
Sepanjang jalan pikiran Sha kosong, dia memikirkan kejadian tadi sampai tidak sadar dirinya sudah melangkah ke tengah jalan.
Sha terus berjalan tanpa memperdulikan dirinya berada di pinggir atau tengah jalan.
Dari arah yang sama Yusuf melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Yusuf masih kesal dengan ucapan Nai. Di dadanya seperti ada ribuan jarum yang menusuknya. Untung saja jalanan hari ini sepi karena hari sudah mulai petang.
Yusuf menjalankan motornya semakin kesetanan saja. Ugal-ugalan dan dengan kecepatan tinggi tanpa menoleh kanan kiri.
“Awaassss”
Braaakkkk
Teriakan seorang warga juga membawa Yusuf kepada kesadaran dirinya. Yusuf menoleh ke sekitar di mana dia sudah di pinggir trotoar dengan motor jauh di depannya.
Para warga bergerombol mendekatiny juga mendekati seseorang yang tergeletak di tengah jalan.
Yusuf membelalakan matanya begitu melihat seorang gadis yang masih memakai seragam SMA yang kini tergeletak di tengan jalan bersimbah darah.
“Mas tidak apa-apa?” tanya seorang warga kepada Yusuf.
Yusuf menggelengkan kepalanya seraya bangkit dari duduknya. Sekujur tubuhnya terasa nyeri, Yusuf menghiraukan semua itu demi melihat gadis yang di tabraknya.
Benarkah dia yang menabrak gadis itu?
Yusuf segera menghampiri kerumunan dan mulai mendekati gadis yang terbaring di aspal itu.
Mata Yusuf mebelalak saat tahu siapa yang di tabraknya. Bukan hanya hatinya yang seperti tertusuk jarum sekujur tubuhnya terasa lemas bahkan tidak ada daya. Tubuh Yusuf merosot dan menggenggam tangan Sha erat, entahlah dia sangat bersedih melihat keadaan Sha saat ini.
“Panggil ambulan cepat” teriak Yusuf sambil mencoba meraih ponsel di saku seragamnya.
Para warga segera mencari bantuan dan mencoba menelpon ambulan rumah sakit terdekat. Yusuf menghubungi Mamanya untuk memberitahu kecelakaan dirinya dan Sha.
“Halo Yusuf,”
“Ma,”
“Kenapa sayang,” di sebrang sana Mama Yusuf tampak khawatir.
“Tolong kabari orangtua Sha, anaknya kecelekaan”
Jedarrr
Bagaikan di sambar petir ponsel Mama Yusuf jatuh ke lantai. Perasaannya menjadi lebih tidak enak. Mama Yusuf segera menghampiri suaminya yang kebetulan ada di rumah.
Untung saja mereka masih di Bandung sehingga bisa mengetahui kondisi anaknya.
Sehabis menelpon Mamanya Yusuf ikutan pingsan sampai tidak tahu bahwa ambulan sudah datang. Mereka segera membawa Sha dan Yusuf ke rumah sakit. Di rumah sakit mereka segera mendapat pertolongan pertama.
Mama Yusuf tergopoh-gopoh menghampiri suaminya yang sedang bersantai di taman dekat kolam renang. Melihat istrinya yang berlarian dnegan berurai air mata membbuat Pak Irwan segera menghentikan kegiatan membaca korannya.
“Pa.”
“Ada apa Ma.” Pak irwan jadi ikutan cemas seperti istrinya.
“Itu anu kita harus ke rumah sakit.”
“Siap yang sakit Ma?” tanya pak Irwan kaget.
“Anak kita.”
“Anak kita kecelakaan Ma?”
Mama Yusuf menggeleng tidak tahu, Yusuf tidak berbicara kalau dirinya kecelakaan tapi dia hanya bilang Sha yang kecelakaan.
“Siapa Ma?” tanya pak Irwan lagi sambil menggoyangkan bahu istrinya.
“Sha pak anaknya supir papa.”
“Kita harus beritahu keluarganya.”
Pak Irwan sedikit lega karena bukan anaknya yang kecelakaan, tapi tetap saja dia merasa khawatir dengan keadaan anaknya. Pak Irwan segera mengabari keluarga begitu mereka mendapatkan alamat rumah sakit tempat Sha dan Yusuf di rawat.
Mereka segera menuju rumah sakit untuk melihat keadaan anaknya. Memang anaknya juga ikut kecelakaan tetapi tidak parah seperti Sha.
***
__ADS_1
Yusuf menyipitkan matanya untuk menyesuaikan dengan tempat yang dia tempati ini. Dimana dia? Batinnya bertanya. Ruangan serba putih yang mendominasi kamar yang terdiri dari beberapa kasur. Yusuf mengedarkan pandangan kepada bangkar sebelahnya yang terisi seorang bapak tua yang tersneyum ke arahnya. Meski canggung Yusuf membalas senyumnya.
