
“Bil ini setelah berasnya di cuci lalu di bagaimanakan lagi?” tanya Nai yang sudah selesai mencuci beras.
Bila menengok Nai dengan kesal, dia hampir saja menyalakan kompor tapi tidak jadi karena Nai bertanya. “Dimakan Nai, ya dimasak lah.” Sungut Bila.
Nai akhirnya menghampiri dan memberikan wadah berasnya kepada Bila, dia meninggalkan Bila sendiri. “Mau kemana Nai ini berasnya belum dimasak?”
“Masak sendiri saja lah, pusing.” Dengan sangat terpaksa Bila akhirnya memasukan berasnya ke dalam panik di kompor, dia menambahkan sedikit rempah dan bumu di dalamnya. Mulailah menyalakan kompornya. Sembari menunggu matang Bila memotong-motong timun dan wortel.
Tidak lama Sha menghampiri Bila yang tengah memotong sayuran. “Bil wortelnya sudah di potong?” tanya Sha.
Bila mneunjuk salah satu baskom yang sudah penuh dengan potongan wortel, brokoli dan kol. “Lihat dulu tuh bener gak.” Sha menuju tempat yang di tunjuk Bila.
“Ah gak apa-apa yang penting masih bisa di makan.” Sha pun mengambil baskom yang berisi sayuran itu dan ulai mencucinya terlebih dahulu. Dia mulai menyalakan kompor dan mulai memasak acar sederhana.
Dengan lihainya Sha memasak membuat Akbar yang sejak tadi memperhatikannya menjadi kagum.
“Woy malah bengong bantuin Yusuf yuk yang lagi bakar jagung, sosis sama ikan kasian tuh sendirian.” Ajak Rio menghampiri Akbar yang sedang menikmati keindahan dunia.
Akbar mendengus tapi tak ayal mengikuti perintah Rio. Mereka akhirnya di sibukkan dengan menyiapkan makanan untuk makan malam. Akbar, Rio dan Yusuf Asyik membakar, sedangkan Bila dan Sha sibuk memasak Nasi dan lauk-pauknya.
“Sha cobain deh nasinya sudah matang?” Bila menyodorkan satu sendok nasi kepada Sha.
Sha mencicipinya. “Sepertinya sudah Bil, matikan saja kompornya."
Bila menuruti perintah Sha. Tidak lama dia berteriak memanggil Rio untuk mengangkat nasinya ke meja makan. “Rio angkat nasinya dong, kompornya mau di pakai masak nih.”
“Bentar ya bil gue lagi bakar nih suruh Akbar aja deh.” Balas Rio sambil berteriak juga.
“Bar lo angkatin nasi gih.” Titah Rio. Akbar melihat ke arah Yusuf yang tengah mengangkat hasil membakar ke piring lalu di simpan ke meja. Dengan terpaksa Akbar menghampiri Bila dan Sha.
Selepas menyimpan nasi di meja, Akbar melihat Nai yang termenung di depan tenda. Akbar menghampirinya dan membuat Nai sedikit terkejut. “Nai bukannya bantuin mereka.” Akbar tahu jika Sha dan Bila kerepotan sejak tadi sedangkan Nai malah asyik duduk.
“Gak males ah.” Jawab Nai acuh.
Akbar meninggalkan Nai sendiri. Nai pun termenung kembali. Dia berbalik melihat Sha yang memang terlihat repot masak sambil menaruh makanan yang sudah jadi ke meja, belum membereskan bekas masak. Akhirnya Nai bangkit.
Nai mencegat Sha yang akan menaruh makanan di meja. “Udah biar gue aja. Lo lanjut masak aja.”
Sha tersenyum, “makasih ya Nai.”
Kegiatan itu berlangsung kurang lebih selama satu jam. Sibuk dengan kegiatan masing-masing. Mereka menatap kagum pada meja cantik yang sudah di penuhi hidangan yang menggoda iman dan lidah itu.
“Akhirnya selesai juga.” Bila mengelap peluh di dahinya kemudian memeluk Sha.
“Yaudah mari duduk.” Ajak Yusuf.
Mereka menurut dan mulai duduk berhadap-hadapan. Akbar menghadap Sha di samping kiri-kanannya ada Rio dan Nai. samping kiri-kanan Sha ada Bila dan Yusuf. Yusuf kali ini memimpin doa dan mereka pun mulai makan dengan penuh canda.
