
“Sha lo beneran gak mau di panggilin dokter?” Tanya Akbar di sela mengunyah makanan ringannya.
Sha menggelengkan kepalanya, dia suda merasa baikan sekarang. Apalagi jika sudah menonton film favoritnya my heart. Sha tidak menyangka jika Akbar punya koleksi kasetnya. Kini mereka tengah asyik menonton film itu.
“Beneran?” tanya Akbar lagi.
“Iya kak, berapa kali sih kakak tanya itu.” Sha mencebikkan bibirnya karena kesal acara menontonnya di ganggu Akbar yang terus bertanya hal itu.
“Yasudah.” Pasrah Akbar. Melihat Sha yang fokus tiba-tiba ide jahil bermunculan di kepala Akbar.
“Sha itu ada gajah terbang.” Ucap Akbar heboh, melihat Sha yang tetap bergeming membuat Akbar memikirkan cara lain.
“Sha lo tau gak bedanya lo sama es krim.”
“Beda.” Sahut Sha.
“Apa?”
“Aku manusia, es krim makanan.” Ucap Sha tanpa mengalikan perhatiannya dari televisi. Akbar jadi menggaruk kepalanya bingung.
“Sha gue bosen nih.” Keluh Akbar.
“Aku gak bosen.” Seketika saja Akbar melempar kacang kulit yang sedang di makannya.
Sha menatap Akbar sebal, “apaan sih kak, aku lagi fokus nonton nih.”
“Habisnya aku di cuekin mulu sih.” Sha menatap Akbar bingung.
Tanpa aba-aba Akbar menggelitik pinggang Sha, Sha berusaha mengindar dari gelitikan Akbar. Sha paling tidak suka jika harus di gelitiki. Sha mencoba menahan tangan Akbar yang akan menggelitiki pinggangnya. Akbar malah mendekatkan tubuhnya pada Sha yang semakin terpojok.
Sha yang melihat Akbar mendekatkan wajahnya segera memundurkan badannya, tapi sayang dia sudah berada di ujung kursi. Dari jarak sedekat ini Sha bisa mencium wangi tubuh Akbar. Sha semakin membeku ketika Akbar pun mengelus bibir Sha pelan. Sha menahan nafas melihat kelakuan Akbar yang seperti ini.
“Jadi gini kelakuan lo.“ Suara tegas dan penuh emosi Yusuf membuat mereka berdua kaget.
Akbar segera saja menjauhkan dirinya dari Sha, menatap Yusuf yang terlihat emosi. Sha duduk dengan gelisah di sofa. Yusuf menarik Nai untuk duduk di dekat mereka berdua menjauhkan Akbar dan Sha.
Nai di sebelah Yusuf hanya menunduk. Dia bingung dengan situasi sekarang ini. Yusuf mencoba mengajak Sha untuk bangkit dengan kasar.
“Lo bisa gak lembut dikit sama cewek.” Akbar berusaha mendekati Sha yang di hadang oleh tangan Yusuf juga keberadaan Nai di tengah mereka berdua.
“Lo gak usah ikut campur ya ini urusan gue sam cewek gue.” Emosi Yusuf menjadi melihat wajah Akbar yang tadi mengusap bibir Sha.
“Oh dia cewek lo. Cewek yang lo tinggalin demi perempuan lain.” Akbar jadi ikutan emosi.
Yusuf mendekati Akbar. Dia menarik Akbar untuk berdiri seraya menarik kerah baju Akbar dengan kasar. “Diem lo *******.”
“Gue harus diem aja saat cewek yang gue suka nangis.”
“Wow pacar gue itu ternyata yang lo suka.”
Bugh
Yusuf meninju wajah sebelah kanan Akbar. “Ini buat lo yang udah jujur dengan perasaan lo.”
Bugh
Yusuf meninju wajah sebelah kiri Akbar, “ini buat lo yang udah berani nyentuh bibir pacar gue!” Sha mencoba mendekat dan melerai mereka. Tenaga Sha tidak sekuat tenaga Yusuf.
Bugh
Sekali lagi Yusuf meninju Akbar, perut Akbar kali ini yang jadi sasarannya. “Ini buat lo yang udah jadi pahlawan kesiangan.”
Bugh
“Ini buat lo yang sudah menyakiti Sha.“ Akbar balas meninju Yusuf tepat di bibirnya.
Bugh
“Ini untuk lo yang lebih nolong perempuan lain daripada pacarnya sendiri.” Akbar meninju perut Yusuf.
