
Amora menoleh ke belakang. "Bos," lirihnya. Daniel menatap tajamnya ke arah Amora lalu menyuruh Amora datang ke ruangannya saat ini juga. Daniel lebih dulu masuk ke dalam ruang kerja. Sania membisikkan sesuatu untuk Amora. "Jangan takut dimarahin sama bos. Ayok lawan bos sebisa kamu. Kamu tidak salah, aku yakin itu." Bisiknya ke Amora
"Makasih sudah mau menjadi penyemangat."
Amora berjalan ke arah ruang kerja bosnya. Membuka pintu pelan lalu berjalan untuk mendekati Daniel. Daniel bersedekap lalu manik matanya mengarah ke Amora.
"Berani sekali kamu bermain-main dengan saya. Sudah puas berlibur ke puncak. Pekerjaan terbengkalai karena tiba-tiba kamu menghilang."
"Maaf." Daniel terkekeh
"Seorang wanita penggoda meminta maaf. Wah saya takjub! kesan pertama kamu gimana bertemu dengan saya lagi."
"Biasa saja tidak ada kesan indah." Jawabnya begitu saja tanpa embel-embel romantis. Suasana hatinya saat ini tidak tenang. Belum siap bertemu Daniel lagi setelah seminggu tidak ada kabar. Tadinya mau pulang besok saja tapi iya masih ada tanggungan pekerjaan. Dirinya harus tetap profesional dalam bekerja.
Daniel mencengkeram dagunya. "Hilang tiba-tiba membuat saya resah! bukan karena saya khawatir sama kamu. Saya rugi saat tahu kamu hilang tiba-tiba hanya karena liburan sesaat. Ada saatnya kamu liburan dan ada saatnya kamu bekerja. Lihat Sania, dia profesional bekerja bukan malah hedon-hedon seperti kamu." Cerca Daniel menyalahkan Amora berulang kali. Bagaimana respon Amora? respon Amora tetap biasa saja. Anggap angin lalu ucapan Daniel kepadanya.
"Masih ada waktu untuk membuat kamu patuh dengan saya. Saya tidak suka disepelekan atau diabaikan sama kamu. Ingat status kamu masih menjadi istri saya." Amora tersenyum samar mendengar ucapan suaminya, suaminya tanpa sadar mengakui dirinya sebagai istri. Bahkan Daniel tidak peduli rasa gengsinya lagi. Yang iya pikirkan sekarang bagaimana iya bisa membuat Amora patuh. Itu saja, yang lainnya tidak peduli.
Amora duduk di sofa. "Apa penting bagaimana keadaan aku yang tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa ada kabar sama sekali. Itu mau kamu kan...mau kamu aku pergi jauh dari kamu. Di saat Renata tahu semuanya kamu tidak mau membela aku. Sebagai suami yang baik kamu membela istri kamu bukan tunangan kamu. Aku lebih unggul dari Renata. Sekarang aku bukan lagi perempuan yang suka mengalah. Kamu milik aku! aku berhak memisahkan kamu dan Renata. Kamu tidak terima bodoamat! mau tidak mau kamu harus mau hidup selamanya dengan aku. Tenang saja aku ada kejutan buat kamu dan keluarga kamu. Keluarga kamu harus tahu hubungan kita berdua. Capek jadi simpanan kamu, tidak pernah kamu hargai sama sekali. Aku mau sah secara agama dan negara." Ungkap Amora membuka suara setelah kama berdiam saja.
"Capek? menjadi simpanan itu kemauan kamu bukan saya yang memaksa kamu menjadi simpanan. Kesalahan ini terjadi karena kamu bukan karena saya. Saya di jebak kamu! andai kamu tidak membuat semua jadi rumit. Kita tidak terjebak sebagai suami istri. Saya menikahi Renata bukan menikahi kamu."
Brak
Amora menendang meja kaca sampai pecah. "Kamu tergoda itu konsekuensi diri kamu bukan malah menyalahkan aku. Aku menggoda lalu kamu tergoda. Salah aku?! jangan jadi laki-laki bajingan. Aku goda kamu mau saja bahkan menikmati." Daniel bungkam
"Mau mengelak lagi kenyataan kamu memang suka sama aku tapi tidak mau mengakui. Nama baik kamu rusak jika mengakui perasaan kamu untuk aku." Sambungnya
"Diam!! jangan membuat saya emosi. Ada Maslaah ya hadapi jangan menghilang tiba-tiba. Kamu tahu saya rugi karena kamu. Pak Anjar memutuskan kerja sama dengan perusahaan saya. Rugi milyaran karena kamu." Tuduhnya
Amora tersentak pasalnya dirinya sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai kerugian Daniel kemarin. Dirinya kembali bekerja saja sekarang bukan kemarin. Dimana letak salahnya? mengigau tuh orang.
