BOSSKU CANDUKU

BOSSKU CANDUKU
Daniel Kecelakaan Dan Ungkapan Amora


__ADS_3

Brakk...


Suara dentuman keras berasal dari pinggir jalan raya. Banyak orang berbondong-bondong menyelamatkan korban kecelakaan tunggal malam ini. Daniel Mahendra menjadi korban kecelakaan malam ini. Mengendarai dengan kecepatan cepat, saat menginjak rem tapi rem tidak berfungsi sama sekali. Iya membanting stir ke arah kiri lalu menabrak pohon besar di pinggir jalan. Terjadi kemacetan seketika, mereka berusaha menyelamatkan nyawa Daniel.


Suara ambulance terdengar begitu jelas. Mereka semua mengangkat tubuh Daniel lalu memasukkan ke dalam mobil ambulance. Daniel membutuhkan perawatan medis dari ruang sakit. Kecelakaan Daniel membuat Daniel tidak sadarkan diri bahkan mengalami luka cukup parah. Salah satu warga langsung menelepon keluarga Daniel. Untung daja ponselnya masih menyala belum rusak seperti pemiliknya.


"Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumsalam."


"Maaf ini ponsel suami saya. Anda siapa? kenapa memegang ponsel suami saya?" tanya Amora.


"Jadi gini mbak, saya tadi melihat kecelakaan tunggal di jalan xxxx. Saya menolongnya dengan beberapa warga setempat lalu membawanya ke rumah sakit. Saya menemukan ponsel suami anda tergeletak di aspal." Jelas laki-laki paruh baya yang menelepon Amora.


Deg


Amora sontak terkejut bukan main saat mendapat kabar tidak baik-baik saja. Suaminya mengalami kecelakaan, "Suami saya di bawa ke rumah sakit mana, Pak...kalau boleh tahu."


"Rumah sakit Medika Jaya. Apakah anda benar-benar istrinya." Masih ingin tahu, jelas iya istrinya siapa lagi istrinya.


"...iya ini saya Amora istri dari Daniel. Saya menuju ke rumah sakit sekarang. Makasih, makasih sudah mau membantu suami saya."


"Sama-sama mbak."


Telepon selesai lalu iya bergegas ke rumah sakit. Sebelum itu iya sudah dulu mengabari keluarga suaminya. Daniel mengalami kecelakaan, mereka sama terkejutnya seperti iya tadi. Mereka akan ke rumah sakit menyusul iya yang sudah pergi ke rumah sakit duluan.


Di tempat lain ada Kenan tersenyum devil. Iya mendapatkan kabar dari anak buahnya, anak buahnya sudah berhasil membuat si pengecut kecelakaan. Mobil Daniel memang di sabotase oleh anak buahnya atas perintah Kenan. Kenapa Kenan melakukan itu? tujuannya karena membalas kesakitan adiknya. Perlakukan kejam Daniel tidak mau melepaskan Amora malah menyakiti Renata.


"Salah berurusan dengan saya. Saya akan semakin menyakiti kamu, Daniel. Kamu hanya laki-laki pengecut, pecundang, tidak punya ketegasan, banci! demi membela wanita murahan seperti Amora. Kamu tega menyakiti adik saya. Saya sudah memberikan kepercayaan saya untuk kamu. Kamu rusak...kamu lebih memilih mempertahankan hubungan haram kamu dengan Amora. Kamu juga mengambil milik saya. Kamu tahu, saya begitu mencintai Amora tapi kamu rebut seenak kamu. Amora bukan target saya saat ini, hanya kamu target saya saat ini. Saya akan menghancurkan kamu jika kamu masih menjadi pecundang. Saya hanya mau kamu menikahi Renata! buat Renata bahagia bukan menangis histeris."


"Urusan Amora biar saya yang pegang. Saya tidak akan memperlakukan jahat ke Amora, kecuali Amora terus membangkang."


Di rumah sakit Amora menatap sendu ke arah suaminya. Dokter sudah memindahkan suaminya ke ruang rawat VVIP. Melihat suaminya masih belum siuman membuat hatinya sakit. Siapa yang tega membuat suaminya seperti ini. Iya yakin ada yang mencelakai suaminya dengan sengaja.


