Bintang Senja

Bintang Senja
Bab 51 Rumit


__ADS_3

Sha masih berusaha untuk memakai seragamnya dan menyimpan pakaian yang di pakainya ke gantungan di kamar mandi. Dalam hati Sha gelisah, takut akan yang akan terjadi nanti setelah dia keluar, takut Mamanya Yusuf akan marah padanya, dan dia sedikit takut berhadapan dengan Yusuf.


“Satu…”


Sha mempersiapkan diri, setelah cukup siap untuk bertemu semua orang, Sha memegang gagang pintu kuat-kuat.


“Dua…”


“Ti…”


Ceklek


Sha berusah membuka pintu dan menunduk untuk menghindari tatapan tanya semua orang. Tanpa disangka-sangka Yusuf langsung menarik Sha dalam pelukannya.


“Kak.” Sha berusaha memberontak dan meminta Yusuf melepaskan pelukannya. Sha sungguh malu apalagi sekarang banyak orang di hadapan mereka.


“Kak lepash.” Bisik Sha.


“Gak, sebelum lo dengerin penjelasan gue dulu.” Sha menggelengkan kepalanya dan Yusuf semakin mengeratkan pelukannya pada Sha.


“Kak lepass atau aku gak akan pernah dengerin penjelasan kakak.” Mau tak mau Yusuf melepaskan pelukannya. Mama Yusuf sebenarnya sedikit kaget melihat adegan tersebut.


Sha berjalan ke arah Mama Yusuf yang terkaget-kaget. Sha memegang tangannya, “tante terima kasih banyak untuk hari ini, Sha senang sekali.” Mama Yusuf balas menggenggam tangan Sha.


“Tante juga senang sekali, lain kali main lagi kesini ya.” Sha mengangguk canggung.


“Boleh tante meluk kamu?” pinta Mama Yusuf yang membuat Yusuf terperangah.


Sha mengangguk ragu. Mama Yusuf memeluk Sha erat, “jangan lupa pulang ya.”


Meski bingung dengan perkataan Mama Yusuf, Sha akhirnya mengangguk saja dan pamitan untuk pulang. Mama Yusuf mengantarkan Sha ke depan rumah, bersama Yusuf.


“Ma, Yusuf antarkan Sha dulu ya.” Pamit Yusuf.


“Loh terus Nai nanti pulang sama siapa?” ucap Mama Yusuf melirik Nai yang sedari tadi hanya diam.


“Dia sama Akbar aja.”


“Kok kamu gitu sih sama pacar kamu.”


Semua yang ada di teras terperangah mendengar ucapan Mama Yusuf, termasuk Nai sendiri yang tidak menyangka jika Mama Yusuf akan berkata demikian. Sha sendiri berusaha untuk tidak menangis lagi.


“Tante lebih baik Sha naik angkutan umum saja, Sha lupa memberitahu orang rumah jika akan kesini tadi.”


“Loh jangan dong, bahaya. Akbar kamu antarkan Sha pulang.” Yang disuruh hanya mengangguk patuh saja dan mengikuti Sha dari belakang. Sebelum mereka pergi Sha dan Akbar sempat mendengar bahwa Mama Yusuf menyuruh Nai pulang.


“Sha lo gak apa-apa?” tanya Akbar khawatir.


Sha menggeleng dan masuk ke dalam mobil Akbar, sebelum itu dia melihat Mama Yusuf memeluk Nai dengan hangat. Sha tidak peduli sekarang, Sha ingin ke tempat dia bisa menumpahkan segalanya.


“Nai ayo.” Yusuf mengkode Nai untuk segera beranjak dari rumahnya, dalam hatinya dia sangat merasa bersalah kepada Sha akibat kesalahpahaman ini. Tanpa menunggu Nai berpamitan dengan Mamanya Yusuf mengambil mobilnya yang masih terparkir di garasi.


Tin tin


Nai tergesa masuk ke mobil. Dan tanpa banyak basa-basi lagi Yusuf segera tancap gas untuk menyusul mobil yang di kendarai oleh Akbar. Semoga bisa terkejar, batin Yusuf berharap.


“Kak bisa pelan-pelan.” Ujar Nai takut-takut karena Yusuf mengemudikan mobilnya seperti orang kesetanan, apalagi setelah melihat mobil Akbar, Yusuf menambah kecepatannya.


“Kak bisa pelan gak.” Teriak Nai yang mengeratkan pegangannya pada sabuk pengaman. Teriakan Nai itu tidak di hiraukan Yusuf.