***
Selepas makan mereka mengitari api unggun sambil bercanda gurau. Susanana puncak yang dingin menjadi hangat karena keakraban mereka juga hangatnya api unggun di tengah sinar rembulan dan bintang yang bertaburan.
“Bagaimana kalau kita main tod?” usul Bila dengan semangatnya yang lain pun hanya mengangguk setuju. Bila mengambil botol yang tadi di gunakan sebagai tempat lilin di meja makan.
“Lebih baik jika kita duduk di tikar aja deh?” usul Bila lagi.
Mereka pun sepakat duduk melingkar di tikar dengan botol yang di simpan di tengah. Bila memutarkan botol itu pertama kali dan botol itu menunjuk Akbar, Yusuf menawarkan diri untuk bertanya kepada Akbar. Dan ila setuju akan hal itu.
“Lo pilih Truth atau Dare?”
“Dare.”
Yusuf berpikir sebentar, Bila membisikan sesuatu kepada Yusuf. Perasaan Akbar jadi tidak enak ketika melihat Bila berbisik kepada Yusuf. Yusuf menatap Akbar sejenak.
“Oke, dare dari gue. Gue pengen lo nyanyi sama orang yang lo suka disini kalau memang di antara tiga cewek disini ada yang lo suka. Kalau tidak ada lo boleh nyanyi sendiri.” Ucapan Yusuf membuat Sha,Nai, Rio dan Akbar sendiri terperangah. Sedangkan dia dan Bila menyeringai dan ber tos ria.
Melihat Akbar yang hanya diam saja Yusuf kebali angkat bicara, “gimana, kalau lo gak jujur berarti lo cemen kalau jujur ya bagus lo gentleman."
“Baiklah.” Putus Akbar.
Akbar mulai mengambil gitar di pojok tikar, dia mengahmpiri Nai dan Sha yang duduk berdampingan. Keduanya ketar-ketir panas dingin. Terlebih Nai yang sedikit cemas tapi harus tetap percaya diri. Oke tenang Nai, intruksi Nai kepada dirinya. Akbar jongkok di belakang Nai.
“Sha ayo nyanyi bareng gue.” Ajak Akbar tanpa basa-basi sambil menarik tangan Sha untuk bangkit.
__ADS_1
"Kak kok ngajak aku?" tanya Sha berbisik.
"Udah tenang aja." Ucap Akbar.
Teman-temannya terperangah melihat tingkah Akbar itu. Yusuf menahan gejolak panas dalam dadanya. Bila jadi gelisah sendiri tentang apa yang akan di lakukan kakak kelas kepada sahabatnya itu. nai menahan gejolak tangisnya yang seakan ingin tumpah itu.
Akbar menuntun Sha ke dekat api unggun yang hanya menyala separuh. Akbar mengajak Sha untuk duduk di sebelah api unggun dan menghadap ke teman-temannya. Akbar mulai memegang gitarnya…
Jrenggg
“Gue persembahkan lagu ini untuk orang-orang yang gue sayangi. Siapapun orang di sebelah gue yang gue ajak duet, bukan berarti kita harus saling memiliki atau mempunyai rasa yang sama. Gue hanya ingin memberikan kesan manis pada seseorang yang ada di sebelah gue malam ini, juga buat orang yang benar-benar gue rindukan saat ini. Enjoy the music.”
“Ayo Sha kita nyanyi.” Ajak Akbar yang mmebuat Sha bingung dan bimbang.
Akbar memetik gitarnya kembali..
Jrenggg
Loving can hurt , loving can hurt sometimes
Semua terperangah dan terhanyut kepada nyanyian Akbar.
But it’s the only thing that I know
When it gets hard
You know it can get hard sometimes
It is the only thing
That makes us feel alive
Akbar terdiam sejenak kemudian menatap Sha, dia memberi kode kepada Sha untuk bernyanyi. Sha menatap Akbar dengan ragu tidak berani menatap teman-temannya. Akbar mengangguk, dan Sha mulai mengeluarkan suaranya.
We keep this loven in a photograph
We made this memories for ourselves
Akbar sempat terpaku karena suara Sha sangat indah menurutnya. Merdu dan lembut, sangat enak didengar oleh telinga. Akbar pun mulai bernyanyi kembali, bersama dengan Sha.
