
Saat Rio berjalan ke kamar tamu Rio mendengar isak tangis dari kamar Mama Yusuf. Rio mengintip dari celah pintu yang terbuka, Mama Yusuf terlihat sedang memeluk figura. Rio tidak melihat dengan persis siapa orang yang ada di dalam figura itu.
“Bintang…” lirih Mama Yusuf yang kini mengusap air matanya dengan tangannya.
Tok tok
“Tante boleh Rio masuk?”
Mama Yusuf tidak mengira aka nada yang menyaksikannya dalam keadaan terpuruk. Mama Yusuf segera mengambil tisu sebanyak mungkin di nakas, tersenyum manis kepada Rio yang sedang berdiri di depan pintu.
“Rio.”
“Sini masuk.” Mama Yusuf membereskan tisu dan menyimpan figura itu di laci.
“Gak apa-apa nih tante kalau Rio masuk?” tanya Rio kikuk.
“Tidak apa kok.” Rio perlahan melangkahkan kakinya ke dalam kamar Mama Yusuf dan duduk di sebelah Mama Yusuf.
“Tante Rio mau tanya boleh?”
“Tante juga mau tanya Rio?”
Dahi Rio mengernyit heran, “tanya apa tante?”
Mama Yusuf mengusap sudut matanya yang kembali mengeluarkan air mata. Rio yang melihat hal itu merasa bersalah karena telah lancing masuk ke dalam kamar Mama Yusuf, tapi dia juga penasaran dengan pertanyaan Mama Yusuf.
Lama Rio menunggu Mama Yusuf, tapi pertanyaan itu tidak kunjung di utarakannya. “Kamu dulu aja deh.”
“Tante maaf sebelumnya kalau pertanyaan ini menyinggung atau membuat tante merasa gak enak, gak di jawab juga gak apa-apa kok.”
“Rio mau tanya, Bintang adik Yusuf kemana ya tante. Rio kangen dengan Bintang, Rio boleh tau kabarnya?”
Bukannya menjawab Mama Yusuf kembali bersedih, bahkan kali ini menangis tersedu. Rio jadi bingung sendiri. Mungkin dia memang salah menanyakan hal itu pada Mama Yusuf. “Tante Rio gak jadi nanya, itu gak usah di jawab gak apa-apa.” Ralat Rio.
Mama Yusuf mengambil tisu dan mengusap air matanya, “tidak apa-apa Rio, tante juga kangen sama dia. Tante juga tidak tahu kabarnya sekarang bagaimana, tante berharap dia baik-baik saja Rio.”
“Maksud tante?” tanya Rio tak mengerti.
“Waktu itu…”
Flashback
“Ma Bintang gak mau pulang, Bintang mau disini aja sama nenek dan kakak.” Rengek Bintang yang idak ingin pulang ke Jakarta.
Mama Bintang mensejajarkan dirinya dengan Bintang, anaknya. “Bintang sayang, kalau kamu disini kasian nenek. Kamu kan suka main kesana-kemari tidak bisa diam, nenek kan sudah tua. Jadi kamu ikut Mama ke Jakarta saja ya?” Bujuk Mama Bintang.
“Tapi ma, Bintang gak ada temen. Mama dan Papa sibuk terus kalau Bintang ajak main.” Bintang cemberut.
Mama Bintang tersenyum, “mama janji kali ini akan mau kok kalau Bintang ajak main.”
“Janji ma.” Bintang menjulurkan jari kelingkingnya.
“Janji.” Mereka berduapun menautkan jari kelingkingnya.
Malam itu juga mereka berangkat ke Jakarta. Papa Bintang ada meeting dnegan klien pagi sekali, jadi mereka harus sampai di Jakarta mala mini juga. Akhir-akhir ini curah hujan di kota Bandung sedang tinggi. Di Jakarta juga tidak jauh berbeda.
Keadaan di mobil tidak pernah sepi karena celotehan Bintang yang bermain dengan bonekanya. Kalung Bintang, hadiah dari Yusuf tidak pernah di lepaskannya. Bahkan saat orangtuanya membeli kalung yang lebih bagus dari itu, Bintang tidak mau memakainya.
“Teddy nanti kita akan main dengan kak Yusuf lagi kan?”
“Iya Bintang.” Jawab papanya yang menirukan suara anak kecil.
“Ish papa aku kan lagi ngobrol sama Teddy bukan sama papa.”
Papanya pura-pura cemberut, “masa Papa gak di ajak main sih.”
“Main aja sama mama.” Ucap Bintang yang kembali bermain dengan boneka kesayangannya. Hadiah ulang tahun dari kakaknya.