"Harusnya kamu tidak seperti ini. Semua masalah datang karena aku, aku penyebab masalah itu datang setiap saat. Kamu kena imbasnya karena aku... salahkan saja aku, aku tidak masalah kamu mau menyalahkan aku atau tidak. Aku mohon, bangun ya demi orang terdekat kamu."


"Aku boleh berandai-andai tidak, aku menyesal. Andai aku tidak menikung sahabat aku lalu menghancurkan hubungan kamu dan Renata, dulu. Kalian sudah menjadi suami istri bahagia lalu aku bahagia dengan kehidupan aku. Jujur...aku selama ini menyesal dengan masa lalu yang aku buat begitu tragis. Menyalahkan Renata padahal aku yang salah. Aku sangat berdosa, mendapatkan kamu dengan cara haram."


Amora mengusap air matanya. "Maaf ya..."


"Daniel, kamu boleh membenci aku. Aku ikhlas jika kamu membenci aku tapi jangan menyalahkan takdir Tuhan sampai kita masih bersatu."


Amora mengelus lengan suaminya agar suaminya cepat siuman. Tetap sama seperti sebelumnya, suaminya masih memejamkan matanya.


"Kamu tidak merindukan aku...aku merindukan kamu."

__ADS_1


"Nanti keluarga kamu datang ke sini."


Ceklek


Pintu terbuka lalu masuklah Renata bersama Kenan.


"Ini pasti karena kamu! calon suami aku terluka karena kamu, kan. Kamu memang pembawa sial, Amora! tidak pantas kamu di sini."


"Tidak usah menyalahkan Amora. Ngapain di sini, masih punya harga diri datang menjenguk suami orang." Sindir Diandra masuk ke ruangan rawat sepupunya bersama keluarga besarnya.


Kedua orang tua Daniel tidak mau ikut campur. Mereka berdua memilih bungkam lalu menghampiri anak mereka yang masih memejamkan matanya.


Renata meremas jemarinya melihat respon calon meruanya. Tidak ada respon baik dari mereka. Nama baiknya di mata mereka sudah rusak. Bahkan iya sangat di remehkan mereka semua terutama sepupu Daniel.


"Diandra sudah, jangan memperkeruh keadaan. Renata maaf...kamu benar aku tidak pantas di sini. Demi Tuhan aku tidak ada sangkut pautnya dengan kecelakaan suami aku. Mana mungkin aku tega mencelakai suami aku. Aneh bukan, aku pulang dan membiarkan kamu menemani suami aku. Aku tidak masalah demi hubungan kalian baik-baik saja." Pamitnya


Amora keluar dari ruangan ini. Semua sepupu Daniel menatap tajam Renata. Renata tanpa tahu malu mendekati Daniel lalu mengecup wajah tampan Daniel di hadapan mereka semua.


Greppp...


"Masih punya nyali untuk mempertahankan hubungan. Lebih baik kamu menikah dengan saya, Amora. Daya tidak masalah menerima status janda kamu."


"Stop, kak! status aku masih istri orang belum janda."


"Mau sampai kapan, Amora?"


"Apa kabar tentang Renata dan Papah aku dulu. Aku tahu semuanya, aku tahu masa lalu yang kalian sembunyikan begitu rapat. Renata menggoda Papah aku lalu menawarkan diri menjadi simpanan Papah aku selama 2 tahun. Sakit hari aku kak, Papah aku yang setia bisa-bisanya tergoda hanya karena Renata. Sama saja Renata menikung Mamah aku. Karma itu masih ada, aku yang membalas perbuatan adik kamu, kak."


"Amo-ra,"


"Aku mohon..." Amora mengakui kedua tangannya.


"Jangan paksa aku lagi untuk mundur atau menyerah. Aku dan Renata sama-sama penggoda! kita pernah melakukan kesalahan salah. Kita pernah melakukan perbuatan haram. Bedanya aku menjadi penggoda calon suami Renata bukan suami Renata."


"Dek,"


"Hiks aku bukan adek kamu lagi, kak. Aku rapuh, menyesali semuanya, hancur, aku kehilangan. Apa semua itu bakal kembali sama aku. Adek, Kakak tega membunuh kedua orang tua aku. Kecelakaan yang terjadi sama orang tua aku karena adek kamu kak. Renata membunuh kedua orang tua aku kak..."