“Kamu sudah sadar?” dokter yang memeriksa Yusuf mengahampirinya dengan seorang bapak-bapak yang seingat Yusuf membantunya saat kecelakaan.
Sha? Dimana dia ?
Yusuf mencoba bangkit dan menapakkan kakinya ke lantai yang langsung di cegah dokter.
“Keadaan mu belum pulih, meski hanya luka ringan di tangan dan kaki tetap saja kamu butuh istirahat.” Ucap dokter sambil menuliskan beberapa resep obat.
“Ini obat yang perlu kamu tebus supaya-“
Yusuf tidak menghiraukan kata-kata dokter selanjutnya. Dirinya langsung menyeret tubuhnya untuk keluar ruangan itu dan mencari ruangan Sha. Bapak-bapak yang menolong Yusuf berlari mengejar Yusuf. Bapak itu langsung membantu Yusuf yang terlihat masih sedikit susah untuk berjalan itu.
“Di bilangin dokter itu jangan bandel,” nasihat bapak yang tidak Yusuf ketahui namanya itu.
“Terima kasih pak.”
Yusuf yang kebingungan dan berhenti ketika sampai di pertigaan koridor membuat bapak itu tersenyum dan kembali memapah Yusuf.
“Teman kamu tadi masih di ugd, masih perlu perawatan intensif kata dokter terus lukanya lumayan parah.”
Yusuf hanya diam mendengarkan penjelasan bapak yang mengaku bernama Arman itu. Yusuf semakin merasa bersalah karena Sha terlukan parah karena nya. Andai saja dia tidak kehilangan kendali di jalan tadi, mungkin tidak akan terjadi seperti ini. Ah andai, penyesalan memang selalu di akhir.
Sesampainya disana Yusuf duduk di ruang tunggu dan melihat ke arah Sha yang terlihat masih tenang dengan tidurnya atau pingsangnya entah Yusuf tidak tahu. Yang jelas sekarang Yusuf menjadi gelisah. Dia mulai bangkit dan mendekat kea rah kaca yang menampilkan tidur Sha yang tenang.
“Yusuf,”
Yusuf menoleh ke arah yang memanggilnya. Dia melihat Mamanya yang berlari ke arahnya dengan tergesa. Datang menghampirinya, Yusuf langsung mengampiri Mamanya dan memeluknya erat hingga tidak sadar sampai mengeluarkan air mata.
“Kenapa bisa terjadi begini sih?” tanya Mamanya Yusuf, Yusuf hanya diam saja dan enggan untuk menjawab.
“Gimana keadaannya sekarang?” tanya Mamanya lagi yang membuat Yusuf menggelengkan kepalanya.
Mama Yusuf beralih ke arah bapak-bapak yang seusia dengan suaminya.
“Terima kasih ya pak, bapak yang membawa anak saya kemari?”
Bapak itu hanya mengangguk.
“Bapak-“
“Terima kasih sudah mau menjaga dan membawa anak saya ke rumah sakit.” Ujar papa Yusuf kepada pak Arman.
“Kalau begitu saya permisi,” pamit Pak Arman.
“Oh iya boleh mintak kontaknya?”
“Boleh pak.”
Yusuf masih berada di pelukan Mamanya dia merasa sangat shochk dengan kejadian ini, dia jadi teringat dengan adiknya yang hilang dan meninggal karena kecelakaan.
Tidak sadar Yusuf semakin mengeratkan pelukannya kepada Mamanya.
“Bagaimana keadaan anak saya pak?” tanya bapak Sha yang baru datang beserta istrinya.
Sejenak Yusuf menatap kedua orangtua Sha dan melepaskan pelukannya. Yusuf mengampiri kedua orangtua Shad an menggenggam erat kedua tangan mereka sambil bersimpuh di kedua kakinya.
“Maafkan saya pak bu saya tidak sengaja menabrak Sha.”
Kenyataan itu membuat kedua orangtua yang mengalami kecelakan tersebut terkejut, terlebih Mama Yusuf yang kini menatap Yusuf kecewa juga kasihan.
Bapak Sha menuntun Yusuf untuk bangun dan mengajaknya duduk.
“Tidak apa-apa nak, ini kecelakaan bukan salah siapa-siapa,” bapak Sha mencoba menenangkan Yusuf yang kembali menitikan air mata.
“Iya nduk, ini bukan salah siapa-siapa mungkin sudah kehendak dari yang maha kuasa,” Ibu Sha ikut menenagkan Yusuf.
