Bintang Senja

Bintang Senja
Bab 27 Curcol (Curhat Colongan)


__ADS_3

“Nai tumben nih mau nginep di rumah gue segala.”


Bila masih heran dengan tingkah Nai yang ejak pulang dari kerja kelompok meminta menginap di rumah Bila.


“Ya pengen aja kenapa sih bil gak boleh.”


“Bukan gitu gak biasanya aja.”


“Yaudah kalau gak boleh gue pulang lagi nih.”


Nai pura-pura memberesi barang-barangnya dan bersiap keluar dari kamar Bila. Bila tentu saja segera mencegahnya.


“Ish Nai gak gitu, gue Cuma heran aja.”


“Ada apa sih?”


“Gak ada apa-apa Bila sayang.”


“Masa sih?” tanya Bila yang masih belum yakin.


“Yaudah iya-iya nanti gue ceritain. Sekarang kita makan dulu yuk bil gue laper nih.”


Nai mengajak Bila untuk turun ke dapur. Kalau begini sih siapa yang tamu siapa yang tuan rumah, gerutu Bila. Walau begitu Bila tetap mengikuti Nai yang sudah keluar lebih dulu.


“Ah kenyangnya makasih ya Bil.” Nai segera naik ke atas seteah selesai makan.


Bila sendiri jadi heran dengan kelakuan aneh Nai hari ini. Pertama dia makan seperti orang yang sudah dua hari tidak makan, kedua Bila masih harus beres-beres eh dia sudah nyelonong ke kamar Bila aja. Ketiga, sepertinya Nai menyembunyikan sesuatu karena saat makan tadi Nai terlihat selalu melamun.


Untung saja Nai temannya batin Bila kalau tidak sudah dia usir deh dari tadi. Bila pun segera menyuruh pembantunya untuk menyiapkan cemilan dan mengantarkannya ke kamarnya nanti. Selain itu juga untuk membereskan meja makan dia dan Nai.


Bila memasuki kamarnya dengan membawa dua jus manga dan biscuit. Dia melihat Nai yang sedang berbaring sambil memainkan ponselnya itu. Bila menaruh kedua jus dan biscuit itu di meja riasnya dan mengambil laptop kemudian duduk di karpet.


“Nai, serius amat.”


“Eh bil bawa apaan tuh.”


“Tadi bibi bikini jus mangga kesukaan lo. Tuh minum gih, gue mau lanjutin tugas dulu.”


“Ah elo bil nugas mulu sans ae kali.”


“Yee si eneng bukannya bantuin malah menyepelein.”


“Bukan gitu bil, btw jus nya enak nih kapan-kapan gue boleh minta bikini lagi.”


“Eh dasar emang dikiran pembantu gue itu pembantu lo. Kalau mau lagi bikin sendiri aja gih di dapur.”


“Udah ah gue mau beresin tugas dulu jangan ganggu.”


Nai asik dengan biscuit nya, “Bil lo tau gak cara supaya cowok yang lo taksir itu bisa suka sama lo.”


BIla yang sedang fokus segera menoleh ke arah Nai. “Lo nanya itu sama gue.”


“Yaiyalah bil masa sama cicak di dinding.”


“Hmm gue gak tahu Nai, ntar dulu deh jangan ganggu gue.”


“Non ini cemilannya.”


“Iya bentar bi.”


“Nai ambil gih gue lagi tanggung nih.”


“Ish iya iya.” Nai segera bangkit dan membuka pintu.


Pembantu BIla membawa satu keranjang penuh cemilan yang Bila pesankan tadi. Nai segera mengambilnya dan begitu riang menghampiri Bila setelah mengucapkan terima kasih.


“Bil gue buka ya keripik kentangnya.”


“Hmm.”


Bila terlihat masih fokus dengan laptop dan bukunya. Juga jangan lupakan kaca mata tebalnya yang sedikit melorot, membuat Nai gemas untuk memperbaikinya.


