Bintang Senja

Bintang Senja
Bab 49 Tentang Bintang 3


__ADS_3

“Kedua anak kecil yang ada di foto itu siapa?” tanya Sha yang kini menunjuk frame foto yang telah pecah kacanya.


Mama Yusuf tertegun, dia jongkok dan mengambil frame itu. Mama Yusuf menyingkirkan pecahan kaca. “Mereka…”


“Mereka anak tante Sha.”


Jantung Sha berpacu dengan kencang.


“Yang laki-laki adalah Yusuf dan yang perempuan…”


Mama Yusuf menyeka air matanya sejenak, “namanya Bintang.”


“Bintang.” Beo Sha, Sha seperti tidak asing dengan nama itu, tapi Sha lupa pernah membahas nama itu dengan siapa.


“Itu adik kak Yusuf tante?” Mama Yusuf yang mengusap foto itu mengangguk.


“Tante, Sha boleh tanya lagi?” Mama Yusuf mendongak, mata mereka bertemu dan saling terdiam satu sama lain. Mama Yusuf rindu dengan tatapan sayu mata berwarna cokelat itu.


“Bintang itu sekarang dimana tante?”


Mama Yusuf membeku, tidak lama isak tangis mulai memenuhi ruangan itu. Rio mendekat dan memberikan beberapa lembar tisu. “Bintang…”


“Tante udah gak usah.” Ucap Rio.


“Gak apa-apa Rio.”


Sha menatap mereka berdua dengan bingung. Apa Sha salah bicara? “Tante kalau tidak bisa jawab tidak usah, Sha minta maaf.”


Mama Yusuf menggeleng, “Bintang anak tante hilang sepuluh tahun yang lalu.”


Deg


Seketika air mata Sha mengalir begitu saja tanpa bisa di cegah, tubuh Sha beringsut mendekati Mama Yusuf. “Tante maaf.” Sesal Sha seraya mengusap lembut tangan Mama Yusuf.


“Tidak apa-apa Sha kejadiannya sudah lama berlalu.”


“Bintang hilang saat kecelakaan dulu saat kami sekeluarga akan pulang ke Jakarta. Mungkin memang sudah nasib anak kami begini hiks hiks.”


“Walaupun sampai sekarang masih ada perasaan tidak rela kalau Bintang hilang bagai di tela bumi.” Sha semakin mengeratkan pelukannya kepada Mama Yusuf.


“Bintang itu anak yang ceria, pembawa kebahagiaan untuk kami. Yusuf yang pendiam bisa jadi cerewet kalau adiknya bikin ulah. Yusuf yang tinggal sama neneknya disini dulu jadi punya keinginan tinggal bersama Bintang di Jakarta karena teman Bintang pindah rumah.”


“Temannya?”


“Akbar, Akbar itu teman masa kecil Bintang.”


“Kak Akbar?” Mama Yusuf mengangguk. Sha ingat sekarang kalau Akbar dulu pernah cerita tentang Bintang padanya.


“Berarti nama di saputangan itu buatan tante?”


“Saputangan?”


“Saputangan?” tanya Mama Yusuf dan Rio.


Sha menggaruk kepalanya bingung, “dulu kak Akbar pernah pinjemin saputangan yang di pinggirnya itu ada tulisan yang di jahit gitu.”


Sapu tangan yang dia jahit untuk Bintang, Mama Yusuf yakin pasti itu yang di maksud oleh Sha. Apa Sha mengingat saputangan itu? Mama Yusuf bertanya-tanya dalam hati. Kalau iya, berarti Sha itu memang anaknya yang selama ini hilang. Satu tetes air mata mulai turun dn membasahi pipinya.


Mama Yusuf mengahpus air matanya dan menghadap Sha, “kamu ingat sesuatu?”


“??” otak Sha jadi tidak bisa mencerna apa maksud dari pertanyaan Mama Yusuf.


“Kamu ingat dulu sering bermain dengan Akbar?”


“Aku?” Sha menunjuk dirinya sendiri. Rio dan Mama Yusuf mengangguk.


“Aku kenal kak Akbar di toko souvenir.” Rio dan Mama Yusuf harus menelan kecewa karena Sha tidak menunjukkan tanda-tanda dia pernah dekat dengan Akbar dulu.


“Jadi kamu kenal dengan Akbar di toko souvenir?” Sha mengangguk.


“Sha kenapa kamu tadi tanya anak kecil di foto itu?” tanya Rio.


