
“Tolong.” Teriak Akbar yang mencoba memapah Sha mengikuti arus sungai.
“Tolong.” Teriak Akbar lagi. Kondisi Sha sendiri setengah sadar dan bergitu terlihat lemas.
“Pak sepertinya itu ada yang meminta tolong.” Ucap salah satu penumpang yang membuat Pak Dirjo yang sedang mendayung mendengarkan suara itu dengan lamat-lamat.
“Tolong.” Teriakan itu kembali terdengar. Membuat rombongan dalam perahu itu mencari sumber asal suara.
“Suara nya dari arah sana.” Seseorang menujuk keberadaan asal muasal suara dimana tempat Sha dan Akbar berada.
Pak Dirjo pun mengarahkan perahunya ke arah yang di tunjuk oleh rombongannya. Benar saja, tak lama kemudan mereka melihat seorang laki-laki yang tenga memapah seorang perempuan.
“Tunggu disana.” Teriak orang yang tadi menunjukan jalan kepada Akbar.
Mendengar ada suara Akbar menghentikan langkahnya, dia ambruk terduduk di tanah.
“Sha kita selamat.” ucap Akbar yang membantu Sha untuk duduk. Akbar melihat serombongan perahu datang menghampirinya.
Perahu yang di jalankan Pak Dirjo itu berhenti tat kala sudah mendekati keberadaan Akbar dan Sha. Teman-teman dalam rombongan itu segera turun dan membantu Akbar serta Sha untuk naik ke perahu mereka. Untuk saja rombongan itu hanya terdiri empat orang, lima dengan Pak Dirjo.
“Ayo saya bantu.” Akbar di bantu oleh seseorang yang mengenalkan dirinya sebagai Anton. Dua orang temannya membantu Sha yang tidak sadarkan diri ke perahu.
Akbar menepuk samping tempat duduknya pelan ketika Sha sudah berada di perahu.
“Sudah biarkan dia sama kami saja.” Ucap Anton menolak tawaran Akbar.
“Jangan tinggalin aku.” Igau Sha yang membuat Akbar langusng menarik tangan Sha untuk duduk di sebelahnya.
Teman-teman yang menolong Akbar menatap iba mereka berdua. Yang satu terlihat seperti mayat hidup yang pucat pasi yang satu tergolek lemah terengah-engah. Sepertinya mereka sudha berjalan cukup jauh.
Akhirnya mereka membiarkan saja Akbar dan Sha satu bangku di belakang. Pak Dirjo memberikan Akbar minum terlebih dahulu, tanpa banyak kata Akbar menerimanya. Akbar mencoba memberikan Sha minum juga walau beberapa kali Sha menolaknya.
“Terima kasih pak.” Ucap Akbar tulus kepada Pak Dirjo sambil memberikan botol minumnya.
“Terima kasih juga ya Anton dan teman-teman.” Ucap Akbar lagi. Anton dan teman-temannya menoleh ke arah Akbar yang sibuk membenarkan posisi duduk Sha.
“Santai aja bro, meski baru kenal sesame manusia harus tolong menolong kan.” Ucap Anton sambil tersenyum kepada Akbar. Akbar membalas senyum itu dengan wajah kaku.
Sepanjang perjalanan Sha memeluk Akbar sambil memejamkan matanya. Sha masih memejamkan matanya dan memeluk akbar dengan erat ketika mereka akan sampai di titik awal keberangkatan. Akbar sempat meminta Sha membuka mata, tapi Sha malah semakin mengeratkan pelukannya kepada Akbar.
Perahu mereka akhirnya sampai di belakang perahu yang di gunakan Yusuf dan kawan-kawan tadi. Bila dan Rio terlihat sangat lega melihat Akbar dan Sha ada di rombongan itui. Mereka pun turun satu persatu. Bila mencoba mendekati perahu itu yang langsung dicegah oleh Pak Yoyo karena bahaya arus sungai sedang deras dan dia tidak mau menambah resiko lain.