“Stooppp.” Teriakan panik Sha tidak di hiraukan oleh mereka berdua yang masih menatap penuh emosi satu sama lain. Nai juga berusaha untuk bangkit membantu Sha melerai mereka.
“Kalau gue pahlawan kesiangan lo apa? Mana lo saat pacar sendiri hampir mati, dasar pengecut!” mendengar itu Yusuf kembali mencengkram kuat kerah Akbar.
Akbar tak gentar kali ini. “Lo dimana saat Sha butuh bantuan lo, lo malah asik sama dunia lo sendiri!”
“Lo pikir gue gak tahu apa yang kalian omongin di tepi sungai, hah!” Akbar menunjuk wajah Nai dan Yusuf bergantian. Yusuf mengendurkan cengkramannya pada kerah Akbar. Tangan Sha yang menahan tangan Yusuf juga ikut terlepas.
“Bajingan lo, nguping pembicaraan orang.” Yusuf mengumpat sambil menonjok muka Akbar kembali. Hidung Akbar sedikit mengeluarkan darah akibat tonjokan Yusuf.
“Lo yang ********, ngajak pacaran saat diri lo sendiri gak tahu siapa yang lo cintai. Bahkan lo berani-beraninya ngungkapin cinta sama orang lain.” ketika akan memukul Akbar lagi, Sha malah memeluk Yusuf dan meminta untuk berhenti.
“Stop, mohon berhenti. Kita bisa selesaikan ini baik-baik.” Pinta Sha yang masih memeluk Yusuf. Sha sangat shock mengetahui hal itu dari akbar tapi dia juga tidak bisa kalau mereka terus berantem.
“Lo liat cewek lo sendiri belain lo yang brengsek!” Akbar mengusap hidung nya yang mengeluarkan darah itu.
Rio segera menghampiri sumber keributan yang menganggu tidurnya. Rio sangat terkejut melihat kondisi akbar yang mengenaskan Yusuf juga tidak jauh berbeda.
__ADS_1
“Kalau lo memang sayang sama dia putusin Sha sekarang.”
“Lo!!” Rio segera saja membantu Sha yang menahan Yusuf agar tidak memukul Akbar lagi.
“Ada apan sih ini?” teriak Bila dari atas. Dia segera turun ke bawah.
“OMG!” Bila terkejut bkan main, dia serasa nonton film action live. Apa mereka sedang syuting film action beneran? Pertanyaan bodoh darimana itu Bil.
Bila berkacak pinggang di hadapan mereka berdu. “Kalian apa-apaan ini!”
Bila menarik lengan Akbar untuk duduk di sofa. “Suruh dia juga duduk.” Titah Bila pada Rio dan Sha. Yusuf duduk diantara Shad an Rio. Mereka duduk di kursi yang diduduki Sha. Nai duduk di kursi single.
“Ada apa ini, jelaskan sebenarnya?” tanya Bila menyilangkan tangannya di dada.
“Lo tanya aja sama dia.” Ucap Akbar menunjuk Yusuf yang duduk di sebrangnya.
“Gue? Gak salah bukannya lo duluan ya.” Ucap Yusuf membuang muka enggan bertatapan dengan Akbar.
“Lo yang pukul gue duluan.” Akbar tidak terima jika dia disalahkan, jelas-jelas dia yang di pukul duluan oleh Yusuf.
“Lo yang bikin emosi duluan.” Yusuf menatap tajam Akbar dan Akbar balas menatapnya tak kalah tajam.
Bila jengah juga lama-kelamaan. “Udah CUKUP!!” teriak Bila nyaring
.
“Ada yang bisa jelasing ke gue cerita yang sebenarnya.” Pinta Bila. Mereka semua terdiam, tidak ada yang membuka suara.
Brakkk
“Astagfirullah.” Ucap Rio kaget. Dia tidak menyangka jika Bila itu bar-bar juga.
“Gue gak tahu awalnya.” Ucap Rio membuka suara. Dia melirik Akbar.
Semuanya kini menatap Akbar agar mau buka suara. “Gue gak tau awalnya darimana, intinya adalah gue benci dia!” tunjuk Akbar pada Yusuf.
Bila melotot kepada Akbar, “gue minta penjelasan bukan tanggapan.”
Akbar meringis karena Bila dengan seenaknya mencubit pahanya. “Sakit lah bil, jangan galak-galak.”
“Cepat jelaskan!” pinta Bila tak sabar.
“Oke-oke.” Akhirnya Akbar pasrah jika dia yang harus buka suara terlebih dahulu.
“Gue gak tahu awalnya ya bil, pada saat gue menyelamatkan Sha. Gue heran aja kenapa Yusuf gak nolongin Sha. Ya gue sih gak apa-apa kalau memang harus nolong Sha.”