“Sini Papa tanya sama Teddynya langsung.” Papa Bintang berusaha mengambil boneka itu dari anaknya yang sengaja menyembunyikan di balik punggung kecilnya.
Papa Bintang tidak melihat jika dari arah yang berlawanan ada sebuah mobil yang di kendarai dengan ugal-ugalan. “Papa awass.”
Mama Bintang berteriak sembari menyadarkan suaminya untuk melihat ke depan lagi.
“Aaaaaa.”
“Aaaaa.”
Suara jeritan dan teriakkan di kala hujan deras itu memenuhi jalanan sekitar Lembang. Jalanannyang biasanya ramai itu, mendadak menjadi sepi. Membuat sebuah mobil yang mencoba banting setir akhirnya masuk ke jurang.
Papa Bintang yang berusaha banting setir malah membawa mobil mereka terjun ke jurang. Dalam kesempatan yang semping itu Papa Bintang mencoba membuka kunci mobil agar mereka bisa keluar dari mobil itu.
“Ma, mana Bintang, ayo keluar?” ucap Papa Bintang yang berusaha membuka seatbelt dirinya dan istrinya sendiri. Ketika itu mobil mereka belum terguling ke jurang.
__ADS_1
Mama dan Papa Bintang berusaha meraih tubuh Bintang yang berada di jok belakang. Tapi naas tangan mereka tidak dapat menjangkaunya. Mama Bintang yang dalam kesadaran yang mneipis terus berusaha meraih tangan anaknya yang terpejam.
Tangan kecil yang memeluk erat boneka Teddy itu tidak bisa mereka jangkau. Hingga mobil terguling dan mereka berusaha menyelamatkan diri dengan keluar dari mobil. Mobil terguling ke jurang, entah sampai ke dasar atau tidak. Mobil itu tidak terlihat lagi oleh mata Papa Bintang.
Mama Bintang sendiri sudah tidak sadarkan diri diatas semak-semak. Papa Bintang berusaha mendekati istrinya. Tidak lama dia melihat api yang berkobar dari bawah.
“Bintang..” teriak Papa Bintang kencang.
Keesokan harinya polisi menemukan mereka karena mendapatkan laporan dari warga sekitar mengenai adanya kecelakaan. Warga yang melihat kejadian,tetapi tidak bisa mendekati ataupun menolong karena curah hujan dan gelapanya malam yang mmebuat mereka kesulitan.
Menurut warga yang melihat itu dan menjadi saksi kejadian, mobil mereka terguling ke bawah dan kemungkinan meledak. Karena salah satu warga yang melihat kejadian itu, mendengar suara ledakan dan sumber api dari bawah jurang.
Mama dan Papa Bintang memohon kepada polisi untuk menemukan anak mereka yang kemungkinan ada di dalam mobil. Mereka juga meminta polisi untuk menyelidiki kasus ini, terutama mobil yang berkendara ugal-ugalan.
Seminggu kemudian mereka mendapat kabar bahwa pelaku yang menyebabkan kecelakaan itu telah di temukan. Pria itu mabuk berat karena di tinggal pacarnya saat itu. Pelaku akan disidang melalui jalur hukum.
Kabar lainnya adalah mobil yang masuk jurang sudah di temukan kerangkanya. Mobil terbakar di tempat, ada kemungkinan jika korban yang di cari oleh Mama dan Papa Bintang meninggal hangus terbakar, tetapi saat polisi melakukan investigasi ke lokasi kejadian. Tidak ada tanda-tanda korban hangus atau pun jejak mengenai korban. Hanya sebuah boneka yang sepertinya hangus terbakar di mobil.
Polisi bahkan dengan sangat yakin bahwa memang tidak ada korban jiwa dalam mobil itu. ada kemungkinan jika korban juga selamat seperti kedua orangtuanya. Polisi masih terus mencari kebenaran mengenai hal ini.
Mama dan Papa Bintang tentunya sangat sedih mengetahui hal ini. Apalagi saat mendapat kabar dari polisi yang telah melakukan investigasi selama satu minggu setelah mobil di temukan, tidak dapat menemukan jejak apapun lagi mengenai keberadaan korban.
Korban dinyatakan hilang, kemungkinan terburuk adalah meninggal di makan hewan buas. Kalau pun memang di makan hewan buas, harusnya mneinggalkan jejak seperti pakaian atau barang yang di pakainya, ini sama sekali tidak meninggalkan jejak apapun.