Our hearts are never broken
And time’s forever frozen ,still
Suara mereka bagaikan harmoni yang membuat teman-temannya terkesiap dan seolah terhipnotis untuk terus mendengarkannya. Yusuf dan Nai yang kecewa pun ikut terhanyut oleh lagu yang mereka bawakan.
So you can keep me
Inside the pocket of your ripped jeans
Holding me closer until our eyes meet
You wont ever be alone
Wait for me to come home
Loving can heal, loving can mend your soul
And it’s the only that i know,know
Bagian akbar bernyanyi lagi
I swear it will get easier
But remember that with every piece of ya
And it’s the only thing we take with us when we die
Mereka bernyanyi bersama kembali sambil saling menatap dalam satu sama lain. Akbar sendiri terperangah dia seolah terbawa kembali kepada masa lalu melihat mata cokelat bening milik Sha.
So you can keep me
Inside the pocket of your ripped jeans
__ADS_1
Holding me close until our eyes meet
You wont ever be alone
And if you hurt me
that’s okay baby only words bleed
inside these pages your just hold me
and i wont ever let you go
wait for me to come home
wait for me to come home
wait for me to come home
wait for me to come home
Photograph-ed sheeran
Mereka mengakhiri lagunya dengan tersenyum dan saling menatap selama beberapa detik , sebelum akhirnya Sha tersadar dan langsung mengalihkan pandangannya. Sha buru-buru pergi meninggalkan Akbar sendiri yang masih tersenyum. Sha kembali duduk di samping Nai yang menatap Sha datar.
Setelah mengucapkan terima kasih dan Bila memuji suara Akbar yang bagus. Akbar pun duduk kembali di tempatnya. Bila memberikan botolnya kepada Akbar. Dengan senang hati Akbar memutar botolnya, botol yang di putar Akbar tepat di hadapan Yusuf.
“Truth atau Dare?” tanya Akbar sambil tersenyum lebar.
Yusuf diam sejenak sebelum memilih, “truth.”
“Kenapa lo milih Sha untuk jadi pacar lo?” tanya Akbar tanpa pikir panjang. Semua sempat melongo mendengar pertanyaan Akbar. Itu merupakan hal pribadi yang sempat membuat Bila juga bertanya-tanya sebenarnya.
Deg, Yusuf tidak pernah berpikir jika aka nada orang yang menanyakan hal itu padanya. Dia tidak mau menjawabnya karena bisa melukai hati Sha. Dia nyaman berada di dekat Sha, tapi jujur saja sampai saat ini dia belum mencintainya. Apakah Yusuf jahat karena seolah memanfaatkan demi melampiaskan rasa sakitnya? Apakah Sha juga sakit hati sebenarnya?
Sebelum menjawab Yusuf menetralkan dahulu mimik mukanya agar tidak terlihat gugup dihadapan teman-temannya. Dia bersikap biasa saja agar teman-temannya itu tidak curiga kepadanya. “Lah kenapa kalau emang gue macarin Sha, kan gue emang suka sama Sha.” Akbar menatapnya dingin dan Ysuuf membalas tatapan itu dengan tak kalah dingin.
Yusuf tidak tau saja kalau muka Sha sudah semerah tomat ketika Yusuf mengucapkan kata suka, walau bukan cinta. Untung ini malam jadi mereka gak bakaln tau kalau muka Sha memerah, Sha langsung memalingkan wajahnya ketika Yusuf dan Akbar menatapnya.
Bila yang melihat tatapan permusuhan itu menjadi keki. “Sudah-sudah lebih baik kita mulai lagi truth or Dare nya.” Bila memberikan botolnya kepada Yusuf.
Walaupun kurang puas akan jawaban Yusuf, Akbar menghela nafas panjang mungkin memang benar jika Yusuf memang menyukai Sha, toh buktinya mereka juga bisa jadian. Kenapa juga dia harus marah ketika mengetahui Yusuf dan Sha jadian, meski dia memang menyukai Sha juga tapi dia tidka berhak mengatur hidup Sha dan Yusuf.
