Bintang Senja

Bintang Senja
Bab 44 Pulang?


__ADS_3

“Sha apa orang yang di cintai Yusuf itu Nai?”


Sha menatap Bila terkejut, tidak lama air mata yang sejak tadi ia tahan kini mulai membasahi pipinya. Bila beringsut mendekati Sha dan memeluknya erat. Tidak perduli dengan bahunya yang basah akibat tangisan Sha.


“Bil aku harus gimana sekarang, hiks hiks hiks?” Bila melepaskan pelukannya, mulai menghapus air mata yang mengalir dipipi Sha dengan tangannya. Dia menatap Sha serius.


“Kalau emang lo gak kuat lebih baik lepaskan saja.” Bila sungguh tidka mau Sha lebih sakit hati nantinya. Sebelum Yusuf mencintai Sha lebih baik segera putuskan sekarang, jangan sampai banyak hati yang terluka nantinya.


“Gue…”


“Udah Sha tenangin diri lo dulu.” Bila menepuk pelan bahu Sha.


“Jangan nangis terus ah nanti wajah lo jadi kelihatan jelek.” Ejek Bila pada Sha yang belum berhenti menangis.


“Ish Bil.”


“Bil kalau aku putus, apa aku akan bahagia?”


“Ya iyalah masa mau sedih terus.”


“Udah dong kita disini buat seneng-seneng bukan mau sedih-sedihan.” Bila mencoba menghibur Sha.


“Kalau memang melepas Kak Yusuf adalah yang terbaik aku akan melepasnya bil.” Ucap Sha dengan nada yakin.


Bila merangkul Sha, “nah gitu dong baru itu sahabat gue. Tidur yuk udah malam.”


Mereka berdua mulai naik ke ranjang. Sha langsung memejamkan matanya, mencoba untuk tidur agar bisa menghapus kesedihannya hari ini. Yang akan terjadi esok biarlah esok saja memikirkannya. Dalam pikiran Sha kini berputar semua hal yang telah terjadi selama ini.


Bila juga hanya memejamkan matanya belum benar-benar tidur. Tanpa terasa dia sendiri pun sebenarnya sangat ingin menangis, melihat sendiri Sha di bentak tadi membuatnya sedih, sangat sedih. Bila marah pada Sha yang tidak memberitahunya perihal kondisi perasaan Yusuf yang sebenarnya, tapi Bila juga tidak bisa menghakimi Sha dengan perlakuan kasar.


Bila sangat berharap semoga semua masalah ini bisa usai dengan kepala dingin, tidak lagi ada saling baku hantam satu sama lain. Semuanya berjalan dengan semestinya, kalau memang harus terluka semoga luka itu lekas pulih. Sha, gue gak mau lo sakit hati seperti ini lagi ucap Bila dalam hati sebelum masuk kea lam mimpi.


***


“Akbar?”


Merasa terpanggil Akbar lantas menoleh ke sumber suara. Rio membelalakan matanya tak percaya, patah hati kadang membuat seseorang berbuat tidak terduga. Seperti Akbar ini, pagi-pagi sudah nangkring di dapur. Bergelut dengan sayuran, wajan panas, kompor dan minyak.


“Lo yang masak semua ini?” Rio berdecak kagum melihat makanan yang tertera di meja makan. Ada ikan goreng, ayam tepung, sayur capcay, telur dadar, tempe goreng, sapo tahu dan oseng buncis. Semua ini Akbar yang memasaknya sendiri?


“Lo gak salah masak sebanyak ini?”


“Gak dong.” Ucap Akbar yang duduk di samping Rio, di tangannya ada sepiring buah-buahan yang kini disimpan di meja makan.


Rio memperhatikan Akbar yang menyimpan celemeknya, kemudian duduk kembali di dekat Rio. “Ayo ajak yang lain buat makan.” ajak Akbar.


“Mm iya iya.” Rio bangkit dan mulai beranjak darisana untuk memanggil teman-temannya sarapan.


Tok tok tok


“Suf, ayo sarapan dulu.” Ajak Rio.


Rio naik ke lantai dua, dimana kamar para cewek berada. Pertama dia mengetuk pintu Nai dan mengucapkan hal yang sama seperti ketika di kamar Yusuf. Rio beranjak setelah mendengar jawaban Nai untuk menunggunya di ruang makan saja dia akan mandi dulu katanya.