Hal ini tentu saja membuat Mama Bintang terpuruk. Setelah satu tahun tidak ada kabar, keluarga akhirnya mengikhlaskan kepergian Bintang. Anak yang belum sempat diajak bermain oleh Mamanya.
Flashback off
“Jadi begitu ceritanya tante?”
“Hiks, hiks iya Rio.”
“Sampai sekarang pun tidak ada kabar sama sekali?”
Mama Yusuf menggeleng. Rio terdiam mencerna semua yang di ceritakan oleh Mama Yusuf. Rio menyesal karena baru mengatahui hal ini sekarang. “Tante Rio minta maaf ya jadi membuat tante sedih.”
“Tidak apa-apa Rio, tante juga sedang kangen sekali dengan dia. Kalau dia sudah meninggal tante ingin sekali bisa mengunjungi makamnya.”
Rio mengerti mungkin karena ini mereka tidak membahasnya sama sekali ketika Rio sampai di rumah ini. Yusuf juga tidak menceritakan hal ini padanya, mungkin butuh waktu bagi mereka yang di tinggalkan.
“Rio.” Panggil Mama Yusuf.
“Iya tan.”
Rio mengingat-ngingat kejadian kemarin. Ah dia ingat sekarang, “mungkin karena kangen tante jadi Rio mimpi dia.”
“Begitu ya.” Ucap Mama Yusuf lesu.
“Tapi tan-“ ucapan Rio menggantung.
“Kenapa yo?”
“Tante yakin kalau Bintang sudah meninggal?”
“Maksud kamu?"
Rio mengeluarkan ponselnya, mencari-cari sesuatu yang dia yakin mirip dengan Bintang, “apa tante kenal orang ini?” tanya Rio lagi sambil menyodorkan ponselnya kepada Mama Yusuf.
Setelah melihat foto itu Mama Yusuf mengangguk dan menatap Rio tidak mengerti. “Dia kan anak-”
“Tante merasa aneh gak sama dia?” Tanya Rio.
“Aneh gimana?” tanya Mama Yusuf lagi.
“Aku pikir dia itu Bintang saat pertama kali bertemu?” mendengar hal itu Mama Yusuf kembali melihat foto di ponsel Rio.
“Kamu berfikir dia itu…Bintang?”
Rio mengangguk, “awalnya Rio berfikir begitu tan. Soalnya meski sudah banyak perubahan sifatnya mirip sekali dengan Bintang.”
“Setelah mendengar Bintang menghilang Rio jadi berfikir, apa mungkin dia memang Bintang yang selama ini hilang.”
“Tapi bagaimana mungkin?” bantah Mama Yusuf.
“Itu yang mau Rio tanyakan dan diskusikan dengan tante.”
“Apalagi setelah mendengar penjelasan tante tadi, ada kemungkinan kan Bintang selamat?” Mama Yusuf hanya mengangguk dan terdiam kaku.
Apakah benar Bintang anaknya yang hilang dan dianggapnya meninggal itu masih hidup? Apakah benar orang itu Bintang? Dunia ini kecil sekali kalau benar dia itu Bintang, tapi rasa senang itu tidak bisa dihalau juga.
“Kalau dia benar Bintang, kenapa dia tidak ingat sama tante Rio?” tanya Mama Yusuf sedih.
“Itu yang menjadi pertanyaan di benak Rio juga tante. Ini sepertinya harus disediki lebih lanjut agar bisa mengetahui kebenarannya.”
__ADS_1
“Kalau dia bukan bagaimana Rio?”
“Tidak ada yang tidak mungkin selama kita mencoba mencari tahu tante. Setidaknya kita tahu kebenarannya, bukan?”
“Terus sekarang bagaimana?”
“Kita melakukan tes DNA begitu?”
“Menurut tante apakah dia mau kalua kita melakukan tes DNA?” Tanya Rio balik.
Mama Yusuf terduduk lesu di ranjang, tiba-tiba ingatannya kembali pada saat dia kecelakaan. “Rio kalau memang dia benar Bintang, setidaknya dia akan ingat memori kecilnya bukan?"
Rio menatap Mama Yusuf tidak mengerti.
“Ayo ikut tante.” Ajak Mama Yusuf meninggalkan kamarnya, naik ke lantai 2.
“Kita mau ngapain tante?”
“Begini Rio…”
***
Sepulang sekolah seperti biasa Sha dan Bila menunggu di halte, bedanya kali ini Sha menunggu Yusuf bukan menunggu angkutan umum. Bel pulang sudah berbunyi setengah jam yang lalu tetapi Yusuf belum menunjukkan batang hidungnya. Bila juga sudah di jemput oleh sopirnya.