Yusuf sedikit lega dan langsung berhambur memeluk kedua orangtua Sha sambil mengucap terima kasih yang tiada henti.
“Kamu tidak apa-apa nduk?” tanya Ibu Sha melihat luka di tangan juga kaki Yusuf.
Yusuf menggeleng. Memang lukanya masih sakit, tetpai itu tidak sebanding dengan melihat keadaan Sha yang tubuhnya di pasang berbagai alat.
Tiba-tiba lampu ruangan ugd kelap-kerlip berwarna merah, dokter yang menangani Sha segera masuk ke ruangan UGD. Dari kaca terlihat bahwa dokter dan perawat terlihat sibuk mencoba untuk mengobati Sha. Mereka yang berada di luar ruangan snagat cemas, terlebih Ibu Sha dia merasa sangat khawatir karena masih banyak yang ingin dia ceritakan kepada Sha.
Dokter ke luar ruangan sambil terlihat sibuk menelpon. Bapak Sha dan juga Papa Yusuf menghampiri dokter dnegan perasaan was-was.
__ADS_1
“Dokter bagaimana keadaan anak saya?” tanya bapak Sha tidak sabar. Pak irwan menenangkan Bapak Sha.
Dokter menghela nafas berat, sebagai dokter tentu pasien sudah menjadi tanggung jawab yang utama untuknya dan hal berat lainnya adalah menyampaikan beberapa kemungkinan kepada keluarga pasien.
“Kondisinya sekarang kritis karena luka di kepalanya mengeluarkan banyak darah, juga tubuhnya yang lelah membuat proses penyembuhan berjalan lambat.”
Mendadak atmosfer di rumah sakit tersebut menjadi seperti kutub es, dingin dan mampu membekukan yang berada disana.
“Dia kehilangan banyak darah dan kami mmebutuhkan darah o negative. Kebetulan stok darah o negative kosong di rumah sakit ini. Apakah ada dari pihak keluarga yang mempunyai golongan darah tersebut?” tanya dokter kemudian yang membuat mereka semakin tegang.
Dokter menatap bapak Sha yang terlihat tegang. Bapak Sha menunduk kecewa karena dia tidak bisa menolong begitupula dnegan istrinya. Dokter menunggu jawaban mereka yang belum kunjung datnag selama ber menit-menit.
Dokter pun berniat kembali ke ruangan karena tidak mendapatkan pencerahan.
“Tunggu dokter,” cegah Mama Yusuf.
Dokter menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Mama Yusuf.
“Ambil darah saya dok, darah saya sama dengan Sha o negative,” Mama Yusuf berkata dengan sangat yakin membuat doketr menyunggingkan senyumnya.
Papa Yusuf baru teringat kalau istrinya bergolongan o negative. Sedangkan Akbar menatap Mamanya dnegan tatapan bertanya ‘Mama Yakin?’.
Bapak dan Ibu Sha mengucap syukur dan berulang kali berterima kasih kepada Mama Yusuf.
Mengetahui golongannya sama, Mamahnya yusuf langsung menawarkaan diri untuk medonorkan darahnya. Entah kenapa melihat Sha yang terbaring di rumah sakit dengan berbagai alat yang menempel di tubuhnya, membuat Mama Yusuf seperti merasakan sakitnya. Dia jadi berfikir bagaimana kalau Bintang anaknya yang mengalami hal tersebut, sudah jadi dia pasti akan merasa sangat sedih dan mungkin pingsan di tempat.
Hingga dia pun mengikuti dokter untuk di tes terlebih dahulu, setelah dinyatakan bisa untuk mendonorkan darahnya.
Mamanya Yusuf langsung disuruh masuk ruangan untuk tranfusi darah.
Seperti ada yang menyayatnya ketika melihat tubuh lemah Sha terbaring di bangkar rumah sakit dengan keadaan yang tidak bisa di bilang baik. Seolah-olah dia bisa merasakan apa yang saat ini dialami Sha. Setelah selesai Mama Yusuf di persilahkan kembali untuk menunggu di luar kembali sampai pasien sadar.
“Gimana keadaan anak saya bu,” ucap Ibunya Sha yang menangis di pelukan suaminya.
“Sekarang masih belum sadar bu, semooga darah saya membantu agar Sha cepat bangun ya bu,” ucap Mama Yusuf.
“Makasih ya bu sudah mau mendonorkan darahnya,” ucap Ibunya Sha.
“Iya sama-sama bu, lagian sha kecelakaan juga karena anak saya. Saya yang harusnya meminta maaf, karena anak saya sekarang Sha masuk rumah sakit,” sesal Mama Yusuf.