Melihat mobil Yusuf yang mengejarnya Sha meminta Akbar untuk menambah kecepatannya. “Kak, aku tidak mau ketemu dengan kak Yusuf, tolong tambah kecepatannya ya.” Akbar berusaha untuk menghindar dari mobil Yusuf.


Sretttt


Ckitttt


Gesekan ban dan rem membuat penumpang di kedua mobil itu menghela napas lega. Yusuf berhasil mengejar mobil Akbar. Dengan tergesa Yusuf keluar dari mobilnya dan mencoba mengetuk jendela kaca Sha. Sha bergeming di tempatnya. Dia bingung harus melakukan apa.


Akbar keluar, “mau lo apa sih?” tanya Akbar emosi juga pada akhirnya.


Yusuf memeberikan tatapan tidak sukanya kepada Akbar, dia mendekat ke arah Akbar, “lo tuh selalu ikut campur urusan orang,” teriak Yusuf sambil mengangkat kerah akbar dan memberikan bogeman ke wajah Akbar.


Akbar mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah, “cihh, siapa yang lo maksud ikut campur *******.” Akbar pun membalas pukulan Yusuf. “Ini yang ingin gue lakuin sejak melihat kedatangan lo dengan cewek lain, oh bukan cewek yang sudah di anggap pacar oleh orangtua lo.”


Mendengar hal itu darah dalam diri Yusuf kembali mendidih. Dan terjadilah aksi saling pukul sampai Sha keluar dari mobil dan kewalahan memisahkan mereka berdua.


“Cukupppp.” Teriakan Sha tidak mereka berdua hiraukan.


“Kalau kalian tidak berhenti aku akan pergi darisini.” Tetap saja mereka masih melakukan aksi saling baku hantam. Sha mendekat kepada mereka. Tanpa aba-aba Sha memeluk Akbar dan berusaha menjauhkan Akbar dengan Yusuf. Akbar berontak dan Yusuf juga masih mendekati Akbar.


Bughhh


Pukulan yang seharusnya mengenai Akbar kini tepat mengenai hidung Sha. Sha melepas pelukannya, Akbar segera menghampiri Sha yang jongkok. “Pukul aja aku ayo pukul,” teriak Sha sambil bangkit.


Yusuf bergeming, apalagi melihat darah yang mengalir dari hidung Sha, Akbar merain kemeja Yusuf, “mau apa lagi sih, kurang puas lo nyakitin Sha hah,” teriak Akbar di depan wajahnya.

__ADS_1


Yusuf tidak menjawabnya. Akbar melanjutkan semua kekesalannya hari ini kepada Yusuf, “kurang sabar apalagi sih Sha sama lo, dimana lo saat dia butuh bantuan hah!!”


“Lo tau.” Akbar menunjuk Sha yang kini kembali merosot ke jalan.


“Dia! Dia tadi nungguin lo kehujanan di sekolah sampai harus manggil dokter.”


Jleb, Yusuf tidak tahu sama sekali jika Sha menunggunya di halte tadi, padahal Yusuf sudah memberi kabar kepada Sha. Yusuf berusaha mendekati Sha yang terus d halangi oleh Akbar.


“Mama lo, Mama lo itu nyuruh Sha ke rumah lo saat keadaannya basah kuyup, dan tadi dia ngira Nai itu pacar lo.”


Akbar mengeratkan cengkraman tangannya di kemeja Yusuf. “Lo sadar, lo berapa kali nyakitin Sha hari ini?!!” dengan sekali sentakan Akbar menghempaskan cengkramannya dan mengajak Sha untuk pulang.


Sha pun hanya bisa menangis dalam mobil. Akbar memberikan tisu padanya, “kalau masih mau nangis, nangis aja jangan di tahan.” Ucap Akbar. Sha tidak menjawabnya, dadanya yang sesak sejak tadi sedikit plong saat sudah menumpahkan kekesalannya. Sha malu juga sebenarnya menangis di dalam mobil, bersama Akbar, tapi dia tidak ingin terus memendam sesak.


“Lo mau pulang?” Sha menggeleng.


“Mau ke rumah gue?” tawar Akbar, Sha kembali menggeleng.


“Mau ke rumah sakit? Sepertinya luka lo perlu di obati.” Sha masih saja menggeleng, membuat Akbar menghentikan kemudi di pinggir jalan. Akbar membanting setir dengan kesal, kalau bukan anak dari sahabat orangtuanya, Akbar sudah menghabisi Yusuf tadi.