Sha melirik foto anak kecil di tangan Mama Yusuf. “Kayaknya aku pernah bermimpi tentang anak laki-laki itu.” ucap Sha sedikit tidak yakin.


“Bagaimana mimpinya?”


Sha kembali mengingat-ngingat mimpi yang kemarin hadir dalam tidurnya. “Anak laki-laki itu nenangin anak perempuan yang manggil seorang anak kecil bernama Yusuf.”


“Terus apa lagi Sha?” tanya Rio antusias.


Sha mencoba mnegingat lagi mimpinya, tapi yang ada hanya kepalany yang pusing. Sha memegang kepalanya yang berdenyut nyeri.


“Sha kamu kenapa?” tanya Mama Yusuf khawatir.


“Kepala aku sakit tante.”

__ADS_1


“Rio panggil dokter sekarang.”


“Baik tante.” Baru saja Rio hendak keluar kamar, Akbar dan Dokter yang di panggilnya sudah tiba.


“Ada apa ini?” tanya Dokter begitu masuk ke kamar dan melihat Sha yang sudah memegang kepalanya kesakitan. Dokter menghampiri Sha yang sepertinya takut di dekati orang lain.


“Kalian semua bisa tolong tinggalkan kamar ini terlebih dahulu.”


Rio mengajak Mama Yusuf dan Akbar pergi darisana. Dokter perlu memeriksa Sha, agar ketahuan penyakit Sha apa. Dengan berat hati Mama Yusuf meninggalkan Sha sendirian dengan perasaan khawatir.


**


“Saya periksa terlebih dahulu ya nona.”


“Saya takut, kepala saya pusing.” Ucap Sha parau.


Dokter mengangguk mengerti, ada dua kemungkinan mengenai pasiennya ini. Trauma masa lalu dan depresi. “Saya hanya ingin memeriksa penyakit nona.”


Dokter mendekati Sha, perlahan menuruhkan tangan Sha yang terus menjambak rambutnya. Meski sudah berhasil turun Sha tetap mengeluh kepalanya sakit, tangan Sha pun mencengkram sprei dengan kuat.


“Saya perikasa dulu ya.” Ucap dokter yang berusaha membaringkan Sha dengan tenang.


Dokter memeriksa Sha dengan teliti. “Sakit?” tanya dokter saat ia mencoba memijat kepala Sha. Sha hanya bisa menganggukkan kepalanya.


“Kalau boleh tahu apa kamu pernah kecelakaan?”


Mata Sha memejam, “iya dokter. Saya pernah tertabrak dan tenggelam di sungai.”


“Kejadian itu belum lama ini?” Sha mengangguk lagi.


“Apa sebelumnya kamu juga pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkan benturan keras di kepala?” kali ini Sha menatap dokter serius sekaligus bingung.


“Begini, bisa kamu ceritakan bagaimana kamu kecelakaan dulu?” pinta dokter.


Sha mengingat kejadian kecelakaannya, “saya tidak terlalu ingat dokter. Kata Kak Yusuf saya tidak sengaja di tabraknya karena jalan ke tengah jalan.” Jelas Sha yang kini sudah jauh lebih tenang.


“Saat tenggelam juga tidak begitu ingat, saya hanya ketakutan tenggelam dalam air. Saya juga tidak mengerti kenapa saya begitu takut tenggelam dokter, padahal saya tidak takut kalau berenang.”


Dokter terkekeh dengan penjelasan polos Sha, “apa kamu pernah mengalami kecelakaan sebelumnya?” dokter mengulangi pertanyaan yang sama.


Sha berpikir sejenak. Seingatnya hanya itu kecelakaan ynag di alaminya. Dia tidak bisa mnegingat apapun lagi. “Saya tidak tahu dokter , sepertinya hanya itu.”


Dokter memandang Sha lama. Apa kamu pernah mengalami hilang ingatan? Tanya sang dokter dalam hatinya. Entah kenapa dia tidak bisa bertanya begitu kepada pasiennya ini. “Baiklah kalau begitu saya akan tuliskan resep yang bisa di beli di apotik oleh ibu kamu. Untuk saat ini saya hanya memberikan paracetamol, kalau nanti kamu masih pusing Mama kamu bisa hubungi saya.”


Sha mengambil obat itu dan meminumnya. Dia mencoba memejamkan matanya lagi.


Samar-samar Sha melihat dokter itu memandanginya. Sha membuka matanya perlahan. “Emm dokter.” Panggil Sha.