“Sha, Yusuf masih dimana sih kita udah nunggu hampir setengah jam?” tanya Bila dengan persaan kesal.
“Mungkin masih ada rapat Bil, tadi dia bilang aka nada rapat dulu. Lo pulang duluan aja kalau gitu, kasian supir lo.” Sha melihat jam di ponsel yang sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Bila pasti ada les hari ini kasian kalau harus menunggu dia di jemput Yusuf.
“Beneran nih gak apa-apa gue tinggal?”tanya Bila dengan nada khawatir.
“Iya gak apa-apa kok, nunggu sendirian aja. Masih banyak orang kok di sekolah. Mungkin kak Yusuf belum pulang dan masi ada urusan.” Sha mendorong tubuh Bila untuk masuk ke dalam mobil.
Bila masuk ke dalam mobil, dia menurunkan kaca mobilnya. “Sha hati-hati ya.” Ucap Bila yang kini melambaikan tangan kepada Sha.
Sha membalas lambaian tangan Bila, dirinya kini mendudukan diri di kursi tunggu halte. Bolak-balik mengecek pesan untuk Yusuf yang belum di balas.
Ponsel Sha bergetar,tanda ada panggilan masuk. Sha langsung saja mengangkatnya.
“Hallo.”
“Hallo Sha.” Suara di sebrang sana terdengar gembira.
Sha lupa mengecek penelpon tadi, ternyata Mama Yusuf yang menelponnya.
“Iya tante?”
“Kamu dimana sekarang?”
“Masih di sekolah tante, anu kerja kelompok. Iya ada kerja kelompok tante.” Sha mencoba meminta maaf dalam hati karena telah berbohong kepada Mama Yusuf.
“Oh begitu, kamu bisa ke rumah tante sekarang. Atau enggak kmau tunggu aja di halte nanti tante nyuruh supir tante untuk jemput kamu disana, gimana?” tawar Mama Yusuf.
Sha terdiam sebentar, kalau dia pergi bagaimana kalau Yusuf datang. “Tante aku selesaikan dulu tugas kelompoknya, nanti ke rumah tante.”
“Baiklah kalau begitu, tante tunggu ya.”
Setelah telepon di tutup, Sha bingung sekarang. Sha akan menunggu Yusuf terlebih dahulu, lagipula dia sudah bilang sedang kerja kelompok sama Mama Yusuf.
Bosan, itulah yang Sha rasakan sekarang. Tangan dan kakinya juga mulai pegal. Sudah satu jam menunggu, tetapi Yusuf juga belum kunjung datang. Langit sudah mulai mendung, tanda hujan akan segera datang.
Saat sedang melamun hujan datang membasahi kota Bandung. “Argg hujan.” Sha memeluk tubuhnya yang kedinginan karena tidak memakai jaket. Tubuh Sha merapat ke tempat teduh dan menghindari percikan hujan.
Sebuah mobil hitam menghampirinya. “Sha lo kok diem di halte sendirian pula. Kenapa belum pulang?” teriak Akbar dari dalam mobil.
“Aku lagi nunggu kak Yusuf.” Ucap Sha yang kini menggosokkan kedua tangannya yang menggigil karena kehujanan.
Akbar keluar dari mobil, membentangkan payung kecil yang selalu ada di mobilnya.
“Masuk Sha.” Titah Akbar setelah mendekati Sha yang kedinginan di halte.
“Gak usah kak, nanti takutnya kak Yusuf datang.” Tolak Sha yang kini memeluk dirinya sendiri.
Tanpa banyak kata lagi Akbar segera menarik tangan Sha untuk masuk ke mobilnya. Membukkan pintu mobil untuk Sha dan menyuruhnya segera masuk. Sha akhirnya menurut saja kepada Akbar. Akbar memutar diri dan masuk ke kursi pengemudi.
“Kalau sudah hujan begini lebih baik pulang aja gak usah nunggu lagi.” Ucap Akbar yang mencari handuk kecil di dashboard dan memberikannya pada Sha.
Sha mengeringkan seragamnya yang basah karena hujan,“makasih kak.”
“Nganterinnya ke rumah lo kan, gak akan mampir kemana-mana lagi?” Tanya Akbar.
Sha memainkan jari-jarinya dengan gugup, “Boleh gak kalau minta di anterin ke rumahnya kak Yusuf.
Seketika Akbar langsung mengerem mobilnya secara mendadak. “Sha kamu gak lagi ngigau kan? Atau otak kamu jadi berubah gara-gara kehujanan?” tanya Akbar bingung sekaligus kesal.
__ADS_1