Kemudan beralih ke kamar Bila yang tidak ada jawaban, mungkin Bila maish tidur pikir Rio. Rio tidak tahu saja jika Bila menginap di kamar Sha. Kamar terakhir yang Rio tuju adalah kamar Sha. Setelah mendnegar gumaman tidak jelas Rio kembali ke ruang makan.


Rio terhenti ketika melihat aura permusuhan di ruang makan. Rio bergidik, menonton permusuhan secara live ternyata lebih menegangkan daripada menonton pertandingan tinju. Rio duduk di dekat Akbar, bangku yang di dudukinya tadi.


“Kok belum pada makan sih?” tanya Rio yang berusaha bersikap santai.


“Nunggu yang lain.”


“Nunggu yang lain.”


Jawab mereka secara bersamaan. Mereka saling tatap kemudian saling membuang muka. Rio jadi kikuk sendiri di kursinya.


“Kalau kalian masih mau nunggu mereka juga, gue duluan aja deh makannya.” Rio mengambil piring dan mulai menyedokan nasi ke piring.


Tidak lama Nai datang dan duduk di sebelah Yusuf. Hanya Rio yang mulai sarapan dengan piring penuh berbagai macam makanan.


“Kalian beneran gak mau makan?” tanya Rio yang heran melihat mereka menganggurkan makanan.


“Mari makan.” Akbar ikutan makan bersama Rio.

__ADS_1


“Huaaa.” Bila menguap di depan pintu dapur. Matanya mengerjap menatap heran pemandangan di meja makan. hanya denting sendok yang di gunakan Akbar dan Rio yang terdengar.


“Bil, kok malah bengong disitu sini makan.” ajak Rio yang melihat Bila berdiri kikuk.


Bila mulai mendekati ke meja makan. “Kalian belum pada makan?” tanya Bila ketika melihat Yusuf dan Nai hanya duduk termanggu di depan meja makan tanpa menyentuh makanan yang tersaji di hadapan mereka.


“Ayo makan bil enak loh.” Ucap Rio yang kini menambahkan lauk pauk ke piringnya.


“Siapa dulu yang masak.” Ucap Akbar dengan nada sombong.


Bila menatap Akbar curiga, lalu beralih menatap makanan yang ada. “Gak di kasih racun kan?”


“Kalau di kasih racun gue dulu kali yang mati, kan gue cicipin tadi masakannya.” Akbar memutar bola matanya malas melihat tatapan curiga Bila.


“Sha mana?”


“Masih tidur kali, mungkin sudha bangun sekarang.”


“Kalian yakin gak mau makan?” Bila menatap Nai yang menunduk dan menatap Yusuf yang membuang muka.


“Kalau gak mau gue yang habisin deh.” Canda Rio. Bila melotot dia juga belum makan kali, Sha juga belum makan enak aja mau main habisin segala.


“Udah si, makan aja kali gak usah gengsi. Gak usah nungguin Sha mungkin dia akan bangun siangan.”


Rio melotot, “jangan terlalu siang juga dong, kita kan mau pulang.”


Bila menepuk jidat, “duh gue lupa. Nanti habis makan gue bangunin deh.” Ucap Bila santai tidak peduli tatapan horror Rio, dia asyik dengan sapo tahu dan ikan kesukaannya.


“Kita mau pulang jam berapa?” tanya Akbar yang kini beranjak menuju westafel karena telah selesai makan, beda dengan Rio yang terus nambah.


“Maunya jam berapa?”


“Habis dzuhur aja lah, gue mau istirahat dulu bentar.”


“Oke siap.”


Nai dan Yusuf seolah tidak dianggap keberadaannya. Lagian mereka juga tidak menyuarakan pendapatnya sedari tadi. Kalau tidak di paksa oleh Bila mungkin mereka tidak akan makan sebelum Bila, Rio dan Akbar pergi darisana.


***


“Mama jangan pergi, tolong.” Igau Sha.


Bila mendekati Sha, mengecek kening Sha, “tidak panas.” Sekali lagi Bila mencoba membangunkan Sha yang masih saja bergumam tidak jelas. Sedang mimpi apa Sha ini?


“Sha bangun, makan dulu.” Bila masih belum menyerah. Melihat Sha yang belum bereaksi Bila menjauh.


“Eughhh geli.” Sha menggerak-gerakan kakinya yang di kelitiki Bila, Sha paling tidak bisa di gelitiki.


“Bangun Shayang sudah siang, kalah sama matahari yang udah muncul dari pagi.” Bila menyingkirkan selimut dari tubuh Sha.


Sha menggeliat, mengucek matanya, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk dari jendela kamar. Benar sudah siang, bahkan mungkin sekarang sudah tengah hari. Berapa lama ya tadi Sha tidur?