“Iya?”


“Itu… yang tadi itu bukan Mama saya.” Dokter terdiam di depan pintu, tangannya yang memegang gagang pintu terdiam kaku. Dokter berbalik dan tersenyum seraya mengangguk kepada Sha.


“Jadi mereka bukan ibu dan anak, kenapa terlihat mirip?” gumam dokter setelah menutup pintu kamar.


Dokter menghampiri Mama Yusuf, Rio dan Akbar yang sudha menunggunya di ruang keluarga. Dokter itu memberikan resep obat yang dia tulis kepada Mama Yusuf. “Boleh saya bicara?”


“Silahkan dokter.”


“Bagaimana keadaan Sha dokter?”


“Dia baik-baik saja sekarang, hanya saja…”


“Ah tidak-tidak.” Dokter menggeleng-geleng, dia tidak bisa mendiagnosa tanpa pengecekan lebih lanjut.


“Apakah disini ada anak yang bernama Yusuf?”


Pertanyaan dari dokter itu membuat, Rio, Akbar dan Mama Yusuf menatap satu sama lain dengan perasaan bingung. “Yusuf?” ulang Mama Yusuf.


Dokter merasa heran dengan respon yang di berikan wanita paruh baya itu, “iya, kenapa. Apa ada yang salah dengan pertanyaan itu?”


Rio tersenyum canggung, dari sekian banyak nama kenapa malah Yusuf yang pertama kali di tanyakan dokter, bukan mereka yang ada disini saja. “Tidak apa-apa kok dok, kenapa dengan Yusuf? Apa Sha berbicara sesuatu?”


“Ah begini..” dokter duduk di antara mereka yang begitu pensaran.


“Jadi tadi Sha bilang jika anak yang bernama Yusuf itu pernah menabraknya. Saya ingin bertanya padanya mengenai kronologis kecelakaan itu.” jelas Dokter.


Mama Yusuf mengangguk mengerti, “begitu ya dok, kebetulan anak saya belum pulang. Sebentar saya hubungi dulu.” Mama Yusuf pamit undur diri untuk menelpon anaknya.


Selepas kepergian Mama Yusuf, Akbar dan Rio bergerak mendekati sang Dokter. “Dokter apa telah terjadi dengan Sha akibat kecelakaan itu?” tanya Akbar penasaran.


Dokter tersenyum kepada kedua remaja itu, “tidak ada apa-apa kok, saya perlu memastikannya terlebih dahulu.”


“Memastikan apa dokter?” tanya Rio tak sabar.


“Sha itu sepertinya mengalami amnesia, tapi saya belum bisa menyimpulkan juga bahwa dia memang mengalami amnesia.”

__ADS_1


Rio terlihat santai, sedangkan Akbar terlihat sangat terkejut. “Amnesia?” Beo Akbar.


“Jadi, kenapa dia bisa amnesia dokter?” tanya Rio santai.


“Itulah yang saya ingin pastikan dengan anak yang bernama Yusuf itu, apakah kecelakaannya parah sehingga membuat Sha kehilangan sebagian ingatannya.”


Rio dan Akbar saling pandang. “Lalu bagaimana kondisi Sha sekarang dok?” tanya KAbar yang begitu khawatir dengan kondisi Sha.


“Dia baik-baik saja. Hanya saja jangan dulu mmebuat dia mengingat tentang masa lalunya. Dia terlihat sangat trauma sepertinya. Apa selain kecelakaan itu dia juga pernah kecelakaan lain?”


Akbar dan Rio berpikir sejenak, kecelakaan lain? “Pernah dok, waktu kami liburan dia tenggelam.”


“Apa kecelakaan itu terjadi sebelum dia tertabrak?”


“Sesudah dia tertabrak dok.”


Mereka semua terdiam. Dokter melirik ke arah perginya Mama Yusuf yang belum juga kembali. akbar sibuk dengan pertanyaan, apakah Sha pernah mengalami kecelakaan sebelum tertabrak? Akbar masih ingat Sha begitu ketakutan ketika Akbar meninggalkannya.


Dalam benaknya Rio merasa amat yakin kalau Sha itu adalah Bintang, tapi dia bingung bagaimana cara membuktikannya dan juga bagaimana mengembalikan ingatan Sha.


“Dokter maaf ya, anak saya tidak bisa di hubungi ini.” ucap Mama Yusuf yang sudha kembali menemui mereka.


