar tambah bingung.


“Gak asing gimana maskud lo?”


“Ya wajahnya, sifatnya itu menurut gue udah gak asing. Kayak orang yang memang udah kenal kita lama.” Akbar terdiam mencerna ucapan Rio.


“Apaan sih, lo ngomong jangan ngelantur baru kali ini kok gue kenal Sha. Gue juga pindahan kan?”


“Bukan gitu, gue hanya merasa kalau Sha itu mirip banget dengan bintang.”


Deggg


“Jangan ngaco bintang udah gak ada.” Jawab Akbar dengan nada sedih. Dia berlalu meninggalkan Rio sendiri yang sedang memahami maksud perkataan Akbar.


“Bar tunggu, maksudnya apaan.” Teriak Rio pada Akbar yang sudah berlalu ke wetafel dan pergi dari dapur.

__ADS_1


“Maksudnya apa ya?” tanya Rio pada diri sendiri. Apa yang selama ini dia gak tahu selama dia gak ada di dekat mereka.


__ADS_2