Sha di bantu Akbar dan Anton untuk naik ke permukaan. Selama naik tangan Sha tidak melepaskan cengkramannya kepada tangan Akbar. Raut muka Yusuf berubah datar setelah melihat hal tersebut, Yusuf melepaskan pelukannya kepada dan langsung menghampiri mereka berdua.
“Lepas.” Ucap Yusuf datar yang tidak mendapa respon apa-apa dari Akbar dan Sha. Melihat hal itu dia segera melepaskan pelukan Sha dan Akbar dengan paksa. Hampir saja Sha jatuh ke tanah jika Ysuuf tidak segera mencekal tangannya.
Dengan segera Yusuf menggendong Sha ke posko. Yusuf tidak ingin Sha kenapa-napa, sedang Sha sedikit shock ketika tubuhnya diangkat, dia langsung mengeratkan pelukannya ke leher Yusuf.
Sesampainya di posko Pak Cipto langsung menyuruh Yusuf untuk segera membaringkan sha di ranjang yang memang kebetulan di sediakannya. Pak Cipto menghampiri Yusuf dan Sha dengan perasaan khawatir. Dia menatap penuh tanya kepada Pak Yoyo yang hanya menatap pak Cipto dengan tatapan menyesalnya.
“Kenapa ini?” tanya Pak Cipto.
Keadaan pun hening karena tidak ada yang mau mulai membuka suara ataupun menjawab pertanyaan Pak Cipto. Pak Cipto melirik Bila yang memainkan kaus Rio. Akbar yang entah kemana, dan Nai yang hanya menunduk.
“Pak Yoyo panggil pak mantri cepat.” Suruh Pak Cipto kepada Pak Yoyo. Segera saja Pak Yoyo melaksanakan tugas itu. Pak Cipto berusaha membangunkan Sha yang terlihat adem entah pingsan atau tidur.
Pak Yoyo datang dengan Pak Mantri yang biasa jadi tempat berobat di daerah sana, karena jarak ke rumahsakit jauh akhirnya memilih memanggil Pak Mantri. Pak Mantri menghampiri Pak Cipto dengan wajah tenang.
“Ada apa ini?” Pak Mantri melihat seorang anak perempuan yang terbaring lemah di posko.
Pak Mantri dengan segera memeriksanya.
“Apa dia minum banyak air di sungai?” tanya Pak Mantri kepada Pak Cipto. Pak Cipto menatap Pak Yoyo penuh tanya. Pak Yoyo jadi gelagapan.
“Sepertinya iya soalnya perahu karet kami tenggelam tadi dan dia di temukan oleh rombongannya Pak Dirjo.” Jelas Pak Yoyo.
__ADS_1
“Begitu, dia gak apa-apa kok mungkin kelelahan sama kemasukan banyak air. Oh iya apa kalian bawa baju ganti?” Bila mengangguk dan mengambil baju Sha.
“Lebih baik coba ganti pakaian basahnya, pakaian luarnya saja sepertinya kedinginan.”
Bila mengangguk patuh. Pak Cipto menyuruh yang tidak berkepentingan untuk keluar. Bila di bantu dengan beberapa petugas perempuan mencoba untuk mengganti pakaian yang di kenakan Sha.
Mereka sedikit kesusahan karena Sha yang belum sadar. Untungnya Bila tidak sendiri kalau sendiri benar-benar kesusahan. Setelah selesai mereka menunggu Sha untuk sadar. Pak Mantri juga sudah memeberikan beberapa obat untuk Sha sebagai pencegahan dan pengobatan pertama.
“Kalau sudah sadar kasih obat ini dulu aja, ini hanya vitamin. Kalau begitu saya pulang dulu ya.” Pak Mantri pamit.
“Terima kasih banyak Pak Mantri.”
Bila menatap punggung orang-orang yang keluar posko. Kini di posko hanya ada para pekerja yang tengah sibuk dan Rio yang berdiri di samping Bila. Bila jadi bertanya-tanya kemana perginya Nai, Yusuf dan Akbar.