“Nai apaan sih udah di bilang jangan ganggu.”


“Idih siapa juga yang ganggu gue mau ngebenerin tau.”


Bila yang kembali asik dengan dunianya membuat Nai kesal. Nai mencoba menyibukan diri dengan bermain ponsel, membuka aplikasi instagramnya. Ada satu post dari Yusuf yang membuatnya mengerutkan kening.

__ADS_1


“Bil Yusuf punya pacar ya?” dengan seksama Nai memperhatikan foto yang do post Yusuf.


“Yusuf siapa?” tanya Bila sembari membereskan alat tempurnya yaitu laptop, buku dan kaca matanya. Segera dia menyimpannya di tempat semula karena pekerjaannya sudah selesai.


“Itu Yusuf ketua osis.”


“Hah mana.” Bila segera menghampiri Nai.


Bila merebut ponsel Nai yang membuat sang empunya berdecak kesal. Kok sekarang jadi Bila yang heboh sih, batin Nai.


“Eh iya bener Nai, tapi kok tangannya gak asing ya. Mirip tangan siapa gitu.”


“Iya kan bil itu yang sedari tadi gue pikirin.”


“Kayak lo sering berpikir aja.” Ceplos Bila asal yang mmebuat Nai memukulnya dengan bantal.


Dan terjadilah aksi saling pukul antara keduanya yang membuat mereka lupa mengenai pacar Yusuf aka kakak kelasnya itu. Bila yang duluan menyerah, duduk di karpet sambil mengambil cemilan dan memakannya.


“Udahan gue capek ah Nai.”


“Halah cemen lo bil.”


“Biarin aja wlee.”


“Gue abisin nih makanannya.” Ancam Bila yang membuat Nai langsung melompat turun ke karpet.


“Jangan gitu dong Bil.”


“Eh na lo kenhapha sih mahu nginhep dhi rhumah ghue?” tanya Bila dengan mulut penuh keripik kentang.


Nai terkekeh melihatnya dan segera menyodorkan Bila minuman.“Teleh dulu kali bil hehe.”


“Iya lo kenapa mau nginep di rumah gue tumben aja.”


“Gak boleh.”


Bila melempar wajah Nai dengan keripik kentang.


“Bukan gitu-“


“Bosen aja bil sama suasana rumah.” Sambar Nai.


“Gak kok, mereka masih di luar kota entah dimananya gue gak tahu.” Ucap Nai sambil mengangkat bahu acuh tak acuh.


Bila jadi kasihan dengan Nai yang pasti kesepian sendirian di rumah. Bila segera memeluk Nai yang langsung di lepaskan oleh Nai.


“Ihh apaan sih lo pake peluk peluk segala.”


“Gak apa apa lagi pengen meluk lo hehe.” Cengir Bila.


“Tapi Nai beneran deh lo gak ada masalah?”


“Emang tampang gue lagi ada masalah gitu?” Nai malah balik bertanya pada Bila.


“Ya enggak, eh ada deh.”


Nai yang khawatir Bila mengetahui sesuatu langsung meraih kaca di meja rias Nai. Nai mengecek wajahnya apakah menunjukkan tanda-tanda sesuatu atau tidak. Semoga saja Bila tidak sadar.


“Apaan sih Bil tuh wajah gue masih cantik kan.”


“Pede bener sih lo."


“Asal lo tau y ague ini adalah detektif handal gue itu bisa merasakan apa yang orang lain rasakan.” Bila dnegan wajah seriusnya membuat Nai menghampirinya.


“Beneran loh bil?” Nai menjadi khawatir sekarang.


“Iya Nai.” ujar Bila mantap.


Tidak lama setelah itu terdengar tawa Bila yang menggelegar. Nai segera melempar kacang atom kepada Bila yang masih asyik tertawa.


“Lo aneh sih masa percaya sama yang begituan.”


“Tapi makasih ya Bil.”


“Makasih untuk apa?” tanya Bila heran.