Dokter melirik jam tangannya, “kalau begitu saya pamit undur diri bu, saya harus ke rumah sakit sekarang.”


Mama Yusuf merasa tak enak hati karena menahan terllau lama Dokter itu, “baik dokter maaf saya sudah merepotkan mari saya antar ke depan.”


Sementara Mama Yusuf megantar dokter ke depan, Akbar terus bertanya kepada Rio. “Yo kamu pasti tahu sesuatu kan?”


Rio menatap Akbar heran, “tau apa?”


“Sha yang amnesia?”


“Tau dari mana coba gue, baru aja akhir-akhir ini kan ketemu dengan kalian.”


Akbar menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, iya juga apa yang di bilang Rio itu, ucap Akbar dalam hati. “Mau kemana lo?” tanya Akbar ketika melihat Rio bangkit.


***


“Sha sudah bangun sini kita makan.” ajak Mama Yusuf ketika melihat Sha turun dan bergabung dengan Rio serta Akbar. Dia sendiri masih sibuk memasak.


“Loh kalian kok malah pada bengong, masakan tante gak enak ya.” Ucap Mama Yusuf sedih.


Akbar dan Rio saling sikut, “enak kok tante, masakan tante itu ngalahin restoran bintang lima deh.” Ucap Akbar sambil memberikan dua jempolnya.


Selanjutnya terjadilah percekcokan antara Rio dan Akbar merebutkan hal tidak penting.


Mama Yusuf mendekati Sha yang hanya diam saja.“Sha mau makan sama apa?” Mama Yusuf mengambil piring Sha untuk diisi nasi dan lauk pauknya.


Sha bangkit dan mencoba merebut piring di tangan Mama Yusuf yang sialnya tidak bisa, “tidak usah repot-repot tante Sha bisa sendiri kok.” Ucap Sha yang masih berusaha merebut piringnya.


“Gak repot kok Cuma tuang nasi begini.”


“Tapi-“


Ting tong


“Siapa ya?”


“Biar Akbar aja yang buka tante.” Ucap Akbar yang kemudian bangkit untuk melihat orang yang datang.


Sha masih terus berusaha merebut piringnya yang sudah diisi berbagai macam lauk-pauk.


“Yusuf, Nai?” Akbar yang membuka pintu terdiam kaku di tempat.


“Akbar siapa yang datang?” teriak Mama Yusuf dari dalam rumah.


Akbar menyingkir untuk memberi mereka jalan masuk. Yang ingin Akbar lakukan sekarang adalah memukul Yusuf yang tampak baik-baik saja dan tidak ada perasaan bersalah sedikitpun. Tangannya sudah gatal sejak tadi, emosi yang sudah ditahannya kini kembali menyeruak, bahkan lebih besar setelah melihat Yusuf dan Nai datang bersama.


“Tante tidak usah banyak-..” ucapan Sha terhenti ketika melihat dua orang yang memasuki ruang makan. dia kembali duduk dan tidak mencegah Mama Yusuf yang ingin memasukkan apapun ke piringnya.


Mama Yusuf menyodorkan piring yang penuh lauk pauk itu kepada Sha, “nih Sha makan yang banyak ya.” Sha hanya mengangguk kaku dengan pandangan menunduk ke meja makan.


Mama Yusuf beralih menatap anaknya yang datang bersama seorang perempuan, dia berpikir sepertinya kenal dengan perempuan ini. “Kamu?”


Nai menghampiri Mama Yusuf dan mencium tangannya, “Nai tante.”


“Ah iya Nai, sekalian mumpung lagi pada kumpul kita makan bareng.”


“Ayo duduk. Yusuf ajak tamunya duduk dong.” Ucap Mama Yusuf yang menyadarkan Yusuf dari keterkejutannya akan kehadiran Sha.


Mata Yusuf tidak lepas dari Sha yang terus menunduk.


“Kok jadi pada diem-dieman begini, makanan tante gak enak ya. Ayo dong cobain makan Sha.”


Sha tersenyum paksa, “baik tante.”

__ADS_1


Akbar ayo ikut makan, jangan diem di depan pintu begitu. Kayak patung selamat datang aja.”


Akbar menghela napas panjang, dia mulai melangkahkan kakinya menuju makan dan duduk disebelah Rio. Aura permusuhan Akbar dapat diarasakan Yusuf. Ketika mereka mengambil lauk yang sama, tangan mereka yang memegang sendok justru beradu satu sama lain.


__ADS_2