***
Yusuf pergi keluar ketika Pak Mantri menyuruh mereka keluar dari posko. Yusuf tidak tahu jika Nai mengikutinya. Kaki Yusuf berhenti di pinggir sungai untuk menenangkan fikiran. Dia mengambil batu kecil dan melemparkannya ke sungai. “Siapa yang sebenarnya aku cintai ini?” Yusuf pun bermonolog sendiri.
Nai yang mendengar hal itu lantas segera menghampiri Yusuf dengan nafas memburu, “maksud lo apa ngomong gitu!”
Yusuf terdiam kaku, tidak menyangka jika monolognya akan di dengar orang, oleh Nai pula!
“Maksud lo apa?!” tanya Nai sekali lagi.
Yusuf hanya diam mendengar ocehan Nai yang seratus kali mmebuatnya pusing.
“Jadi lo gak suka Sha? Terus kenapa ngajak Sha pacaran?”
“Lo cinta sama orang lain gitu?” memang dengan lo pacaran sama Sha lo bisa lupain orang yang lo cintain. Kalau begini jadinya lo sama aja ngejadiin Sha pelampiasan. Kalau memang Sha hanya pelampiasan kenapa gak putusin aja sih!” teriak Nai dengan emosi.
“Maksud ngajak dia pacaran itu apa? Sama aja lo permainkan hati orang tau gak?!” Yusuf menghela nafasnya kasar mendengar teriakan Nai. untung saja air sungai yang deras mampu meredam suara Nai.
Yusuf mendekati Nai dan memegang bahunya. “Nai ini gak seperti yang lo kira,” ucap Yusuf dengan nada frustasi.
Yusuf mendesah, “dengerin gue dulu Nai. Gue emang cinta sama seseorang dan itu bukan Sha.” Mata Nai melotot mendengar pengakuan Yusuf.
“Kenapa pacaran?” teriak Nai.
“Gue mau move on Nai!” Yusuf jadi ikutan teriak.
“Gak dengan lo pacaran sama Sha juga kan?!”
“Gue tau gue salah, tapi gue juga punya alasannya.”
Nai menatap Yusuf, “alasannya apa?”
Yusuf berusaha mencari jawaban atas pertanyaan Nai, alasannya apa? Yusuf sendiri bingung. Hal itu spontan saja terjadi mengingat dulu Sha pernah mengiriminya surat cinta.
“Gak bisa jawab kan? Gue mau beritahu Shah al ini.” Nai hendak pergi meningalkan Yusuf sendiri.
Yusuf mencekal tangan Nai. “Nai please dengerin gue dulu.” Pinta Yusuf yang mengeratkan cekalannya pada tangan Nai yang berontak.
Meski sulit Nai berusaha untuk melepaskan cekalan Yusuf, hingga dia terpeleset dan hampir jatuh ke sungai jika Yusuf tidak segera menangkapnya dan memeluknya. Yusuf mencoba membantu Nai yang berdiri. Yusuf pun membimbing Nai untuk duduk di batu karena sepertinya kaki Nai terkilir.
Yusuf melihat kaki Nai yang memang terkilir dan mencoba mengurut kaki Nai sampai kaki Nai sedikit enakan. “Gimana Nai?”
Nai mencoba mengurut kakinya sendiri, “Udah sedikit enakan kok.” Nai berusaha untuk bangkit dan pergi darisana yang langsung dicegah oleh Yusuf.
Yusuf kembali mendudukan Nai di batu besar. “Nai kali ini dengerin penjelasan gue dulu ya.” Nai membuang muka.
“Nai please dengerin gue dulu kali ini aja. Gue akan menjelaskannya sekali dan itu terserah lo mau percaya apa enggak sama gue.” Ucap Yusuf yang pasrah karena Nai tidak melihat ke arahnya sama sekali.