“Untuk hari ini gue bisa lupain masalah gue.”

__ADS_1


“Tuh kan udah gue duga lo pasti sedang ada dalam masalah.”


Tiba-tiba saja Nai menangis yang membuat Bila bingung. Bila akhirnya menghampiri Nai dan memeluknya. Di usapnya punggung Nai yang bergetar karena masih menangis. Akhirnya Nai menceritakan semua permasalahannya kepada Bila. Bila mendnegarkannya dengan seksama.


***


“Jadi orang yang lo taksir itu suka sama sahabat lo, siapa?”


Bila tampak berpikir. Perasaan mereka hanya punya satu sahabat yaitu Sha.


Jangan-jangan..


“Iya Bil, kemarin gue udah nanya sama Akbar terus dia ngaku gitu ke gue.”


“Tapi kan Sha gak keliatan suka sama dia Nai.”


“Iya itu yang gue takutin sih bil.”


“Pusing juga ya gue jadinya."


Nai manyun. “Apalagi gue Bil.”


“Tapi lo udah nanya ke Sha tentang ini?"


Nai hanya menggeleng sebagai jawaban. Lah patah hatinya aja belum sembuh nanti kalau mendnegar jawaban dari Sha bisa-bisa remuk, gak dia bekum siap.


“Kok gitu sih Nai, gue kenal Sha udah lama. Gak mungkin Sha nyakitin sahabatnya sendiri. Lagian waktu di rumah sakit dia kan udah bilang kalau gak ada apa-apa antara dia sama Akbar.”


“Tapi-“


“Pokoknya besok kita jenguk Sha.”


Nai hanya mengangguk pasrah.


“Terus rencana lo sekarang gimana?”


“Maksudnya?”


“Ya lo mau lupain apa mau tetap keukeuh bertahan.”


“Maunya sih gue bertahan tapi gak tau bil.”


“Gue sih sebagai teman dukung aja apa yang bakal lo lakuin. Cuma gue ingetin jangan sampai lo terus-terusan korbanin hati lo. Sayang kan.” Nai mengangguk patuh.


“Bil, menurut lo ada kemungkinan sih Akbar bisa suka sama gue?"


Bila tampak berpikir membuat Nai memperhatikannya dengan serius. “Gak ada kayaknya Nai.”


Nai seketika cemberut. Segera saja Bila tertawa karena nya.


“Menurut cerita lo sih gue kurang tahu ya Nai, tapi selama janur kuning belum melengkung lo masih ada kesempatan kok.” Bila mencoba menghibur Nai dengan menyemangatinya.


“Gue juga gak yakin sih, mengingat betapa cueknya Akbar sama gue. Tapi-“


“Secuek-cueknya dia, tetap saja selalu perhatian sama gue.”


“Itu yang bikin gue jatuh cinta sama dia.”


“Selama ini cowok-cowok selalu ngejar gue. Sedangkan dia jangankan ngejar gue, istialahnya nih menoleh ke arah gue aja enggak.”


“Lo yang sabar aja ya Nai, kalau dia bukan jodoh lo. Pasti lo akan dapat yang terbaik kok.”


“Iya deh bil.”


“Semangat dong Nai.”


Nai mencoba tersenyum lebar yang membuat Bila mengangkat kedua jempolnya.


“Bil kita nonton film horror yuk.”


“Gak ah udah malem.”


“Ah cemen lo.”


“Siapa yang cemen siapa.”


“sini siapa takut.” Bila mengambil laptop dan mulai memutarkan film horror yang di maksud Nai.

__ADS_1


Nai terenyuh melihat kelakuan Bila hari ini. Terima kasih ya Bil selalu ada di samping gue. Gue gak tau lagi mau curhat sama siapa kalau gak ada lo. Gue yakin suatu saat Akbar bila melirik gue bukan sebagai adiknya.


Nai akhirnya bergabung dengan Bila menonton film horror.


__ADS_2