“Ayo mandi.” Sha di seret Bila ke kamar mandi. Dengan malas Sha mengikutinya.


“Abis ini makan dulu lalu balik lagi buat packing ya.” Teriak Bila dari luar kamar mandi.


“Hem.”


Sementara Sha di kamar mandi memikirkan kebersamaan mereka selama disini. Sampai di rumah nanti Sha ingin menangis sejadinya sendirian, dia juga ngin menghabiskan banyak waktu untuk dirinya sendiri. Tiga puluh menit kemudian Sha keluar dari kamar mandi, sudah rapi menggunakan pakaian untuk pulang.


Sha melihat koper Bila sudah bertengger di depan lemari. Sha juga bergegas untuk packing pakaian dan barang-barangnya. Sha tidak membawa banyak barang sebenarnya, Sha mengusap lemari yang menjadi tempatnya menyimpan pakaian selama beberapa hari ini. Mungkin suatu saat dia akan merindukan tempat ini, oleh karena itu Sha ingin mengingat dengan baik-baik barang yang ada di kamar ini.


Sha meneliti kembali barang yang sudah masuk ke koper dan tas kecilnya. Semuanya sudah masuk, tapi kenapa seperti ada yang kurang ya. Sha kembali membongkar tas kecilnya. Sepertinya ada yang tertinggal. Ah, dimana chargernya ya?


Sha meneliti setiap sudut kamar, barangkali tertinggal di pojok kasur, kolong kasur, pojok meja, pojok lemari atau sudut kamar. Nihil, chargernya tidak ketemu.


“Cari apa Sha?” tanya Bila yang kini masuk ke kamar Sha sembari membawa baju ganti, sepertinya Bila akan mandi, pikir Sha.


“Aku cari carger bil, lihat?” tanya Sha yang kembali bolak-balik menyusuri setiap sudut kamar.


“Charger kayak gimana Sha, kemarin gue nemuin charger terus di masukin ke laci kalau gak salah.” Ucap Bila yang masuk ke kamar mandi.


“Warna putih bil, kepalanya kecil terus ada stiker stich di kepala cargernya.” Ucap Sha yang menunduk, siapa tahu ada di kolong kasur kan.

__ADS_1


Bila membuka pintu kamar mandi, kepalanya melongok kepada Sha yang sibuk menggapai sesuatu entah apa. “Yang itu, coba ari di laci dekat kasur. Gue lupa naronya di laci ke berapa.”


Sha mengikuti perintah Bila untuk mencari di laci. Dia mulai mencari dari bawah, karena Bila suka menyimpan barang yang sembarangan itu di laci bawah. Laci bawah penuh dengan mainan anak-anak yang sepertinya sudah lama tidak di buka.


Walau kemungkinan tidak ada chargernya disana, Sha tetap menelusurinya. Mengusap debu-debu yang menempel pada dus mainan tersebut. Ada beberapa permainan anak perempuan seperti Barbie, boneka kecil, pernak-pernik masak dna piring-piring kecil. Mungkin yang dulu nempatin villa ini punya anak kecil perempuan pikir Sha.


Sha kembali menyimpan barang-barang itu di tempat semula. Di laci kedua dia juga tidak menemukan chargernya, tetapi banyak sekali permainan untuk anak laki-laki di laci kedua ini. Ada ketapel, panah kecil, pistol air, robot dan entah kenapa barang-barang tersebut jumlahnya ada dua.


Sha tidak jadi menggeledah laci kedua karena barang di laci kedua lebih sedikit di banding laci ketiga tadi. Sha beralih untuk mencari di laci pertama. Baru membukanya saja, charger putihnya sudah terlihat. Sha segera mengambilnya dan menyimpan charger itu diatas laci. Baru saja hendak menutup laci itu, mata Sha tidak sengaja melihat foto anak kecil laki-laki yang wajahnya tidak asing bagi Sha.


Sha mengambil foto album itu. Sha membukanya perlahan, lembar demi lembar Sha buka. Ternyata benar, Shay akin sekali anak kecil laki-laki yang ada di foto ini sama dengan yang ada di mimpinya. Kira-kira siapa anak kecil ini? Kenapa fotonya bisa ada disini? Apa anak kecil itu tinggal disini dulu?


Banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk di kepala Sha.


Bayangan-bayangan seorang anak perempuan yang wajahnya samar berkeliaran di kepalanya, anak itu memanggil laki-laki yang terus berjalan menjauhi anak perempuan itu. Pusing di kepala Sha semakin menjadi saat Sha mencoba melihat wajah anak laki-laki dari kejauhan itu.