"Renata menyembunyikan masa lalunya dan melanjutkan hidup tanpa merasa bersalah. Soal Daniel belakangan, Daniel tidak tahu kekasihnya tercinta menjadi simpanan seorang pengusaha sukses sekaligus partner bisnisnya. Papah aku sendiri! hiks kejam, adek kamu kejam."


"Aku juga tahu hubungan Daniel dan Renata dari jaman sekolah. Mereka menjalin hubungan lalu putus lalu menjalin hubungan lagi atau bisa dibilang mereka balikan. Saat mereka akan melangkah ke jenjang pernikahan, aku sudah dulu membuat kekacauan. Aku berhasil mendapatkan calon suaminya. Aku berhasil mendapatkan hati suami aku walaupun masih mencintai perempuan yang sudah menjadi mantan. Mereka menjalin hubungan lagi bahkan berniat menikah. Hancur aku! aku harus apa kecuali bertahan."


Tubuhnya meluruh ke lantai. Kenan menggeleng, "Apa aku salah mencintai kamu. Aku ingin membahagiakan kamu lalu menyingkirkan Daniel dari hidup kamu." Kenan berjongkok di depan Amora.


"Bagaimana kalau seandainya kamu di posisi aku. Kamu akan merasakan kesakitan luar biasa."

__ADS_1


Dari balik tembok ada Renata. Renata sudah menangis dalam diam. Tadinya mau menegur Amora agar tidak dekat-dekat Daniel lagi. Iya malah mendengar semua pembicaraan Amora dan Kakaknya. Hatinya sakit, iya lebih kejam dari Amora. Renata menahan Isak tangis saat mendengar segala ungkapan hari Amora.


Renata menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak mengeluarkan suara tangisnya.


"HIKS AKU CAPEK, HANCUR, KECEWA! AKU MAU MENYALAHKAN RENATA JUGA PERCUMA!! RENATA TIDAK BISA MENGEMBALIKAN KEDUA ORANG TUA AKU HIKS. AKU HARUS APA! MERELAKAN SUAMI AKU, AKU AKAN MELAKUKAN ITU. BENAR KATA KAMU KAK...DEMI KEBAHAGIAAN ADEK KAMU. AKU HARUS MERELAKAN YANG MENJADI MILIK AKU SAAT INI. MENCARI KEBAHAGIAAN BERSAMA YANG LAIN! AKU AKAN MELAKUKAN ITU."


"Amora, Amora saya tidak memaksa kamu."


"Kenapa?! percuma kak, kamu akan tetap memojokkan aku. Aku yang bersalah dan harus bertanggung jawab."


"Maafkan aku hiks Amora."


"Semuanya rumit karena aku. Keegoisan aku menyebabkan semua terjadi. Kehilangan orang tua itu yang menjadi penyebab kamu membenci aku. Kamu tidak aku bertatapan dengan aku. Kamu sudah tahu rahasia masa lalu aku dengan Papah kamu."


Kenan membantu Amora berdiri lalu mendudukkan Amora di salah satu kursi. Kenan menyodorkan botol mineral yang tadi iya pegang.


Amora menolak tapi Kenan tetap membujuk Amora minum. Kasihan suara Amora sudah mulai serak.


"Kamu boleh tampar saya...jangan benci saya ya,."


"Gak tahu kak,"


"Rasanya sakit saat dibenci orang terkasih."


"Lebih sakit saya kak, semuanya sirna karena adek kamu, kak."


"Kamu tahu adek kamu hamil." Kenan mengangguk


"Anak sepupu Daniel. Saya mencurigai Renata sejak Renata berubah drastis. Setiap malam malam makanan berat lalu sering membeli makanan di tengah malam. Saya juga pernah melihat Renata cek kandungan sendirian."


"Jaga Renata dengan baik, kak."


"Aku takut kedua orang tua kalian tidak terima mendengar kabar kehamilan Renata. Anak yang hadir di perut Renata tidak bersalah."


"Kamu memang baik hati Amora."


"Aku harus tegar kak, gak akan jadi jahat lagi. Alu takut kena karma karena kejahatan yang aku lakukan."


'Kecuali dengan hidup aku di masa mendatang.'


"Makasih ya sudah mau memaafkan aku."


"Aku belum bilang begitu."


"Amora,"

__ADS_1


"Aku pikirkan akan memaafkan kamu atau tidak. Aku pamit pulang, kak."


To be continued


__ADS_2