“Tunggu dulu belum selesai. Mungkin karena gue yang paling dekat duduknya dengan Sha. Oke alasan itu bisa gue terima.” Akbar menjeda sebentar penjelasannya. Dia menatap Nai yang menunduk.
“Tapi..”
Lagi ucapan Akbar di potong Yusuf. “Lo jangan ngomong yang gak-gak ya.”
“Tapi apa?” Bila berusaha untuk tidak menghiraukan perdebatan mereka dan memilih menyuruh Akbar untuk melanjutkan penjelasannya.
“Tapi gue denger kabar yang mengejutkan…”
Yusuf menggeram, dia bahkan sudah berniat bangkit untuk menghajar Akbar lagi jika Rio tidak segera menahannya. Bila melotot lagi lagi kepada Akbar, dia jengkel dengan Akbar yang ceritanya hanya setengah-setengah.
“Yusuf bilang kalau dia tidak tahu siapa wanita yang dia cintai.” Ucapan Akbar itu membuat Bila, Sha dan Nai terkejut.
“Whaatt?!” Bila kaget bukan main mengetahui fakta satu itu.
“Dan…” Belum sempat Akbar melanjutkan Yusuf sudah maju duluan dan mencengkram kerah baju Akbar.
“Lo jangan sebarin fitnah yang enggak-enggak ya.” Peringat Yusuf pada Akbar.
“Fitnah apaan ya?” tantang Akbar.
“Fitnah tentang lo belum move on, atau lo nembak cewek yang lo cintai itu.”
“Lo!!” Geram Yusuf.
Bila sepertinya akan pingsan kalau dia sedang berdiri, untung saja dia duduk sekarang. Jadi tubuh lemasnya bisa duduk dengan nyaman di sofa.
“Bil apa lo tau kalau mereka pacaran bukan karena cinta?” Nai angkat bicara.
“Sha sudah bohong sama kita.” Suasana semakin keruh setelah mendengar ucapan Nai.
Fakta apalagi ini, Bila membatin. Bila menatap Sha yang menunduk penuh penyesalan.
“Keluarkan kebohongan kalian?” teriak Bila.
Rio juga sama kagetnya dengan Bila, dia tidak menyangka jika sepupunya itu akan main-main dengan cinta seperti ini. “Udahlah kalian putus aja!” Ucap Rio yang langsung pergi darisana.
“Gue juga males ikut campur lagi, terserah kalian mau pukul-pukulan atau jambak-jambakan ataupun jumpalitan sekalipun. Gue capek!” Bila juga meninggalkan ruangan itu dan menyusul Rio yang pergi ke halaman belakang.
Sha bersimpuh, baru kali ini dia melihta tatapan kecewa dari seorang Bila. “Aku gak maksud sembunyiin ini dari kalian, hiks.” Sha menutup wajahnya yang menangis dengan kedua tangannya. Dia sudah tidak memperdulikan hubungannya saat ini, persahabatannya dengan Bila lebih penting dari apapun.
__ADS_1
Nai masih dengan kakinya yang sakit naik ke lantai atas, kali ini dia bisa sendiri tidak di papah orang lain. Nai menyesal telah berbicara hal itu di hadapan semua orang. Nai begitu karena kesal telah di bohongi oleh Sha.
Di sela tangisnya Sha melihat Akbar pergi entah kemana, Yusuf juga entah kemana. Sha bangkit dan duduk di sofa. Yusuf kembali dengan kotak p3k di tanganya. Melihat hal itu Sha mencoba menghampiri Yusuf.
“Sini kak aku bantu.” Tawar Sha. Sekesal-kesalnya dia pada Yusuf, Sha tidak tega melihat luka di wajah Yusuf.
“Terima kasih.” Langsung saja Sha mengambil kotak p3k yang di pegang Yusuf.
“Awww, pelan-pelan dong Sha.” Ringis Yusuf ketika Sha membersihkan luka di bibir Yusuf.
“Kalau sakit kenapa main pukul-pukul sih kak.”
“Jadi lo nyalahin gue?!” Yusuf bahkan berteriak ketika berkata demikian.
Sha kaget, tidak menyangka jika Yusuf akan berteriak padanya, “Aku gak nyalahin kakak.”
“Terus tadi.”
“Yang harusnya di salahin itu lo.” Lanjut Yusuf.
“Aku?” Sha menunjuk dirinya sendiri.