Bila berdehem agar Yusuf mau memulai untuk memutar botolnya, Yusuf pun memutar botolnya. Botol pun kini berhenti tepat di hadapan Nai. Kali ini Rio yang bertanya kepada Nai, Nai pun memilih Dare karena takut ditanya yang aneh-aneh. Bila tersenyum miring ketika Nai memilih Dare apalagi, dia langsung berbisik kepada Rio. Rio menatap Bila terkejut, dan menatap Akbar serta Nai dengan tatapan jailnya.
“Oke dare gue yaitu lo harus tembak cowok yang lo suka sekarang juga, kalau misalnya cowoknya gak ada disini elo mau telpon mau sms kek atau mau wa kek pokoknya harus sekarang. Dan untuk sms dan wa lo harus nyepam biar dia bales pesan lo.” Rio masih dengan seringainya.
Nai sempat melongo sebentar mendengar penuturan Rio, gila kali ya Rio ini. Apakah dirinya harus melakukan hal memalukan itu. Tapi tak apalah ini juga kesempatan buat dia mengungkapin perasaannya, sekali lagi batin Nai. Bila sempat khawatir melihat Nai yang nampak gelisah, menanti apa yang akan Nai lakukan.
Tanpa disangka-sangka Nai menghampiri Akbar yang tengah melihat bintang tanpa cemas memikirkan permainan Truth or Dare itu. Hingga Akbar tersadar bahwa tangannya sudah di genggam seseorang , dia mengangkatkan sebelah alisnya bingung.
Nai mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengatasi kegugupannya. “Dear Akbar sahabat yang selama ini ada buat gue, yang selalu nemanin gue di saat sedih dan senang. Walau lo udah tau perasaan gue ke lo tapi gue hanya ingin mengungkapin untuk kali ini saja mohon dengerin gue dulu,” ucap Nai sambil menatap tepat di manik mata Akbar yang setajam elang.
Nai menarik napasnya dalam-dalam. “Gue sahabat lo Naila dan gue cinta sama lo Akbar,” teriak Nai tanpa beban yang membuat teman-temannya terperangah. Nai lega setelah teriak begitu, seolah beban yang di tanggungnya selama ini telah hilang.
Mereka semua shock mendengar teriakkan Naila yang memang sangat keras untung cuman mereka yang ada disini. Yusuf langsung memegang dadanya yang terasa sakit, dia tidak mengerti apakah memang Yusuf belum move ono sepenuhnya dari Nai.
Akbar menatap Nai dengan perasaan bersalahnya. Dia tau Nai gadis baik meskipun terkadang egois dan harus menuruti apa maunya. Yang membuat Akbar semakin merasa bersalah selama ini dia hanya menganggap Nai sebagai adik dan seorang sahabat tidak lebih.
Akbar melepaskan tangan Nai. “Nai sori.”
Nai mencoba menahan air matanya, “oke gue tau ini salah dan gak seharusnya perasaan ini ada, tapi gue mohon sama lo, apa lo bener-bener gak bisa buka hati untuk gue?” Akbar yang ditanya seperti itu hanya diam saja.
“Apa memang gak ada lagi kesempatan buat gue masuk ke hati lo?” tanya Nai lagi sambil mengguncangkan bahu Akbar.
Akbar menatap Nai dengan perasaan bersalahnya, “Nai seperti yang pernah gue bilang perasaan itu gak bisa dipaksakan, lo hanya terobsesi sama gue Nai.” Kini giliran Akbar yang mengguncangkan bahu Nai.
“Lo gak bisa lihat cowok yang suka sama lo itu banyak, lo hanya fokus sama obsesi lo.” Akbar menjauhi teman-temannya dan duduk di hadapan api unggun membelakangi mereka semua. Dia menatap langit yang bertauran bintang.
Bintang gue kangen, lirih Akbar dalam hati.
Bila dan Sha memeluk Nai yang masih menangis, “udah lah move on dong,” Bila menengkan Nai yang terus menangis. Duh Bila jadi bingung sendiri kenapa kejadiannya jadi seperti ini. Padahal kan niat dia mengajak tod untuk bersenang-senang.
“Masuk tenda yuk.” Ajak Sha. Bila dan Sha menuntun Nai untuk masuk ke tenda.
__ADS_1
Akbar, Yusuf, dan Rio terdiam, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Akbar bangkit untuk masuk ke tenda, Rio menyusul sedang Yusuf pergi entah kemana sambil membawa gitar.