“Gue emang masih cinta sama orang itu tapi gue gak berniat untuk jadiin Sha sebagai pelampiasan. Niat gue pacaran sama Sha agar gue bisa lupain orang yang gue cintai itu. Dan gue sama sekali gak ada niat untuk mempermainkan Sha,” jelas Yusuf.
Melihat respon Nai yang hanya diam Yusuf mengusap wajahnya frustasi. Dia tau dia salah dengan mengajak Sha pacaran.
__ADS_1
“Kenapa harus Sha? Bukan orang lain?” Nai akhirnya buka suara yang membuat Yusuf lega.
“Hanya Sha yang ada di pikiran gue saat itu. Sha sudah tahu gue cinta sama orang lain dan dia juga gak apa-apa. Dia bahkan mau bantu gue buat move on.”
Satu fakta lagi yang mmebuat Nai terkejut bukan main, Sha tidak pernah menceritakan hal ini pada siapapun dan sepertinya Bila juga tidak mengetahuinya.“Jadi Sha sudah tahu kalau lo mencintai orang lain?” Yusuf hanya menggangguk karena tidak sanggup bersuara. Yusuf sadar dia sudah banyak salah kepada Sha.
“Terus gimana Sha sudah tau belum siapa orang yang lo cintai?” tanya Nai, dia hanya takut sahabatnya itu disakitin.
Deg, ucapan Nai membuat Yusuf sadar. Satu rahasia yang mungkin bukan hanya menghancurkan hubungannya dengan Sha tetapi juga hubungan persahabatan Sha dan Nai. Sampai saat ini Yusuf belum berani mengungkapkan hal itu.
“Lo kok bengong. Sha sudah tau belum orangnya?” tanya Nai lagi.
Yusuf menggelengkan kepalanya. “Suatu saat gue akan bilang.” Janji Yusuf.
Nai menatap Yusuf, “kapan?” Yusuf pun tidak tahu kapan tepatnya itu.
“Siapa orangnya?”
“Lo,” ucap Yusuf tanpa sadar.
Nai terkejut bukan main, apa benar orang yang berpacaran dengan sahabatnya itu dia. Pikiran Nai jadi ikut kalut mengetahui hal itu.
Bagaimana kalau hal itu benar, dia tidak tahu perasaan Sha akan sehancur apa nantinya.
Nai menatapa Yusuf serius, “kak lo gak bercanda kan? ini bukan april moop kan?” Nai mencoba mencari kebenaran yang valid.
Giliran Yusuf yang terbengong sekarang, “hah apa Nai?”
“Gue…” Nai terbata. “Orang yang lo cintai?”
Yusuf terdiam sebentar. Apa dia harus mengungkapkannya pada Nai sekarang. “Lo benar, lo orang yang gue cintai itu.” ucap Yusuf lesu sekaligus lega.
Giliran Nai yang seolah menanggung beban banyak sekarang, “tapi kenapa?” tanya Nai sambil menggoyangkan tangan Yusuf dan memukulnya pelan.
“Gue juga gak tau Nai. Gue udah suka sama lo saat pertama kali kita ketemu Nai. Saat lo gue gendong ke uks. Gue juga gak tau kenapa.” Yusuf kembali mengambil batu kecil dan melemparkannya ke sungai.
Yusuf jadi mengingat pertemuan pertamanya dengan Nai, “gue juga gak tahu kapan rasa ini mulai hadir. Yang pasti saat melihat lo nangis gue juga ikutan sedih. Lihat lo senang gue juga ikutan senang.”
“Apalagi disaat lo suka sama orang yang gak cinta sama lo, gue masih berusaha mempertahankan perasaan ini. Lo tau Nai rasanya sakit banget saat lo teriak cinta sama seseorang, dan itu bukan gue.” Nai terdiam, tidak tahu jika perasaan Yusuf sedalam itu padanya.