“Sha sudah ketemu chargernya?” tanya Bila yang baru keluar dari kamar mandi.


Kesadaran Sha kembali, dia buru-buru memasukan album itu ke tempat semula.


“Sudah kok bil.” Ucap Sha yang memasukkan charger itu ke dalam tas kecilnya. Sha terduduk di kasur, tidak lama dia merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang seolah menampilkan adegan perpisahan anak kecil perempuan dan laki-laki yang tadi hadir dalam bayangannya.


Bila menatap heran Sha yang malah tiduran di kasur. Mungkin Sha kena jet leg, pikir Bila yang kini merias diri di karpet. Di kamar yang di tempatin Sha ini tidak ada meja rias, berbeda dengan kamar yang di tempati Bila.


Bahkan tempat yang di tempati Bila ada beberap kosmetik yang sudah kadaluarsa, sepertinya lama tidak di pakai karena Bila melihat debu dari wadahnya.


“Sha ke bawah yuk mungkin mereka sudah kumpul.” Ajak Bila.


Sha mengangguk tapi tidak bergerak sedikitpun, “duluan aja Bil.”


***


Sha dan teman-temannya sudah siap untuk pulang di ruang keluarga. Barang-barang mereka sudah di packing dengan tas besar dan koper.


“Gak ada yang tertinggal?” tanya Rio kepada teman-temannya, mereka semua menggeleng.


“Oke kalau gitu kita berangkat pulang.” Rio berjalan lebih dulu menuju tempat mobil yang kemudian di susul oleh Sha.


Sha dan Yusuf belum berbicara lagi setelah pertengkarang mereka kemarin, apalagi Sha merasa sangat sakit hati oleh Yusuf.


“Bar pimpin doa.” Pinta Rio yang mulai menyalakan mesin mobil.


“Sebelum berangkat menuju pulang marilah kita berdoa dalam hati masing-masing agar selamat sampai tujuan. Berdoa mulai.” Mereka menundukkan kepalanya dan mulai berdoa.


“Lets go guys.” Ucap Rio yang kini bersemangat menyetir entah kenapa.


Tidak ada yang buka suara selama perjalanan kali ini. Bila dan Sha memilih tidur di bangku belakang. Nai dan Yusuf yang duduk di jok tengah juga merasa canggung. Sebenarnya Sha tidak tidur, dia pura-pura memejamkan mata karena ingin menikmati kebersamaan mereka. Mungkin setelah pulang nanti situasinya akan berubah, entah ini hanya firasatnya saja atu memang semesta begitu menginginkan mereka tidak bersatu.


“Kalian gak ada yang diem-diem pingsan kan?” tanya Rio yang melirik ke kaca dalam mobil yang mengarah pada penumpang. Rio heran melihat Bila dan Sha yang tertidur dari mereka masuk mobil sampai sekarang sudah mau keluar tol.


“Gak.” Jawab Bila serak khas orang baru bangun tidur.


“Ada yang diem-diem kentut gak?”


Akbar memukul pelan tangan Rio yang sedang menyetir. “Sembarangan, jangan-jangan lo daritadi kentut ya.” Tuduh Akbar pada Rio.


“Iya nih gue kentut hehe gak tahan habisnya.” Ucap Rio dengan cengiran lebarnya.


“Ish yap antes aja bau sampai kesini.” Bila menggerutu sambil menutup hidungnya.


Rio terkekeh, “nah gitu dong bil, bersuara.”


“Lo kata gue burung beo apa, pake bersuara segala.” Sungut Bila.


Akbar dan Rio tertawa karena berhasil membuat Bila kembali menjadi Bila yang cerewet. Dari kaca mobil Rio sempat melihat Nai ikut tersenyum singkat. “Kalau mau ketawa, ketawa aja Nai gak ada yang larang kok, gratis!” ujar Rio yang menekankan kata ‘gratis’ pada Nai.


Nai jadi menunduk malu tidak menyangkan akan ketahuan oleh Rio. Nai akhirnya pura-pura membuka ponsel dan memainkannya.


“Nganter siapa dulu nih yang rumahnya deket pintu keluar tol?”


“Bila.” Ucap Sha dan Akbar barengan.


Kepala Yusuf berbalik melihat Sha, Nai juga menegakkan tubuhnya. Akbar jadi gelisah sendiri di tempat duduknya.

__ADS_1


__ADS_2