“Gak apa-apa kok bu namanya musibah kan siapa yang tahu,” ucap bapak Sha.
Keadaan pun hening karena mereka sibuk dengan fikirannya masing-masing, sampai dokter memanggil kedua orangtua Sha. Sha sudah mulai pulih kondisinya dan sudah bisa di jenguk.
Ibu Sha masuk ke ruangan dan tangisnya langsung pecah begitu melihat kondisi Sha. Isakan itu tidak bisa di tahannya meski sekuat baja di tahan
“Mama, jangan tinggalin Sha sendiri disini,” igau Sha yang masih betah memjamkan matanya.
Sha seolah sedang bermimpi sekarang. Dia tidak mengenal tempat ini, batin nya bertanya-tanya. Dia berada dimana sekarang,, taman bunga yang indah dan harum semerbak melati sangat berbeda dengan bumi yang sudah terkontaminasi oleh berbagai zat kimia. Disini udaranya sangat segar dan terlihat asri.
Ada dimana dia sekarang ini? Pertanyaan yang terus ada dalam benaknya itu membuat Sha menyusuri tempat tersebut. Di ujung jalan dia melihat kedua orantuanya sedang tersenyum kearahnya sambil melambaikan tangannya. Sha berusaha mengejarnya tapi semakin lama orangtuanya semakin menjauh.
Lelah mengejar mereka yang tidak terkejar Sha menangis di bawah pohon apel yang rindang, datang Akbar menghampirinya dan mengusap kepalanya lembut. Tiba-tiba datang kedua orangtua Yusuf memeluknya erat seolah takut Sha pergi.
Sha menagis dipelukan keduanya sambil terus memanggil kedua orantuanya. Kedua orang tersebut mengajak Sha untuk pulang. Sha sempat ragu tetapi mengikuti langkah mereka yang entah membawanya kemana. Sha menggenggam kedua tangan mereka disisi kanan dna kirinya dnegan erat, takut sendirian lagi.
Sampai cahaya menyilaukan matanya membuat Sha memjamkan matanya. Sha mencoba menggerakkan tangannya yang terasa berat. Kelopka matanya sedikit terbuka dan mulai menyesuaikan dengan cahaya yang terang itu.
Matanya pun terbuka sempurna, seketika Sha melihat sekeliling yang serba putih dan bau obat-obatan . matanya menelusuri sekitar dan menangkap sosok ibunya disisi ranjang sambil memegang tangannya. Sha pun memegang tangan ibunya erat seolah ibunya akan pergi jauh.
“Ibu gak akan pergi tinggalin Sha kan,” ucap Sha serak sembari mengeluarkan airmatanya dan mengeratkan genggamannya pada tangan ibunya.
“Gak Sha ibu disini nemenin kamu,” ucap ibunya seraya mengusap kepala Sha dan mencoba memanggil dokter lewat bel di ranjang Sha.
Dokter masuk ke ruangan dan segera memeriksa Sha.
“Ada yang sakit?” tanya dokter yang hanya di jawab gelengan oleh Sha.
Dokter tersenyum kepada Sha juga Ibu dan bapak Sha.
“Anak ibu selamat dari keadaan kritisnya, tapi Sha kamu jangan banyak bergerak dulu karena kondisi tubuhmu masih lemah. Juga jangan berpikir yang berat-berat nanti kepalamu akan sakit.” Jelas dokter sambil pamit unduru diri.
Tidka lama suster dan perawat masuk ke kamar Shad an meminta kepada kedua orangtua Sha untuk menunggu di luar ruangan karena Sha akan di pindahkan ke ruangan rawat inap. Mereka menggauk dan mulai mengikuti brangkar Sha yang mulai di pindahkan.
Ibu Yusuf tersenyum lega melihat Sha yang sudah siuman, dia menunggu Yusuf dan papanya yang sedang berada di ruang administrasi. Selesai dengan urusannya Mama Yusuf mengajak mereka untuk ke ruangan inap Sha.
Ibu Yusuf pun mendekati Sha dan meminta maaf karena Yusuf Sha bisa seperti ini. Sha sedikit terkejut ketika melihat Mama Yusuf, Papa Yusuf dan Yusuf berada memenuhi ruangannya. Yusuf pun menjelaskan kronologi kecelakaan tersebut yang mmebuat Sha kembali mengingat pertengkarannnya dnegan Nai.
__ADS_1
Sekali lagi Mama Yusuf meminta maaf kepadanya dan Sha pun memakluminya, karena ini memang musibah yang sudah menimpanya. Setelah menjenguk Sha mereka semua (Mama Yusuf, Yusuf dan Papanya) pamit pulang karena hari sudah malam dan jam besuk pub sudah mau berakhir.