“Lo emang gak sadar ya gue selalu nunggu lo, lo hanya fokus sama satu titk. Padahal banyak tempat dalam kertas itu yang bisa lo buat titik lain atapun garis.” Meski tidak mengerti maksud Yusuf, Nai melihat kekecewaan dimata Yusuf.
“Lo tau kenapa Sha bisa kecelakaan, itu karena gue Nai. gue yang nabrak dia!. Tadinya hari itu gue mau nembak lo, tapi setelah sampai depan rumah lo gue denger lo sebut laki-laki lain sambil menangis dan mengucapkan kata cinta. Disitu perasaan gue hancur banget nai.” Nai dengan jelas dapat melihat kilatan emosi di mata Yusuf.
Nai jadi ingat dia pernah nemuin bunga di depan rumahnya. Jadi bunga yang Nai temuin itu dari Yusuf, kenapa dia sampai benar-benar bisa gak sadar sama sekali. Nai jadi amat merasa bersalah setelah mendengar penjelasan Yusuf, berarti secara tidak langsung dia ikut andil dalam kecelakaan Sha.
Yusuf kembali buka suara. “Gue udah coba untuk lupain lo tapi gak bisa Nai, gak bisa! Sampai pada saat kecelakaan itu logika gue jadi jalan. Gue merasa bersalah banget sama Sha yang gak salah apa-apa. Gue **** banget ya, gara-gara cinta gue bisa sampai nabrak orang.”
“Selama di rumah sakt gue kenal lebih dekat dengan Sha, gue juga sering ngobrol sama ibunya untuk sekadar nanyain keadaan Sha. Saat itulah gue punya pikiran untuk move on dari lo, gue mencoba mencari kandidat yang pas untuk membantu gue. Gue ingat Sha pernah ngirim surat cinta untuk gue, gue akhirnya coba ngajak Sha. Gue pikir Sha gak akan terima ternyata dia nerima gue waktu itu.“
Yusuf jeda sebentar sebelum melanjutkan, “gue yang bingung akhirnya merasa satu masalah telah terpecahkan, padahal gue salah ada masalah yang lebih besar menanti gue. Itulah kenapa gue sampai saat ini belum memberitahu Sha mengenai orang yang gue cintai.”
Nai tergugu, “gue harus bilang apa ke sahabat gue, kalau dia tau orang yang dicintai lo itu gue.” Ucap Nai yang kini terisak. Yusuf mendekatkan diri kepada Nai, dia merangkul bahu Nai dan mencoba menenangkan Nai.
“Lo gak usah bilang apa-apa biar gue aja yang bilang pelan-pelan sama Sha, gue juga masih berusaha untuk move on dari lo.” ucap Yusuf.
“Ayo kita kesana lagi, lo masih bisa jalan kan?” Yusuf mengajak Nai untuk ke posko.
Nai mencoba untuk menggerakan kakinya untuk jalan, baru selangkah kakiknya langsung sakit dan hampir jatuh kalau tidak di tahanYusuf. Yusuf dengan terpaksa memapah nai ke posko.
Tanpa mereka sadari sejak tadi Akbar mendengarkan percakapan mereka. Akbar yang sangat hafal dengan teriakan Nai segera mencari asal suara. Dia menemukan Nai yang tengah mengobrol dengan Yusuf. Akbar berniat mendekati mereka tetapi ketika mendnegar pengakuan Yusuf, Akbar jadi mendnegarkan percakapan mereka.
Tangan Akbar mengepal kuat melihat Nai pelukan dengan Yusuf. Meski tujuannya menenangkan Nai, bagaimana kalau Sha mengetahui semua ini pasti Sha akan sakit hati.
Rencana Akbar dia akan memberitahukan hal ini kepada Sha, dia tidak mau Sha semakin sakit hati nantinya. Tapi, kalau Akbar memberitahu hal itu sekarang apa jadinya persahabatan Nai dan Sha. Akbar jadi frustasi, persaan campur aduk ketika melihat kepergian Yusuf dan Nai.
__ADS_1