"Astaghfirullah, kenapa aku yang disalahkan. Aku tidak tahu tentang kerugian itu. Kenapa tidak menyalahkan diri sendiri. Kamu yang melakukan kesalahan kenapa harus aku yang menanggung. Aku tidak tahu mengenai kerugian kamu."
"Tukang fitnah mulai merajalela harus dihindarkan." Ketusnya
Setelah mengatakan itu iya segera keluar dari sini. Bosan selalu berdebat dengan suaminya. Sama-sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah. Siapa yang salah? keduanya sama-sama salah. Dirinya salah dan suaminya juga salah. Aib mereka terbongkar mereka harus siap menghadapi konsekuensinya. Bukan malah menghindar atau pura-pura tidak tahu. Belajar bertanggung jawab apa lagi mereka sudah sama-sama dewasa. Jangan cuman menjaga nama baik tapi tidak bisa bertanggung jawab. Semua kesalahan karena mereka berdua tidak ada yang salah di antara salah satunya. Sama-sama salah... Amora muak selalu saja iya yang disalahkan.
Amora kembali ke meja kerjanya. Duduk di samping Sania lalu mencurahkan hatinya ke Sania.
"Pengin mundur saja dari pekerjaan ini." Curhat Amora
__ADS_1
"Jangan gitu dong nanti aku gak punya teman sedekat kamu."
"Bos Daniel terus menyalahkan aku. Bahkan kerugian kemarin juga menyalahkan aku."
"Oh astaga tega sekali. Padahal kerugian itu terjadi karena kelalaian bos Daniel. Kemarin harusnya meeting bersama Pak Anjar tapi si bos malah pergi jalan-jalan sama Renata. Batal meeting bersama Pak Anjar terus Pak Anjar memutuskan kerja sama dengan perusahaan ini. Rugi banget lah, keterlaluan jika bos menyalahkan kamu." Amora menutup mulutnya rapat-rapat. Nah...dirinya tidak salah malah disalahkan. Mau mencari ulah lagi dengannya buat dirinya dibenci banyak orang.
"Carikan aku loker ya."
"Kok gitu," Sania sedih jika Amora benar-benar mengundurkan diri.
"Gak betah udah gak tahan kerja sama bos otoriter seperti dia."
Sania bergidik ngeri, selama bekerja di sini iya tidak merasakan apa yang Amora rasakan. Mental Amora kuat tapi akhirnya runtuh juga. Sudah menyerah bahkan berniat mencari kerjaan lain.
"Kerja apa aja yang penting halal. Aku capek Sania, mental aku bakal rusak jika berhadapan dengan dia terus."
"Kamu tenang saja aku bakal Carikan loker buat kamu. Walaupun gajinya cukup tidak terlalu besar seperti gaji menjadi sekertaris direktur." Amora mengangguk
Bekerja apa saja yang penting halal. Amora menyerah bekerja menjadi sekertaris suaminya. Mentalnya tidak akan kuat! mendingan cari kerja yang lain saja. Bukan berarti menyerah jadi istrinya juga. Itu beda cerita, intinya tidak mau menjadi sekertaris suaminya.
Tring
Javier mengubungi dirinya untuk mengajak Amora ke bazar nanti malam. Untuk mengisi waktu yang kosong Amora menyetujui ajakan Javier. Amora butuh teman curhat yang bisa memberikan saran jitu untuknya. Menurut Amora, Javier teman idaman banyak orang. Orangnya super ramah atau friendly. Tidak sombong, mau berteman sama siapa saja, baik banget, intinya tidak gengsian atau jaim. Kepribadian Javier hampur mirip dengan kepribadian Amora. Mereka satu circle, mudah bergaul paling penting.