Sha melirik Akbar yang terlihat masih emosi, Sha melihat beberapa wajah Akbar yang lebam, pasti sakit, pikir Sha. “Maaf..” lirih Sha.


“Bukan salah lo kok.”


“Jadi lo mau kemana?”


“Ke rumah Bila.”


Tanpa banyak kata Akbar kembali menjalankan mobilnya, mengarungi sore yang sudah berganti malam di Kota Bandung. Hanya music radio yang menemani perjalanan mereka yang penuh haru itu.


Ting tong


Bila yang memang sedang makan malam terheran ketika mendnegar bunyi bel, apa orangtuanya tidak jadi pergi ke luar, pikir Bila. Daripada dia penasaran, Bila segera pergi dari makan menuju pintu depan.


“Sha.” Sha langsung menubruk tubuh Bila dan memeluknya erat. Bila menatap Akbar dan memberinya tatapan bertanya. Akbar hanya mengangkat bahu, Bila tambah penasaran begitu melihat Akbar yang babak belur.


“Ayo kalian masuk dulu.” Ajak Bila kepada kedua tamunya.


Akbar menggeleng, “lebih baik gue pulang aja, gak enak udah malam lagipula sepertinya ortu gue sudah khawatir gue pulang larut.”


“Yaudah hati-hati ya.” Bila melambaikan tangannya pada Akbar yang sudah kembali melajukan mobilnya.


“Ayo masuk.” Ajak Bila pada Sha yang masih terisak.


***


Nai mengulurkan tangannya yang memegang tisu, “bersihkan luka kakak dulu.” Bukannya mengambilnya Yusuf justru bangkit dan hampir jatuh jika Nai tidak menahannya.


“Hati-hati kak.” Ucap Nai khawatir.


“Gue bisa sendiri.” Ucap Yusuf ketika Nai mencoba membantunya dengan memapahnya ke mobil. Nai membatu di tempatnya.


“Lo masih mau disini dan gak mau pulang?” teriak Yusuf yang kini sudah berada di dekat mobil.


Setengah berlari Nai menghampiri Yusuf, “lo yakin bisa nyetir.”


“Udah lo masuk aja dan jangan bawel.” Kali ini Nai menurut dan tidak banyak bertanya lagi. Baginya, diantar dengan selamat sampai ruma juga sudah cukup.


Di dalam mobil keheningan melanda keduanya, Nai yang memang selalu cerewet tidak bisa diam beitu saja. “Lo beneran gak apa-apa?”


“Sttt.” Yusuf berdesis apalagi ketika akan berbicara kini mulutnya terasa sakit.


Nai mengambil tisu dan membersihkan luka yang mongering di sekitar mulut Yusuf.


“Jauhkan tangan lo.” Nai menulikan pendengarannya, kini dia berusaha mengobati luka Yusuf.


“Jauhkan gue bilang.” Teriak Yusuf. Nai masih kekeh dengan pendiriannya dan tanpa di sangka Yusuf menepis dengan kasar tangan Nai.


Nai menunduk, memegang erat-erat tisu, “maaf.”


Yusuf tidak menjawabnya, di dalam otaknya kini dia berpikir kenapa bisa setega itu kepada Sha, dan Mamanya juga kenapa bisa menyangka kalau Nai itu pacara Yusuf. Kini semuanya terasa semakin runyam dan rumit.


***


Sementara itu di rumah Yusuf Mamanya segera berbincang serius dengan Rio, “Rio menurut kamu dia beneran Bintang?” tanya Mama Yusuf antusias kepada Rio.


Rio mengangguk yakin, “menurut pandangan Rio sih iya tan, tapi kita tak boleh senang dulu karena belum ada bukti konkret yang bisa mmebuktikan bahwa dia anak tante.”


“Lagipula ada masalah serius yang harus kita selesaikan tante.” Lirih Rio yang masih bisa di dengar Mama Yusuf.


Mama Yusuf tidak memperdulikan hal itu, rasa senangnya telah membuat dia lupa segala hal sepertinya. “Sudahlah itu bisa di pikirkan nanti, tante mau bagi kabar bahagia ini dengan sahabat tante,” Mama Yusuf melengos masuk ke kamarnya.


Rio hanya bisa geleng-geleng kepala saja, mungkin benar tantenya itu terlalu bahagia mengetahui kabar yang belum jelas kepastiannya ini, tapi toh dia juga tidak bisa menyulutkan semangat tantenya. Melihat Mama Yusuf kembali semangat, membuat dia juga semangat untuk menyusun rencana selanjutnya untuk membuktikan kebenarannya.