“Kakak kenapa sih?” tanya Sha bingung. Dia melihat Yusuf yang sekarang seperti bukan Yusuf yang di kenalnya. Yusuf yang ini pemarah dan suka menyalahkan orang.
“Lo itu cewek gue masih aja deket-deket sama cowok lain.”
“Maksud kakak apa sih?”
“Masih belum ngerti juga, lo seneng kan tadi Akbar yang gendong lo dari mobil ke kamar lo.”
“Salah kalau kak Akbar nolongin aku yang jalannya sempoyongan.” Sha tidak percaya dengan Yusuf yang menyalahkannya karena Akbar membantunya. Dia bingung dengan sikap Yusuf sekarang. Sha hampir saja menumpahkan air matanya lagi.
“Iyalah salah lo itu cewek gue!” Yusuf kembali teriak di hadapan Sha.
Tidak terasa air matanya jatuh begitu saja. Yusuf yang tidak tahan melihat Sha menangis mencoba menghapus air mata Sha, tapi Sha menepisnya dengan kasar.
“Aku cewek kakak ya.”
“Cewek mana yang gak sakit saat pacarnya memilih orang lain.” Entah datang darimana Sha bisa punya keberanian berbicara seperti itu kepada Yusuf.
“Cewek lain siapa? Nai?”
“Nai kan temen lo, bukan cewek lain.” Sha jadi semakin tidka mengerti jalan pikiran Yusuf.
“Lagipula tadi itu hanya kesalah pahaman. Lo juga waktu di kamar mandi gak mau dnegerin penjelasan gue.”
“Kakak nyalahin aku lagi.”
Yusuf mengatupkan mulutnya yang ingin berbicara sesuatu, salah lagi. “Bukan gitu.”
“Terus gimana?”
“Sha pokoknya itu salah paham.”
“Aku yang salah ya kak, apa yang di bilang ka Rio itu bener. Lebih baik kita putus aja.”
“SHAAA!!” teriakan Yusuf yang menggelegar membuat Sha kaget bukan main.
“Oke, dalam kamus kakak tidak ada cewek yang selalu benar, karena cewek selalu salah dimata kakak.” Setelah mengucapkan hal itu dengan nada yang bergetar Sha meninggalkan Yusuf sendiri di ruang keluarga.
Sepeninggal Sha, Yusuf mengacak rambutnya kasar. Dia membentak Sha tadi. Ya tuhan, dia membentak permpuan dan perempuan itu Sha. Seseorang yang selalu ibunya ceritakan pada Yusuf. Sha yang lemah lembut di bentak olehnya. Benar kata Sha, ini seperti bukan Yusuf.
Yusuf tersungkur di lantai sekarang. Dia sangat menyesali perbuatannya pada Sha. Rio dan Bila yang melihat kejadian itu menaruh iba pada Sha.
“Kita samperin mereka bil.” Ajak Rio.
Bila mengangguk, “gue ke kamar Sha ya.” Bila jalan lebih dulu mendahului Rio.
Sesampainya di kamar Sha, dia bisa mendengar Sha yang menangis sesegukkan sekarang. “Sha ini gue Bila, gue masuk ya.” Tanpa persetujuan Sha, Bila masuk begitu saja ke kamar Sha.
Rio menepuk bahu Yusuf pelan, “sabar bro.”
“Gue nyakitin dia yo.” Sesal Yusuf.
Baru nyadar lo, rasain kan sekarang sakitnya gimana, rutuk Rio yang tidak dia ungkapkan kepada Yusuf. Dari awal dia melihat hubungan Sha dan Yusuf memang sedikit aneh.
“Lo itu jangan terbawa emosi dong, baru kali ini gue lihat lo se emosi itu.” Rio berusaha untuk mengajak Yusuf duduk di sofa.
“Gue bingung yo.” Ucap Yusuf saat mereka sudah duduk di sofa.
“Ikutin saja kata hati lo, kalau hati lo nyuruh berhenti jangan di paksain. Inget bukan hanya lo yang terluka, Sha juga akan terluka.” Rio menatap Yusuf dengan tersenyum lebar. Dalam hati dia bertanya darimana ya dia bisa berkata bijak begitu.
Mungkin setelah ini Rio harus banyak membaca quotes di intagram biar bisa menyadarkan Yusuf dari kesalahannya. “Gue tau lo pengen move on, tapi gak dengan pacaran juga kan.”
Ucapan Rio itu memnag ada benarnya, salahnya yang mengajak Sha pacaran.
Padahal dia belum siap untuk menerima hati orang lain lagi. Ternyata kisah cinta Yusuf memang semenyedihkan ini, batin Yusuf berteriak.
__ADS_1