Javier keponakan Papahnya Daniel. Mamahnya Javier bersaudara dengan Papahnya Daniel. Umur Javier beda 2 tahun dari Daniel. Javier dan Daniel dekat bahkan beberapa kali mereka touring ke luar kita bersama. Sering main ke rumah atau apartemen Daniel. Javier tipikal orang yang suka ceplas-ceplos. Javier tahu hubungan Daniel dan Renata yang merenggang karena kesalahpahaman. Amora sudah menceritakan tentang Renata yang menuduhnya sebagai selingkuhan Daniel. Menceritakan semua kepalsuannya ke Javier agar mau membelanya. Javier paham tapi tidak mau ikut campur. Biarkan mereka yang menyelesaikan kesalahpahaman itu.
Malam harinya sesuai janji Javier. Javier mengajak Amora ke bazar bersama lalu iya menjemput Amora di apartemen barunya. Amora memang membeli apartemen baru. Apartemen lama iya sewakan ke orang lain lalu iya mendapatkan uang bulanan dari sewaan. Sungguh cerdas kamu Amora bisa mengandalkan apapun demi uang.
Tidak ada yang tahu dirinya membeli apartemen baru kecuali Javier. Amora menyuruh Javier tutup mulut dulu jangan memberitahu siapapun tentang hunian barunya. Amora tampil cantik malam ini memakai mini dress lalu membiarkan rambutnya tergerai. Mereka masuk ke mobil bersama.
Tidak ada obrolan sama sekali di antara mereka berdua. Keheningan melanda keduanya, bingung mau ngobrol apa.
Sampai akhirnya...
"Kamu cantik banget malam ini."
"Kemarin-kemarin aku jelek ya." Javier menggeleng
"Cantik tapi tidak seperti sekarang. Aura kecantikan kamu menguar jelas makan ini. Mungkin karena mau berkencan dengan laki-laki tampan seperti aku." Kekehnya
Amora ikutan terkekeh. "Humoris banget ya kamu. Dipikir-pikir kita satu frekuensi dan punya kepribadian hampir mirip. Kita mudah bergaul ya kan." Ungkap Amora lalu di angguki Javier.
__ADS_1
"Ada pacar gak? kalau gak ada mau aku halalin."
"Belum mau di halalin sama siapa-siapa."
5 menit kemudian mereka baru saja sampai di sebuah bazar. Mereka keluar dari mobil lalu masuk ke bazar. Begitu ramai banyak orang berlalu lalang menjumpai ke penjual makanan atau pernak-pernik barang unik. Javier menggenggam tangannya lalu berjalan ke stand makanan Korea. Membeli beberapa makanan Korea yang disukai banyak orang terutama samyang Mozarella.
"Kamu haru coba samyang Mozarella ini. Aku pernah coba rasanya enak banget."
"Wah aku suka nih." Hebohnya lalu memesan samyang Mozarella.
Pesanan jadi lalu Javier membayarnya. Ketika Amora mau bayar langsung ditepis oleh Javier.
"Malam ini aku bakal traktir kamu. Anggap saja perkenalan kita berdua." Katanya
Amora tidak enak tapi Javier terus memaksanya.
Mereka makan berdua di ujung tempat penjual jajanan Korea.
"Javier, Amora." Nama mereka dipanggil seseorang yang berlari ke arah mereka. Mereka memberhentikan suapan ke mulut lalu melihat siapa gerangan yang memanggil nama mereka berdua.
"Renata." Lirih mereka berdua melihat ada Renata. Renata melambaikan tangan ke arah mereka lalu mengajak Daniel mendekat ke arah mereka.
"Kalian di sini juga. Wah double date nih kita." Serunya lalu menatap ke arah Amora. Amora pura-pura menyibukkan diri memainkan game di handphone Javier. Tadi iya memang meminjam handphone Javier mau main game yang biasa Javier mainkan.
"Iya. Kalian baru datang ke sini." Renata mengangguk
"Sayang, aku mau beli seperti itu juga. Kamu pesenin ya buat aku." Daniel langsung memesan samyang Mozarella menu yang sama seperti mereka berdua.
"Amora apa kabar?"
"Baik."
Renata menatap nanar ke arahnya. Tidak suka dengan tatapan Amora kepadanya. Apa Amora masih marah dengannya? jelaslah apa lagi dirinya sudah mengucapkan kalimat kasar untuk Amora.
"Amora, aku salah dan aku minta maaf ya. Kita bersahabat lagi ya seperti dulu."
"Aku gak tahu." Jawabnya begitu singkat bahkan tidak menatap ke arah Renata.
Sakit banget melihat sikap cuek Amora. Amora begitu kecewa sama aku. Kesalahan aku membuatnya bersedih sampai menghilang tiba-tiba.
To be continued
__ADS_1