Aha! Tiba-tiba ide cemerlang hadir dalam otaknya, “tante, tante punya nomor orangtua Sha?”

__ADS_1


Kepala Mama Yusuf menyembul di balik pintu kamarnya, “untuk apa kamu tanya itu?”


“Mau mengkonfirmasi sesuatu saja, tante punya atau tidak?”


“Coba kamu cari di buku telepon sepertinya ada, tante lupa lagi. Papa Yusuf juga belum pulang, yang punya nomor orangtuanya kan dia.”


“Baik tante.” Rio segera mencari buku telepon yang tantenya maksud itu.


Mama Yusuf kembali masuk ke kamarnya sembari menelpon seseorang. “Halo.”


“Iya halo.” Suara di sebrang sana menyahut tak kalah senang karena tidak biasanya sahabatnya itu menelpon malam-malam begini.


“Bat, kamu tahu gak?” ucap Mama Yusuf antusias.


“Tahu apa sih?” Sepertinya di sebrang telepon orang itu juga penasaran akan hal yang akan disamapaikan Mama Yusuf.


“Anak …ku ketemu.” Ucap Mama Yusuf terbata.


“Apa?!!!” merasa pendengarannya tidak jelas orang di sebrang sana berpindah tempat, takut sinyalnya lemot.


“Anak, anak gue yang hilang ketemu.” Ucap Mama Yusuf dengan bahagia tidak terkira.


“Hah! Yang benar?!”


“Iya.”


“Coba ceritakan.”


Mama Yusuf akhirnya menjelaskan kronologinya, berdasarkan cerita seorang keponakannya yang mencurigai seseorang yang di kira mirip dengan anaknya.


“Terus, terus sekarang anak itu dimana?”


Mama Yusuf menghela napas, “gue juga masih berpikir, gimana caranya agar bisa melakukan tes DNA dengannya.”


“Wah bagus itu, biar semakin yakin.”


“Terus..”


“Terus…”


“Begini, dulu kita kan sempat berjanji kalau kita akan menjodohkan mereka, tapi karena kecelakaan itu perjodohan kita batal, bagaimana kalau kita lanjutkan lagi perjodohannya.”


“Ide bagus itu, nanti akan ku sampaikan berita ini pada anakku.”


“Baik, baik, jadi kita sepakat nih akan menjodohkan mereka kembali.”


“Tentu saja kalau anakmu sudah ketemu, aku akan pastikan bahwa anakmu itu akan menjadi mantuku.”


“Duh senang sekali rasanya jika kita akan besanan.”


“Benar, sepertinya kita harus melakukan pertemuan dua keluarga secepatnya ini.”


“Benar banget kalau begitu akan ku sampaikan hal ini pada suamiku.”


“Assalamulaikum.”


“Nah itu sepertinya suamiku datang, aku tutup dulu ya teleponnya.”


“Baik ku tunggu kabar baiknya darimu."


Mereka mengakhiri telepon itu dengan suka cita.


***


“Lo sedang ngapain?” tanya gadis berambut pendek yang bernama Mila itu.


“Lo liat aja sendiri.” Ujar sahabanya yang bernama Dina dengan senyum puas.


Mila memperhatikan laptop yang terpampang di depannya, sebuah gambar yang mereka potret tadi siang. Pintar juga Dina mengeditnya, batin Mila senang. Ini akan menjadi gossip paling hot di sekolah, pikir Mila lagi.


“Ada lagi fotonya?” tanya Mila sambil berpikir mengenai artikel yang paling cocok untuk di buatnya.


Senyum misterisu tercetak di wajah Dina, “tentu saja, lo geser aja banyak kok, udah gue edit lagi.”


Mila menyeriangai, “bakalan heboh satu sekolah ini.”


“Tentu saja.” mereka berdua ber tos ria.


“Yusuf kali karir lo bakalan ancur.” Lirih Mila penuh dendam.


“Apa yang akan lo lakuin kali ini.”


“Lo liat aja nanti, lo bantu gue siapin fotonya aja.”


Dina mengangguk patuh, “Oke boss.”

__ADS_1


Malam itu mereka berdua begadang sampai pagi. Rupanya mereka berusaha keras untuk menyebarkan sesuatu yang bisa berakibat buruk untuk orang lain.


__ADS_2